
Evan tampak mengamati gerak-gerik Arvin yang kini sedang melakukan presentasi. 'Kemampuan berbicara laki-laki ini lumayan bagus, sepertinya dia cukup memiliki kemampuan dalam menguasai perusahaan ini tidak seperti Bella. Meskipun dia belum memiliki banyak pengalaman tapi dia cukup bisa diperhitungkan. Aku harus bertindak cepat sebelum dia melakukan audit di perusahaan ini.' gumam Evan sambil terus memperhatikan Arvin.
Evan lalu memerhatikan sebuah kertas di atas mejanya. 'Oh jadi Arvin lulusan luar negeri? Pantas saja dia terlihat sedikit pintar tapi kenapa selama ini dia memilih tidak bekerja di perusahaan besar? Apa saja yang dia lakukan selama ini? Apakah sepanjang hidupnya dia habiskan untuk mengejar, Bella? Bodoh sekali.' gumam Evan kembali sambil tersenyum kecut.
Rapat serah terima jabatan pun selesai. Dewan direksi beserta karyawan pun menyalami Arvin satu per satu, tak terkecuali Evan yang juga ikut di barisan untuk memberikan selamat bagi Arvin. Hingga akhirnya tiba giliran Evan tiba di hadapan Arvin dan Bella. Evan pun tersenyum dengan senyum manisnya sedangkan Bella kini tampak begitu gugup. Dia meremas jas Arvin dengan erat sambil sesekali melirik Arvin.
"Selamat Tuan Arvin."
"Terimakasih."
"Perkenalkan saya Evan."
Seketika Arvin lalu melirik ke arah Bella yang kini terlihat gugup sambil meremas bagian bawah jas Arvin. Arvin pun memahami tingkah Bella, dia lalu membalas ucapan Evan disertai senyum yang manis.
"Terimakasih Evan."
"Sama-sama Tuan Arvin, anda tidak perlu sungkan jika ingin menanyakan sesuatu pada saya tentang perusahaan ini karena saya dulu menjadi teman yang cukup dekat dengan Bu Bella." kata Evan dengan senyum menyeringai. Bella pun semakin salah tingkah mendengar perkataan Evan, Arvin yang melihat tingkah gugup Bella kemudian tersenyum.
"Ya tentu saja saya tahu dulu anda sangat dekat dengan Bella, mungkin anda tidak tahu jika sebenarnya kita pernah beberapa kali bertemu saat anda makan siang dan makan malam dengan Bella, tapi saya tidak mempermasalahkan hal itu karena saya tahu kemanapun Bella pergi, dia akan tetap kembali pada saya." kata Arvin sambil tersenyum. Mendengar perkataan Arvin, Bella pun ikut tersenyum.
"Terimakasih sayang." bisik Bella yang hanya dibalas senyuman oleh Arvin. Dia kemudian melirik Evan yang tampak begitu kesal, apalagi saat ini Arvin tampak sedang membelai wajah Bella di depannya.
"Sayang, sebaiknya kau pulang saja. Kau terlihat sangat pucat, kau harus banyak beristirahat."
"Iya Arvin, aku juga harus membantu Riana hari ini."
"Iya sayang, hati-hati." jawab Arvin kemudian mencium kening Bella. Evan yang masih ada di hadapan mereka hanya bisa menatap mereka dengan tatapan begitu sinis.
__ADS_1
"Evan kenapa anda masih disini? Lebih baik anda kembali ke ruangan anda secepatnya." kata Arvin sambil tersenyum kecut.
"Iya Tuan Arvin, permisi." kata Evan kemudian berjalan keluar dari ruang rapat.
Setelah selesai bertemu dengan para dewan direksi. Rafly pun mendekat ke arah Arvin. "Ada apa Pak Rafly?" tanya Arvin.
"Maaf Tuan Arvin, sepertinya anda harus segera melakukan audit, saya menemukan beberapa data yang mencurigakan saat rapat kemarin tapi saya tidak memiliki wewenang untuk menyelidikinya karena posisi saya hanya seorang manager keuangan disini, saya hanya bisa melaporkannya pada Tuan Gibran tadi pagi tapi dia menyuruh saya untuk membicarakan semua ini dengan anda."
"Maksud anda ada beberapa data yang dimanipulasi?"
"Ya, ada beberapa data manipulatif Tuan Arvin."
"Baik terimakasih banyak atas laporan anda Pak Rafly, saya akan melakukan pengecekan sekarang juga."
"Iya Tuan Arvin."
