
"Evan, tolong maafkan aku."
"APA MAAF KATAMU? APA KAU TIDAK SADAR, KESALAHAN YANG SUDAH KAU LAKUKAN ITU BEGITU BESAR, CELINE!!"
"Evan, tolong maafkan aku. Aku tidak menyangka jika akan berdampak seperti ini padamu."
"Selain bodoh ternyata kau juga ceroboh, Celine! Sekarang cepat katakan padaku! Siapa yang sudah datang ke rumah ini? Apa itu teman kuliahmu yang sama bodohnya seperti dirimu!"
Namun Celine hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau diam, Celine! Apa itu teman-teman kuliahmu yang bodoh yang seringkali menggunakan laptopku untuk mengerjakan tugas kalian seperti dulu?"
"Emhhh.. E.. Itu."
'Jadi Evan mengira yang melakukan semua itu adalah teman kuliahku, kesempatan bagus lebih baik aku berbohong saja.' gumam Celine dalam hati.
"Katakan Celine!!"
"Oh ya, itu teman kuliahku."
PLAK PLAK PLAK
"Dasar bodoh! Bukankah dulu sudah pernah kuperingatkan agar kau dan teman-temanmu jangan pernah sekali-kali menyentuh barang milikku tapi ternyata kau melakukan itu lagi!"
"Maafkan aku Evan, aku tidak bisa mencegah mereka. Mereka terus merayuku untuk meminjam laptop milikmu."
"Dasar bodoh!! Sekarang semuanya sudah hancur!! Lalu apa yang bisa kau lakukan untuk untuk menebus semua kesalahan yang pernah kau lakukan!"
"Ma.. Maafkan aku Evan, aku tidak tahu."
"Dasar wanita bodoh!! BREN*SEK! AKU MENYESAL MEMILIKI KEKASIH BODOH SEPERTI DIRIMU!" kata Evan kemudian berjalan pergi keluar dari rumah tersebut.
"Evan kau mau kemana?" teriak Celine, tapi Evan mengindahkan teriakkannya. Dia terus berjalan keluar dari rumah.
Celine pun menjatuhkan dirinya ke lantai sambil menangis. "Astaga, aku tidak tahu telah melakukan kesalahan yang begitu besar. Aku benar-benar ceroboh telah percaya pada bujuk rayu Milan, aku tidak tahu jika ternyata dia memperdayaku. Kupikir dia adalah musuh bebuyutan Gibran, tapi ternyata aku salah." kata Celine sambil terisak dan menyesali semua perbuatannya.
Sementara Evan yang keluar dari rumah, melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya, rasa emosi yang begitu berkecamuk di dalam hatinya membuatnya menumpahkan kekesalan pada barang-barang yang ada di sekitarnya. Dia lalu menendang tempat sampah yang ada di dekat mobilnya.
"DASAR BRENG*EK!!" umpat Evan.
Namun saat tempat sampah yang ditendangnya terjatuh, betapa terkejutnya Evan karena di dalam tempat sampah tersebut ada sebuket bunga dan sekotak strawberry cheese cake yang keluar dari tempat sampah dan kini berceceran di dekat mobilnya.
"Apa ini?" kata Evan sambil mengamati kue yang tercecer, dia kemudian mengambil sebuah buket bunga itu dan melihat ada sebuah ucapan di buket bunga tersebut.
__ADS_1
Teruntuk Celine tersayang
Membaca tulisan tersebut, emosi Evan pun kian memuncak. Dia kemudian bergegas kembali masuk ke dalam rumah.
"CELINEEEEEEE!!!"
Celine yang masih menangis sambil bersimpuh di atas lantai pun begitu terkejut mendengar teriakkan Evan.
"Astaga, apa lagi ini? Apa yang telah terjadi?" kata Celine sambil mengusap air matanya. Di saat itu juga, Evan sudah masuk ke dalam rumah itu kembali.
"CELIIIIINEEEEE!!! APA INI?" teriak Evan sambil memegang sebuah buket bunga mawar berwarna merah jambu.
Celine pun hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya, tubuhnya kini pun terasa begitu lemas, apalagi melihat kemarahan di wajah Evan. Matanya menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam, wajahnya pun memerah.
'Tuhan, tolong aku. Aku takut Evan akan membunuhku, dia bisa saja berbuat nekat jika sudah seperti ini.' gumam Celine dalam hati.
