Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Benar-benar Mencintaimu


__ADS_3

"Atau sebaiknya kuhubungi saja nomor Gibran yang diberikan oleh Pak Rafly tadi?" kata Bella saat melihat sebuah nomor telepon terbaru milik Gibran yang ada di bawah alamat itu.


"Ah tidak, dia pasti akan ketakutan jika aku menghubunginya, atau bisa saja dia melarikan diri lagi lalu membuang nomor ini, oh tidak, itu hanya akan membuatku kehilangan jejaknya. Aku akan menemuinya saja ke alamat ini tapi aku harus pulang ke rumah dulu, aku harus mempersiapkan semua kebutuhanku untuk pergi keluar kota, aku tidak mau sesuatu terjadi dengan buah hatiku dengan Arvin." kata Bella sambil tersenyum dan mengelus perutnya.


"Lebih baik aku pergi sekarang."


Namun saat akan pergi dari kantor itu sebuah tangan pun mencegatnya.


"Bella, kau kenapa? Kenapa kau terlihat begitu bingung?" tanya Evan yang kini sudah ada di sampingnya.


"Oh tidak apa-apa, Evan."


"Apa kau menghawatirkan perusahaanmu?"


Bella kemudian tersenyum. "Bukan, bukan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan ini."


"Lalu?"


Ini hanya masalah pribadiku saja."


"Tentang Arvin?"


"Juga bukan, emh Evan aku sedang banyak urusan, aku harus pergi sekarang, jika ada sesuatu kau hubungi aku saja karena mungkin beberapa hari ini aku tidak ada di rumah."


"Memangnya kau mau kemana, Bella? Apa mau kutemani?"


"Tidak usah, aku hanya ingin pergi ke rumah saudaraku di luar kota, untuk menenangkan diri."


"Oh, hati-hati Bella, jaga dirimu baik-baik."


"Iya Evan, aku pulang dulu." kata Bella kemudian meninggalkan Evan yang masih termenung sambil menatap kepergiannya.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


Riana duduk termenung di dalam kamarnya, tatapan matanya kosong disertai air mata yang mengalir membasahi pipinya. Gibran pun hanya bisa melihatnya dari kejauhan.

__ADS_1


'Maafkan aku, Riana, aku benar-benar tidak tahu jika keadaannya akan jadi seperti ini, maaf jika keegoisanku ternyata begitu menyakiti hatimu.' gumam Gibran dalam hati sambil menatap Riana. Tiba-tiba sebuah tepukan pun mendarat di bahunya.


"Temui dia." kata Arvin yang kini sudah berdiri di belakangnya.


"Apa kau yakin dia mau bertemu denganku?"


"Kau coba saja, kau bilang kau mencintainya, jika kau mencintainya maka kau harus memperjuangkan cintamu untuknya."


"Hei mudah sekali kau menasehatiku seperti itu, lalu bagaimana dengan dirimu? Apakah kau pernah memperjuangkan cintamu pada Bella?"


"Asal kau tahu Gibran, tanpa dia tahu hampir setiap saat aku selalu berada di dekatnya untuk selalu menjaganya. Tapi dia tidak pernah mau bertemu bahkan berbicara denganku."


"Hahahaha, kasihan sekali. Dan tiba-tiba Bella sudah mendapatkan kekasih baru? Malang sekali nasibmu, Arvin." kata Gibran sambil terkekeh.


"Memangnya nasibmu lebih baik dariku? Sekarang cepat kau temui, Riana. Tapi ingat jangan sampai kau menyakiti hatinya." kata Arvin kemudian meninggalkan Gibran lalu berjalan ke arah depan rumah.


"Kau mau kemana?" tanya Gibran.


"Mencuci mobil." jawab Arvin.


"Riana." panggil Gibran, tapi Riana hanya diam.


"Riana tolong maafkan aku, sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu." kata Gibran sambil menatap Riana. Tiba-tiba jantungnya pun berdegup kian kencang, sebuah getaran dan perasaan begitu hangat tiba-tiba datang ke dalam lubuk hatinya.


'Sial perasan apa ini? Kenapa tiba-tiba perasaanku tak menentu seperti ini?' gumam Gibran di dalam hati. Dia lalu menatap Riana yang masih menangis, wajah polosnya pun terlihat begitu sedih.


