Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Menyita Aset


__ADS_3

Baru saja Evan dan Celine menghentikan tawanya, tiba-tiba mereka mendengar suara bel berbunyi.


TETTTT TEETTTTT


"Biar aku saja yang membukakan pintu." kata Celine.


"Itu berbahaya, Celine. Bagaimana jika yang datang masih ada hubungannya dengan Bella dan Arvin. Selama ini yang Bella tahu kau adalah adikku, bukan kekasihku."


"Baik, kalau begitu kau saja yang membukakan pintu."


"Iya." jawab Evan kemudian berjalan ke arah pintu.


Begitu pintu dibuka, beberapa orang laki-laki bertubuh besar pun langsung mendorong tubuh Evan sambil mencengkram kerah kemejanya.


"Si... Siapa anda? Saya tidak mengenal anda semua?" kata Evan dengan nada yang begitu gugup.


"Ahhahah.. Hahahhaha, siapa kami itu tidak terlalu penting bagimu, lebih baik sekarang kau turuti perintah kami secepatnya!"


"Apa maksud kalian? Perintah apa yang kalian maksud?"


"Jika kau ingin selamat cepat pergi dari kota ini secepatnya!"


"Pergi dari sini? Aku sungguh tak mengerti!"


"Hei apa kau lupa? Kau telah membuat banyak kerugian di perusahaan milik Tuan Gibran!"


Evan pun hanya bisa diam, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya. Sedangkan Celine yang ketakutan kini hanya bisa bersembunyi di balik tembok dekat dengan kamar mandi.


"Sekali lagi kami tanyakan padamu, kau telah membuat kerugian besar di perusahaan milik Tuan Gibran kan?" bentak salah seorang lelaki bertubuh besar tersebut.


"Kenapa kau hanya bisa diam? Apa kau ingin kami menghabisimu sekarang juga?"


"Tidak."


"Baik jika kau masih sayang dengan nyawamu lebih baik kau sekarang kemasi barang-barangmu lalu pergi dari kota ini secepatnya dan jangan pernah lagi kau usik kehidupan Gibran dan Bella! Jika kau berani membantah perintah kami maka kami tidak segan-segan menghabisi nyawamu sekarang juga, APA KAU MENGERTI!!!"


Evan pun terdiam.


"Kenapa kau diam? Cepat jawab, apa kau mengerti!"


"Ya aku mengerti, sekarang juga aku akan pergi dari sini. "


"Baik kami beri kau waktu satu jam untuk mengemasi seluruh barang-barangmu! Kami akan menunggumu di lobi apartemen untuk memberikan kunci apartemen ini pada kami."


"Memberikan kunci apartemen ini pada kalian? Apa maksud kalian sebenarnya?"


"Ya, bukankah kau sudah membuat kerugian yang begitu besar di perusahaan Tuan Gibran untuk kepentinganmu sendiri, karena itulah kau harus bertanggung jawab dengan mengganti rugi kerugian yang telah kau perbuatan dengan menyerahkan apartemen ini sebagai aset Tuan Gibran."


"APA-APAAN INI?"


"Jadi kau tidak mau menyerahkan apartemen ini dan lebih memilih kamu untuk menghabisi nyawamu saja!"


Evan pun hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. "Ba.. Baik, aku akan menyerahkan apartemen ini pada kalian sebagai aset yang disita oleh Gibran."


"Bagus, cepatlah berkemas." kata beberapa preman tersebut. Mereka lalu meninggalkan apartemen Evan.


Celine lalu mendekat ke arah Evan, dia tampak sedang mengatur nafasnya setelah mendapat ancaman dan tekanan dari para preman tersebut.

__ADS_1


"Evan, bagaimana keadaanmu?"


"Tidak apa-apa, Celine. Lebih baik kita cepat berkemas dari sini sebelum hal yang lebih buruk terjadi pada kita."


"Iya Evan."


Mereka berdua kemudian mengemasi barang-barang mereka masing-masing. "Apa kau sudah selesai, Celine?"


"Iya Evan."


"Kau pergilah ke showroom milik Fandi, kau jual mobilku lalu ganti dengan yang baru, aku akan menemui preman-preman itu terlebih dulu untuk menyerahkan kunci dan surat apartemen ini."


"Kenapa kita tidak bersama-sama saja."


"Tidak Celine, tidak boleh ada yang tahu jika saat ini kau sedang bersamaku, karena aku masih punya banyak rencana untuk mereka. Kau bawa mobilku ke showroom milik Fandi lalu tukar dengan mobil yang lain yang harganya jauh lebih murah dari mobilku saat ini, agar mereka kehilangan jejakku. Jika kita masih menggunakan mobil kita yang sekarang akan memudahkan mereka memata-matai ku."


