
"Kau pilih siapa, Evan?" tanya Sinta dengan tatapan mata tajam.
"Kau tidak usah memilih, Evan." jawab Celine. Evan pun kemudian memandang Celine.
"Apa maksudmu, Celine? Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tau sendiri jika aku sangat mencintaimu, tentu saja aku akan memilihmu."
"DASAR LAKI-LAKI BREN*SEK!!" umpat Sinta.
"Tapi aku sudah tidak mau dan tidak sudi untuk kembali padamu, Evan! Kau laki-laki pembohong yang hanya mementingkan dirimu sendiri tanpa peduli pada perasaan orang lain! Setelah keluar dari penjara, aku akan memulai kehidupan baruku tanpa dirimu, Evan! Sudah cukup semua nasib buruk yang kualami karena dirimu! Aku akan memperbaiki sikapku dan nasibku, aku tidak mau hidup dengan orang jahat sepertimu yang akan membuat hidupku hancur!"
"Tapi Celine, aku sangat mencintaimu Celine."
"Tidak, sudah cukup Evan! Lebih baik kau urusi saja anak yang ada di dalam kandungan wanita itu, bagaimanapun juga dia adalah anak kandungmu! Kau harus bertanggung jawab padanya, Evan!"
"Tidak Celine, aku tidak pernah mencintai Sinta, aku tidak mau hidup dengannya apalagi dengan anak yang ada di dalam kandungannya, aku tidak menginginkan anak itu!"
PLAK
"Kenapa kau menamparku, Sinta? Meskipun pahit memang itulah kenyataannya jika aku tidak pernah mencintaimu, kau jatuh ke dalam pelukanku itu karena kebodohanmu sendiri yang terlalu percaya pada bualanku!"
"Dasar laki-laki bajingan! Kau laki-laki paling biadab yang pernah kutemui! Mudah sekali kau berkata seperti itu! Kau sudah memperalatku, lalu saat hidupku hancur dengan mudahnya kau berkata seperti itu dan ingin meninggalkanku begitu saja? DASAR LAKI-LAKI BREN*SEK! SUATU SAAT KAU AKAN MENYESAL PERNAH BERKATA SEPERTI INI PADAKU, EVAN!!" teriak Sinta kemudian berjalan meninggalkan Celine dan Evan.
"Itu tidak akan pernah terjadi." gerutu Evan sambil menatap Sinta yang kini berjalan ke arah Bella. Dia kemudian menatap Celine yang kini sedang memperhatikan Milan.
"Celine, apa yang kau lakukan? Apa kau sedang memperhatikan Milan!"
"Itu bukan urusanmu!"
"Akan menjadi urusanku karena kau masih kekasihku."
"Aku sudah tidak menganggapnya demikian, hubungan kita sudah berakhir, Evan."
"Apa kau berkata seperti ini karena kau menyukai Milan?"
"Memangnya kenapa?"
"Dasar wanita bodoh! Kau lebih memilih mencintai laki-laki yang sudah beristri yang tidak mencintaimu dibandingkan dengan diriku yang masih begitu menyayangimu."
__ADS_1
"Jangan pernah campuri lagi urusanku Evan karena kau bukan siapa-siapa bagiku!"
"Celine!"
"Hai apa kalian tidak bisa diam?" kata salah seorang polisi yang masuk ke dalam ruang penyidikan itu.
"Lebih baik kalian berdua diam, dan hanya kuperbolehkan membuka mulut kalian saat menjawab pertanyaanku! Kalau tidak aku akan menaruh kalian ke ruang tahanan sekarang juga!"
"Baik Pak." jawab Celine dan Evan bersamaan.
"Ini gara-gara kau Evan, jika kau mau berdamai dan membuat kesepakatan dengan mereka pasti kita tidak akan seperti ini."
"Aku tidak akan pernah berdamai dengan mereka."
"DIAM!!!!!"
🖤🖤🖤🖤🖤
"Sudahlah Sinta, kau tidak usah menangis. Percuma menangisi laki-laki buaya darat seperti Evan yang tidak bertanggung jawab. Kau cantik dan memiliki pekerjaan yang bagus Sinta, jangan kau pertaruhkan harga dirimu untuk mengemis pada laki-laki seperti dirinya." kata Bella sambil membelai rambut Sinta.
