Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Dibuang


__ADS_3

Evan memarkirkan mobilnya di apartemen milik Sinta. Kemudian dia bergegas memasuki apartemen tersebut.


TOK TOK TOK


Evan pun mengetuk pintu apartemen. Beberapa saat kemudian, Sinta pun membuka pintu apartemen tersebut dan melihat Evan yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum.


"Apa kau sudah siap?"


"Ya."


"Kita pergi sekarang?"


"Sebentar Sinta, aku belum sarapan pagi. Apa kau mau menemaniku sarapan? Ini aku bawakan dua bungkus makanan untuk kita berdua."


"Aku menemanimu saja, aku sudah sarapan."


'Sial, bagaimana caranya dia memakan makanan ini?' gumam Evan dalam hati.


Mereka kemudian masuk ke dalam apartemen milik Sinta. Namun baru saja Sinta menutup pintu apartemennya, Evan sudah memeluk tubuhnya.


"Sinta, aku rindu padamu?" bisik Evan sambil memeluk tubuh Sinta.


Sinta kemudian membalikkan tubuhnya, lalu mengalungkan tangannya di leher Evan.


"Aku juga rindu padamu Evan." kata Sinta sambil mendekatkan wajahnya pada Evan. Evan pun ikut mendekatkan wajahnya lalu mulai mencium bibir merah Sinta dengan begitu bernaf*u. Evan kemudian mengangkat tubuh Sinta ke dalam kamar.


"Bukankah tadi kau mengatakan kau lapar dan ingin sarapan?"


"Tapi aku rindu denganmu. Sebentar saja Sinta." kata Evan sambil melepas pakaian Sinta.


"Kau mau kan?"


"Ya." jawab Sinta kemudian menciumi tubuh Evan.


'Tidak ada salahnya menikmati tubuh molekmu sebelum aku menghabisimu, Sinta.' gumam Evan sambil tersenyum menyeringai.


💙💙💙💙💙


Baru saja Celine berdiri, tiba-tiba tubuhnya sudah ambruk di depan Milan. Milan pun tersenyum.


"Astaga Celine, ternyata begitu mudah untuk membodohimu." kata Milan sambil membenarkan letak tubuh Celine ke atas sofa. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.


"Cepat kalian masuk."


Milan kemudian berjalan ke dalam kamar dan mengambil sebuah laptop yang ada di meja. Beberapa saat kemudian beberapa orang pun masuk ke rumah Celine, sedangkan salah satunya berjaga di depan rumah.


"Coba kau periksa datanya di laptop ini." kata Milan sambil memberikan sebuah laptop milik Evan pada salah seorang anak buahnya yang datang.


Milan kemudian mendekat pada salah seorang anak buahnya lagi yang kini berdiri di dekat pintu.


"Dia benar-benar hacker profesional seperti yang kuminta kan?"


"Iya bos, dia sangat profesional bos."


"Bagus."

__ADS_1


Milan kemudian mendekat kembali pada hacker yang sedang mengutak-atik laptop Evan. "Tolong kau hapus dan musnahkan semua datanya."


"Iya baik Tuan Milan." jawab hacker tersebut.


"Semua datanya sebenarnya terkunci."


"Apa kau bisa membukanya?"


"Tentu saja Tuan."


"Bagus."


💙💙💙💙💙


"Terimakasih sayang." kata Evan sambil membelai rambut dan menciumi tubuh tela*jang Sinta.


Sinta pun tersenyum.


"Evan, lebih baik kita pergi sekarang."


"Iya, tapi aku sarapan terlebih dulu."


"Iya Evan, aku juga akan menemanimu sarapan. Bermain denganmu membuatku sedikit lapar."


'Bagus, memang itu yang kuinginkan. Kau memakan makanan dariku tanpa kau curiga padaku.' gumam Evan.


Mereka lalu berjalan keluar dari kamar menuju ke meja makan kemudian memakan makanan yang dibawa oleh Evan. Evan pun tersenyum menyeringai saat melihat Sinta yang memakan makanan yang dibawanya dengan begitu lahap.


'Bagus Sinta, habiskan makananmu sekarang juga.' gumam Evan dalam hati.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah menyelesaikan sarapannya.


"Ya."


"Ayo kita pergi sekarang."


Iya Evan."


Mereka kemudian keluar dari apartemen milik Sinta lalu masuk ke mobil Evan. Evan pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju keluar dari ibu kota.


"Sebenarnya kita mau kemana, Evan?"


"Ke sebuah desa yang aman, agar Arvin dan anak buah Gibran tidak menemukanmu, setelah aku berhasil menguasai perusahaan milik Gibran aku akan menjemputmu kembali."


"Kau tidak lupa janjimu untuk menikahiku kan?"


"Tentu saja tidak Sinta sayang. Aku sudah mempersiapkan semuanya, nanti setelah kita sampai di desa tersebut, kita akan segera menikah."


