
Mendapat ciuman secara tiba-tiba Arvin pun sedikit terkejut. Namun dia tidak dapat menolak ciuman Bella yang begitu menggairahkan.
"Aku mencintaimu." kata Bella.
"Aku juga Bella, aku bahkan sangat merindukanmu. Aku sungguh sangat menyesal atas semua kesalahan yang telah kuperbuat padamu. Bertahun-tahun aku menyesali kesalahku hingga tanpa sadar aku benar-benar telah jatuh cinta padamu. Aku sangat mencintaimu, Bella." kata Arvin sambil memegang wajah Bella.
Bella pun mengangguk hingga keduanya berciuman kembali. Ciuman yang awalnya hangat pun kini berubah menjadi ciuman panas yang penuh desa*an dan e*angan. Perlahan Bella pun membuka kancing kemeja Arvin sambil tersenyum manja. "Bella?" tanya Arvin sambil mengerutkan kening yang dibalas dengan anggukan oleh Bella.
Arvin pun kemudian mulai menciumi leher dan tengkuk Bella dengan penuh gairah. "Aku merindukanmu, Bella. aku sangat merindukanmu." kata Arvin sambil sibuk melepas pakaian yang dikenakan oleh Bella.
"Aku juga." jawab Bella dengan mende*ah sambil menikmati setiap detail sentuhan dari Arvin.
"Malam ini jadikanlah aku milikmu." kata Bella.
"Iya sayang." jawab Arvin kemudian memasukkan asetnya dengan penuh gairah.
"Tubuhmu sangat menggemaskan, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu." kata Bella disela permainan mereka.
"Iya Bella, kau sudah sering mengatakannya dulu saat kita masih bersama." jawab Arvin sambil memainkan ping*ulnya di atas tubuh Bella. De*ahan dan e*angan pun kian memenuhi sudut kamar.
"Aku mencintaimu." kata Arvin saat mereka berada di puncak kenikmatan, kemudian merebahkan tubuhnya di atas tubuh Bella.
"Aku juga mencintaimu Evan." jawab Bella saat Arvin menindih tubuhnya.
Arvin pun begitu terkejut mendengar perkataan Bella. "Evan?" kata Arvin sambil mengerutkan keningnya.
Hatinya terasa begitu sakit dan perasannya kian tak menentu. "Siapa Evan? Apakah dia laki-laki yang dicintai Bella saat ini? Jadi dia mengira aku adalah Evan?" kata Arvin sambil merebahkan tubuhnya di samping tubuh Bella.
"Astaga, ini benar-benar sebuah kesalahan. Maafkan aku Bella, kupikir kau benar-benar telah memaafkan aku dan bisa menerima cintaku lagi." kata Arvin sambil menatap wajah polos Bella yang kini terlelap.
Arvin kemudian mendekat pada Bella lalu memeluk tubuhnya yang masih telanjang. "Maafkan aku, Bella." kata Arvin sambil memeluk Bella dengan begitu kencang lalu menciumi rambut dan bahunya.
"Maafkan aku." kata Arvin lagi lalu melepaskan pelukannya pada Bella. Dia lalu mengenakan pakaiannya kemudian berjalan ke arah meja Bella dan menuliskan sesuatu di atas sebuah kertas. Setelah menulis di kertas itu, Arvin kemudian melangkahkan kakinya ke samping ranjang Bella.
Maafkan aku malam ini sudah menyentuhmu Bella, aku benar-benar tidak tahu jika yang ada di dalam pikiranmu ternyata bukanlah diriku, aku memang sangat bodoh, seharusnya aku sadar jika kau sedang mabuk dan tidak mengindahkan kata-katamu saat kau mengucapkan cinta padaku, seharusnya aku sadar kata cinta itu tidak pantas lagi untukku, seharusnya aku sadar jika sudah ada laki-laki lain di hatimu. Sekali lagi maafkan aku, Bella. Jika aku mampu mengubah takdir, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan ketulusan cintamu dulu. Sayangnya aku terlalu bodoh hingga penyesalan ini pun datang terlambat, aku baru merasakan sakitnya mencintai orang yang tidak mencintaiku, tapi kuanggap ini adalah hukuman untukku yang kini terpenjara akan rasa cintaku padamu.
Selamanya aku akan selalu mencintaimu, berbahagialah dengan orang yang kau cintai.
__ADS_1
Arvin.
Arvin pun membaca surat itu kembali kemudian meletakkannya di atas ranjang Bella.
"Selamat malam Bella." kata Arvin sambil mengecup kening Bella kemudian meninggalkan kamar itu dengan hati yang terasa begitu perih.