'Gibran, dia adalah wanita yang sedang mengandung darah dagingmu.' kata sebuah suara yang tiba-tiba berbisik di telinganya.


Perasaan Gibran pun semakin bergejolak, dia lalu memberanikan dirinya mendekat pada Riana lalu memeluknya.


"Maafkan aku, Riana. Maafkan aku." kata Gibran, tanpa dia sadari, air mata kini mengalir membasahi pipinya.


'Bren*sek kenapa aku tiba-tiba menangis, bukankah aku tidak pernah menagis? Kenapa tiba-tiba aku menangis karena dia?' gumam Gibran dalam hati.


Riana pun kini ikut menangis dalam pelukan Gibran. "Riana, tolong maafkan aku, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, aku berjanji akan bertanggung jawab dan menjadi ayah yang baik untuk anak kita, anak yang ada di dalam kandunganmu."

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau menepati janjimu? Bukankah setelah anak ini lahir kau harus menyelesaikan masa tahananmu?" kata Riana sambil terisak.


Gibran lalu menggenggam tangan Riana.


"Riana, kita masih punya banyak waktu asal kau mau menungguku. Kau mau menungguku sampai aku bebas kemudian merawat anak kita bersama-sama kan?" tanya Gibran.


Namun Riana hanya terdiam.


"Aku benar-benar telah melakukan sebuah kesalahan, aku begitu bodoh dengan mudahnya percaya padamu tanpa menyelidiki asal usulmu, aku terlalu percaya pada kata-kata palsumu."


"Riana tolong maafkan aku, bukankah aku sudah berjanji untuk bertanggung jawab dan tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Tapi aku sudah terlanjur membencimu, aku membencimu dan kebohongan yang telah kau lakukan padaku. Kenapa kau harus membohongiku. Gibran?"


"Maafkan aku, aku terpaksa karena keadaan, setelah kabur dari penjara itu aku juga tidak tahu akan bertemu denganmu, aku hanya menghindari kejaran para sipir itu lalu tidak sengaja masuk ke dalam mobilmu. Aku juga tidak bermaksud tinggal denganmu karena saat turun dari mobilmu, sebenarnya aku berniat langsung pergi dari rumah ini tapi keadaan yang secara tidak langsung memaksaku untuk tinggal disini. Riana tolong mengertilah, aku terpaksa berbohong padamu karena aku tidak mau kau takut padaku. Keadaan jugalah yang membuatku terpaksa berbohong padamu." kata Gibran sambil menundukkan kepalanya.


"Tolong tinggalkan aku, aku ingin sendiri."


"Tapi Riana."


"Pergi Gibran!" bentak Riana.


Gibran pun akhirnya pergi meninggalkan Riana dengan langkah begitu lesu, sebelum pergi meninggalkan kamar itu, dia lalu memandang wajah Riana.


'Aku tidak akan menyerah Riana, aku akan berusaha agar kau mau memaafkan aku, mungkin inilah yang disebut dengan cinta. Harus kuakui jika sekarang aku benar-benar mencintaimu, Riana.' gumam Gibran dalam hati.


🌿🌸🌿🌸🌿🌸


Sebuah mobil sedan berwarna hitam pun berhenti di depan rumah yang bertembok keliling berwarna putih dengan halaman yang tampak begitu luas.


"Melelahkan sekali menyupir sendirian selama tiga jam." kata Bella sambil menguap. Dia lalu menyenderkan tubuhnya ke jok mobil kemudian mengambil sebuah kertas yang ada di dalam tasnya.


"Apakah ini rumahnya? Dilihat dari alamat serta nomor rumah yang tertera di kertas ini sepertinya sudah benar." kata Bella sambil melihat kertas yang ada di tangannya.


"Untuk memastikannya lebih baik aku turun saja, aku sudah sangat lelah, aku ingin beristirahat." kata Bella kemudian turun dari mobilnya. Dia lalu membuka gerbang rumah itu.

__ADS_1


"Ah itu ada laki-laki yang sedang mencuci mobil, lebih baik kutanyakan saja padanya." kata Bella kemudian menghampiri laki-laki tersebut.


__ADS_2