
Dinda pun mendekat pada Rachel. "Rachel!" panggil Dinda.
"Iya Dinda ada apa?"
"Aku minta maaf sama kamu," ucap Dinda datar kemudian pergi dari hadapan Rachel. "Dia kenapa Ra?" tanya Nadia.
"Ga tau." jawab Rachel.
Nadia lalu mengamati Dinda yang kini sedang berbenah di mejanya. 'Jangan-jangan benar Dinda yang menyebarkan pesan berantai itu dan Pak Milan sudah mengetahuinya,' kata Nadia dalam hati sambil melirik Dinda yang kini mulai berjalan pergi dari ruangan itu.
"Ra lihat itu." kata Nadia sambil menunjuk Dinda yang pergi dari ruangan itu sambil membawa barang-barangnya. "Ada apa sih sebenarnya Nad?"
"Tanya aja ke Pak Milan." jawab Nadia sambil terkekeh.
Namun saat mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka kembali, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Milan. "Temani aku yuk Ra."
"Kemana?"
"Pemakaman mamanya Bella."
"Jadi kau serius mengajakku? Apa ini tidak melukai perasaan Bella?"
"Udah Ra, ikut aja," bisik Nadia di telinga Rachel.
"Iya kau harus menemaniku," jawab Milan kemudian menarik tangan Rachel.
"Milan, pelan-pelan, sebaiknya lepaskan tanganku, banyak orang," protes Rachel sambil melihat sekeliling yang tampak memperhatikan mereka. Namun Milan tetap menggandeng tangan Rachel di hadapan semua orang.
Saat pintu lift terbuka, mereka pun berpapasan dengan Dinda yang kini sudah mengenakan pakaian office girl sambil membawa dua gelas teh di tangannya. Dinda kemudian tersenyum pada Milan dan Rachel lalu berjalan keluar dari lift. Rachel yang begitu terkejut pun langsung memandang ke arah Milan. "Milan, apa kau telah melakukan sesuatu pada Dinda?"
"Tidak, aku tidak melakukan apapun padanya. Tapi dia yang sudah menentukan pilihannya sendiri."
"Memangnya ada apa dengan Dinda?"
"Dia yang sudah menyebarkan pesan berantai itu." jawan Milan dengan sedikit kesal.
"Apa?" teriak Rachel sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Ya, dia yang sudah menyebarkan pesan itu dan dia yang memilih hukumannya sendiri."
"Memilih hukumannya sendiri?"
"Ya, sebenarnya dia sudah kupecat tapi dia memilih menjadi seorang office girl daripada keluar dari kantor ini." kata Milan sambil tersenyum.
"Kau benar-benar jahat, Milan," gerutu Rachel.
Sedangkan Dinda yang kini sudah berdiri di depan pintu ruangan bekas tempat dia bekerja dengan teman-teman satu divisinya dulu terlihat ragu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu. "Come on Dinda," kata Dinda dalam hati sambil menyemangati dirinya sendiri.
Perlahan dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu. Tampak sepasang mata mulai melihatnya masuk, lalu beberapa orang pun mulai memandangnya dengan begitu terkejut.
"Hei Dinda, kenapa kau memakai pakaian office girl? Apa kau sedang bercanda?" tanya Nadia. Namun Dinda hanya diam.
"Kenapa kau diam, Dinda?"
"Inilah pekerjaanku saat ini." kata Dinda sambil tertunduk saat menghidangkan teh untuk Reza dan Jihan. Kemudian dia bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, namun sebelum dia benar-benar pergi, terdengar sorak sorai seluruh orang di dalam ruangan itu yang sedang menertawakannya.
Hati Dinda pun begitu sakit, air mata pun kembali jatuh di pipinya. Dia lalu bergegas masuk ke dalam toilet.
****
"Ayo kita turun!" perintah Milan saat sudah sampai di pemakaman. Meskipun ragu. akhirnya Rachel pun membuka pintu mobil kemudian berjalan di samping Milan masuk ke area pemakaman. Saat mereka sampai, jenazah Hana baru saja dimasukkan ke dalam liang lahat, tampak raut wajah kesedihan pada Bella dan Gibran yang berdiri di samping liang lahat tersebut.
