
"Maaf Tuan Milan, Nyonya Rachel ada tamu yang ingin bertemu dengan anda."
"Oh itu pasti Arman."
"Arman?" tanya Rachel.
"Iya, Arman anak buahku. Tante Rani, kami titip Arsen, sebentar lagi juga papa dan mama akan datang."
"Iya Milan, kau tenang saja. Lebih baik kalian cepat temui tamu kalian di depan."
"Iya tante. Rachel, ayo kita ke depan."
Rachel pun mengangguk kemudian mengikuti Milan menunju ruang tamu dan menghampiri dua orang yang kini sudah duduk di atas sofa.
"Bagaimana Arman?"
"Ini bukti-buktinya bos." kata Arman sambil memberikan satu bendel kertas.
Milan pun memperlihatkan kertas-kertas tersebut pada Rachel. "Lihat hasil tes DNA ini Ra, hasil tes DNA jenazah tersebut memiliki kemiripan sembilan puluh sembilan persen dengan orang tua Vania. Jadi dapat dipastikan jika jenazah yang terkubur itu adalah Vania."
"Astaga." kata Rachel sambil menutup mulutnya.
"Lalu lihat bukti-bukti ini Ra, tentang pemalsuan identitas." kata Milan sambil memperlihatkan kembali kertas yang ada di tangannya.
"Siapa yang melakukan pemalsuan identitas? Apa maksudmu sebenarnya Milan?"
"Gibran, dia yang melakukan pemalsuan identitas. Kau tidak tahu kan jika KTP mu adalah palsu?"
"KTP ku palsu?" tanya Rachel dengan kening berkerut.
"Ya, KTP mu adalah palsu, kau tahu kan jika Almira sebenarnya sudah meninggal."
"Iya aku tahu itu, ini sungguh keterlaluan, jadi Gibran yang sudah merencanakan semua ini?"
"Ya, Gibran yang sudah membuat semua konspirasi ini agar kau mengalami kecelakaan hingga orang-orang menganggapmu sudah tiada kemudian membuat identitas baru untukmu."
"Mereka benar-benar manusia jahat."
"Jika mereka tidak jahat, mereka tidak mungkin memisahkan seorang ibu dan anaknya demi kepentingan pribadi mereka Ra."
"Kau benar Milan. Tadinya aku berfikir jika kau sedikit keterlaluan mengerjai mereka di hutan tapi kupikir ini sebanding dengan yang mereka lakukan."
"Iya, kau juga harus berterima kasih pada Almira." kata Milan sambil terkekeh.
"Almira? Bukankah Almira sudah meninggal?"
"Hahahaha."
"Kenapa kau tertawa Milan?"
"Kau lihat wanita yang ada di samping Arman?" kata Milan sambil menunjuk seorang wanita yang kini sedang tersenyum pada mereka.
"Ya, apa dia kekasih Arman?"
"Bukan, dialah Almira."
"Apa? Jadi Almira sebenarnya belum meninggal?"
"Sudah, Almira sudah meninggal. Dia adalah Lina, wanita yang berpura-pura menjadi Almira, lebih tepatnya berpura-pura menjadi hantu Almira tadi malam." jawab Milan sambil terkekeh.
"Jadi mereka yang menelponmu semalam?"
__ADS_1
"Iya, mereka mengikuti Gibran dan Bella sampai mereka beristirahat di desa dekat hutan. Saat mereka sedang beristirahat di pos kamling di desa tersebut mereka menghubungiku untuk memberitahukan kalau pekerjaan mereka sudah selesai."
"Arman, Lina kalian boleh pulang sekarang. Untuk sementara pekerjaan kalian sudah selesai, terimakasih atas semua kerjasamanya."
"Iya Tuan Milan, kami pamit dulu."
"Ya."
"Kau benar-benar jahil, Milan." gerutu Rachel saat Arman dan Lina sudah meninggalkan ruang tamu.
"Hahahaha, itu tidak sebanding dengan yang kita rasakan Ra, kau tahu bagaimana hidupku saat pertama kali kehilanganmu. Aku sudah seperti mayat hidup yang tidak memiliki semangat menjalani kehidupan."
Mendengar perkataan Milan, Rachel pun kini terlihat sedih. "Lupakan semua itu, karena saat ini aku akan selalu ada di sampingmu selamanya." kata Rachel sambil menggenggam tangan Milan.
"Iya Ra."
"Lalu apa kau sudah melaporkan mereka pada pihak yang berwajib?"
Milan pun menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Bukankah buktimu sudah cukup kuat?"
"Biar mereka yang datang sendiri pada polisi."
"Maksudmu?" tanya Rachel sambil mengerutkan keningnya.
"Jangan bilang kau mau mengerjai mereka lagi?"
"Hahahaha." Milan pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Rachel.
"Ya, tampaknya aku memang harus mengerjai mereka lagi karena aku masih belum puas."
"Milan, kau memang begitu nakal."
