
Arvin pun tersenyum kemudian memeluk tubuh Bella kembali. "Iya Bella, maukah kau menikah denganku?" bisik Arvin dengan begitu manja di telinga Bella.
"Tentu." jawab Bella sambil meneteskan air matanya.
"Kita menikah besok."
"Kau jangan bercanda, Arvin."
"Aku tidak bercanda Bella, semuanya sudah kupersiapkan."
"Ini tidak lucu."
"Apanya yang tidak lucu? Aku serius Bella."
"Benarkah?"
"Lihat ini." kata Arvin sambil memperlihatkan satu bendel kertas.
Bella pun mengambil kertas itu lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Kau sudah mendaftarkan pernikahan kita, Arvin?"
"Ya, besok kita akan akan menikah Bella, tapi maaf aku belum bisa mengadakan resepsi pernikahan kita secara mewah, aku hanya ingin menikahimu secepatnya agar anak yang ada di dalam kandunganmu saat lahir sudah memiliki status yang jelas, status dari pernikahan yang sah."
"Tidak apa-apa Arvin, ini lebih dari cukup ini sudah membuatku merasa sangat bahagia."
Arvin kemudian menggenggam tangan Bella. "Bella, meskipun pernikahan kita dilakukan secara sederhana, tapi aku berjanji akan selalu membahagiakanmu dan anak kita."
"Aku tidak peduli akan semua hal itu Arvin, bagiku yang terpenting adalah kita bisa bersama dalam suatu ikatan pernikahan itu sudah cukup."
"Terimakasih banyak, Bella." kata Arvin kemudian mencium kening Bella, lalu perlahan bibirnya pun menjelajah setiap lekukan wajah Bella hingga akhirnya mereka berciuman.
"Aku mencintaimu Bella." kata Arvin disela-sela ciuman mereka berdua.
"Aku juga sangat mencintaimu, Arvin." desah Bella saat Arvin mulai menyeruk leher jenjangnya lalu menciuminya.
"Apa kau merindukanku?"
"Ya, aku sangat merindukanmu." jawab Bella.
Arvin pun tersenyum, dia lalu mengangkat tubuh Bella ke atas ranjang. "Kita lakukan pelan-pelan ya sayang, kau sedang hamil." kata Arvin yang dijawab anggukan Bella. Perlahan Arvin pun mencium kembali bibir Bella, sambil membuka pakaian yang Bella kenakan lalu memasukkan asetnya secara perlahan.
"Arvin." de*ah Bella saat Arvin mulai memainkan pin*gulnya di atas tubuh Bella.
"Ya sayang, apa ini membuatmu sakit?"
"Tidak, lakukan saja Arvin."
"Iya Bella." kata Arvin sambil terus memainkan ping*ulnya dengan begitu lincah sambil sesekali men*ulul dan memainkan bu*h da*a Bella yang semakin membuat Bella semakin mende*ah begitu kencang. De*ahan dan e*angan keduanya pun kini memenuhi setiap sudut kamar.
Sayup-sayup Gibran yang masih duduk di samping Riana yang sedang tertidur pun mendengarnya. Dia tampak begitu kesal ketika de*ahan dan e*angan itu kini terdengar semakin keras.
__ADS_1
'Dasar mereka berdua memang benar-benar bren*sek! Tidak memiliki empati sama sekali, mereka benar-benar bersenang-senang di atas penderitaanku.' gumam Gibran dalam hati.
Gibran lalu menatap pada Riana yang masih tertidur dengan begitu lelap. Dia kemudian mendekatkan tangannya kembali pada wajah Riana, namun di saat itu juga Riana bergerak. Perlahan dia pun membuka matanya.
"Riana, kau sudah bangun?"
Riana pun mengangguk.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Gibran.
"Jauh lebih baik."
"Syukurlah, apa kau menginginkan sesuatu? Sepertinya beberapa hari ini pola makanmu juga tidak teratur."
"Aku tidak lapar, Gibran."
"Riana."
"Ya."
"Bolehkah aku memegang perutmu?"
Riana pun begitu terkejut mendengar perkataan Gibran.
"Apa katamu?"
"Oh tidak, tidak Riana, lupakan saja. Aku keluar dulu, jika kau menginginkan sesuatu, tolong katakan padaku." kata Gibran kemudian pergi dari kamar Riana.
Gibran pun membalikkan badannya, kemudian menatap Riana.
"Ada apa Riana? Kau membutuhkan sesuatu?"
