Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Menghapus Dendam


__ADS_3

"Hei kamu kenapa teriak-teriak?" tanya salah seorang sipir pada Bella.


"Apa ini?" tanya Bella sambil memperlihatkan piringnya.


"Memang umurmu berapa sampai tempe saja kau tidak tahu?"


"Tempe?"


"Iya itu namanya tempe goreng. Kau tidak tahu itu tempe goreng?"


Bella pun kemudian menggelengkan kepalanya.


"Lalu ini apa?" tanya Bella sambil menunjuk sayur lodeh yang ada di piringnya.


"Astaga memangnya kau tinggal di planet mana? Kau sebenarnya manusia atau bukan?"


"Lalu aku harus makan makanan ini? Apa tidak ada makanan lain? Apa makanan ini benar-benar bisa dimakan?" tanya Bella sambil menggaruk rambutnya.


"Kalau kau tidak mau makan lebih baik kau kembali ke sel mu sekarang juga."


"Maaf bukan itu maksudku, apa disini tidak ada makanan lain?"


"Makanan apa?"


"Misalnya chiken cordon bleu, macaroni schotel atau tuna spicy roll, oh iya karena tadi aku belum sarapan advocado toast juga boleh."


"ENAK SAJA KAU BICARA!!! INI PENJARA BUKAN RESTORAN!" Bentak sipir tersebut pada Bella yang begitu menggema di seluruh sudut ruangan dan membuat semua orang menutup kupingnya.


Bella pun hanya termenung sambil menelan ludahnya dengan kasar. 'Tempat ini sungguh mengerikan, lebih mengerikan daripada yang kubayangkan, selain tidak ada salon ternyata makanan di sini juga begitu menakutkan, aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa mendapat asupan makanan bergizi selama disini. Bagaimana dengan jumlah kalori makanan ini? Oh tidak.' kata Bella dalam hati sambil memijit keningnya.


"Kau kenapa? Lebih baik kau duduk dan habiskan makananmu." kata sipir yang ada di depan Bella. Dengan begitu terpaksa, Bella pun berjalan ke arah tempat duduk yang masih kosong di ruangan itu.


Cukup lama Bella duduk namun dia belum memakan makanannya dan hanya memandangnya saja. 'Apakah aku sanggup memakan semua makanan ini? Bagaimana rasa makanan ini?' gumam Bella. Akhirnya Bella pun mengambil satu sendok makanan tersebut, namun tiba-tiba seorang sipir mendekat padanya.


"Apa kau yang bernama Bella?" tanya sipir tersebut.


Bella pun mengangguk dengan lemas.


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, lebih baik kau habiskan dulu makananmu lalu temui orang yang sedang menunggumu."


'Siapa yang ingin bertemu denganku? Mungkin salah seorang temanku? Ini bagus sekali, aku bisa meminta mereka untuk membelikan aku makanan di luar yang jauh lebih baik dibandingkan ini.' gumam Bella dalam hati.

__ADS_1


"Emh Bu sipir, saya sudah selesai makan."


"Benarkah? Tapi makananmu masih banyak."


"Anggap saja aku sudah selesai makan bu sipir." kata Bella kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah jika itu maumu." kata sipir tersebut lalu berjalan keluar dari ruang makan diikuti oleh Bella dibelakangnya.


Bella berjalan ke ruang kunjungan dengan berbagai perasaan penuh tanda tanya. 'Siapa yang datang menjengukku?' gumam Bella.


"Ra.. Rachel." kata Bella saat sudah berada di ruang kunjungan dan melihat Rachel tengah duduk menunggunya sambil membawa sebuah bungkusan.


Bella pun mendekat pada Rachel sambil bersungut-sungut. "Ada apa kau datang kesini? Kau mau mengejekku?" tanya Bella sambil sedikit menggerutu.


"Tidak Bella, aku hanya ingin bertemu denganmu." jawab Rachel sambil tersenyum.


"Untuk apa kau menemuiku? Untuk mengejekku karena kau akhirnya bisa kembali lagi pada Milan setelah berbagai upaya yang kulakukan dengan Gibran untuk memisahkanmu ternyata gagal?" kata Bella sambil tersenyum sinis.


