Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Permainan


__ADS_3

Milan pun kemudian mencium bibir Almira dengan begitu lembut. Perasaan Almira kini begitu campur aduk, rasanya ingin sekali dia melepaskan ciuman itu tapi cengkraman Milan begitu kuat di tangannya. Namun di balik itu semua dia tak bisa menyangkal ada sebuah perasaan hangat di relung hati terdalamnya.


'Ciuman ini, bukankah seharusnya aku marah dicium oleh lelaki yang tak kukenal, tapi kenapa rasanya aku tak ingin melepaskan ciuman ini.' kata Almira dalam hati.


'Tidak, tidak akan kubiarkan pria asing ini menyentuhku lagi.' gumam Almira, sekuat tenaga dia lalu melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Milan, dan kemudian mendorong tubuhnya.


PLAKKKK


Almira pun mengayunkan tangannya lalu menampar Milan dengan begitu keras.


"Maaf Tuan, saya tidak mengenal anda tapi anda sudah begitu kurang ajar pada saya!" bentak Almira pada Milan.


Melihat perlakuan Almira padanya, Milan pun tetap tenang, dia kemudian mendekat kembali pada Almira.


"Tolong jangan mendekat lagi, atau saya akan berteriak sekarang juga!"


"Berteriaklah Ra, aku tidak takut karena kau adalah istriku." kata Milan dengan begitu tenang disertai tatapan mata yang begitu hangat.


'Istri?' kata Almira dalam hati.


"Dasar laki-laki gila!" bentak Almira lalu meninggalkan Milan dan masuk ke mobilnya.


Milan pun tersenyum melihat kepergian Almira. "Akan kubuktikan jika kau adalah Rachel bukan Almira, sekarang aku memang belum memiliki bukti apapun tapi aku yakin kau adalah Rachelku."


Almira mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi, sesekali dia melirik ke arah spion untuk melihat apakah lelaki tersebut mengikutinya atau tidak. Sesampainya di rumah, dia langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu rumah dengan rapat dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Akhirnya aku selamat." kata Almira sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan menghembuskan nafas panjangnya. Dia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Oh tuhan, kenapa hal ini terjadi padaku."


Dia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah cermin. Perlahan Almira pun memegang bibirnya sambil menutup matanya.


"Kenapa rasanya aku pernah merasakan getaran yang sangat kurindukan saat bersentuhan dengan bibir itu. Lalu pelukan itu, pelukan hangat yang seperti kuimpikan dalam setiap malamku." kata Almira sambil terus menutup wajahnya.


Seketika Almira pun membuka matanya. "Astaga, sadar Almira, kenapa aku jadi seperti ini? Oh tidak, bahkan laki-laki itu begitu lancang karena sudah menyentuh tubuhku tapi aku malah memikirkannya." kata Almira sambil mengusap kasar wajahnya.


"Sadar Almira, sadar, aku adalah kekasih Gibran, kenapa tiba-tiba aku harus memikirkan laki-laki lain, bahkan aku baru mengenal lelaki tersebut." kata Almira sambil terus menatap wajahnya di cermin.


Dia lalu memegang bibirnya lagi. "Bahkan Gibran saja belum pernah kuijinkan untuk menyentuh bibirku tapi kenapa dengan mudahnya aku menikmati ciuman dari lelaki itu." kata Almira lagi.

__ADS_1


"Tuhan, kenapa aku memikirkan lelaki itu lagi." kata Almira sambil memijit keningnya.


☘️☘️☘️☘️


"Milan, kau mau kemana? Kita baru saja sampai di rumah tapi kau sudah mau pergi lagi." tanya Citra sesaat setelah mereka sampai di rumah.


"Milan ada urusan penting ma."


"Apa itu urusan pekerjaan? Sepanjang perjalanan macet, kau pasti lelah Nak, lebih baik kau istirahat saja dulu dan selesaikan pekerjaanmu besok."


"Tidak ma, ini lebih penting daripada urusan pekerjaan. Milan pergi dulu." kata Milan sambil tersenyum lalu mencium pipi mamanya.


Setengah jam kemudian, Milan sampai di sebuah cafe. Dia kemudian menghampiri seorang lelaki yang memakai jaket cokelat dan berkacamata hitam yang duduk di pojok cafe tersebut. Lelaki itu pun kemudian tersenyum melihat kedatangan Milan.