"Sinta, dengarkan aku. Jika kau memaksakan kehendakmu untuk meminta Evan mengakui anakmu apakah kau yakin Evan akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anakmu? Sebenarnya aku tidak yakin Sinta."
"Lalu aku harus bagaimana Nyonya Bella, apa yang harus kulakukan?"
Air mata pun mulai menetes membasahi wajahnya.
"Sinta, jadilah wanita yang kuat dan mandiri, kau pasti bisa menjadi ayah dan ibu untuk anakmu, kami akan ikut membantumu untuk mengasuh dan membesarkan anak itu. Katakan saja apa yang kau inginkan jika membutuhkan bantuan dari kami. Aku yakin suatu saat kau pasti juga bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa menerimamu apa adanya."
"Tapi...."
"Apa yang masih mengganggu pikiranmu?"
Sinta pun menutup matanya, lalu menarik dan menghembuskan nafas panjangnya.
"Baik, aku akan melakukan apa yang anda katakan Nyonya, aku pasti bisa melakukan itu sendiri. Aku pasti bisa membesarkan anakku sendiri tanpa bantuan laki-laki tidak bertanggung jawab tersebut.
"Iya Sinta, kau tenang saja kami akan membantumu, benar kan Ra?"
__ADS_1
"Iya Sinta, kau tenang saja. Kami akan selalu ada untukmu."
"Terimakasih banyak Nyonya Bella, Nyonya Rachel, kalian benar-benar baik."
"Suatu saat laki-laki bre*gsek itu pasti akan menyesal telah membuang menyia-nyiakan kalian berdua."
Sinta pun mengangguk sambil tersenyum.
"Baik, aku tidak akan pernah memikirkannya lagi."
"Bagus Sinta, kau harus bisa melanjutkan hidupmu tanpa dirinya. Lupakan semua masa lalu burukmu dengan dirinya. Ayo sekarang kita pergi dari sini."
"Iya." jawab Sinta. Dia kemudian mengikuti langkah Bella dengan yang lain keluar dari kantor polisi itu.
'Aku tidak akan menolehkan kepalaku lagi untuk melihatmu, Evan. Aku akan melupakanmu selama-lamanya, sungguh aku tidak ingin bertemu lagi denganmu, laki-laki breng*ek yang sudah menghancurkan hidupku dan menginjak-injak harga diriku.' gumam Sinta.
Sementara itu di dalam ruang penyidikan, tampak Celine mengamati Milan yang kini berjalan ke arah mobilnya dengan menggandeng tangan Rachel.
'Setidaknya aku pernah menjadi bagian dalam hidupmu, Milan.' gumam Celine sambil tersenyum kecut.
🖤🖤🖤🖤🖤
❣️ Dua bulan kemudian ❣️
"Kau sungguh beruntung hanya divonis selama tujuh tahun penjara saja, seharusnya orang berbahaya sepertimu mendekam selamanya di tahanan ini. Aku tidak menyangka lelaki seperti dirimu mampu menjebol data sebuah perusahaan besar, benar-benar sangat berbahaya." kata seorang sipir saat mengantarkan tahanan barunya ke sebuah ruang tahanan yang ada di salah satu pojok komplek lembaga pemasyarakatan.
"Tugas anda hanya mengantarkan saya ke sel tahanan, tidak usah ikut campur urusan pribadi saya."
"Heh, benar kata para polisi jika kau adalah orang yang sombong, kau bukanlah orang yang memiliki harta dan jabatan tapi kau sudah begitu sombong."
"Lebih baik kau diam saja Pak Sipir, anda cukup menunjukkan dimana ruang tahanan saya."
"Itu di sana, yang pojok itu kau masuklah ke sana Evan."
Evan pun mengangguk, dia kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang terletak di bagian pojok lembaga pemasyarakatan itu. Begitu masuk ke dalam ruangan itu netranya tertuju pada seorang tahanan yang sedang duduk di pojok ruangan sedang bercanda dengan tahanan yang lainnya. Perlahan Evan pun berjalan mendekat ke arah mereka sambil tersenyum kecut. Saat Evan sudah sampai di depan gerombolan tahanan itu senyum manis pun tersungging di bibirnya.
"Apa kabar Gibran?"
__ADS_1