🌸🌿🌸🌸🌿🌿
"Gibran, apakah kau yang membeli laptop ini?" tanya Riana setelah menerima sebuah paket pembelian laptop.
"Oh iya Riana, laptopku hilang saat aku mengalami kecelakaan."
"Oh, apakah kau orang kaya?" tanya Riana dengan begitu polos yang membuat Gibran tertawa terbahak-bahak.
"Memangnya jika aku membeli laptop baru itu menunjukkan jika aku orang yang kaya?" tanya Gibran sambil tersenyum.
"Emh tidak juga."
"Riana, aku membeli laptop ini karena aku membutuhkannya untuk bekerja."
"Oh, memangnya apa pekerjaanmu?" tanya Riana yang membuat Gibran begitu gugup.
"Gibran, apa pekerjaanmu sebenarnya?"
"Emmhhh.. E... Itu aku seorang trader. Ya aku seorang trader jadi mengerjakan pekerjaanku dari rumah."
"Oh kau ternyata seorang trader? Kakakku juga dulu pernah terjun ke bidang seperti itu tapi dia kehabisan modal sehingga dia memutuskan untuk bekerja."
"Oh, sepertinya kau sangat menyayangi kakakmu?"
"Ya, meskipun kami bukan saudara kandung. Aku sangat menyayangi kakakku, begitupula dirinya. Dia pun sangat menyayangiku." kata Riana sambil tersenyum.
"Jadi kalian bukan saudara kandung?" tanya Gibran yang dijawab gelengan kepala oleh Riana.
"Papanya menikahi mamaku saat aku berumur tiga tahun dan dia berumur lima tahun."
"Owh jadi kalian benar-benar bukan saudara kandung?"
__ADS_1
Riana pun kemudian mengangguk. "Ya, tapi meskipun bukan saudara kandung kami saling menyayangi, dia bahkan sangat melindungiku dan sangat protektif jika ada laki-laki yang mendekatiku." kata Riana sambil tersenyum.
Gibran pun menatap Riana yang kini terlihat sedih. "Apa kau pernah mencintainya?" tanya Gibran yang membuat Riana tampak begitu gugup.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Dia kakakku, sudah sewajarnya aku menyayanginya."
"Tapi dia bukan kakak kandungmu. Dari cara berbicaramu saja aku tahu jika kau pernah mencintainya." kata Gibran yang membuat Riana kini tampak begitu sedih.
"Maafkan aku, maaf aku sudah lancang menanyakan ini semua padamu." kata Gibran diiringi rasa bersalah di dalam hatinya.
"Tidak apa-apa, memang itulah kenyataannya. Aku memang dulu pernah mencintainya."
"Dulu?"
"Ya, dulu aku pernah mencintainya tapi rasa ini sudah kukubur dalam-dalam karena aku sadar, sampai kapanpun dia tidak akan pernah mencintaiku."
"Apa dia sudah memiliki kekasih?"
"Entahlah, dia dulu memiliki kekasih tapi sekarang aku tidak tahu dia sudah memiliki kekasih lagi atau belum karena kami tinggal berjauhan."
"Jika dia tidak memiliki kekasih, kenapa kau tidak mencoba mengejar cintanya?"
"Untuk apa? Untuk apa melakukan sesuatu hal yang sia-sia? Selamanya dia tidak akan pernah bisa mencintaiku karena dia hanya menganggapku sebagai adik kecilnya yang harus dia lindungi." kata Riana dengan raut wajah yang begitu sedih.
Tak berapa lama, air mata pun mulai mengalir lagi membasahi wajahnya. Gibran pun kian merasa bersalah, dia lalu mendekat pada Riana.
"Maafkan aku sudah membuatmu bersedih."
"Tidak apa." jawab Riana sambil menggelengkan kepalanya.
'Oh Tuhan, ternyata dia begitu rapuh.' kata Gibran dalam hati. Mendengar isak tangis Riana yang begitu sendu, Gibran pun semakin mendekatkan tubuhnya lalu memeluk Riana.
"Sekali lagi maafkan aku jika pertanyaanku telah membuka kembali luka di hatimu."
Riana yang begitu terkejut mendapat pelukan dari Gibran pun hanya mengangguk.
🌿🌿🌿🌿🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
"Apa ini sudah pagi?" kata Bella sambil membuka matanya. Dia lalu bangun dari tempat tidurnya dan begitu terkejut saat melihat tubuh telanjangnya.
"TIDAKKKKK!!!! APA-APA YANG TELAH TERJADI PADAKUUUUUUU???" teriak Bella yang begitu menggema di seluruh ruang kamar.