
Milan dan Vino pun kemudian ikut berjalan di belakang mereka.
"Nya, kita mau kemana?" tanya Rachel saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Nanti kalian juga akan tahu." jawab Anya sambil tersenyum.
Hingga akhirnya mereka pun tiba di ruang perawatan khusus anak-anak.
"Nya, apa Arsen sedang dirawat di rumah sakit ini?" tanya Milan.
Namun Anya hanya diam dan terus berjalan ke sebuh kamar perawatan.
"Bukalah kamar ini, anak kalian ada di dalam." kata Anya sambil tersenyum.
Milan dan Rachel kemudian mendekat dan perlahan membuka pintu tersebut. Saat pintu dibuka, tampak seorang anak berusia satu tahun tengah tertidur di atas ranjang rumah sakit dengan infus terpasang di tangan kanannya ditemani oleh seorang petugas panti asuhan.
"Dia anak kita." kata Milan pada Rachel saat mereka berdiri di depan pintu.
Air mata Rachel pun tumpah, dia lalu bergegas menghampiri anak tersebut kemudian memeluk dan menciumnya. Mendapat pelukan dan ciuman dari Rachel, sontak anak tersebut pun bangun dan menatap Rachel yang kini memeluknya sambil menangis. Milan pun mendekat lalu ikut memeluk Rachel dan Arsen.
Petugas panti yang baru pertama kali melihat Rachel pun sedikit terheran-heran.
"Maaf kalian siapa?" tanya petugas panti tersebut.
"Mereka orang tua kandungnya." jawab Vino.
Meskipun belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Arsen yang kini dalam pelukan Rachel pun tersenyum lalu memainkan rambut panjang Rachel yang begitu mengganggu wajahnya sambil mengucapkan sesuatu.
"Maaa... Ma....."
"Iya sayang ini mama." kata Rachel sambil menatap wajah polos Arsen dan membelai wajahnya.
"Ma... Ma...." kata Arsen lagi.
Rachel pun hanya tersenyum sambil mengangguk. Lidahnya terasa begitu kelu karena perasaan yang begitu campur aduk di dalam hatinya
"Matanya sangat mirip denganmu, Ra." kata Milan sambil ikut membelai wajah Arsen. Tangan Arsen pun ikut menggenggam tangan Milan, mendapat genggaman dari Arsen, hati Milan pun terasa begitu teriris. 'Maafkan papa karena baru bisa menemukanmu sekarang Nak.' kata Milan dalam hati lalu dia ikut memeluk mereka kembali sambil menagis.
'Terimakasih Tuhan, setelah penantian panjangku akhirnya aku bisa berkumpul dengan mereka kembali.' gumam Milan kembali sambil terus memeluk Rachel dan Arsen.
Anya dan Vino lalu mendekat pada Milan dan Rachel.
"Maaf aku mengganggu momen bahagia kalian, tapi Milan aku ingin menanyakan sesuatu padamu." kata Anya.
"Iya Nya, kenapa?"
__ADS_1
"Apa saat Rachel hilang, kau masih berhubungan dengan Bella?"
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Milan sambil menggerutkan keningnya.
Rachel pun begitu terkejut mendengar perkataan Anya.
"Bella? Kau juga mengenal Bella, Milan!" tanya Rachel.
Anya pun begitu kaget melihat tingkah Rachel.
"Milan, kenapa tiba-tiba Rachel tidak tahu tentang masa lalumu?"
"Anya, Vino sebenarnya saat ini Rachel masih hilang ingatan." jawab Milan.
"Astaga." kata Anya sambil menutup mulutnya.
"Milan, Rachel kalian tenang saja, kami memiliki rekomendasi dokter khusus untuk menangani Rachel."
"Iya Nya, terimakasih. Lalu mengenai Bella, aku memang sempat mendekati Bella lagi untuk mencari tahu tentang Rachel."
"Milan, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Bella?" tanya Rachel yang membuat Anya tersenyum.
"Emh itu Ra, dia mantan pacarku." kata Milan sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Sudahlah Ra, masalah Milan dan Bella nanti kalian bicarakan di rumah." kata Anya sambil terkekeh karena melihat Rachel yang sedikit cemburu pada Bella.
"Ada apa sebenarnya Nya?"
"Begini Milan, tadi malam Bella datang ke rumah sakit ini. Dia bertanya ruang perawatan Arsen pada salah seorang perawat, namun saat kutegur dia tampak seperti kebingungan kemudian pergi dari sini dengan begitu terburu-buru. Aku takut jika dia merencanakan hal buruk pada Arsen, awalnya dia berkata pada salah satu perawat jika Arsen adalah keponakannya tapi setelah melihatku, dia dan laki-laki yang datang bersamanya begitu salah tingkah lalu meninggalkan rumah sakit ini begitu saja."
