Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Alamat Palsu


__ADS_3

"Hahahaha." Milan pun tertawa terbahak-bahak saat menutup sebuah panggilan dari seseorang.


"Bagaimana Milan?"


"Berhasil Ra, Bella mengambil seorang anak di kamar nomor lima bekas tempat Arsen dirawat. Dia lalu membawa anak tersebut, dan saat mereka sedang berada di lorong rumah sakit, orang tua anak tersebut menyebut mereka sebagai penculik dan mereka dikerumuni oleh banyak orang dan hampir saja dibawa petugas security ke kantor polisi. Hahahaha."


"Kau benar-benar jahil, Milan. Gibran dan Bella pasti sangat malu. Jadi wanita dan petugas security itu kau yang menyuruhnya?"


"Bukan aku tapi Anya, wanita tersebut adalah juru masak di rumah sakit yang kebetulan sedang membawa putranya."


"Sama saja Milan, Anya berbuat seperti itu karena kau yang menyuruhnya." gerutu Rachel.


"Ini baru pemanasan saja, Ra. Setelah ini ada permainan lagi yang tidak bisa mereka lewatkan begitu saja." kata Milan sambil tersenyum menyeringai.


Milan lalu mendekat ke arah Rachel yang sedang menimang Arsen kemudian mencium bibirnya.


"Aku rindu kalian berdua." kata Milan sambil membelai wajah Rachel dan menatap Arsen yang sedang tertidur nyenyak dalam gendongan Rachel.


Rachel pun tersenyum sambil mengangguk. "Sayangnya aku belum bisa mengingat masa lakuku."


"Pelan-pelan Ra, aku akan membantumu mengingat semuanya."


"Iya Milan."


Tiba-tiba suara ponsel Milan pun berbunyi.


"Dari Anya." kata Milan kemudian mengangkat panggilan telepon itu.


Rachel tampak mengamati Milan yang kini mengangkat telepon itu sambil terkekeh.


"Bagaimana Milan?" tanya Rachel saat Milan sudah menutup teleponnya.


"Mereka sudah bicara pada kepala panti, aku pergi ke panti sebentar ya Ra."


"Iya hati-hati."


Milan kemudian mengecup kening Rachel lalu pergi meninggalkan Arsen dan Rachel yang saat ini sudah berada di rumah Anya.


🍃🍃🍃🍃🍃


"Apakah kau yakin Arsen ada di panti asuhan?"

__ADS_1


"Memangnya dia mau pulang kemana lagi jika tidak ke panti asuhan, Bella."


"Kau benar juga."


'Dasar bodoh.' gumam Gibran dalam hati.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di panti asuhan. Gibran dan Bella bergegas turun dari mobil kemudian berjalan ke arah ruang kepala panti.


TOK TOK TOK


"Masuk." jawab kepala panti tersebut. Gibran dan Bella pun kemudian langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Melihat kedatangan Gibran dan Bella, kepala panti tersebut pun menyunggingkan senyumnya.


"Silahkan masuk Tuan Gibran, mari duduk dulu." kata kepala panti tersebut mempersilahkan Gibran dan Bella untuk duduk. Gibran dan Bella pun kemudian duduk di tempat duduk yang ada di depan meja kerja kepala panti tersebut.


"Bagaimana ibu kepala? Apakah saya bisa membawa Arsen pulang sekarang? Tadi saya pergi ke rumah sakit dan pihak rumah sakit mengatakan jika Arsen sudah pulang ke panti."


"Oh ya tentu saja, anda bisa membawa Arsen pulang sekarang."


'Bagus, akhirnya pekerjaanku selesai juga.' kata Gibran dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


"Tapi maaf, saat ini Arsen tidak ada di panti ini."


"Ya, anda memang sudah bisa membawa Arsen pulang tapi saat ini dia sedang tidak ada di sini. Arsen sedang berada di rumah pengasuhnya. Tadi pengasuh Arsen ijin pulang dari panti karena suaminya sakit, dan Arsen terus merengek tidak mau ditinggal pengasuhnya, jadi dia membawa Arsen pulang ke rumahnya."


"Jadi, kami tidak bisa membawa Arsen pulang sekarang dan harus menunggu sampai dia kembali lagi ke panti ini?"


"Oh tentu tidak Tuan Gibran, anda bisa membawa pulang Arsen sekarang juga, kalian bisa mendatangi rumah pengasuhnya dan bisa langsung membawa pulang Arsen."