Bella pun menangis meraung-raung saat jenazah mamanya kini sudah tertutup oleh tanah. Beberapa orang sanak saudara mereka pun tampak menenangkan Bella yang kini begitu histeris.
"MAAMAMAAAAAA JANGAN TINGGALKAN BELLAAA MA!!! MAAFKAN SEMUA KESALAHAN BELLA MAAA... MAAFKAN BELLA JIKA DI AKHIR HIDUP MAMA BELLA SUDAH MENYAKITI MAMA!" teriak Bella di samping pusara Hana.
Gibran yang melihatnya pun hanya menangis. Penyesalan begitu memenuhi isi hatinya. 'Maafkan Gibran tante, semua ini karena kesalahan Gibran,'kata Gibran dalam hati sambil melihat foto Hana di atas pusaranya.
Perlahan orang-orang yang ada di makam tersebut pun pulang dan meninggalkan Bella dan Gibran yang masih menangis di samping pusara Hana. Milan dan Rachel pun mendekat pada Gibran dan Bella yang masih terlihat begitu syok.
"Bella, Gibran aku turut berdukacita." Bella yang kini bersimpuh di atas gundukan tanah makam mamanya pun menolehkan wajahnya.
"Untuk apa kau kesini, Milan? Aku tidak butuh ucapan duka darimu. Lebih baik kau pergi dengan wanita ja*ang itu!" teriak Bella.
Gibran pun kemudian mendekat pada Bella.
__ADS_1
"Sabar Bella, jangan seperti itu."
"Terserah kau mau berkata apa, aku cuma ingin menyampaikan duka citaku untuk kalian berdua karena selama mengenal Tante Hana dia begitu baik padaku."
"Iya Milan, terimakasih banyak,"kata Gibran sambil tersenyum. Sejenak dia lalu melirik ke arah Rachel.
'Cantik sekali sekarang kau Rachel.' kata Gibran dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Sama-sama, Gibran," jawab Milan kemudian dia dan Rachel menaburkan bunga di atas makam itu dan berdoa di sampingnya. Setelah selesai mereka lalu menghampiri Gibran dan Bella kembali.
"Gibran, Bella, kami pulang dulu."
"Iya Milan, hati-hati di jalan," kata Gibran sambil tersenyum.
Dia lalu melihat Milan dan Rachel keluar dari area pemakaman sambil menatap tajam pada mereka berdua. Apalagi kini tampak Milan yang berjalan sambil memeluk pinggang Rachel dengan begitu mesra.
'Brengsek, pantas saja Milan kini begitu tergila-gila pada Rachel. Rachel kini memang benar-benar telah berubah menjadi wanita yang begitu cantik!' batin Gibran.
'Aku benar-benar menyesal telah membuang Rachel dalam kehidupanku untuk mengejar wanita sialan seperti Vania.' batin Gibran. Dia kemudian mendekat pada Bella yang masih menangis di samping pusara.
"Bella.. Bella sudah jangan menangis."
"Apa pedulimu padaku Gibran!!"
"Bella ini bukan waktunya untuk menangis, ini saatnya kita untuk bangkit."
"Apa maksudmu Gibran?"
"Apa kau masih ingat pesan Tante Hana sebelum meninggal?"
"Ya, dia mengatakan Milan."
"Kau tahu kan arti dari semua itu? Kita sudah kehilangan setengah dari harta kita. Jadi kau harus bisa merebut Milan kembali apapun caranya. Aku pasti akan membantumu, aku janji Bella sekuat tenaga aku akan membantumu."
Bella pun kemudian menghapus air matanya. "Benarkah apa yang kau katakan? Kau akan membantuku merebut Milan kembali?"
"Iya Bella, aku pasti akan membantumu karena aku juga akan membuat Rachel jatuh cinta kembali kepadaku." kata Gibran sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1