"Iya Evan, aku pergi dulu kalau sudah selesai aku akan menjemputmu secepatnya."


"Iya Celine." jawab Evan, dia lalu pergi ke lobi apartemen sedangkan Celine langsung pergi ke basemen parkir mobil.


🍀🥀🍀🥀🍀💓💓


"SAHHHHH!!" teriak saksi dan beberapa orang yang ada di ruangan tersebut.


Riana dan Gibran pun saling berpandangan.


"Sekarang kau resmi menjadi istriku." bisik Gibran di telinga Riana yang membuat dirinya tersipu malu.


"Selamat Gibran, selamat Riana." kata Bella sambil memeluk tubuh Riana setelah mereka selesai melangsungkan ijab qabul.


"Selamat Riana adik kecilku, akhirnya kau menikah juga." kata Arvin.


"Terimakasih banyak Bella, terimakasih banyak Kak Arvin."


"Riana, sekarang kita tidak perlu iri lagi pada mereka berdua, kita bisa menghabiskan waktu bersama setiap hari karena Arvin yang akan menyelesaikan semua urusanku di kantor." kata Gibran sambil terkekeh.


"Belum apa-apa kau sudah membuatku kesal Gibran."


"Memang itulah kenyataannya, Arvin."


Gibran lalu menolehkan kepalanya sambil melihat keadaan sekeliling. "Aku perlu bicara denganmu." bisik Gibran pada Arvin.


"Iya."


"Riana aku akan berbicara dengan Arvin sebentar."


"Iya Gibran."


Gibran dan Arvin lalu pergi ke salah satu pojok ruangan.


"Ada apa Gibran?"


"Berapa total kerugian yang dialami perusahaan kita? Aku yakin empat ratus juta itu hanya perkiraan awalnya saja."


"Iya kau benar, total kerugian perusahaan kita mencapai satu miliar lebih."


"APAAA SATU MILIAR?"

__ADS_1


"Ya satu miliar."


"Dasar Evan bren*sek, aku benar-benar tidak mengerti apa saja yang dikerjakan Bella di kantor sampai perusahaan kita mengalami kerugian sebesar itu."


Arvin pun tersenyum.


"Kau tahu sendiri bagaimana kemampuan Bella, sejak dulu dia tidak bisa menangani perusahaan karena yang dia pikirkan hanya penampilannya saja. Hahahaha."


"Ya memang begitulah istrimu."


"Tapi aku sangat mencintainya."


"Terserah kau yang terpenting untuk tadi siang aku sudah menyita aset Evan."


"Menyita aset Evan?"


"Ya, aku sudah menyita apartemen miliknya."


"Bagus Gibran, jika kita menjualnya itu cukup untuk menutup kerugian di perusahaan kita."


"Iya besok aku akan mulai menjual apartemen tersebut." kata Gibran sambil tersenyum kecut.


Sementara itu di luar rumah milik Bella, tampak Evan dan Celine mengamati beberapa orang yang tampak keluar masuk ke dalam rumah milik Bella.


"Celine, apa kau lihat itu? Rumah Bella ramai sekali."


"Iya Evan, pakaian yang mereka kenakan pun tampak formal."


"Ada apa sebenarnya di dalam rumah tersebut?"


"Melihat beberapa orang yang datang, tampaknya seperti sebuah pernikahan." kata Evan sambil mengerutkan keningnya.


"Bukankah Bella dan Arvin sudah menikah? Lalu siapa yang melakukan pernikahan di dalam sana, Evan?"


Evan pun kemudian tersenyum.


"Celine, apa kau masih ingat kata-kataku tadi siang tentang Arvin dan Rafly yang memilih tidak melaporkan kejahatanku pada yang berwajib?"


"Ya memangnya kenapa Evan?"


"Ini pasti saling berhubungan, Celine."


"Apa maksudmu?"


"Pasti mereka sedang menyembunyikan sesuatu."


"Menyembunyikan sesuatu? Menyembunyikan apa Evan?"


"Menyembunyikan Gibran. Hahahaha, aku yakin saat ini mereka sedang menyembunyikan Gibran, itulah sebabnya mereka tidak mau berhubungan dengan polisi."


"Apa kau yakin?"


"Sangat yakin, Celine. Dan akupun yakin yang sedang melangsungkan pernikahan di dalam rumah Bella adalah Gibran. Hahahaha."


"Sepertinya kau benar, Evan. Lalu apa yang akan kau lakukan."


"Tentu saja membongkar persembunyian Gibran lalu membalas dendam pada Gibran dan Arvin karena mereka berdua telah melecehkan harga diriku. Hahahaha." kata Evan sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2