Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Sopir Taksi Online


__ADS_3

"Gibran lihat itu." kata Bella saat melihat kumpulan cahaya setelah hampir setengah jam berlari.


"Iya Bella, kita sudah dekat dengan perkampungan." jawab Gibran. Mereka lalu melambatkan langkahnya saat memasuki area perkampungan tersebut hingga langkahnya terhenti di sebuah pos kamling.


"Bella, kita istirahat disini saja."


"Iya Gibran, aku juga sudah sangat lelah. Kakiku rasanya sakit semua, bajuku juga basah oleh keringat." gerutu Bella.


BRUG


Gibran dan Bella pun merebahkan tubuhnya di pos kamling tersebut.


"Aku tidak tahu bagaimana penampilanku sekarang, mungkin jika aku bertemu Milan dia tidak akan mengenaliku karena penampilanku yang begitu berantakan."


"Di saat seperti ini kau masih memikirkan penampilanmu, Bella? " gerutu Gibran.


"Lalu aku harus bagaimana? Memikirkan jalan pulang? Aku sudah lama tidak tinggal di Bandung, Gibran. Aku tidak tahu seluk beluk kota ini. Memikirkan jalan pulang itu adalah tugasmu."


"Dasar otak bebal, coba sekali-kali kau gunakan otakmu Bella jangan hanya terima beres. Ponselku sudah mati, sekarang kita hanya bergantung padamu, coba sekarang kau nyalakan ponselmu lagi lalu pesan taksi online ke sini."


"Apa ada taksi online yang ada di sekitar sini? Ini perkampungan yang jauh dari pusat kota, ini benar-benar daerah pinggiran, Gibran."


"Kita belum mencobanya, coba kau nyalakan ponselmu terlebih dahulu."


Bella pun kemudian menyalakan ponselnya lalu membuka aplikasi taksi online.


"Bagaimana?" tanya Gibran.


"Bisa Gibran tapi mobilnya masih sangat jauh dari sini, kemungkinan sampai disini setengah jam lagi."


"Tidak apa-apa, kita bisa beristirahat disini sebentar sambil menunggu taksinya datang."


"Iya Gibran." kata Bella sambil merebahkan tubuhnya kembali.


"Gibran, kenapa tiba-tiba kita jadi sial seperti ini?"


"Entahlah, mungkin kita sedang tidak beruntung."


"Aku juga tidak habis pikir bagaimana tiba-tiba arwah Almira ada disini dan mendatangi kita."


"Mungkin rumah Almira tidak jauh dari sini." jawab Gibran sambil memejamkan matanya.


"Gibran, ini serius. Sepertinya ada yang tidak beres."


"Kau terlalu banyak berfikir Bella, kita hanya sedang sial."

__ADS_1


"Gibran bukannya biasanya kau selalu mengatakan agar aku bisa menggunakan otakku? Kenapa saat aku mulai bisa berfikir kau malah menyalahkanku dan mengatakan aku terlalu banyak berfikir?"


"Bella, ini hanya kebetulan saja. Memangnya siapa yang mau mengerjai kita? Bukankah saat ini Milan ada di Singapore dan Rachel pun masih belum mengingat apapun tentang masa lalunya. Lalu siapa yang sudah berani macam-macam pada kita?"


"Bagaimana dengan Arvin?" kata Bella sambil mengigit bibirnya.


"Darimana pecundang itu mendapatkan uang untuk mengerjai kita berdua? Dia bertahan hidup saja itu sudah bagus."


"Bertahan hidup sudah bagus? Memangnya apa yang telah kau lakukan padanya setahun yang lalu?"


"Kau tahu sendiri kan bisnis keluarga Arvin dulu diambang gulung tikar?"


"Ya, sejak kami kuliah di London keuangan keluarganya sudah tidak baik. Lalu?"


"Setelah kita merebut kembali perusahaan kita, aku mulai menghancurkan perusahaan milik keluarganya dan mengambil alih semua miliknya hingga tak bersisa, bahkan saat itu dia tidak memiliki tempat tinggal."


"Jadi saat itu dia sudah tidak memiliki tempat tinggal?"


"Ya, mereka tidak memiliki tempat tinggal, kemudian dia tinggal di rumah orang tua Vania, sedangkan orang tua Arvin dan adiknya memilih tinggal di suatu desa yang jauh dari kota. Kemudian orang tua Vania memberikan modal untuk Arvin, tapi kau tahu sendiri jika Vania adalah wanita yang tamak dan tidak mau hidup serba pas-pasan, dan aku memanfaatkan kesempatan itu memintanya untuk menuruti semua perintahku."