π₯πΏπ₯πΏπ₯πΏ
Arvin pun kini tampak sibuk melihat berbagai laporan perusahaan, terutama laporan selama satu bulan terakhir. "Apa-apaan ini? Kenapa datanya kacau sekali, bahkan ada beberapa proyek manipulatif yang Bella tidak ketahui, apakah Gibran tidak melakukan pengecekan kembali satu bulan terakhir?" kata Arvin.
"Pasti selama satu bulan terakhir ini Gibran sibuk menjalani hari-harinya dengan Riana sampai melupakan pengawasan pada perusahaan ini. Begitupula Bella yang tidak terlalu mengerti tentang laporan seperti ini." kata Arvin dengan begitu serius mengutak-utik laptop yang ada di depannya. Dia lalu mengambil gagang telepon yang ada di sampingnya lalu menelepon seseorang.
"Sinta, panggil Evan, suruh dia ke ruangan saya secepatnya." kata Arvin.
Beberapa saat kemudian Evan pun masuk ke ruangan tersebut.
"Tuan Arvin memanggil saya?" tanya Evan yang kini terlihat pucat.
__ADS_1
"Evan aku tidak mau berbasa-basi, apa ini? Kenapa banyak sekali data manipulasi? Tidak itu saja tapi ada beberapa proyek manipulatif dalam laporan perusahaan ini! Apa sebenarnya yang telah kau lakukan Evan? Apa kau memiliki niat buruk di perusahaan ini?"
'DASAR BRENG*EK! Cepat sekali dia tahu tentang semua ini, bahkan aku tidak menyangka jika dia akan melakukan audit secepat ini, jangan-jangan Rafly menceritakan hal yang tidak-tidak pada Arvin.' kata Evan dalam hati.
"Kenapa kau diam Evan? Apa kau tidak bisa menjawab pertanyaanku?"
"Bukan, bukan seperti itu Pak Arvin, tidak ada proyek manipulatif dalam laporan tersebut, bahkan anda melihat ada tanda tangan Bu Bella di semua laporan tersebut kan?"
Arvin kemudian tersenyum. "Aku tahu, saat itu pasti Bella secara tidak sadar menandatangani semua laporan ini karena saat itu dia sedang terpedaya olehmu! Lebih baik kau angkat kaki dari perusahaan ini, kau kupecat dengan tidak hormat EVAN!!"
Evan pun begitu terkejut mendengar perkataan Arvin. Dia lalu mendekat ke arah Arvin sambil menatap tajam kepadanya.
"Heh jadi anda tahu tentang kedekatan saya dengan Bella dahulu?" tanya Evan sambil tersenyum kecut pada Arvin.
"Itu bukan urusan anda, sekarang lebih baik kau pergi dari sini karena kau sudah kupecat!" bentak Arvin. Namun Evan hanya tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah Arvin.
"Tuan Arvin jadi kau benar-benar tahu tentang kedekatanku dengan Bella? Jika kau tahu kedekatan kami, kau tentu tahu jika kami pernah memiliki hubungan yang spesial sebelum anda merusaknya."
"Aku yang merusaknya? Bercerminlah terlebih dulu Evan, aku sudah mengenal Bella jauh sebelum dirimu! Jangan coba-coba berfikir jika kau lebih mengenal Bella dibandingkan diriku karena kami telah melewati kisah yang panjang sampai akhirnya kami bisa menikah, sedangkan dirimu hanyalah kerikil kecil yang sangat mudah disingkirkan dalam hubungan kami berdua."
Mendengar perkataan Arvin, Evan pun tersenyum meskipun emosi telah menyelimuti hatinya.
"Benarkah aku hanya kerikil kecil yang tidak berarti? Jika aku hanyalah kerikil kecil bagaimana mungkin aku memiliki kedekatan yang begitu dalam dengan Bella hingga bisa menghabiskan hari-hariku dengannya. Oh mungkin Bella juga tidak pernah bercerita sedekat apa kami sebelumnya hingga kau tidak tahu aku juga pernah menikmati tubuh Bella sama sepertimu, hahahaha. Aku bahkan masih teringat bagaimana cara Bella men**sah."
"BREN*SEK KAU EVAN!" teriak Arvin kemudian melayangkan bogem mentahnya pada Evan berkali-kali. Tubuh Evan pun terhempas ke atas lantai terkapar tak berdaya karena mendapat pukulan dari Arvin berkali-kali.
"Jangan pernah kau berkata seperti itu lagi di depanku! Sekarang cepat pergi dari sini!" bentak Arvin pada Evan yang kini sedang mencoba berdiri.
__ADS_1
"Kau benar-benar bodoh Arvin, kau mau saja percaya pada kebohongan Bella agar mau bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya. Bagaimana jika anak yang ada di dalam kandungan Bella sebenarnya adalah darah dagingku?" kata Evan sambil tersenyum menyeringai.