Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Dibodohi


__ADS_3

Milan baru saja duduk di kursi ruangannya, tiba-tiba ponselnya pun berdering.


"Celine." kata Milan saat melihat sebuah nama di ponselnya. Bergegas Milan pun mengangkat panggilan itu.


[Halo Celine sayang, bagaimana keadaanmu?]


[Aku sudah baik-baik saja, Milan.]


[Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu.]


[Aku tidak apa-apa, aku sudah meminum obat dan sekarang kondisiku jauh lebih baik.]


[Oh syukurlah. Ada apa sayang?]


[E.. Emh.. Milan, apakah besok kau sibuk?]


[Memangnya kenapa?]


[Kalau kau tidak sibuk, besok aku ingin bertemu denganmu, Milan. Aku ingin kau datang ke rumahku.]


'Bagus sekali, memang itu yang sedang kutunggu darimu, tanpa bersusah payah membujukmu, kau sudah memberikan jalan padaku, Celine.' gumam Milan dalam hati.


[Milan, kenapa kau diam? Apa ini artinya besok kau sibuk dan tidak bisa datang ke rumahku?]


[Oh tidak Celine sayang, besok aku bisa datang, sebenarnya sedikit sibuk tapi aku tidak ingin membuang-buang kesempatan untuk berdua denganmu.] jawab Milan sambil tersenyum menyeringai.


[Terimakasih Milan, kau baik sekali.]


[Ya tentu saja, semua kulakukan untuk dirimu sayang.]


[Ya sudah kututup dulu teleponnya, aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu terlalu lama.]


[Iya Celine sayang, sampai bertemu besok.]


[Iya Milan.]


Celine kemudian menutup telepon itu sambil tersenyum.


"Sepertinya aku begitu berarti dalam hidupmu Milan, kau bahkan sampai mengorbankan pekerjaanmu untuk bisa berduaan denganku." kata Celine sambil terkekeh.


Sementara Milan, setelah menutup teleponnya dia kemudian menghubungi seseorang melalui ponselnya.


[Halo Arvin.]


[Iya Milan, ada apa?]


[Apakah sudah kau temukan siapa mata-mata di kantormu?]


[Aku belum tahu pastinya Milan, tapi ada dua orang yang kucurigai.]


[Bagus, Arvin sebenarnya ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu, nanti setelah pulang kerja bisakah kau datang ke rumahku?]


[Di rumahmu? Apa tidak sebaiknya diluar saja? Apa itu tidak menggangu keluargamu jika kita membicarakan hal seperti ini di rumahmu?]


[Tentu tidak, kau tenang saja. Untuk saat ini tempat yang paling aman adalah rumahku. Jika kita membicarakannya di luar akan sangat berbahaya, dan jika aku yang datang ke rumahmu itu juga akan lebih berbahaya, karena jika sampai Evan tahu kita bekerjasama habislah kita.]


[Oh ya, aku mengerti Milan. Nanti sore aku akan datang ke rumahmu.]


[Iya Arvin.]


[Terimakasih Milan.]

__ADS_1


[Ya.]


Milan pun menutup teleponnya, lalu dia menghubungi lagi salah seorang anak buahnya.


"Pastikan dia tenaga yang terlatih dan terbaik." kata Milan sebelum menutup panggilan itu.


🖤🖤🖤🖤🖤


"Sayang, aku pergi dulu ya. Kau jaga diri baik-baik." kata Evan sambil mengecup kening Celine.


"Iya Evan, kau hati-hati di jalan. Aku pasti merindukanmu."


"Ya, aku juga."


Evan lalu mengacak-acak rambut Celine sambil membelai wajahnya. Kemudian dia mendekatkan wajahnya lalu mulai mencium bibir merah Celine.


"Hai Celine, aku baru sadar kenapa kau cantik sekali hari ini?" kata Evan sambil menatap Celine yang sudah berdandan dan memakai dress mini motif chiffon bunga-bunga di atas lutut serta make up lengkap di wajahnya.


"Oh ini karena aku ingin terlihat cantik di matamu agar kau selalu mengingatku dan merindukanku saat kau pergi nanti, jadi kau tidak pergi terlalu lama meninggalkanku." kata Celine dengan sedikit gugup.


Evan pun tersenyum.


"Tanpa kau berdandan seperti ini, aku akan selalu merindukanmu saat kau jauh dariku Celine sayang."


Celine pun tersenyum.


"Sudah lebih baik kau cepat pergi sekarang, Evan."