"Jadi karena itulah Vania mau menuruti kata-katamu untuk mendekati Rachel sesaat sebelum kejadian itu? Dia ingin bisa kembali hidup mewah?"


"Ya, aku mengiming-imingi Vania dengan uang yang cukup besar, akulah yang menyuruhnya melakukan kontrol kandungan di tempat yang sama dengan Rachel. Rachel wanita yang sangat baik, melihat kondisi Vania saat itu aku yakin dia pasti tidak tega membiarkan Vania pulang sendirian."


"Kau benar-benar licik Gibran, kau tega membunuh mantan istrimu sendiri hanya untuk merebut Rachel." kata Bella sambil tersenyum kecut.


"Lalu, saat itu Rachel pergi ke dokter kandungan sendirian tanpa ditemani Tante Citra apa itu juga akibat ulahmu?"


"Hahahaha."


"Kenapa kau tertawa, Gibran?"


"Tentu saja, aku sudah memperhitungkan semua itu. Milan tidak mungkin membiarkan Rachel pergi sendirian ke rumah sakit, jadi aku memberikan obat pencuci perut di makanan milik orang tua Milan yang kukirimkan malam hari sebelum kecelakaan itu terjadi."


"Aku benar-benar tak menyangka kau mampu bekerja begitu rapi."


"Heh, bukankah setelah kematian Tante Hana aku sudah berjanji padamu untuk merebut kembali yang pernah kita miliki? Termasuk harta yang telah direbut oleh Vania dan cinta masa lalu kita berdua."


"Kau benar-benar pintar Gibran."


"Seharusnya kau menyadari itu sejak dulu, Bella." jawab Gibran sambil terkekeh.


"Jadi menurutmu, bagaimana dengan kejadian yang begitu aneh hari ini?"


"Kesialan hari ini mungkin terjadi karena Tuhan sedang melindungi Arsen agar kita tidak berbuat jahat padanya."

__ADS_1


"Oh mungkin saja."


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil pun mendekat pada mereka berdua.


"Mungkin itu taksi onlinenya." kata Bella.


Pengemudi taksi tersebut kemudian mendekat pada Bella dan Gibran. Betapa terkejutnya mereka saat membuka pintu mobil dan melihat jika pengemudi taksi tersebut adalah Arvin.


"Arvin." kata Bella dengan begitu terkejut.


"Bella, sebaiknya kita tidak usah menaiki taksi ini." kata Gibran.


"Gibran, kendalikan dirimu, kita sudah tidak punya pilihan, bukankah kau ingin kita segera sampai di rumah?" kata Bella.


"Baik, kita naik taksi ini dengan sangat terpaksa." kata Gibran sambil menatap tajam pada Arvin yang kini tampak begitu tenang.


Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan yang tercipta. Sesekali Bella melirik pada Arvin yang kini sangat berbeda dengan yang dia kenal dulu. Akhirnya setelah satu jam perjalanan mereka pun sampai di rumah Gibran.


"Ini ongkosnya dan ambil kembaliannya." kata Gibran sambil melemparkan beberapa uang ratusan ribu pada Arvin.


"Maafkan sikap Gibran." kata Bella pada Arvin kemudian turun dari mobil tersebut.


Bella lalu menghampiri Gibran yang masuk ke dalam rumahnya dengan begitu kesal.


"Sudahlah Gibran yang terpenting sekarang kita sudah sampai di rumah, aku sudah sangat lelah dan ingin beristirahat."


Gibran pun kemudian mengangguk.


☘️☘️☘️☘️☘️


TETTT TETTTT


Suara bel pun terdengar dari arah pintu rumah.


"Bibi tolong buka pintunya, mungkin itu therapist yang kupesan hari ini. Badanku sudah sangat sakit dan ingin dipijat." kata Bella saat dia dan Gibran sedang menikmati makan siangnya.


"Baik Nyonya Bella." kata pembantu di rumah Gibran sambil berlari ke arah depan untuk membukakan pintu. Beberapa saat kemudian pembantu tersebut masuk kembali ke dalam rumah dengan raut wajah yang sedikit cemas.


"Siapa Bi? Benarkan itu therapist yang kupanggil hari ini?"


"Bukan Nyonya Bella."


"Lalu siapa?"


"Diluar ada beberapa polisi yang ingin bertemu dengan Tuan Gibran dan Nyonya Bella?"

__ADS_1


"Polisi?" kata Gibran dan Bella sambil bertatapan disertai perasaan yang begitu campur aduk.


__ADS_2