Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Tekanan Mental


__ADS_3

"Kalian jangan bercanda, Sinta sudah tidak ada lagi di sini karena dia sudah kuhabisi!"


"Kau habisi? Kenapa kau harus menghabisinya? Memangnya apa yang telah terjadi sehingga kau harus menghabisinya?"


"Itu bukan urusanmu, Arvin!"


"Bagaimana jika ternyata Sinta masih hidup?"


"Tidak mungkin!"


"Jadi kau ingin bertemu dengan Sinta kan? Aku akan mewujudkan keinginanmu." kata Arvin kemudian memandang ke arah Milan sambil mengangguk. Milan lalu memberi kode pada anak buahnya. Mereka pun kemudian mendekat ke arah Evan dan Celine lalu mencekal tangan mereka. Evan yang masih bersimpuh pun terkejut karena tiba-tiba anak buah Milan sudah mencekal tangannya.


"Hei, apa-apaan ini? Lepaskan aku."


"Bukankah ini yang kau inginkan, Evan. Aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk membuat kesepakatan agar kita berdamai saja, tapi kau tidak mau kan? Jadi kau sendiri yang menginginkan semua ini! Kau memilih jalan untuk berurusan dengan yang berwajib."


Celine pun kian terlihat panik. "Arvin, tolong aku Arvin. Aku tidak mau dipenjara, tolong jangan lakukan itu padaku Arvin! Aku masih ingin memiliki masa depan, Evan cepat kau katakan pada mereka jika kau mau membuat kesepakatan dengan mereka. Tolong Evan buang semua egomu, aku tidak ingin kita masuk penjara!"


"Celine, membuat kesepakatan dengan mereka itu artinya aku menyerah pada mereka, dan aku tidak akan pernah melakukan itu!"


"Evan, buang semua sikap angkuhmu. Ayo berdamailah dengan mereka, kita masih punya kesempatan untuk tidak masuk ke penjara asal kau mengikuti kata-kata mereka."


"Tidak akan Celine, aku tidak akan pernah berdamai dengan mereka, aku tidak akan pernah sudi!"


"Baik jika itu maumu, ayo kita pergi sekarang."


"Arvin, Milan tidak jangan lakukan itu. Jika kalian memiliki urusan dengan Evan tolong jangan seret aku juga pada permasalahan kalian, aku tidak memiliki dendam apapun pada kalian, selama ini aku hanya mengikuti perintah Evan saja, karena dia adalah kekasihku."


Milan pun mendekat pada Celine. "Itulah kesalahanmu, Celine, kenapa kau mau saja menuruti kata-kata Evan."


"Maafkan aku Milan, Arvin, tolong aku jangan masukkan aku ke penjara, aku tidak pernah berbuat kesalahan pada kalian berdua."


"Tidak punya kesalahan katamu, Celine? Apa kau sadar dengan semua kata-katamu? Kau sudah mengambil semua perhiasan milik Bella dan Riana, selain itu kau juga sudah meracuni mereka agar mereka melahirkan meskipun belum waktunya."


"Aku akan meminta maaf pada Bella dan Riana. Tolong maafkan aku, Arvin."


"Aku tidak bisa memberikan jawaban, kau bicara saja dengan mereka. Ayo Milan, kita pergi sekarang." kata Arvin. Milan pun memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Evan dan Celine ke dalam mobil.


💜💜💜💜💜


"Bagaimana Ra? Apa sudah ada kabar dari mereka?" tanya Bella pada Rachel.


"Belum Bella."

__ADS_1


"Bagaimana ini, bagaimana jika mereka gagal dan Evan melarikan diri?"


"Kita berdoa saja, semoga semuanya berjalan dengan lancar."


"Iya Bella, lebih baik kita berdoa saja." kata Riana sambil menenangkan Bella yang terlihat begitu panik.


Beberapa saat kemudian, ponsel Rachel pun berbunyi.


"Dari Milan." kata Rachel, dia kemudian mengangkat panggilan itu.


[Halo Milan, bagaimana?]


[Semuanya berjalan sesuai rencana Ra.]


[Syukurlah, lalu kalian sekarang ada dimana?]


[Kami dalam perjalanan menuju ke ibukota, kita bertemu di kantor polisi satu jam lagi, tapi sebelumnya kalian tolong jemput Sinta terlebih dulu di apartemennya.]


[Baik Milan.]


