
"Lepaskan aku." bisik Almira di telinga Milan. Namun setelah mendengar bisikan Almira, Milan kian erat memeluknya.
'Dasar bebal.' gerutu Almira dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Milan pun melepas pelukannya.
"Ayo kita makan Ra."
"Kita?"
"Ya, aku sudah memesan meja ini untuk kita berdua."
Almira pun kemudian menatap Milan. "Maaf sepertinya saya tidak jadi makan disini." kata Almira lalu mulai melangkahkan kakinya. Namun di saat itu juga, Milan mencekal tangannya.
"Kau mau kemana? Restoran ini sudah kusewa hanya untuk kita berdua, kau tidak bisa pergi dari sini begitu saja, pintu restoran pun sudah terkunci. Kau tidak bisa pergi dari sini sebelum selesai makan malam denganku."
'Apa, disewa?' kata Almira dalam hati. Dia lalu mengamati sekitar restoran tersebut dan baru menyadari jika hanya ada mereka berdua di restoran tersebut.
"Astaga." kata Almira sambil menutup mulutnya.
Milan pun tersenyum melihat reaksi Almira. "Lebih baik sekarang kita duduk dan nikmati makan malam bersamaku."
Almira pun tidak memiliki pilihan lain, dia akhirnya mengikuti kata-kata Milan untuk makan malam di restoran tersebut.
"Apa kabarmu Ra?"
"Baik."
"Apa kau merindukanku?"
"Kau terlalu percaya diri." gerutu Almira yang membuat Milan tersenyum.
"Ayo makan dulu setelah ini ada hal penting yang ingin kukatakan padamu." kata Milan saat karyawan di restoran tersebut mengantarkan makanan mereka.
Almira pun kemudian mengangguk.
'Hal penting?' kata Almira dalam hati sambil menikmati makan malam untuk mereka berdua.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Almira saat mereka telah selesai makan malam.
"Sebelumnya aku mau meminta maaf padamu karena sudah lancang mengambil salah satu barangmu."
"Mengambil barangku? Kenapa orang kaya sepertimu mau mengambil barangku?"
Milan pun kemudian tersenyum. "Ya, aku mengambil ini Ra." kata Milan sambil memperlihatkan sebuah tablet obat berwarna putih yang dimasukkan ke dalam sebuah plastik kecil dan dibelakangnya terdapat sebuah kertas.
"Bukankah itu obatku, untuk apa kau mengambilnya?" tanya Almira dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
"Sebenarnya aku merasa sangat penasaran saat pertama kali melihatmu meminum obat itu. Dua orang sepupuku adalah dokter, tapi mereka pun tidak pernah tahu ada obat sakit kepala seperti itu."
"Kau jangan bercanda Milan, apa maksudmu berkata seperti itu."
"Ini kau lihat sendiri." kata Milan sambil memberikan tablet beserta hasil laboratorium kandungan dari obat tersebut.
Almira pun mengamati dengan seksama hasil laboratorium tersebut.
"Astaga." kata Almira sambil menutup mulutnya. Air mata pun kini mulai mengalir membasahi wajahnya.
"Tidak, ini tidak mungkin." kata Almira, dia kemudian menutup wajahnya dan menangis dengan begitu terisak.
Milan pun kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu duduk di samping Almira sambil menenangkannya.
"Ra, maaf aku harus mengatakan semua ini padamu, memang begitu menyakitkan bagimu, tapi inilah kebenarannya. Gibran memiliki niat yang tidak baik padamu. Sekali lagi maafkan aku jika sudah membuatmu terluka."
"Tapi kenapa? Kenapa Gibran tega melakukan hal seperti ini padaku?" tanya Almira sambil terus terisak.
"Karena dia tidak ingin ingatanmu kembali, dia ingin kau melupakan masa lalumu, terutama tentang aku. Dia ingin kita berpisah untuk selamanya Ra." kata Milan disertai raut wajah sendu.
Almira pun kemudian memandang Milan. 'Haruskah aku percaya pada kata-katanya? Apakah ini jawaban dari pertanyaan di dalam hatiku tentang semua perasaan yang ada di dalam hatiku saat aku sedang bersamanya? Benarkah dia laki-laki yang ada di masa laluku? Benarkah dia sebenarnya laki-laki yang kucintai dulu?' kata Almira dalam hati. Sesekali dia melirik pada Milan yang kini mulai menggenggam tangannya.
"Ra percayalah padaku."
Almira pun hanya diam termenung sambil menatap wajah Milan.
