Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Dua Kemungkinan


__ADS_3

"Apa kalian tidak sebaiknya pulang saja? Ini sudah malam."


"Kalau kami pulang lalu siapa yang akan menjagamu disini Bella?"


"Emh aku akan memanggil salah seorang pembantuku kesini sekarang."


"Tidak Bella itu terlalu berbahaya." jawab Milan.


"Jadi, kalian akan menemaniku disini?"


"Tentu saja, aku sudah menelepon mama untuk menjaga Arsen dan Velove di rumah dan mengatakan jika malam ini aku dan Milan tidak bisa pulang ke rumah karena ada urusan penting."


"Terimakasih Ra, kalian sungguh benar-benar baik padaku, aku berhutang nyawa pada kalian."


"Sudah Bella, jangan katakan itu lagi."


"Iya Milan, terimakasih."


"Bella, jam berapa Arvin terbang dari Singapore?"


"Pukul sembilan malam."


Milan melihat arlojinya. "Sebentar lagi dia pasti akan sampai, sebaiknya kau beristirahat saja Bella, kau baru saja melahirkan, pulihkan dulu tenagamu. Aku dan Rachel akan menjagamu disini."


"Iya Milan." jawab Bella, kemudian dia memejamkan matanya. Bella pun tertidur karena sudah merasa begitu lelah dan mengantuk setelah tenaganya terkuras habis.


Rachel kemudian menyenderkan kepalanya pada bahu Milan. "Milan, apa rencanamu sebenarnya?"


"Aku tidak tahu aku harus memastikan itu semua dengan bertemu dengan Arvin."


"Sebenarnya siapa, Evan? Kenapa dia di blacklist dari semua perusahaan?"


"Dia sebenarnya sangat pintar, kemampuannya sangat bagus dalam mengelola perusahaan, tapi dia juga seorang hacker yang mampu menguasai semua data. Dia bahkan pernah merebut sebuah perusahaan saat bekerja di Singapore, akhirnya pemilik perusahaan tersebut bisa mengambil alih perusahaan miliknya kembali lewat berbagai proses hukum tapi karena tidak memiliki bukti yang cukup, polisi tidak bisa memenjarakan Evan, namun karena perbuatannya tersebut semua perusahaan mem-blacklist dirinya."


"Astaga, aku benar-benar tidak menyangka jika Bella bisa mempekerjakan orang seperti itu."


"Karena itulah Ra, aku ingin tahu bagaimana keadaan perusahaan milk Gibran setelah Evan masuk ke perusahaan tersebut, dan kuncinya ada pada Arvin. Aku yakin Arvin pasti mengetahui sesuatu tapi dia tidak mungkin membicarakannya pada Bella, karena Bella tidak akan mengerti apapun yang berhubungan dengan perusahaan." kata Milan sambil terkekeh yang membuat Rachel ikut tersenyum.


"Milan, lalu bagaimana dengan Gibran?"


"Iya Ra. Bagaimanapun juga pemilik sah perusahaan tersebut adalah Gibran, sedangkan Arvin hanya menggantikannya, aku yakin ada sesuatu yang sudah Evan curi dari perusahaan mereka dan mereka akan mengeluarkan senjata terakhir mereka saat Gibran sudah masuk ke penjara."


"Sungguh menakutkan."


"Tapi aku yakin permasalahan Evan dengan mereka tidak sesederhana itu Ra, pasti ada sesuatu yang Evan sembunyikan."


"Apa itu?"


"Entahlah."


"Lalu kita harus bagaimana jika sudah tidak ada jalan lagi untuk menghadapi mereka?"


Milan pun kemudian tersenyum.


"Kita harus bermain sedikit nakal, kau mau melakukannya kan sayang?" bisik Milan di telinga Rachel.


'Sedikit nakal?' gumam Rachel dalam hati.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏπŸŒΏ


Evan menghentikan mobilnya di depan sebuah gang komplek pemukiman padat penduduk.


"Celine, kau disini saja."


"Iya Evan."


Evan kemudian masuk ke dalam gang kecil tersebut lalu berhenti di sebuah rumah kecil yang ada di pojok gang. Evan lalu mengetuk rumah tersebut, namun tidak ada jawaban, dia kemudian mengintip rumah tersebut melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Namun rumah tersebut tampak kosong, hanya ada lampu temaram yang menyala di ruang tengah rumah tersebut.


"Sepertinya rumah ini sudah kosong." gerutu Evan.


"Permisi, anda mencari siapa?" tanya seseorang yang sudah berdiri di belakang Evan.


"Oh saya mencari Pak Amran, kenapa rumahnya tampak sepi?"


"Oh Pak Amran tadi sudah pergi bersama anak dan istrinya, mereka pergi dengan membawa banyak barang-barang dan sedikit terburu-buru."


"Apa bapak tahu mereka pergi kemana?"


"Oh tidak, saya tidak tahu, saat tadi saya tanyakan Pak Amran cuma bilang mau pergi ke rumah saudara mereka."


"Oh."


"Ya sudah saya pulang dulu."


"Iya Pak, terimakasih banyak." jawab Evan, dia kemudian termenung.