"Kau boleh memegang perutku." jawab Riana dengan wajah tertunduk.
"Benarkah?" tanya Gibran kemudian mendekat ke arah Riana yang dijawab dengan anggukan.
Gibran pun duduk di depan Riana, kemudian perlahan mendekatkan tangannya pada perut Riana. Dia lalu mengusap perut Riana dengan perasaan yang begitu bahagia.
'Anakku.' kata Gibran dalam hati sambil tersenyum.
Rasa haru pun merasuk ke dalam hati Riana, apalagi saat melihat wajah Gibran yang tersenyum dengan begitu bahagia. Tanpa sadar, Riana pun ikut tersenyum sambil meneteskan air matanya. Gibran yang tanpa sengaja melihat Riana menangis pun bergegas menghapus air matanya.
"Jangan menangis Riana, jangan pernah menangis lagi, aku tidak pernah ingin membuatmu terluka. Jika kehadiranku dan sikapmu semakin membuatmu terluka, aku akan pergi, aku akan pergi dari sini tapi ingatlah, sampai kapanpun aku akan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandunganmu." kata Gibran lalu pergi meninggalkan Riana kemudian berjalan ke arah pintu rumah. Namun saat akan membuka pintu tiba-tiba sebuah dekapan hangat menempel di punggungnya.
"Jangan pergi, tolong jangan tinggalkan aku sendiri, aku tidak akan pernah bisa menjalani kehamilan ini sendiri, aku ingin kau selalu ada di sampingku." kata Riana sambil terisak.
Mendengar perkataan Riana, Gibran pun kemudian membalikkan tubuhnya.
"Benarkah apa yang kau katakan, Riana? Apa ini berarti kau sudah memaafkan aku?"
__ADS_1
"Ya." jawab Riana sambil menganggukkan kepalanya perlahan.
🌸🌿🌸🌿🌸🌿
TOK TOK TOK
"Masuk."
Perlahan Evan pun membuka pintu ruangan Rafly.
"Oh Evan, ada apa Evan?"
"Begini Pak Rafly, sebenarnya ada sebuah berkas penting yang harus ditandatangani oleh Bu Bella, apakah Pak Rafly tahu dimana Bu Bella berada?"
Rafly pun terdiam mendengar perkataan Evan.
"Tolong Pak Rafly, saya harus bertemu dengan Bu Bella secepatnya."
'Tidak, Evan tidak boleh tahu dimana Bu Bella berada karena akan sangat membahayakan bagi Tuan Gibran yang akhirnya juga membahayakan diriku sendiri, aku tidak akan mengatakan dimana Bu Bella berada.' gumam Rafly sambil mengerutkan keningnya.
"Bagaimana Pak Rafly? Apakah anda bisa memberitahu dimana Bu Bella berada?"
"Emh begini Evan, sebenarnya saya pun tidak tahu dimana Bu Bella berada."
"Tapi, bukankah sebelum Bu Bella pergi, dia menemui anda terlebih dahulu?"
"Ya, dia memang menemui saya tapi hanya menanyakan kondisi keuangan perusahaan saja, tidak lebih." jawab Rafly.
"Oh jadi anda benar-benar tidak tahu dimana keberadaan Bu Bella?"
"Tidak Evan, saya benar-benar tidak tahu. Kalau pekerjaan ini sangat penting lebih baik kau hubungi saja Bu Bella."
"Oh tidak."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya sungkan padanya."
"Kalau begitu biar aku saja yang menghubungi Bu Bella."
"O...Oh tidak perlu Pak Rafly, saya tidak mau mengganggu Bu Bella." jawab Evan dengan begitu gugup.
'Sial, Rafly memang benar-benar menyebalkan, jika Bella tahu aku sedang mencarinya, bisa gagal semua rencanaku.' gumam Evan dalam hati.
"Evan, kenapa kau diam?" tanya Rafly yang melihat Evan berdiri termenung di depannya.
"Oh tidak apa-apa, saya permisi dulu Pak Rafly."
"Iya Evan." jawab Rafly sambil menatap Evan yang pergi dari ruangan miliknya.
__ADS_1
'Aneh sekali dia, mungkinkah dia memiliki niat yang tidak baik pada Bu Bella? Aku harus waspada padanya, mulai sekarang sebaiknya aku mengawasi gerak-gerik Evan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.' gumam Rafli.
Dia kemudian mengambil ponselnya lalu tampak menelepon seseorang.