
"TIDAKKKKK!!" teriak Bella lagi.
"A.. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" kata Bella dengan bibir yang bergetar sambil menutup tubuh telanjangnya dengan sebuah selimut. Dia lalu melihat sekeliling kamarnya, kemudian matanya tertuju pada sebuah kertas yang ada di sampingnya.
"Apa ini?" kata Bella kemudian membaca surat itu.
Kata demi kata yang ada di dalam surat Bella baca dengan begitu seksama. "Oh tidak, ini benar-benar sebuah kesalahan." kata Bella sambil menjambak rambutnya, air mata pun kini mulai mengalir membasahi pipinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku bisa sampai melakukan ini dengan Arvin?" kata Bella kemudian menutup wajahnya sambil terus terisak.
Beberapa saat kemudian, ponselnya pun berbunyi.
"Jessica." kata Bella, bergegas dia mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Bella, bagaimana keadaanmu?] tanya Jessica dengan begitu panik.
[E.. Baik.]
[Syukurlah, untung saja semalam Arvin bertindak cepat.]
[Bertindak cepat? Apa maksudmu Jess? Apa yang sebenarnya telah terjadi padaku? Aku hanya ingat seorang lelaki bernama Brian memberikan alkohol padaku lalu saat aku bangun, aku sudah ada di atas tempat tidurku.]
[Bella maafkan aku, sebenarnya Brian adalah adik tiri Felix, sikapnya memang sedikit nakal. Dia tadi malam sengaja membuatmu mabuk hingga tak berdaya, lalu saat dia ingin berbuat hal yang tidak baik padamu Arvin memukulnya kemudian membawamu pulang. Syukurlah jika keadaanmu baik-baik saja, aku minta maaf atas perbuatan Brian padamu.]
[Tidak apa-apa Jess, sudah jangan kau pikirkan, aku baik-baik saja.]
[Iya Bella, beristirahatlah lagi karena aku tahu kau tidak kuat meminum alkohol, kau akan kehilangan kendali meskipun kau meminumnya sedikit saja. Lebih baik sekarang kau istirahat dan jangan banyak melakukan aktivitas.]
[Iya Jessica, terimakasih banyak.] kata Bella kemudian menutup panggilan telepon dari Jessica.
"Astaga, benar kata Jessica, saat aku mabuk aku tidak bisa mengendalikan diriku, pasti tadi malam aku telah mengatakan sesuatu yang tidak-tidak pada Arvin saat dia mengantarku sehingga kami sampai melakukan hal ini"
"Tapi, apa ini? Kenapa Arvin sampai menulis surat seperti ini? Kenapa dia tahu saat ini aku sedang menyukai seorang laki-laki? Apa yang sebenarnya telah terjadi tadi malam? Apakah aku menyebut nama Evan saat berhubungan dengannya?"
"Ya, pasti tadi malam aku menyebut nama Evan saat bercinta dengannya. Astaga Bella, kenapa kau begitu ceroboh! Melakukan hal seperti ini dengan Arvin saja merupakan sebuah kesalahan, apalagi sampai menyebut nama Evan." kata Bella sambil mengigit bibirnya.
Dia lalu memandang kembali surat yang ditulis oleh Arvin dan membacanya kembali dengan hati yang terasa begitu sesak. "Arvin, inikah perasaanmu yang sesungguhnya padaku? Apakah kini kau mencintaiku dengan begitu tulus?"
__ADS_1
"Tuhan, apakah aku harus bisa benar-benar memaafkannya?" tanya Bella dengan tatapan kosong.
Bella lalu mengambil ponselnya, kemudian mengetik sebuah nama di ponsel tersebut. Melihat nama yang ada di layar ponselnya, terbersit keraguan di dalam hatinya. Akhirnya dia hanya memandang nama tersebut sambil meneteskan air matanya kembali.
Di saat itulah, ponsel Bella pun kembali berbunyi. Dia lalu melihat sebuah nama yang kini ada di layar ponselnya.
"Evan?" kata Bella.
'Ada apa Evan menghubungiku? Tidak seperti biasanya dia menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang begitu penting yang berhubungan dengan pekerjaan? Tapi bukankah ini hari libur?' kata Bella dalam hati.
