
"Kau cantik sekali, Bella." kata Riana saat memasuki kamar Arvin dan melihat Bella sudah selesai dirias layaknya pengantin. Meskipun make up pengantin serta kebaya yang dikenakan oleh Bella terbilang sederhana tapi tidak sedikitpun mengurangi kecantikan pada diri Bella.
Bella pun tersenyum. "Besok saat sudah berada di Jakarta kau pun akan berdandan seperti ini, kalian juga akan menikah secepatnya kan?"
"Ya." jawab Riana sambil menganggukkan kepalanya.
"Apa dia sudah selesai dirias Mba?" tanya Riana pada seorang perias pengantin yang sedang merapikan kembali kebaya yang dikenakan oleh Bella.
"Sudah, Nona Bella sudah selesai dirias." jawab wanita itu.
"Ayo kita keluar Bella, penghulunya sudah datang. Mereka sedang menunggumu." kata Riana sambil membantu Bella berdiri.
"Iya Riana."
Mereka pun kemudian keluar dari kamar itu menuju ke ruang tamu. Tampak Arvin sudah duduk dengan menggunakan kemeja putih dan stelan jas hitam dengan menggunakan kopiah, sedangkan di depannya tampak seorang penghulu yang duduk di samping Gibran serta beberapa orang saksi yang kira-kira berjumlah sepuluh orang.
Riana lalu menuntun Bella untuk duduk di samping Arvin. "Kau cantik sekali, Bella." bisik Arvin sambil mendekat ke telinga Bella.
"Arvin kendalikan dirimu jangan mencium Bella di depan umum seperti ini, sebentar lagi kalian juga sah sebagai suami istri." gerutu Gibran.
"Heh Gibran aku hanya sedang membisikkan sesuatu di telinga Bella, kau saja yang terlalu sensitif." jawab Arvin.
"Apa kita bisa memulai acara ijab qabulnya sekarang?" tanya penghulu tersebut.
"Iya Pak." jawab Arvin dan Gibran bersamaan.
Arvin pun kemudian mengucapkan ijab qabul dengan satu kali tarikan nafas, hingga akhirnya terdengar suara teriakan "SAH!!!" dari para saksi.
"Kalian sekarang sudah sah sebagai pasangan suami istri." kata penghulu yang ada di hadapannya.
Arvin dan Bella pun saling berpandangan.
"Kau sekarang sudah sah menjadi istriku, Bella." kata Arvin yang dijawab anggukan Bella sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Selamat Arvin, Bella." kata Gibran.
"Terimakasih Gibran." jawab Arvin dan Bella.
"Selamat untuk kalian berdua." kata Riana yang kini mendekat ke arah Arvin dan Bella sambil memeluk mereka satu persatu.
"Terimakasih Riana." jawab Arvin dan Bella.
"Kau tenang saja Riana, setelah sampai di Jakarta kita pun akan segera menikah." kata Gibran sambil melirik Arvin dan Bella.
__ADS_1
"Hahahaha, Bella kau dengar ada yang iri." kata Arvin yang membuat Bella dan Riana tertawa melihat tingkah Gibran.
"Kalian jangan menertawakanku." gerutu Gibran.
Setelah selesai menjamu penghulu dan para saksi dengan hidangan yang sudah dipersiapkan, beberapa jam kemudian mereka pun berkemasan dan mempersiapkan diri untuk pergi ke Jakarta.
"Gibran, sebaiknya kita naik mobil terpisah. Jika kita menaiki mobil Bella bersama-sama akan terlihat mencurigakan karena ada empat orang yang menaiki mobil tersebut, karena bisa saja ada polisi yang berjaga di sekitar rumah Bella. Sebaiknya kau menaiki mobilku saja, polisi tidak akan mencurigai mobil ini karena mobilku bukanlah mobil mewah yang biasa digunakan oleh orang seperti dirimu."
"Iya Arvin. Kalian sudah siap kan?"
"Ya, sebaiknya kita pergi sekarang."
"Iya." jawab Gibran.
Mereka lalu pergi dari rumah milik orang tua Arvin menuju ke rumah Bella di Jakarta.
🌿🌸🌿🌸🌿🌸
"Gibran, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu?" kata Riana saat sedang dalam perjalanan.
"Apa sayang?"
"Kenapa kau menyuruh Kak Arvin memegang perusahaan kalian? Apakah kau percaya padanya? Bukankah kau tahu, Arvin dulu ingin merebut perusahaan kalian? Apa kau tidak takut jika Arvin bisa saja merebut perusahaan kalian lagi?"