Mendengar perkataan kepala panti, Gibran dan Bella pun berpandangan sambil tersenyum.


"Oh terimakasih banyak ibu kepala panti, saya akan mengambil Arsen di rumah pengasuhnya. Bisakah saya meminta alamat pengasuh Arsen?"


"Ya, saya akan memberikan alamatnya." kata kepala panti tersebut kemudian dia mengambil kertas lalu menulis sebuah alamat di kertas itu.


"Ini alamatnya."


"Terimakasih banyak." kata Gibran saat mengambil kertas tersebut.


"Iya sama-sama Tuan Gibran."


"Kami pamit dulu." kata Gibran sambil berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Iya hati-hati di jalan, Tuan dan Nyonya." jawab kepala panti.


Gibran dan Bella pun keluar dari ruangan tersebut sambil tersenyum bahagia. "Sebentar lagi pekerjaan kita selesai Bella."


"Iya Gibran, setelah ini kita tidak perlu khawatir lagi akan keberadaan Arsen, karena sebentar lagi kau akan menikah dengan Rachel dan Milan pun akan kubuat semakin jatuh ke dalam pelukanku."


"Hahahaha." mereka pun tertawa bersama-sama sambil masuk ke dalam mobil Gibran, lalu pergi meninggalkan panti asuhan tersebut.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengamati gerak-gerik mereka dari dalam sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari panti asuhan tersebut.


"Heh, sekarang kalian boleh tertawa sepuasnya karena setelah ini kalian tidak akan pernah lagi bisa tertawa, ataupun hanya sekedar tersenyum." kata seorang laki-laki yang ada di dalam mobil tersebut.


Setelah mobil Gibran tidak lagi terlihat, dia lalu turun dari dalam mobil kemudian masuk ke dalam panti asuhan tersebut. Dia berjalan ke arah ruang kepala panti asuhan, dan ketika dia sudah sampai di ruangan tersebut tampak beberapa orang sudah menunggunya, mereka tampak duduk di sofa di ruangan tersebut.


"Ibu kepala, perkenalkan ini saudara sepupu kami, Milan. Dia adalah ayah kandung dari Arsen." kata Vino pada kepala panti tersebut. Milan pun tersenyum kemudian berjalan ke arah tempat mereka duduk.


"Tuan Milan, maafkan saya. Selama ini saya tidak tahu tentang asal usul Arsen yang sebenarnya, saya memang sedikit ceroboh saat Tuan Gibran menitipkan Arsen di panti asuhan ini tanpa menyelidiki asal usul dan penyebabnya."


"Tidak apa-apa ibu kepala, anda sama sekali tidak bersalah dalam hal ini, saya yang seharusnya berterimakasih banyak karena anda dan pengurus panti ini telah merawat Arsen dengan baik."


"Sama-sama Tuan Milan, itu sudah bagian dari tugas kami."


"Bukankah saya sudah bisa langsung membawa pulang Arsen tanpa ada dokumen yang saya urus?"


"Tidak Tuan, anda adalah orang tua kandungnya, anda tidak perlu mengurus surat-surat pengalihan tanggung jawab dari panti ini karena anda lebih berhak daripada kami. Hanya berkas ini saja yang perlu anda bawa pulang. Itu adalah surat keterangan lahir Arsen dari pihak rumah sakit."


"Iya, terimakasih banyak." jawab Milan. Milan lalu mengalihkan pandangannya pada Vino dan Anya.


"Apakah kalian sudah memberikan alamat itu pada Gibran dan Bella?"


"Ya, tentu saja. Ibu kepala panti yang memberikannya, dia ternyata bisa ikut melakukan sandiwara dengan baik." kata Vino sambil terkekeh.


"Ini kulakukan untuk kalian semua, aku tidak suka dengan orang-orang yang tega berbuat jahat pada anak-anak." jawab kepala panti tersebut sambil tersenyum.


"Sekali lagi saya mengucapkan banyak terimakasih ibu kepala panti." kata Milan yang dibalas dengan anggukan dan senyuman dari kepala panti asuhan tersebut.


Di saat itulah tiba-tiba ponsel Milan pun berbunyi.


"Arman." kata Milan saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.


Note: Terimakasih yang udah mampir, kalau ga suka di skip aja ya 🤗✌️ kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan jejak 🤗✌️, love you all 😘❤️

__ADS_1


__ADS_2