
"Kau istirahat saja sekarang Ra." kata Milan sambil merebahkan tubuh Rachel.
"Milan."
"Apa?"
"Jangan tinggalkan aku, aku takut." kata Rachel sambil menggenggam tangan Milan.
"Tidak, aku tidak akan kemana-mana, aku akan ada di sini di sampingmu."
"Terimakasih Milan."
"Rachel, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa?"
"Apa benar saat pesta malam lajang Gibran kau merelakan tubuhmu untuk membiayai operasi mamamu?"
Rachel pun menundukkan kepalanya, kemudian perlahan mengangguk.
"GIBRAN MEMANG BENAR-BENAR BREN*SEK!!!"'umpat Milan sambil mengusap kasar wajahnya.
"Sudahlah Milan, semua itu sudah berlalu. Benar yang kau katakan, anggap saja pertemuan itu sebagai anugerah untuk kita."
"Iya Ra, tapi aku tidak menyangka jika Gibran berani berbuat hal seperti itu padamu. Kau tahu Rachel, ternyata malam itu mereka juga telah mencampurkan perangsang dalam minuman kita."
"Benarkah itu Milan?"
Milan pun kemudian mengangguk. "Bella yang mengatakan semua itu padaku, dia yang mengatakan jika Gibran telah mencampurkan minuman yang kita minum dengan perangsang. Tapi aku yakin Bella juga telah berkomplot melakukan semua ini untuk menjebakku."
"Menjebakmu? Bukankah saat itu kau masih menjadi kekasih Bella?"
"Ya, saat itu aku memang masih menjalin hubungan dengan Bella, tapi kau juga harus ingat Ra, saat itu Bella juga sudah menjadi kekasih Arvin. Jadi dia memang sengaja mendekatiku dan memiliki rencana untuk menjebakku."
"Menjebakmu? Aku sungguh tak mengerti, Milan."
"Aku yakin saat dia masih menjadi kekasihku dia tidak pernah mencintaiku, dan aku yakin dia melakukan itu semua karena ada kaitannya dengan masalah bisnis."
"Bisnis?" tanya Rachel yang masih belum mengerti semua yang dikatakan Milan.
"Ya, sejak dulu perusahaan milik keluarga Bella adalah kompetitor utama perusahaan kami. Bahkan sejak awal aku berpacaran dengan Bella, papa tidak pernah merestui hubungan kami dan selalu menyuruhku memutuskan hubungan dengan Bella, tapi aku selalu mengabaikan kata-kata papa karena saat itu aku sangat mencintai Bella."
"Astaga, aku tak menyangka Bella dan Gibran memiliki rencana seperti itu untuk menjatuhkan perusahaanmu."
"Ya, mulai sekarang aku harus lebih hati-hati dan waspada."
"Kau benar Milan, aku akan selalu mendukungmu."
"Iya Ra. Tapi ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu."
__ADS_1
"Apa?"
Milan kemudian membelai wajah Rachel. "Menikahlah denganku." kata Milan yang membuat wajah Rachel begitu berseri-seri.
"Kau mau menikah denganku kan Ra?"
Rachel pun meneteskan air matanya. "Tentu." jawab Rachel lirih sambil menutup mulutnya.
"Terimakasih." jawab Milan kemudian memeluk Rachel sambil mendorong tubuhnya ke atas tempat tidur.
🌸🌸🌸
"Ada apa mereka kesini Gibran?" kata Bella saat melihat Arvin dan Vania yang kini sedang duduk di teras rumah mereka.
"Entahlah. Ayo kita turun Bella." kata Gibran.
Mereka pun turun dari mobil lalu menghampiri Arvin dan Vania.
"Hei manusia tidak tahu diri, ada apa kalian datang ke rumah ini?" bentak Gibran.
Vania dan Arvin pun kemudian tersenyum. "Gibran sayang, apa kau sudah lupa jika rumah ini juga telah menjadi milikku." kata Vania sambil tersenyum kecut.
Bella pun kemudian melirik ke arah Gibran. "Apa-apaan ini Gibran? Apa kau juga sudah membalik nama rumah ini menjadi milik wanita bre*sek itu?" tanya Bella sambil melotot tajam ke arah Gibran.
Gibran pun hanya terdiam. "Katakan Gibran, apa kau juga telah membalik nama kepemilikan rumah ini?"