"CELINE JAWAB AKU SIAPA YANG MEMBERIKAN BUNGA INI UNTUKMU!!"
"Emh.. E..."
"Cepat katakan sekarang juga, Celine!! Lebih baik kau jujur padaku! Jika tidak aku akan membunuhmu sekarang juga!!"
"Emhh.. E... Evan, tolong maafkan aku." kata Celine sambil terisak.
"Celine cepat katakan apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa kau berani bermain-main di belakangku dengan laki-laki lain?"
"Jika kau masih sayang nyawamu, cepat jawab pertanyaanku Celine!!"
"Evan, maafkan aku. Sebenarnya aku telah terpedaya oleh bujuk rayu seseorang, aku tidak tahu jika ternyata dia menjebakku. Tolong maafkan aku, Evan."
"Apa maksudmu? Berbicaralah yang jelas Celine! Jadi kau sudah terpedaya oleh seseorang?"
Celine pun mengangguk dengan perlahan. "Maafkan aku." kata Celine lirih.
"Celine cepat katakan bagaimana ini semua bisa terjadi? Siapa orang yang sudah memperdayamu?"
Celine kemudian mengambil nafas panjang.
"Evan, saat itu aku berkenalan dengan seorang laki-laki, dan bodohnya aku, aku terpedaya oleh kata-kata manisnya yang selalu merayuku. Aku pikir dia mendekatiku hanya untuk bersenang-senang saja layaknya orang-orang kaya, tapi ternyata aku salah, aku tidak tahu jika ternyata dia memiliki maksud lain."
"Dasar BODOH! JADI DIA YANG SUDAH MELAKUKAN SEMUA INI?"
"Ya, kemungkinan dia yang melakukan semua ini, saat dia datang ke rumah ini, dia memberiku sekotak kue, lalu aku memakan kue tersebut dan setelah itu aku merasa begitu mengantuk."
__ADS_1
"Lalu setelah itu kau tertidur, dan tanpa kau ketahui dia telah mengobrak-abrik semua dataku?"
"Ya." jawab Celine sambil menghapus air mata yang masih mengalir di wajahnya.
"Astaga Celine, kau bodoh sekali."'
"Maafkan aku, Evan. Aku pikir dia adalah musuh bebuyutan Gibran, jadi aku percaya saja padanya. Aku pikir ini bukan suatu hal yang berbahaya, aku memang benar-benar bodoh."
Evan pun mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu, Celine. Musuh bebuyutan Gibran? Memangnya siapa dia? Siapa laki-laki yang telah memperdayamu?"
"Milan. Milano Arkana Putra."
"APA MILANNNN?"
Celine pun mengangguk.
"Celine, kau benar-benar bodoh! Perlu kau tahu Celine, Rachel istri dari Milan adalah sahabat Bella! Saat aku masih menjadi asisten pribadi Bella, beberapa kali dia menghabiskan waktunya pergi ke rumah Rachel dan Milan."
"Astaga, aku benar-benar tidak tahu, jadi kita telah ditipu mentah-mentah oleh Milan." kata Celine sambil menjambak rambutnya.
"Ya, dan ini karena kebodohanmu!!"
"Tolong maafkan aku, Evan. Aku tidak tahu jika ternyata ini adalah sebuah jebakan."
"DASAR BODOH!!!"
"Evan, tolong beri aku kesempatan. Aku akan memperbaiki semua kesalahan yang telah kulakukan."
"Memangnya kau bisa apa wanita bodoh?" bentak Evan tepat di depan wajah Celine.
Celine pun menggelengkan kepalanya.
"Dasar bodoh!!"
Evan pun memejamkan matanya, hingga beberapa saat kemudian dia membuka matanya sambil tersenyum.
"Hanya itu satu-satunya cara untuk membalas dendam pada Milan. Milan kau berani mengusikku, maka aku akan melakukan hal yang sama sepertimu." kata Evan sambil tersenyum menyeringai.
💜💜💜💜💜
Milan membelai wajah Rachel yang kini tertidur di sampingnya. "Kalian tenang saja, aku akan melindungi kalian jika sesuatu hal terjadi padaku."
__ADS_1
Di saat itulah tiba-tiba ponselnya pun berdering. Milan kemudian menatap ponselnya.
"Waktunya sudah tiba."