"Sebentar." kata Evan kemudian mendekatkan wajahnya lagi pada Celine lalu mencium bibirnya kembali.


"Aku mencintaimu, aku akan kembali secepatnya." kata Evan sambil membelai rambut Celine.


"Iya Evan." jawab Celine.


Sedangkan Celine tersenyum melihat kepergian Evan, dia kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Milan.


[Halo Milan.]


[Iya Celine sayang.]


[Kau jadi ke rumahku kan?]


[Tentu saja, sebentar lagi aku juga sampai.]


[Iya Milan, aku tunggu.] jawab Celine kemudian menutup teleponnya.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Senyum Celine pun mengembang saat melihat seorang laki-laki tampan memakai stelan jas berwarna hitam keluar dari mobil tersebut sambil membawa sebuket bunga dan sebuah paper bag di tangannya.


'Astaga, dia keren dan romantis sekali.' gumam Celine sambil tersenyum.


TOK TOK TOK


"Iya sebentar." jawab Celine sambil bergegas berjalan ke arah pintu. Dia lalu membukakan pintu dan melihat Milan yang berdiri di depannya.


"Ini untukmu." kata Milan sambil memberikan sebuket bunga mawar warna merah muda.


"Cantik sekali, Milan."


"Ya, sama cantiknya seperti dirimu." kata Milan sambil mendekatkan wajahnya pada Celine yang membuat Celine tersipu malu.


"Kau bisa saja. Ayo masuk."

__ADS_1


"Iya."


Milan pun mengikuti langkah Celine masuk ke dalam rumah tersebut.


"Celine ini, aku juga membawakan sesuatu untukmu." kata Milan sambil memberikan sebuah paper bag saat mereka sudah duduk di sofa.


Celine pun membuka bingkisan dari Milan.


"Kau memang sangat manis Milan." kata Celine saat melihat sekotak kue strawberry cheese cake untuk dirinya.


"Makanan manis untuk orang secantik dan semanis dirimu, Celine."


"Milan, kenapa kau terus menerus merayuku seperti ini?"


Milan pun tersenyum.


"Karena aku sudah sangat tergila-gila padamu sayang, sekarang makanlah kue itu? Bukankah kita akan bersenang-senang? Kau memerlukan banyak energi untuk menghabiskan waktumu bersamaku, Celine." kata Milan sambil mendekatkan wajahnya kembali pada Celine.


'Astaga Milan.' gumam Celine dalam hati sambil tersipu malu.


"Baik, aku akan memakan ini terlebih dulu bersamamu."


"Iya."


Celine lalu mengambil dua buah piring dan memotong kue tersebut, satu potong diberikan pada Milan sedangkan sepotong lagi dia memakannya sendiri. Milan pun tersenyum menyeringai melihat Celine yang sedang memakan kue pemberian darinya dengan begitu lahap.


"Kenapa kau tidak memakan kue itu?"


"Nanti saja, tadi aku sudah sarapan dengan istriku. Kau tahu sendiri jika aku tidak sarapan di rumah, istriku akan curiga, karena dia sangatlah cerewet." jawab Milan yang membuat Celine terkekeh.


"Jadi itu alasannya kau bosan dengan istrimu?"


"Kurang lebih seperti itu."


"Kau tenang saja Milan, kau pasti akan menikmati harimu bersamaku."


"Tentu." jawab Milan sambil membelai rambut Celine.


Beberapa saat kemudian, Celine pun selesai memakan kue tersebut.


"Kau kenapa Celine?" tanya Milan saat melihat Celine yang mencoba memelototkan matanya.


"Milan, kenapa tiba-tiba aku sangat mengantuk?" tanya Celine sambil mengusap wajahnya.


"Mengantuk? Apakah semalam kau kurang tidur?"


"Ya, tadi malam aku memang tidur sangat larut."


"Pantas saja, lebih baik kau tidur saja sekarang. Aku akan menunggumu sampai kau bangun dan tenagamu kembali pulih."


"Tapi kau temani aku ya." jawab Celine dengan manja.


"Tentu, aku akan menemanimu tidur di kamarmu."


"Ayo kita ke kamar sekarang."


"Iya Celine."


Namun baru saja Celine berdiri, tiba-tiba tubuhnya sudah ambruk di depan Milan. Milan pun tersenyum.


"Astaga Celine, ternyata begitu mudah untuk membodohimu." kata Milan sambil membenarkan letak tubuh Celine ke atas sofa. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.

__ADS_1


"Cepat kalian masuk."


__ADS_2