"Bagus jika kau tidak melupakan itu."


"Tentu saja tidak, Sinta sayang."


"Apa perjalanannya masih lama?"


"Ya, mungkin sekitar dua jam lagi."

__ADS_1


"Kalau begitu aku tidur dulu, aku sedikit mengantuk."


"Ya, kau tidur saja. Jika sudah sampai nanti kubangunkan."


"Iya Evan, aku tidur dulu." kata Sinta kemudian memejamkan matanya.


Melihat Sinta yang kini tampak sudah tertidur dengan lelap, Evan pun tersenyum.


'Bagus, tampaknya obat itu sudah bereaksi.' gumam Evan dalam hati.


Dia kemudian menepikan mobilnya ke tepi jalan, lalu membekap hidung Sinta dengan sapu tangan yang telah diberi cairan obat bius.


"Hahahaha.. Hahahhaha." Evan pun tertawa terbahak-bahak saat melihat Sinta yang kini terkulai lemas di atas jok mobilnya.


"Rasakan itu!" kata Evan sambil tersenyum kecut. Dia lalu mengambil sebuah tali yang ada di belakang jok mobil kemudian mengikat tangan, kaki, serta badan Sinta. Tak lupa sebuah lakban pun Evan tempelkan di mulut Sinta untuk membekap mulutnya. Setelah selesai, Evan kemudian mengemudikan mobilnya lagi. Awalnya memasuki area pedesaan di pinggiran kota hingga akhirnya mereka sampai di sebuah hutan yang ada di sebuah pengunungan yang letaknya sangat jauh dari pemukiman. Evan lalu memarkirkan mobilnya di tepi sebuah hutan yang begitu gelap karena pepohonan yang sangat rimbun, bahkan cahaya matahari pun sangat sulit menembus bagian dalam hutan.


"Ini tempat yang bagus untuk membuangmu Sinta, kau pasti akan mati kelaparan disini, dan tidak ada seorangpun yang akan menemukanmu karena hutan ini tidak pernah terjamah oleh manusia." kata Evan sambil tersenyum menyeringai.


Dia kemudian membopong tubuh Sinta masuk ke dalam hutan tersebut. Setelah berjalan kurang lebih satu kilo meter memasuki area hutan, Evan pun menaruh tubuh Sinta begitu saja di atas tanah lalu bergegas meninggalkannya.


"Selamat tinggal, Sinta." kata Evan sambil terkekeh. Dia kemudian berjalan kembali keluar dari hutan lalu masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa saat setelah Evan pergi, Sinta pun terbangun. Betapa terkejutnya dia saat melihat kini dia ada di dalam sebuah hutan dengan tubuh yang terikat. Namun ketika dia akan berteriak, Sinta pun tidak bisa membuka mulutnya karena ada lakban yang menempel di mulutnya tersebut.


'Astaga, kenapa semua ini terjadi padaku? Siapa yang melakukannya? Apakah Evan yang sengaja menjebakku?' gumam Sinta dalam hati.


'Aku benar-benar bodoh, sudah percaya pada laki-laki bajingan seperti Evan.' gumam Sinta sambil menangis.


'Aku harus bagaimana? Seluruh tubuhku terikat, aku tidak bisa bergerak sedikitpun.' gumam Sinta dengan begitu terisak. Tiba-tiba dia mendengar sesuatu mendekat ke arahnya.


KRESEK KRESEK


"Astaga, apa ada binatang buas yang mendekatiku? Ya, itu pasti binatang buas, aku harus bagaimana?' gumam Sinta dipenuhi dengan rasa takut.


Air mata pun kini mengalir semakin deras.


'TUHANNNN TOLONG AKU!!! AKU MINTA MAAF ATAS SEGALA KESALAHAN YANG TELAH KUPERBUAT!!! TUHAN TOLONG AKU, AMPUNI AKU!!' teriak Sinta dalam hati, apalagi suara langkah itu kini semakin begitu dekat ke arahnya.


💙💙💙💙💙


Setelah mengutak-atik laptop milik Evan selama dua jam, hacker tersebut pun kini bisa tersenyum lega.


"Sudah selesai Tuan Milan, semua data sudah saya hapus. Akses di laptop ini pun sudah saya kunci agar tidak bisa menjebol kembali data milik perusahaan Tuan Gibran."


"Baik terimakasih banyak."


"Sama-sama."


"Pembayaranmu sudah kutransfer."


"Baik, terimakasih Tuan Milan. Saya permisi dulu."


"Kami juga permisi bos."


Milan pun mengangguk, sambil melihat anak buahnya yang keluar dari rumah itu. Dia kemudian melihat Celine yang masih terlelap.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia bangun, aku harus menyelesaikan pekerjaan terakhirku." kata Milan kemudian mengambil ponsel, lalu menelepon seseorang.


[Halo Arvin, aku sudah selesai. Bagaimana pekerjaanmu?]


__ADS_2