Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Penolong


__ADS_3

"Kenapa aku harus bertemu dengan Arvin lagi? Benar-benar mengganggu moodku saja." gerutu Bella saat masuk ke dalam toilet. Dia lalu berdiri di depan cermin sambil merapikan kembali riasan di wajahnya.


"Tenang Bella, tenang, jangan terpancing emosi. Jangan sampai moodku menjadi buruk." kata Bella sambil mengambil nafas panjang setelah selesai merias wajahnya. Dia lalu keluar dari toilet dengan mengendap-endap sambil memeriksa keadaan. "Sepertinya Arvin sudah pergi." kata Bella kemudian keluar dari toilet tersebut dan berjalan menuju ke meja tempat Evan yang sudah menunggunya.


"Maaf jika sedikit lama."


"Tidak apa-apa Bu Bella."


"Apa kau sudah memesan makanan?"


"Belum, saya menunggu anda Bu Bella."


"Oh, lalu kau mau pesan apa?"


"Apa saja, terserah Bu Bella." jawab Evan sambil tersenyum.


'Sial, kenapa hatiku semakin tidak menentu saat melihat senyumnya.' kata Bella dalam hati.


Saat sedang asyik memesan makanan, tiba-tiba ponsel Evan pun berbunyi.


"Sebentar Bu Bella, saya angkat telepon dulu."


"Ya." jawab Bella sambil mengangguk.


Evan pun kemudian berjalan menjauhi Bella. Dari kejauhan Bella tampak mengamati Evan yang sedang menerima panggilan telepon dengan raut wajah begitu serius.


'Siapa sebenarnya yang menelpon Evan? Apakah dia benar-benar sudah memiliki seorang kekasih? Sepertinya aku memang tidak boleh terlalu berharap padanya, lelaki setampan dirinya memang mustahil jika belum memiliki seorang kekasih.' gumam Bella dalam hati sambil memegang dadanya.


'Kenapa hati ini tiba-tiba terasa begitu sakit saat membayangkan Evan jika sudah memiliki seorang kekasih? Benarkah aku memang telah jatuh cinta padanya? Oh Tuhan, aku harus bagaimana? Aku belum sanggup lagi menahan sakit hati merasakan cinta yang tak pernah terbalas.' gumam Bella kembali sambil melihat Evan yang masih tampak asyik menerima panggilan telepon.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Gibran perlahan membuka matanya.


"Kau sudah sadar?" sapa sebuah suara yang ada di sampingnya.


Gibran pun mengamati keadaan sekitar, dia terbaring di atas tempat tidur sempit di dalam sebuah kamar berukuran 3x4 meter. Seorang wanita yang cukup cantik dengan dandanan sederhana dan raut wajah yang begitu polos kini duduk di sampingnya.


"Kau sudah bangun?" tanya dia kembali.


Gibran pun kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak sengaja menaiki mobilmu tadi aku tersesat dan kehujanan jadi aku terpaksa menaiki mobilmu tanpa permisi."


"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut karena kau tiba-tiba ada di dalam mobilku."


"Terimakasih banyak."


"Ya."


"Sekarang aku akan pergi, terimakasih sudah menolongku." kata Gibran sambil mencoba bangkit dari atas ranjang.


"AAAWWWWW." teriak Gibran lagi.


"Kau mau kemana? Kau masih demam, sebaiknya kau beristirahat dulu sampai demammu turun. Lalu kenapa dengan kakimu? Apa kakimu sakit?" tanya wanita itu.


"Maaf aku tidak mau merepotkanmu."


"Tidak, kau tidak merepotkanku. Kau tinggal di sini saja, setidaknya sampai demammu turun, sepertinya kau juga harus memeriksakan kakimu, lihat kakimu kini tampak begitu membengkak."


"Benarkah?"


"Ya, coba kau lihat. Kakimu membengkak, sebenarnya apa yang telah terjadi?"


"Aku tadi terjatuh."


"Ya, aku terjatuh saat sedang mengendarai motor lalu kakiku terasa sangat sakit."


"Jadi sebenernya yang mana yang benar? Kau tersesat atau kau baru saja jatuh saat mengendarai motor?" tanya wanita itu kembali yang membuat Gibran kini tampak begitu gugup.


