
"Dinda?" tanya Milan pada Nadia.
"Apa dia juga bekerja di kantor ini?"
"Iya Pak Milan, dia satu divisi dengan saya dan Rachel."
"Kenapa kau mencurigai Dinda?"
"Emh itu karena selama ini Dinda tidak terlalu menyukai keberadaan Rachel di perusahaan ini, bahkan tidak jarang Dinda sering menyebut Rachel dengan sebutan pelakor." jawab Nadia dengan sedikit rasa takut.
"BEENGSEK!!!" umpat Milan yang membuat Nadia begitu terkejut
"Oh maaf Nadia, aku tidak marah padamu. Baik, terimakasih kau boleh pergi sekarang."
"Iya Pak Milan," jawab Nadia kemudian meninggalkan ruangan itu. Setelah Nadia keluar dari ruangan tersebut, Milan pun tampak sibuk menelepon seseorang.
"Beri dia pekerjaan yang banyak, lalu selidiki ponselnya." kata Milan pada salah seorang yang dia telepon.
***
"Ayo kita pulang!" kata Milan pada Rachel yang tiba-tiba berdiri di sampingnya saat Rachel sedang membereskan mejanya.
"Mi.. Milan."
"Kenapa kau harus gugup? Bukankah semua orang sudah tahu hubungan kita?"
"Ayo pulang!" sambung Milan sambil menarik tangan Rachel. Dia kemudian melirik seorang karyawan wanita yang masih begitu sibuk mengerjakan pekerjaannya.
'Jadi ini yang namanya Dinda?' kata Milan dalam hati sambil terus berjalan menggandeng Rachel.
'Brengsek kenapa tiba-tiba pekerjaanku jadi sebanyak ini? Padahal aku hanya meninggalkan kantor ini saat jam makan siang hanya untuk menemui Bella,' gumam Dinda dalam hati.
Suasana kantor yang sudah begitu sepi terasa begitu mencekam, tiba-tiba sebuah tepukan menempel di bahu Dinda yang membuat Dinda berteriak.
"Siapaaa?" teriak Dinda.
"Ini aku, hei Dinda, kenapa kamu belum pulang?" tanya Ferdi yang kini sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar mengagetkanku Ferdi.l," kata Dinda sambil menghembuskan nafas panjang.
"Kamu lembur?" tanya Ferdi yang hanya dijawab anggukan oleh Dinda.
"Mau kutemani?" tanya Ferdi lagi.
"Boleh, kebetulan Fer, kamu kan tahu aku takut sendirian," jawab Dinda sambil tersenyum.
"Oke, tapi aku pinjem ponselmu sebentar ya Din, aku mau pesen makanan. Ponselku low bat," balas Ferdi sambil meringis.
"Nih pake aja." Dinda memberikan ponselnya. Sedangkan dia kini tampak sibuk mengerjakan pekerjaannya.
Ferdi pun mengambil ponsel itu lalu dengan cekatan mengambil foto percakapan Dinda dengan Bella yang ada di ponsel itu. 'Selesai,' batin Ferdi dalam hati kemudian mengirimkannya foto-foto tersebut pada Milan.
"Udah Din, makasih ya."
"Sama-sama," jawab Dinda tanpa rasa curiga.
***
"Milan apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Rachel saat mereka sudah berhenti di rumah Milan.
Dia kemudian menggandeng tangan Rachel masuk ke dalam rumahnya.
"Papa.. Mama." panggil Milan saat mereka masuk ke dalam rumah.
"Ada apa Milan? Kenapa tiba-tiba kau berteriak seperti ini?" kata Citra saat keluar dari dapur.
Milan pun kemudian tersenyum sambil menunjuk pada Rachel yang ada di sampingnya.
"Oh jadi ini kekasihmu, Milan?" tanya Citra sambil mendekat pada mereka. Di belakangnya tampak Danu pun juga ikut menghampiri mereka.
"Iya pa ma, ini Rachel."
Rachel pun berjalan mendekati Citra dan Danu kemudian menyalaminya.
"Oh jadi kau wanita yang sering diceritakan oleh Milan? Kau memang sangat cantik Rachel?" balas Citra.
__ADS_1
"Terimakasih tante."
"Milan memangnya apa yang kau ceritakan pada mereka?" bisik Rachel pada Milan.