Gibran pun kemudian tersenyum.
"Jadi kau sudah benar-benar percaya padanya?"
"Tentu saja, meskipun terkadang kami masih sering bertengkar tapi untuk saat ini hanya Arvin yang bisa kupercaya, aku yakin Arvin sudah berubah, dia bukanlah Arvin yang dulu. Dia juga sudah meminta maaf padaku atas semua kesalahan yang dia lakukan pada kami."
"Benarkah dia pernah meminta maaf padamu?"
"Ya, saat kau sedang marah padaku, aku banyak berbicara dengan Arvin dan aku yakin Arvin sudah menjadi sosok yang lebih baik sekarang. Dia juga sangat mencintai Bella, dia tidak mungkin menyakiti Bella kembali. Lagipula aku juga tetap mengontrol aktivitas perusahaan dari rumah dan melalui Pak Rafly.
"Iya Gibran, aku juga tahu jika saat ini dia sangat mencintai saudarimu. Terimakasih Gibran."
"Untuk?" tanya Gibran sambil mengerutkan keningnya.
"Karena telah memaafkan semua kesalahan kakakku dan memberikan kepercayaan yang begitu besar padanya." kata Riana sambil tersenyum.
Gibran pun ikut tersenyum.
"Kau bisa saja Riana."
__ADS_1
"Aku pun yakin setelah semua ini berlalu kau pasti akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Gibran."
"Iya Riana, kau tenang saja, setelah anak kita lahir aku akan menyerahkan diri."
"Ya." jawab Riana sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu melirik pada Gibran yang sedang mengendarai mobil lalu mendekat ke wajahnya kemudian mencium pipi Gibran.
"Riana kau membuatku terkejut." kata Gibran sambil tersenyum. Namun Riana semakin mendekatkan wajahnya pada Gibran kemudian membisikan sesuatu di telinga Gibran.
"Aku juga tidak menyangka jika selama ini diriku menjadi kekasih dan partner ranjang seorang CEO." bisik Riana yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
🌿🌸🌿🌸🌿🌸
Evan tampak sibuk mengerjakan sesuatu di ruangannya. "Aku harus menyelesaikan semua berkas-berkas ini yang sempat tertunda kemarin malam gara-gara Rafly sialan itu. Setelah semua ini selesai, aku tidak perlu lagi membutuhkan Bella karena aku akan menguasai sebagian saham dari perusahaan ini." kata Evan sambil terlihat sibuk mengetik di keyboardnya.
Tiba-tiba seorang wanita pun mendekat pada Evan.
"Permisi Evan, anda sudah ditunggu di ruang rapat."
"Ditunggu di ruang rapat?"
"Iya."
"Bukankah hari ini tidak ada jadwal rapat?" tanya Evan pada Sinta yang merupakan sekretaris dari Bella.
"Maaf Evan, rapatnya memang sedikit mendadak."
"Memangnya ada apa sebenarnya Sinta?"
"Emh, ada sesuatu yang harus dibahas dalam rapat, ini kaitannya dengan pergantian CEO baru."
"CEO baru? Apa maksudmu Sinta? Bukankah CEO di kantor ini adalah Bu Bella?"
"Ya tapi kedudukan Bu Bella adalah CEO sementara karena CEO yang sebenarnya masih Tuan Gibran, semua keputusan ada di tangan Tuan Gibran."
"La..Lalu siapa CEO yang baru tersebut?"
"Entahlah Evan, kita baru mengetahuinya besok saat serah terima jabatan dari Tuan Gibran pada CEO baru tersebut dengan diwakili oleh Bu Bella."
"Ja...Jadi Bella juga besok sudah berangkat ke kantor lagi?"
"Ya tapi hanya untuk serah terima jabatan saja, karena selanjutnya yang memimpin perusahaan ini adalah CEO baru kita."
"Lalu untuk apa kita melakukan rapat hari ini?"
__ADS_1
"Untuk menyamakan laporan di masing-masing divisi yang akan dilaporkan pada CEO baru kita besok." jawab Sinta yang membuat Evan menelan ludahnya dengan kasar.
'Sial, baru saja aku mengubah semua data di perusahaan ini tapi tiba-tiba ada kejadian seperti ini! Sia-sia semua yang kulakukan hari ini.' gumam Evan di dalam hati sambil melirik pekerjaannya yang baru saja dia selesaikan di komputer miliknya.