Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Kesempatan


__ADS_3

"Mulai besok aku akan menyelidiki semua ini." kata Evan dia lalu mencoba menghubungi ponsel milik Bella, namun ponsel itu tidak aktif.


'Sial, bagaimana caranya aku bisa memperbaiki hubunganku jika Bella bersikap seperti ini, rasanya dia akan semakin sulit kudekati, lalu apa yang sebenarnya dia bicarakan dengan Pak Rafly tadi siang? Aku harus menyelidiki semua ini sebelum terlambat dan aku tidak bisa mendekati Bella kembali.' gumam Evan.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸


Perasaan Gibran pun begitu kesal saat mendengar teriakkan Bella dan Arvin dari dalam kamar.


'Kurang ajar mereka benar-benar bersenang-senang di atas penderitaanku.' gumam Gibran dalam hati.


"Hei apa kalian tidak bisa diam!!!" teriak Gibran yang begitu mengejutkan Bella dan Arvin.


Arvin dan Bella yang sedang tertawa di dalam kamar pun terkejut mendengar teriakkan Gibran.


"Arvin, kau dengar ada yang sedang mengamuk." kata Bella sambil terkekeh.


"Hahahaha, biarkan saja. Biar saja dia merasakan semua akibat yang telah dia perbuat."


"Kau benar, biar dia merasakan semua akibat dari ambisinya karena selama empat tahun ini kehidupan di penjara tidak membuatnya jera."


"Bella, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Arvin.


"Menginginkan sesuatu?"


"Ya, bukankah biasanya seorang wanita hamil menginginkan sesuatu?"


"Nyidam maksudmu?"


Arvin pun mengangguk.


"Tidak, untuk saat ini aku belum menginginkan apapun, aku hanya ingin kau tetap berada di sampingku, karena aku begitu merindukanmu." kata Bella sambil membelai wajah Arvin.


"Aku juga sangat merindukanmu." jawab Arvin kemudian mencium bibir Bella.


"Arvin tiba-tiba aku ingin sesuatu." kata Bella saat mereka selesai berciuman.


"Apa yang kau inginkan, Bella? Kau tenang saja, aku akan melakukan apapun untukmu."


"Malam ini aku ingin tidur dalam pelukanmu." jawab Bella sambil tersenyum.


"Hahahaha, tentu." jawab Arvin kemudian naik ke atas ranjang lalu tidur di samping Bella sambil memeluknya.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


Bella perlahan membuka matanya, lalu tersenyum saat melihat Arvin yang kini tidur di sampingnya. Dia kemudian bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.


"Pantas saja, tidak ada yang menghubungiku, ponsel ini mati." kata Bella kemudian mencharge sambil menyalakan ponselnya.


"Astaga banyak sekali pesan dari Evan." kata Bella saat ponsel tersebut sudah menyala. Dia lalu membuka pesan itu satu per satu yang berisi tentang laporan perusahaan serta ada beberapa pesan yang menanyakan keadaannya.

__ADS_1


"Lebih baik kubalas nanti saja, perutku sangat lapar." gerutu Bella, dia kemudian mendekat pada Arvin.


"Sayang, bangun." kata Bella sambil menggoyang-goyangkan tubuh Arvin.


"Oh ini sudah pagi, kau kenapa sayang?"


"Arvin aku lapar, apa disini ada rumah makan untuk memesan makanan?"


Arvin pun kemudian tertawa. "Tentu saja tidak ada Bella, ini kan di desa."


"Lalu kita makan apa?"


"Sepertinya Riana sudah memasak makanan untuk kita."


"Benarkah?"


"Ya, ayo kita ke dapur."


Saat mereka baru saja keluar dari dalam kamar tiba-tiba Bella mencegah langkah Arvin.


"Kau kenapa?"


"Emh Arvin sepertinya aku ingin makan buah-buahan saja."


"Tapi ini masih pagi Bella."


"Baik aku akan pergi membelikan buah-buahan untukmu, tapi sebelumnya kau harus sarapan terlebih dulu."


"Ya, sekarang aku akan sarapan tapi kau tolong belikan buah-buahan untukku."


"Iya sayang." jawab Arvin, dia kemudian keluar untuk membelikan buah-buahan untuk Bella. Sedangkan Bella berjalan ke arah dapur, mendekat ke arah Riana yang sudah selesai memasak.


"Boleh aku bicara denganmu?"


"Ya, tentu saja." jawab Riana.


"Apa kau tidak bisa memaafkan Gibran sedikitpun?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku hanya kasihan pada Gibran."