"Itu pasti Gibran, jadi tadi malam Bella datang ke rumah sakit ini bersama Gibran? Dia pasti ingin melakukan sesuatu hal yang buruk pada Arsen." kata Milan.
"Dan aku yakin dia pasti akan kembali lagi ke rumah sakit ini." kata Vino.
"Kau benar Vino, lebih baik kita membawa Arsen secepatnya pergi dari rumah sakit ini. Nya, bagaimana kondisi Arsen saat ini? Apa dia sudah cukup sehat untuk kami bawa pulang?" tanya Milan.
"Ya, kalian bisa membawanya pulang, demamnya sudah turun, sebentar lagi aku akan membuat surat kepulangannya."
"Terimakasih Nya."
"Tapi akan lebih baik jika kalian pulang ke rumahku lebih dulu, demi keamanan Rachel dan Arsen. Selain itu kondisi Arsen juga belum begitu memungkinkan untuk dibawa bepergian jauh ke Jakarta."
"Iya Nya, kami tahu itu. Lagipula aku juga masih ingin disini untuk membuat sedikit perhitungan dengan Gibran."
"Tidak Milan, sebaiknya kau jangan melakukan kekerasan." gerutu Rachel.
__ADS_1
"Tidak Ra, aku tidak akan melakukan kekerasan apapun karena ini belum waktunya, bukankah kau tahu aku tidak akan bertindak di luar batas sebelum tes DNA itu keluar? Aku hanya ingin bermain-main dengan Gibran karena selama setahun ini dia sudah begitu mempermainkan kita layaknya orang bodoh." kata Milan sambil tersenyum menyeringai.
"Maaf sebenarnya kalian tidak bisa membawa Arsen pulang begitu saja karena kalian harus ijin dengan kepala panti." kata petugas panti yang menunggu Arsen di rumah sakit.
"Biar nanti saya yang menjelaskan pada ibu kepala, mereka orang tua kandungnya, lagipula ini juga demi keamanan Arsen." kata Vino.
"Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu ke panti." kata petugas panti tersebut.
"Milan, bisakah kau nanti ikut denganku ke panti asuhan?" tanya Vino.
"Ya tentu saja, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan juga dengan kepala panti asuhan tersebut."
"Ya, dan lebih baik sekarang kalian pergi dari sini, dan pulanglah ke rumahku. Aku khawatir Bella sebentar lagi akan datang kesini." kata Anya sambil melepas infus Arsen.
"Iya Nya. Tapi sebelumnya aku ingin meminta tolong dulu padamu." kata Milan sambil tersenyum jahil.
"Minta tolong apa Milan?"
Milan pun mendekat pada Anya sambil membisikkan sesuatu yang membuat Anya terbahak-bahak.
"Baik, aku akan melakukan itu Milan." jawab Anya sambil terkekeh.
"Terimakasih Nya. Anya, Vino kami pulang dulu." kata Milan kemudian menggandeng tangan Rachel.
"Iya, kalian hati-hati." jawab Vino dan Anya.
🍀🍀🍀
"Lihat, Anya sudah keluar dari rumah sakit." kata Bella saat melihat Anya dan Vino yang kini masuk ke dalam mobil mereka.
"Bagus, sekarang ayo kita turun." jawab Gibran.
Mereka pun bergegas turun dari mobil dan berjalan ke ruang perawatan anak-anak.
"Gibran, tolong kau alihkan perhatian perawat yang ada di bagian resepsionis itu. Aku akan ke ruangan Arsen."
"Iya Bella." jawab Gibran kemudian berjalan ke arah resepsionis.
Melihat Gibran yang kini sibuk mengalihkan perhatian para perawat jaga, Bella pun mengendap-endap berjalan ke arah ruang perawatan Arsen.
'Inilah saatnya. Milan, Rachel ucapkan selamat tinggal pada anak kalian karena kalian tidak akan pernah bertemu dengan anak kalian untuk selama-lamanya.' gumam Bella sambil membuka pintu ruang perawatan tersebut.
Note: Wew akhirnya mereka ketemu juga ya, bagi para readers yang sudah baca novel² othor sebelumnya mungkin udah terbiasa sama cara penulisan othor yang to do point ya, kalau yang baru pernah baca novel othor disini othor mau sedikit curhat kalau othor itu tipe penulis yang ga suka bertele-tele dan terlalu banyak drama jadi kalau kalian ga suka bisa di skip aja gagapa koq ☺️✌️ tapi kalau kalian masih suka tinggalin jejaknya buat othor ya 🤭✌️
Terimakasih banyak udah mampir, love you all😘
__ADS_1