"Rachel?" tanya Almira.
"Ya, namamu sebenarnya adalah Rachel." kata Milan.
'Astaga, kenapa ini semakin rumit, siapa aku sebenarnya?' gerutu Almira dalam hati.
'Tuhan, tolong berikan petunjukmu, siapa sebenarnya diriku?' gumam Almira sambil terisak. Tiba-tiba kepalanya pun terasa begitu sakit.
"Kau kenapa Ra?" tanya Milan saat melihat Almira yang kini memegang kepalanya.
"Kepalaku sakit sekali."
"Sebaiknya kita ke kamarmu sekarang, dan beristirahatlah. Ayo kita turun ke kamarmu."
Almira pun kemudian berdiri, namun sakit di kepalanya semakin tak tertahankan.
"Sebentar Milan, kepalaku sakit sekali." kata Almira sambil terus memegang kepalanya.
"Lebih baik aku menggendongmu saja." kata Milan kemudian mengangkat tubuh Almira ke dalam pelukannya.
"Pegangan Ra." Almira pun mengalungkan tangannya di leher Milan.
__ADS_1
'Astaga.' kata Almira dalam hati. Tanpa sadar, dia lalu menyenderkan kepalanya pada dada Milan.
'Dada bidang ini, sepertinya aku begitu mengenalnya, sepertinya aku begitu merindukannya.' kata Almira dalam hati dengan mata terpejam sambil terus bersandar di dada Milan.
"Mana kuncinya? Kita sudah sampai." kata Milan. Almira pun kemudian memberikan kunci kamar tersebut. Lalu mereka masuk ke dalamnya.
"Kau istirahat saja, jangan terlalu banyak berfikir berat. Kau belum pulih sepenuhnya Ra." kata Milan saat merebahkan tubuh Almira di atas ranjang.
Milan pun kemudian mengambil sesuatu di saku jaketnya. "Lebih baik kau minum obat ini. Saudaraku memberikan resep obat ini untukmu." kata Milan sambil memberikan beberapa buah obat untuk Almira.
"Obat apa ini?"
"Ini obat untuk orang yang pernah mengalami gegar otak sekaligus amnesia sepertimu. Kau tenang saja ini aman, jika kau tidak percaya kau bisa mengecek kandungan obat ini di laboratorium, sama sepertiku."
Almira pun mengamati obat tersebut. "Baiklah, lebih baik aku meminum obat-obatan ini saja." kata Almira. Dia lalu bangkit dari atas ranjang.
"Kamu mau kemana Ra?"
"Minum obat, bukankah kau yang menyuruhku untuk meminum obat-obatan ini?"
Milan pun mengangguk. "Biar aku saja yang mengambilkan minum untukmu." kata Milan kemudian mengambil air putih untuk Almira.
"Terimakasih."
Almira pun kemudian meminum obat tersebut. 'Semoga kau bisa sembuh dan mengingat kembali semua tentang kita Ra.' kata Milan dalam hati sambil menatap Almira yang kini meminum obatnya.
"Sudah." kata Almira sambil tersenyum pada Milan.
"Kau sudah mau tersenyum padaku Ra?" tanya Milan saat melihat senyuman di bibir Almira. Almira pun kini tampak tersipu malu.
"Lebih baik kau istirahat saja sekarang, aku pulang dulu. Aku tidak mau mengganggu istirahatmu." kata Milan, dia kemudian berdiri. Namun saat Milan akan pergi tiba-tiba Almira memegang tangannya. "Jangan pergi." kata Almira dengan wajah tertunduk.
Milan pun begitu terkejut melihat sikap Almira padanya. 'Apakah Rachel mulai membuka hatinya untukku?' kata Milan sambil menatap Almira.
Dia pun kembali duduk di sisi ranjang Almira.
"Jangan pergi, tolong temani aku." kata Almira sambil terisak.
Milan pun kemudian memeluk Almira. "Ra, apakah kau sudah mau menerima kehadiranku?" tanya Milan.
Perlahan Almira pun mengangguk.
"Ya." jawab Almira lirih.
"Terimakasih Ra."
Milan kemudian memegang wajah Almira. "Aku rindu kamu Ra." bisik Milan di wajah Almira kemudian mulai mencium bibirnya dan dibalas dengan ciuman lembut dari Almira.
__ADS_1
Note: Kalau kalian suka karya ini tolong tinggalkan jejak ya like, komen atau vote nya, love you all dear 😘❣️