"Tidak banyak aku cuma bercerita jika kekasihku mengatakan kalau CEO lama di kantor sangatlah galak dan menyebalkan. Hahahaha." kata Milan yang membuat kedua orang tuanya tertawa.
"Milan kenapa kau harus mengatakan seperti itu?" bisik Rachel di telinga Milan.
"Kau tenang saja Rachel, papanya Milan tidak lah segalak yang kau bayangkan." jawab Citra sambil tersenyum.
"Ya karena aku punya calon menantu yang bahkan tidak tahu jika kekasihnya adalah pemilik perusahaan di tempat dia bekerja," jawab Danu sambil terkekeh yang membuat Rachel semakin terlihat malu.
"Milannnnnn kenapa kau harus menceritakan semua ini pada mereka," bisik Rachel sambil mencubit tangan Milan.
"Don't worry Rachel," Milan mencolek dagu Rachel. Tanpa mereka sadari seseorang tampak mengamati mereka di balik pintu. 'Brengsek kenapa mereka akrab sekali dengan Rachel? Kenapa mereka mau menerima Rachel sebagai calon istri Milan padahal mereka tidaklah sepadan, gagal sudah rencanaku ke rumah ini untuk menghasut kedua orang tua Milan agar membenci Rachel, karena ternyata mereka mau menerima Rachel dengan baik,' batin Bela.
"Kenapa semua terasa begitu berantakan?" geram Bella, dia kemudian meninggalkan rumah Milan dan masuk kembali ke mobilnya.
"Perasaanku terasa begitu buruk, mungkin aku harus sejenak melupakan masalahku dan sedikit bersenang-senang. Oh iya bukankah Arvin sudah pulang ke Indonesia?" kata Bella kemudian mengambil ponselnya lalu menelepon Arvin. Namun ponsel Arvin tidaklah aktif.
"Sebaiknya aku ke rumahnya saja," sambung Bella sambil mengendarai mobilnya menuju rumah Arvin. Namun saat sampai di rumah Arvin, Bella melihat Arvin yang keluar dari dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa lalu menghampiri sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari rumahnya.
"Mau kemana Arvin? Lebih baik aku ikuti saja, siapa tahu dia pergi ke diskotik, aku bisa ikut bersenang-senang dengannya. Tapi sepertinya aku mengenal mobil itu."
"Sayangnya ini sudah malam jadi tidak terlalu jelas," kata Bella sambil terus mengamati mobil tersebut.
Setelah setengah jam lamanya mengikuti mobil tersebut, akhirnya mobil itu sampai di sebuah hotel yang masih merupakan salah satu jaringan hotel yang Bella miliki.
"Untuk apa Arvin pergi ke hotel?" kata Bella yang kini dihinggapi berbagai perasaan yang tak menentu.
Bella pun turun dari mobil dan tampak mengendap-endap mengikuti Arvin yang turun bersama seorang wanita. Namun kondisi basemen yang gelap membuat wajah wanita yang bersama Arvin tidak terlihat.
"Bren*sek! Berani-beraninya kau bermain-main di belakangku Arvin! Kau harus menerima pembalasan dariku! Hari ini akan kupermalukan dirimu di seluruh sosial mediamu agar semua orang tahu kelakuanmu!" kata Bella sambil terus mengikuti Arvin.
Dia lalu menghampiri resepsionis dan menanyakan nomor kamar tempat Arvin dan wanita tersebut kini berada. Awalnya resepsionis tersebut tidak mau memberitahukan keberadaan Arvin, namun setelah tahu yang menanyakan adalah Bella dia lalu memberikan kunci kamar tersebut pada Bella.
"Dasar resepsionis baru tidak tahu diri, enak saja dia tidak mau tunduk padaku," gerutu Bella sambil berjalan menuju tempat Arvin kini berada.
__ADS_1
Tubuh Bella terasa begitu panas dan bergetar, perasaan emosi begitu memenuhi seluruh hati dan jiwanya, kini dia berdiri di depan pintu kamar tersebut. Dia berusaha menguatkan hatinya dengan kemungkinan terburuk yang akan dia hadapi di depan matanya. Dengan begitu kasar akhirnya dia membuka pintu kamar hotel tersebut.