"Kemana kau Amran? Apa kau mau melarikan diri dariku!" gerutu Evan sambil berjalan meninggalkan rumah itu.


JEBRET


"Ada apa Evan? Kenapa kau tiba-tiba jadi seperti ini?"


"Celine, Amran sudah tidak ada di rumah itu, dia pasti sudah melarikan diri."


"Melarikan diri? Sebenarnya apa yang telah terjadi Evan? Kenapa tiba-tiba semuanya jadi berantakan seperti ini?"


"Entahlah Celine kita harus menyelidiki semua itu, menurutku ada dua kemungkinan."


"Dua kemungkinan? Apa itu Evan?"


"Amran melarikan diri karena takut pada kita gara-gara rencananya gagal atau dia telah berkhianat pada kita."


"Evan, jika dia berkhianat pada kita lalu dia bekerja pada siapa? Bukankah kau tahu sendiri jika Gibran dan Arvin tidak tahu jika Amran adalah mata-mata kita?"


"Itulah yang harus kita selidiki, Celine. Jika Amran melarikan diri karena takut pada kita itu tidak masalah bagiku tapi jika dia sekarang bekerja pada orang lain, itu yang harus kita waspadai karena selain Gibran dan Arvin, ada satu orang lagi yang sudah mempecundangi kita hingga rencana kita berantakan seperti ini, Celine."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Masuk ke dalam lingkungan mereka itu sangat sulit, Evan."


"Hahahaha... Hahahaha."


"Kenapa kau tertawa, Evan?"


"Apa kau lupa kita masih memiliki seseorang yang pernah membantuku masuk ke perusahaan milik Gibran? Aku sudah di blacklist di berbagai perusahaan tapi karena orang itulah aku bisa masuk ke perusahaan milik Gibran dan menjadi asisten pribadi Bella."


Celine pun tersenyum.

__ADS_1


"Kau benar, kita harus memanfaatkan orang itu lagi, Evan."


"Iya Celine." jawab Evan sambil tersenyum menyeringai.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Pintu kamar perawatan Bella pun terbuka, Arvin lalu melihat Bella yang tengah tertidur di atas ranjang lalu Milan dan Rachel yang kini juga tertidur sambil duduk di sofa.


'Aku benar-benar berhutang budi pada kalian.' gumam Arvin dalam hati saat melewati Milan dan Rachel yang masih terlelap.


Arvin kemudian mendekat pada Bella yang sedang tidur lalu bergegas memeluknya. Arvin pun menangis saat memeluk Bella.


"Maafkan aku Bella, maaf aku tidak bisa menjagamu."


Pelukan hangat Arvin pun membuat Bella terbangun. "Arvin, kau sudah pulang?"


"Iya Bella, aku sudah pulang." jawab Arvin sambil memeluk dan menciumi tubuh Bella.


"Kenapa kau menangis? Bukankah seharusnya kau bahagia anak kita sudah lahir?"


"Maafkan aku Bella, maaf aku tidak bisa menjagamu, aku benar-benar laki-laki yang tidak berguna, Bella."


"Sudahlah Arvin, ini bukan kesalahanmu ini semua diluar dugaan kita."


"Iya Bella, aku dan Gibran beberapa bulan ini sudah lengah sampai mengabaikan keselamatan kalian."


"Arvin, sudahlah jangan berkata seperti itu lagi, yang terpenting kami semua selamat, itu sudah cukup."


"Iya Bella, terimakasih, terimakasih atas perjuanganmu melahirkan anak kita, aku tahu ini sangatlah tidak mudah bagimu, kau luar biasa sayang." kata Arvin kemudian mengecup kening Bella.


"Iya Arvin." jawab Bella kemudian memeluk Arvin dengan kencang.


"Aku sangat mencintaimu Bella."


"Aku juga Arvin." jawab Bella kemudian mengecup bibir Arvin.


Arvin pun tersenyum kemudian balas mencium bibir Bella dengan lembut.


EHEMMMM EHEEEMMMM


Arvin dan Bella yang sedang berciuman pun terkejut. Lalu mereka mengarahkan pandangannya pada Milan dan Rachel yang kini sudah bangun dari tidurnya.


"Maafkan kami, aku pikir kalian masih tidur." kata Arvin dengan begitu salah tingkah.


"Tidak apa-apa Arvin."


"Iya Milan, bagaimana kabarmu? Kita sudah lama tidak bertemu?"


"Ya, sudah lama sekali, kita terakhir bertemu saat di London." jawab Milan sambil tersenyum.


Arvin dan Bella lalu saling berpandangan dengan begitu salah tingkah, melihat Arvin dan Bella yang salah tingkah Milan pun tertawa.


"Milan, kau jangan meledek mereka." gerutu Rachel sambil mencubit perut Milan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Evan dan Celine kini duduk di sebuah cafe rooftop sambil menikmati langit malam yang sebentar lagi akan berganti fajar. Evan kemudian memejamkan matanya. Air mata kini mengalir dari ujung matanya. Celine yang melihat air mata yang menetes kemudian menggenggam tangan Evan.

__ADS_1


"Kau masih memikirkannya?" tanya Celine.


"Ya." jawab Evan sambil menghapus air matanya.


__ADS_2