"Terserah maumu saja, tapi berjanjilah setelah ini kau jangan mempermainkan mereka lagi."
"Iya Ra, ini yang terakhir. Dan untuk permainan terakhir ini aku membutuhkan bantuanmu."
"Bantuanku? Memangnya apa yang bisa kubantu? Jangan bilang kau menyuruhku untuk berpura-pura menjadi hantu Almira."
"Tidak bukan itu."
"Lalu?"
Milan kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Rachel, lalu berbisik sesuatu di telinganya yang membuat Rachel ikut tertawa terbahak-bahak.
πΈπΈπΈπΈπΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
"Diluar ada beberapa polisi yang ingin bertemu dengan Tuan Gibran dan Nyonya Bella?"
"Polisi?" kata Gibran dan Bella sambil bertatapan disertai perasaan yang begitu campur aduk.
"Gibran bagaimana ini?" tanya Bella dengan gemetar.
"Tenang saja Bella, sebaiknya kita temui mereka di depan."
"Ayo." kata Bella.
Mereka kemudian berjalan ke arah ruang tamu lalu menghampiri beberapa orang polisi yang kini sudah duduk di sofa.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu." kata Gibran sambil tersenyum untuk menutupi kepanikannya.
__ADS_1
"Selamat siang, apakah anda saudara Gibran dan Bella."
"Iya saya Gibran dan ini sepupu saya Bella."
"Begini saudara Gibran, kami menemukan mobil di tengah hutan saat kami sedang mengecek keamanan di sekitar hutan. Saat kami cek plat mobil tersebut, pemilik mobil tersebut adalah anda. Benarkah anda pemilik mobil BMW berwarna hitam yang anda tinggalkan di tengah hutan."
Mendengar perkataan polisi tersebut, Bella dan Gibran pun menghembuskan nafas panjang, hatinya terasa begitu lega karena kedatangan polisi tersebut bukanlah untuk menangkap mereka.
"Iya Pak, itu mobil milik saya. Saya meninggalkannya begitu saja di hutan karena kami kehabisan bahan bakar kemudian kami memilih pulang dengan menggunakan taksi online."
"Oh, jadi benar itu mobil milik saudara Gibran?"
"Iya Pak."
"Begini saudara Gibran, sebenarnya keberadaan mobil tersebut sedikit mengganggu lalu lintas warga yang menggunakan jalan pintas di hutan tersebut saat siang hari. Mobil milik anda sangat menghalangi lalu lintas warga."
"Oh maafkan saya pak polisi, sebentar lagi saya akan menyuruh anak buah saya untuk mengambil mobil tersebut."
"Baik, terimakasih atas kerjasamanya saudara Gibran. Selain itu saya juga mau mengembalikan ini. Ini identitas milik saudari Bella yang terjatuh di sekitar mobil."
"Iya Pak Polisi, terimakasih banyak."
"Sama-sama, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu."
"Iya." jawab Gibran sambil tersenyum.
Setelah polisi tersebut meninggalkan rumahnya, Bella dan Gibran pun tertawa terbahak-bahak.
"Kupikir dia akan menangkap kita karena kejahatan yang kita lakukan."
"Tenang saja Bella, semua rahasia kita masih tersimpan rapi." kata Gibran sambil terkekeh. Di saat itulah tiba-tiba ponsel Gibran pun berbunyi.
"Almira." kata Gibran saat melihat sebuah nama di ponselnya, bergegas Gibran mengangkat panggilan dari Almira.
[Iya Ra, ada apa? Apa kau sudah pulang dari Jakarta?]
[Belum Gibran, nanti sore aku baru pulang. Emh Gibran, sebenarnya aku ingin minta tolong padamu.]
[Kau mau minta tolong apa Ra? Semua akan kulakukan untukmu.]
[Begini Gibran, KTP ku hilang disini, besok pagi maukah kau menemaniku ke kantor polisi membuat surat kehilangan untuk membuat KTP baru di dinas kependudukan.]
'Mampus.' kata Gibran dalam hati.
[Kenapa kau hanya diam Gibran?Besok pagi kau mau menemaniku kan?]
[E e iya Ra.] jawab Gibran sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Sedangkan di ujung sambungan telepon, tampak Milan dan Rachel tertawa terbahak-bahak setelah Rachel menutup teleponnya.
'Sampai bertemu besok pagi Gibran.' kata Milan dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
πππππΈπΈπΈπΈ
"Kenapa kau diam setelah Almira menelponmu, Gibran?"
"Bella, KTP palsu milik Almira hilang dan dia memintaku untuk menemaninya ke kantor polisi membuat surat keterangan kehilangan untuk membuat KTP baru."
"Oh tidak itu sama saja menyerahkan dirimu ke kantor polisi, Gibran."
"Lalu kita harus bagaimana, Gibran?"
__ADS_1
"Entahlah, aku sepertinya sudah tidak bisa berkelit."