"Bella kau tidak usah bertanya pada Gibran, mungkin dia saat ini sedang meratapi kebodohannya. Lebih baik kau lihat ini saja." kata Vania sambil memperlihatkan sebuah sertifikat kepemilikan rumah itu.
"Hahahaha, kau jangan marah-marah disini Bella, karena ini bukan lagi rumahmu! Lebih baik kalian secepatnya angkat kaki dari rumah ini! Aku sudah mengemasi barang-barang milik kalian! Pergi kalian dari sini!" teriak Vania sambil melemparkan barang-barang milik Gibran dan Bella.
Gibran pun kemudian menatap tajam ke arah Vania dan Arvin. "KALIAN TUNGGU SAJA PEMBALASAN YANG LEBIH KEJAM DARI KAMI!" umpat Gibran sambil menarik tubuh Bella meninggalkan Vania dan Arvin yang masih tersenyum melihat kepergian mereka.
"INI SEMUA GARA-GARA KAU GIBRAN!" teriak Bella saat mereka di dalam mobil.
"Maafkan aku Bella, maaf. Tapi aku berjanji padamu, aku akan merebut kembali semua yang pernah menjadi milik kita. Aku berjanji Bella, aku akan bersungguh-sungguh menepati janji ini untuk menebus kesalahanku pada keluarga kita."
"Baik kupegang janjimu, Gibran. Tapi sekarang kita harus kemana?"
"Ke Bandung."
"Ke Bandung?"
"Ya, aku harus berfikir dengan tenang Bella. Aku akan menjalankan sisa aset yang kita miliki di Bandung. Untuk sementara kita harus mengalah pada mereka semua dan memikirkan semua ini dengan tenang sampai suatu saat nanti kita siap untuk membalas dendam pada mereka semua."
"Kau benar Gibran, saat ini kita harus tenang, jika kita terburu-buru lagi dalam mengambil keputusan itu hanya akan kembali menjadi bumerang dalam hidup kita."
"Iya Bella, kita tidak boleh gegabah dalam menghadapi mereka."
🌸🌸🌸
__ADS_1
Milan menghampiri Rachel yang kini sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Kamu mau kemana Ra?"
"Ke kantor."
"Apa kau sudah sehat?"
Rachel kemudian mengangguk sambil tersenyum. Milan lalu mendekat pada Rachel dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kau hari ini tidak usah ke kantor."
"Memangnya kenapa?" tanya Rachel sambil mengerutkan keningnya.
"Kita akan menikah Ra, kau adalah calon istriku, lebih baik kau tidak usah bekerja. Mulai hari ini kau urusi saja persiapan pernikahan kita. Mama baru saja menghubungiku, dia ingin mengajakmu mempersiapkan pernikahan kita."
Rachel pun kemudian balik memeluk Milan. "Jadi kita benar-benar akan menikah?"
"Tentu saja, kau pikir ini semua lelucon?" kata Milan sambil mengusap kepala Rachel.
"Terimakasih Milan." kata Rachel kemudian mencium bibir Milan.
🌸🌸🌸
Satu bulan kemudian.
BANDUNG.
Bella perlahan membuka matanya saat mendengar suara ponselnya yang berdering. Dia lalu mengambil ponsel yang berada di nakas kemudian membuka sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
"Apa ini?" kata Bella sambil mengucek kedua matanya saat melihat sebuah kiriman video singkat di ponselnya.
Hingga beberapa detik kemudian video tersebut berhasil diputar, Bella pun kemudian membelalakkan matanya. Perasaannya kian bergemuruh melihat video singkat itu.
"GIBRANNNNN.. GIBRANNNNN!!!" teriak Bella.
Gibran pun kemudian masuk ke dalam kamar Bella sambil bersungut-sungut.
"Ada apa sih pagi-pagi kamu udah teriak-teriak?"
"Lihat ini!" jawab Bella sambil memberikan ponselnya.
"Apa ini?"
"Undangan digital pernikahan Milan dan Rachel." gerutu Bella.
Gibran pun kemudian tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum Gibran?"
__ADS_1
"Kau tenang saja, aku sudah memiliki rencana yang matang untuk memisahkan mereka, dan aku yakin rencanaku kali ini pasti akan berhasil." kata Gibran sambil tersenyum menyeringai.