"Emh.. E.. Sebenarnya begini, aku akan menuju ke kota, tapi aku tersesat, saat sedang mengamati daerah sekitar aku terjatuh dari motor lalu saat itu hujan turun dengan derasnya. Aku sudah sangat kedinginan dan juga tak kuat menahan kakiku lagi yang sakit, jadi itulah alasan yang sebenarnya aku menaiki mobilmu." kata Gibran dengan sedikit gugup.


'Semoga wanita ini percaya.' gumam Gibran dalam hati karena melihat wanita itu masih saja menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Tiba-tiba raut wajah wanita itu pun berubah. "Kasihan sekali, kau sungguh malang, kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi jika kau baru saja mengalami kecelakaan? Jika kau mengatakannya sejak tadi tentu aku sudah membawamu ke rumah sakit." kata wanita itu dengan begitu iba.


'Berhasil, wanita ini percaya padaku.' kata Gibran dalam hati sambil tersenyum pada wanita itu.


"Emhh maaf siapa namamu?" tanya wanita itu.


"Gibran, namaku Gibran."


"Oh Gibran, aku Riana. Sekarang ayo kita pergi ke rumah sakit."

__ADS_1


"Rumah sakit?"


"Ya, kita harus tahu keadaanmu yang sebenarnya, kau lihat kakimu saja membengkak, meskipun aku baru mengenalmu aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu, bukankah sesama manusia harus saling menolong?" kata Riana sambil tersenyum.


Gibran pun mengangguk.


'Sial, bukankah rumah sakit itu tempat umum? Bagaimana jika para sipir itu sudah menghubungi pihak kepolisian dan polisi memeriksa seluruh tempat umum di daerah ini? Aku harus waspada.' gumam Gibran dalam hati.


"Bagaimana, ayo kita sekarang ke rumah sakit untuk mengobati demam dan sakit di kakimu."


"Emh, e iya. Tapi Riana apakah kau memiliki masker?"


"Masker?"


"Ya, hidungku sedikit sensitif jika mencium bau obat-obatan di rumah sakit."


"Oh tentu saja, aku memiliki masker, aku juga selalu menggunakan masker saat ke kebun. Sebentar kuambilkan." kata Riana kemudian berjalan keluar dari kamar itu.


"Ini maskernya." kata Riana sambil memberikan sebuah masker pada Gibran.


"Terimakasih." jawab Gibran sambil mengambil masker tersebut.


"Sekarang, ayo kita ke rumah sakit." kata Riana.


"Iya." jawab Gibran lalu mencoba bangun dari ranjang dengan begitu kepayahan.


"Ayo kubantu." kata Riana sambil memegang tangan dan punggung Gibran.


Dengan sedikit bersusah payah, mereka lalu berjalan ke arah mobil bak milik Riana, setelah membantu Gibran menaiki mobilnya, Riana pun kemudian duduk di sampingnya lalu mengendarai mobil tersebut menuju ke rumah sakit terdekat. Lima belas menit kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit itu. Riana kemudian meminta beberapa petugas medis untuk membantu Gibran turun dari mobilnya untuk dibawa ke ruang UGD.


'Baik sekali gadis ini, dia mengingatkanku pada Rachel yang hatinya begitu tulus saat membantu seseorang.' gumam Gibran saat dia sudah berada di ruang UGD. Beberapa saat kemudian, seorang dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Gibran.


"Bagaimana kondisi teman saya dok?" tanya Riana.


"Sepertinya tulang kakinya retak, kita harus memeriksa keadaannya lebih lanjut." kata dokter tersebut.


"Baik dok, tolong berikan perawatan terbaik pada teman saya."


Gibran pun terkejut mendengar perkataan Riana.


'Bukankah aku baru bertemu dengannya? Tapi kenapa dia mau menolongku tanpa pamrih seperti ini? Dia semakin mengingatkanku pada Rachel. Selama empat tahun terakhir aku sudah bersusah payah melupakan Rachel tapi saat melihat gadis ini seolah-olah membangkitkan kenanganku dengan Rachel saat dia masih menjadi Almira.' gumam Gibran dalam hati sambil menahan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


'Ra, aku rindu kamu.'


__ADS_2