[Ra, tolong katakan pada Bella. Ternyata Evan berbuat seperti ini pada Bella dan Gibran karena ada hubungannya dengan dendam masa lalu.]


[Dendam masa lalu?]


[Iya Ra, ada kaitannya dengan seseorang di masa lalu mereka.]


[Rachel, ternyata Evan adalah kakak kandung dari Vania.]


[Astaga, jadi dia melakukan itu karena dendam pada mereka?]


[Ya, sebenarnya bukan tentang Vania karena hubungan Evan dan Vania pun tidak akur, tapi dia marah karena akibat perbuatan Bella dan Gibran, mamanya menderita tekanan mental karena terus memikirkan kematian Vania yang begitu tragis serta sikap dari Arvin dan Gibran yang telah menyakiti Vania.]


[Memangnya apa yang Arvin lakukan pada Vania?]


[Arvin sebenarnya tidak pernah melakukan apapun tapi mereka tidak terima akan sikap Arvin yang lebih memperhatikan Bella dibandingkan nasib Vania saat mereka memindahkan jenazah Vania.]


[Jadi itulah sebabnya dia mengalami tekanan mental?]


[Ya.]


[Kemudian mamanya meninggal akibat tekanan mental tersebut.]


[Ya, itulah alasan yang menyebabkan Evan ingin balas dendam pada mereka.]

__ADS_1


[Iya Ra, tolong kau beritahu hal ini pada Bella, agar saat nanti dia bertemu di kepolisian, Bella sudah tahu semua yang terjadi.]


[Iya Milan, aku akan memberitahu Bella.] jawab Rachel kemudian menutup panggilan dari Milan.


Rachel kemudian menatap Bella.


"Ra, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kau terlihat panik? Apakah rencana mereka tidak berjalan lancar."


"Tidak, bukan itu Bella. Rencana mereka berjalan dengan lancar dan saat ini Arvin dan Milan sedang membawa Evan ke kantor polisi. Satu jam lagi kita akan bertemu disana. Bella, tolong kau hubungi juga Sinta agar bersiap karena sebentar lagi kita akan menjemputnya."


"Baik Ra." jawab Bella, dia kemudian menghubungi Sinta untuk segera bersiap.


"Ra, aku sudah menghubungi Sinta. Apakah kita harus pergi sekarang?"


"Sebentar Bella, sebenarnya ada sesuatu yang harus kukatakan padamu."


"Ada apa Ra?" tanya Bella sambil mengerutkan keningnya.


"Begini Bella, tadi Milan mengatakan padaku jika sebenarnya Evan melakukan hal seperti ini pada kau dan Gibran karena ada hubungannya dengan dendam masa lalu."


"Dendam masa lalu? Apa maksudmu sebenarnya Ra? Aku benar-benar tidak mengerti."


"Begini Bella, Evan sebenarnya ada hubungannya dengan masa lalu kalian. Dia adalah kakak kandung dari Vania."


"Astaga." kata Bella sambil menutup mulutnya.


"Iya Bella, dia adalah kakak kandung dari Vania."


"Jadi Evan melakukan semua ini karena dia dendam atas kematian Vania?"


"Bukan, bukan seperti itu. Milan mengatakan jika hubungan Vania dan Evan sangatlah buruk, dia melakukan semua itu bukan untuk balas dendam karena kematian Vania, tapi karena mamanya."


"Karena mamanya? Apa mamanya yang meminta dia untuk melakukan semua itu?"


"Tidak Bella, mama Vania juga sudah meninggal, dan dia meninggal karena tekanan mental yang dideritanya karena kematian Vania."


"Jadi mamanya Vania meninggalkan karena tekanan mental yang dideritanya karena memikirkan kematian Vania yang begitu tragis?"


"Ya, itulah sebabnya dia dendam padamu dan Gibran. Selain itu dia juga dendam pada Arvin karena Arvin lebih mementingkan dirimu dibandingkan Vania."


"Astaga." kata Bella sambil menutup wajahnya.


"Rachel, Riana, ayo kita pergi sekarang, aku harus bertemu dengan Evan." kata Bella sambil menarik tangan Rachel.

__ADS_1


"Sabar Bella, kau harus tenangkan dirimu."


"Tidak bisa, aku sudah tidak bisa tenang, aku harus bertemu dengan Evan secepatnya!"


__ADS_2