"Tidak Bella, bagaimanapun juga kau adalah temanku."


"Heh teman? Tidak usah munafik, dalam hatimu yang paling dalam kau pasti sangat membenciku karena sudah pernah memisahkanmu dengan suami dan anakmu."


Rachel pun kemudian tersenyum. "Ya, saat baru mengetahui jika kalian berdua telah mempermainkanku aku sangat marah padamu dan Gibran, bahkan aku begitu membenci kalian."


"Tidak usah basa-basi, sebenarnya apa maksudmu bertemu denganku?"


"Bertemanlah denganku, Bella. Lupakan semua dendam dan masa lalu yang telah terjadi di antara kita."


"Jika kau sudah memaafkan dan ingin melupakan masa lalu tapi kenapa kau tega memenjarakanku? Apakah kau tahu Rachel, tempat ini begitu mengerikan, aku bahkan tidak pernah bisa membayangkan hidup di tempat seperti ini." kata Bella sambil terisak.


Rachel kemudian menggenggam tangan Bella. "Bella, ini semua adalah suatu proses kehidupan yang harus kau jalani sekaligus konsekuensi yang harus kau terima atas semua yang kau lakukan. Bersabarlah, aku akan selalu menemanimu selama masa tahanan ini."


Bella pun terisak. "Bella, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku akan menjadi pendengar bagi keluh kesahmu dalam menjalani masa tahanan ini. Kita bisa berteman kan?"


Perlahan Bella pun mengangguk. "Bagus, mulai hari ini kita adalah teman." kata Rachel kemudian memeluk Bella.


"Jangan menangis, tersenyumlah. Jangan biarkan wajah cantikmu penuh dengan air mata."


"Iya Ra."


"Ini kubawakan makanan untukmu."

__ADS_1


"Makanan?" tanya Bella dengan raut wajah begitu bahagia.


Rachel pun mengangguk. Bella kemudian membuka bungkusan makanan yang ada di depannya lalu memakannya dengan begitu lahap. "Kau tahu saja yang aku butuhkan Ra."


"Tentu saja aku tahu semua yang kau butuhkan karena aku adalah temanmu."


"Ra, kau benar-benar temanku kan?"


Rachel pun mengangguk.


"Kalau kau benar-benar temanku maukah kau membawakan makanan untukku setiap hari? Makanan disini sungguh menakutkan, seperti di neraka, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku jika memakan makanan disini." kata Bella sambil menggaruk rambutnya.


"Hahahaha, tentu saja." jawab Rachel sambil tertawa terbahak-bahak.


"Terimakasih."


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Rachel kemudian meninggalkan lembaga pemasyarakatan itu lalu masuk ke sebuah mobil yang menunggunya di parkiran sambil tersenyum.


"Bagaimana?"


"Dia mau menerimaku sebagai temannya."


"Apa kau yakin rencanamu ini akan berhasil untuk menghapus semua dendam di hatinya?"


"Tentu Milan, aku tidak ingin api permusuhan antara kita dengan mereka karena aku yakin saat mereka keluar dari penjara mereka pasti akan balas dendam pada kita, sebelum semua itu terjadi, kita harus memadamkan dendam di hati mereka."


"Ya, rencanamu memang bagus tapi bagaimana dengan Gibran? Aku tidak yakin, dia berbeda dengan Bella."


"Kita belum mencobanya, Milan. Bagaimana, kau siap kan bertemu dengannya?"


"Entahlah."


Rachel kemudian menggenggam tangan Milan. "Tolong lakukanlah demi anak kita, kau tidak ingin kan anak kita menjadi korban lagi atas kebencian mereka pada kita."


Milan pun kemudian termenung. "Aku akan mencobanya, meskipun aku yakin itu tidak akan mudah."


"Setidaknya kau pernah mencobanya."


Note:

__ADS_1


Buat pemanasan dulu ya dear, next next episode mulai masuk pencarian cinta sejatinya Bella dan Gibran yang bisa bikin kalian penasaran ea ea ea 🤭✌️


Terimakasih yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ❤️🥰


__ADS_2