🌿🌸🌿🌸🌿🌸
Gibran tampak sibuk di depan laptopnya, dia begitu serius melihat berbagai rincian laporan kinerja perusahaannya. Sesekali keningnya berkerut diselingi senyum yang mengembang di bibirnya.
"Aku benar-benar tak menyangka jika Bella mampu memegang perusahaan dengan baik, dia bahkan mampu menarik investor yang selama ini begitu sulit kudekati, hidup di dalam penjara memang benar-benar telah mengubah sifatnya dan membuang kebodohannya. Mungkin sekarang dia sudah tidak pernah bisa pergi ke salon karena sibuk mengurusi perusahaan." kata Gibran sambil terkekeh.
"Bagus sekali, jika seperti ini aku tidak perlu khawatir akan nasib perusahaanku. Aku bisa hidup dengan nyaman tanpa merasakan dinginnya lantai penjara dan tidak perlu bekerja keras memimpin perusahaan." kata Gibran sambil tersenyum menyeringai.
Netranya kini tertuju pada sosok wanita yang tampak begitu bahagia merawat berbagai macam bunga yang ada di kebunnya. Gibran pun tersenyum melihatnya.
"Dia memang tidak secantik Rachel ataupun Bella, dia juga tidak semanis Vania, penampilannya pun begitu polos tapi cukup membuatku tertarik melihat tingkahnya." kata Gibran sambil tersenyum.
"Ya, aku sudah selesai bekerja."
"Pekerjaanmu sepertinya mudah sekali, tapi tampaknya kau memiliki banyak uang." kata Riana yang membuat Gibran tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum? Memangnya ada yang lucu?"
Gibran pun kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, kau hanya menggemaskan."
"Hei, itulah yang selalu kakakku katakan padaku, menurutnya aku begitu menggemaskan."
Mendengar kata-kata Riana Gibran pun terdiam, dia lalu mendekatkan tubuhnya pada Riana yang kini duduk di sampingnya. Dia lalu menatap Riana dengan tatapan begitu dalam yang membuat Riana tampak begitu gugup.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Bukankah kau sudah mengubur rasa cintamu pada kakakkmu?"
__ADS_1
Riana pun kemudian mengangguk.
"Jika kau sudah mengubur rasa cintamu dalam-dalam jangan pernah membicarakannya lagi karena itu hanya akan membuatmu mengingat semua tentang dirinya."
"Lalu apa yang harus kulakukan agar aku bisa sepenuhnya melupakan dirinya?"
Gibran pun kemudian tersenyum.
"Bukalah hatimu untuk laki-laki lain."
"Laki-laki lain?" tanya Riana sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, bukalah hatimu untuk laki-laki lain."
"Tapi aku tidak memiliki teman laki-laki karena sejak dulu kakak selalu membatasi pergaulanku dengan teman laki-laki, bukankah kau sudah kuberitahu jika kakak sangatlah protektif padaku."
"Lalu apakah kau mau membuka hatimu untukku?"
Riana pun menelan ludahnya dengan kasar.
"A.. Apa maksudmu, Gibran?"
"Maukah kau membuka hatimu untukku?" tanya Gibran sambil menatap Riana dengan tatapan tajam yang membuat Riana semakin gugup.
"Gibran, apakah kau sadar dengan kata-katamu?"
"Ya memangnya ada yang salah dengan kata-kataku?"
"Gibran, bukankah kau memiliki pergaulan yang cukup luas, penampilanmu juga sangat menarik, di luar sana kau pasti memiliki banyak kenalan yang jauh lebih cantik dibandingkan diriku."
"Memangnya kenapa? Kenapa jika aku memiliki teman yang lebih cantik? Bagiku mereka tidak pernah membuatku merasa tertarik?"
"Jadi kau tertarik denganku?"
Gibran pun tersenyum. "Ya, kau mau kan membuka hatimu untukku?" tanya Gibran yang membuat Riana tersipu malu.
"Kau mau kan membuka hatimu untukku?" tanya Gibran yang dijawab anggukan oleh Riana.
__ADS_1
Gibran lalu semakin mendekat pada Riana kemudian memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
'Bagus, sekarang gadis ini sudah jatuh ke dalam pelukanku.' kata Gibran dalam hati sambil tersenyum menyeringai.