"Kau mengatakan seperti itu karena tidak merasakan yang aku rasa, kau tidak pernah tahu bagaimana sakitnya dibohongi kan?"


Bella pun tersenyum mendengar perkataan Riana.


"Kau pikir Arvin tidak pernah membohongiku?"


"Tidak mungkin, bukankah kakakku sangat mencintaimu."

__ADS_1


"Tapi itulah kenyataannya, dia menjalin hubungan dengan wanita lain dibelakangku bahkan mereka juga merebut perusahaan kami."


"Ba.. Baa.. Bagaimana kakakku bisa sejahat itu pada kalian? Aku benar-benar tidak mengerti, kau pasti sudah berbohong."


"Untuk apa aku berbohong padamu, jika kau tidak percaya kau bisa menanyakan sendiri pada kakakmu, dan tahukah kamu siapa yang menjadi selingkuhan kakakmu di belakangku?"


Riana pun menggelengkan kepalanya.


"Vania, dia dulu adalah istri Gibran. Vania dan Arvin berselingkuh di belakang kami berdua lalu merebut perusahaan kami. Tapi untungnya kami bisa merebut kembali perusahaan itu kembali."


"Kenapa kakakku begitu jahat pada kalian berdua. Aku tidak menyangka ternyata dia sekejam itu, pantas saja saat bertemu dengan Gibran mereka selalu bertengkar, masa lalu kalian ternyata lebih buruk daripada yang kubayangkan."


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan karena semuanya sudah berlalu. Kakakmu sudah menyadari semua kesalahan yang telah dia perbuat, bahkan beberapa tahun terakhir ini dia menjalani kehidupan yang begitu berat karena hidup dalam rasa bersalah dan belenggu cinta yang tak terbalas olehku. Bertahun-tahun aku pun begitu membenci Arvin, hingga akhirnya aku sadar hanya dialah orang yang aku cintai."


"Kenapa mudah sekali bagimu memaafkan kakakku? Bukankah kakakku telah begitu menyakiti hatimu dan melakukan kesalahan yang begitu besar padamu?"


"Riana, semua orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, dulu aku pun begitu banyak memiliki kesalahan di masa lalu. Tapi kau harus ingat, setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, apalagi jika dia sudah menyesali kesalahan tersebut."


Riana kemudian tertunduk, air mata kini mulai membasahi pipinya kembali.


"Riana dengarkan aku, Gibran adalah lelaki yang tidak pernah beruntung dalam percintaan. Orang yang dia cintai tidak pernah membalas cintanya dengan tulus, bahkan Vania mantan istrinya hanya menginginkan hartanya saja. Tolong beri dia kesempatan, tolong kau tuntun hidupnya agar bisa memperbaiki semua kesalahan yang telah dia perbuat."


Bella kemudian menggenggam tangan Riana yang kini masih terisak.


"Riana percayalah padaku, Gibran sangat mencintaimu, beri dia kesempatan."


Tiba-tiba suara teriakan Arvin pun terdengar.


"Bella...Bella."


"Aku di belakang." jawab Bella, Arvin pun kemudian mendekat ke arahnya.


"Ini buah-buahan pesananmu sayang." kata Arvin sambil memberikan buah-buahan itu.


Bella pun kemudian tersenyum manja.


"Kau kenapa Bella?"


"Suapi aku, ini permintaan anakmu yang ada di dalam kandunganku." jawab Bella sambil tersenyum manja.


"APA??? KAU JUGA HAMIL, BELLA?" teriak Riana yang membuat Arvin dan Bella tersipu malu.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


"Akhirnya ponsel Bella sudah aktif lagi." kata Evan saat melihat Bella yang sudah membalas pesannya. Namun tiba-tiba emosi mulai merasuki hatinya saat melihat salah satu postingan story Bella yang memperlihatkan foto saat dirinya sedang memakan buah-buahan disuapi oleh seorang lelaki.


"BREN*SEK, kau ternyata sudah berbohong padaku Bella, kau bilang jika kau pergi untuk menemui keluargamu tapi ternyata kau pergi dengan laki-laki sialan itu! ini tidak boleh terjadi. Bella tidak boleh menjadi milik laki-laki lain!" umpat Evan.


"Bella, apa kau sudah lupa kau juga pernah tidur denganku? Akan kujadikan senjata agar kau berpisah dengan lelaki itu!" teriak Evan dengan begitu berapi-api.

__ADS_1


__ADS_2