"Bagaimana Arman? Informasi apa saja yang kau dapatkan." kata Milan saat duduk di depan lelaki tersebut.


"Saya sudah memeriksa rekaman CCTV di rumah sakit tepat saat Nyonya Rachel kecelakaan."


"Lalu?"


"Saat Nyonya Rachel keluar dari rumah sakit tersebut, dia tampak berjalan bersama seorang wanita hamil."


"Saya sudah meminta video tersebut, mungkin Tuan Milan mengenal wanita yang bersama Nyonya Rachel." kata Arman sambil memperlihatkan sebuah video di ponselnya.


"Wanita ini? Kenapa sangat mirip dengan Vania?" kata Milan sambil berulangkali melihat video tersebut.


'Apakah jenazah wanita yang ditemukan dengan jenazah Pak Surya adalah Vania? Bukankah Vania istri dari Gibran? Aku harus menyelidiki semua ini.' kata Milan dalam hati sambil terus melihat rekaman CCTV itu.


"Terimakasih Arman, saya pulang dulu." kata Milan.


"Iya Bos."


"Aku harus menyelidiki semua ini, aku yakin Almira adalah Rachel, tapi aku tidak boleh ceroboh dan bertindak gegabah karena saat ini aku belum memiliki bukti kejahatan mereka." kata Milan saat mengendarai mobilnya.


Setelah Milan sampai di rumahnya, dia kemudian mendengus kesal karena melihat sebuah mobil yang kini terparkir di depan mobilnya. "Kapan aku bisa lepas dari wanita menyebalkan ini." kata Milan sambil mengusap kasar wajahnya. Dia kemudian termenung, namun beberapa saat kemudian senyum pun tersungging di bibir Milan.


Milan kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan begitu ceria, dia lalu menghampiri Bella yang kini duduk di samping mamanya.


"Selamat sore Bella." kata Milan sambil tersenyum.

__ADS_1


'Astaga, manis sekali sikap Milan hari ini padaku? Apa dia merindukan aku?' kata Bella dalam hati.


"So.. Sore Milan." jawab Bella dengan raut wajah berbinar.


"Kau sudah makan? Bagaimana jika aku mengajakmu makan malam?"


"Ma..Makan malam?"


"Ya, aku sedang ingin makan malam diluar, maukah kau menemaniku makan malam di luar?"


"O..O..Oh tentu saja Milan."


"Ayo kita berangkat sekarang." kata Milan.


"Iya ayo. Tante Bella permisi dulu." kata Bella pada Citra.


"Oh iya Bella, kalian hati-hati di jalan."


Bella pun kemudian mengikuti Milan masuk ke mobil dengan perasaan begitu bahagia, saat tengah duduk di mobil, Bella bahkan tidak berhenti tersenyum sambil sesekali melirik Milan.


'Aku benar-benar sungguh bahagia, setelah satu tahun perpisahanmu dengan Rachel, akhirnya kau bisa membuka hatimu kembali untukku Milan.' gumam Bella sambil tersenyum bahagia.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di sebuah cafe dengan konsep rooftop.


'Wow pemandangan yang sangat indah, Milan sampai membawaku ke tempat seromantis ini pasti karena dia ingin memulai kembali hubunganku dengannya.'


"Ayo kita duduk di sana Bella."


"Iya Milan."


"Bella, maaf selama ini aku sudah mengabaikanmu, sekarang aku benar-benar menyesal."


"Iya Milan, masih ada waktu untuk memperbaiki semua ini."


"Terimakasih Bella, kau benar-benar wanita yang baik, aku memang benar-benar bodoh selama ini aku sudah mengabaikanmu begitu saja." kata Milan yang semakin membuat hati Bella begitu berbunga-bunga.


Milan yang melihat Bella kini terlihat begitu bahagia kemudian menggenggam tangan Bella dan sesekali membelai wajahnya.


'Kau dan Gibran telah mempermainkanku dan melakukan kejahatan besar pada keluarga kecilku, sekarang ikutilah permainan dariku dan terimalah balasan yang lebih menyakitkan dariku.' kata Milan dalam hati sambil melihat Bella yang masih tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2