
KRESEK KRESEK
'Astaga, apa ada binatang buas yang mendekatiku? Ya, itu pasti binatang buas, aku harus bagaimana?' gumam Sinta dipenuhi dengan rasa takut.
Air matanya pun kini mengalir semakin deras.
'TUHANNNN TOLONG AKU!!! AKU MINTA MAAF ATAS SEGALA KESALAHAN YANG TELAH KUPERBUAT!!! TUHAN TOLONG AKU, AMPUNI AKU!!' teriak Sinta dalam hati, apalagi suara langkah itu kini semakin begitu dekat ke arahnya.
'Tuhan, tolong aku.' gumam Sinta kembali sambil memejamkan matanya dan terus meneteskan air matanya hingga suara langkah itu berhenti dan sosok itu kini terasa sudah ada di depannya.
'Astaga, binatang itu pasti sudah ada di depanku, Tuhan aku sudah pasrah, mungkin sudah nasibku jika akhir hidupku harus dimakan oleh seekor bintang buas, tolong ampuni semua dosa-dosa yang telah kuperbuat.' gumam Sinta sambil terus menangis hingga terdengar suara dari sosok yang ada di hadapannya.
"Sinta." kata sosok tersebut.
Sinta pun begitu terkejut mendengar suara yang ada di depannya bukanlah suara binatang buas tapi suara manusia. Sinta kemudian membuka matanya.
"Emmmm!!! Emmmhhhh!!!" teriak Sinta saat melihat sosok yang ada di depannya.
Sosok itu pun bergegas mendekat ke arah Sinta kemudian membuka ikatan di seluruh tubuhnya lalu membuka lakban yang menempel di bibirnya.
"Pak Arvin!!!" teriak Sinta saat Arvin membuka lakban yang menempel di bibirnya.
"Sinta bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terluka?"
"Ti.. Tidak Pak Arvin." kata Sinta dengan begitu gugup. Dia kemudian menghembuskan nafas panjangnya.
"Syukurlah."
"Terimakasih banyak Pak Arvin, terimakasih banyak." kata Sinta dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Iya Sinta."
"Aku pikir inilah akhir hidupku, ternyata anda penolong bagi saya, saya sungguh berhutang budi pada anda. Terimakasih banyak Pak Arvin."
"Iya Sinta tidak apa-apa, lebih baik kita sekarang pergi dari sini. Di sini tidak aman, hutan ini belum terjamah oleh manusia."
"Iya Pak."
Sinta lalu berjalan mengikuti Arvin keluar dari hutan tersebut.
'Astaga, aku telah banyak berbuat kesalahan pada perusahaan mereka, tapi malah Pak Arvin menyelamatkanku. Aku benar-benar manusia bodoh yang terbujuk oleh rayuan manusia biadab seperti Evan. Aku terlalu menuruti hawa nafsuku.' gumam Sinta saat berjalan keluar dari hutan menuju ke mobil Arvin yang terparkir lumayan jauh dari hutan tersebut.
"Sinta, masuklah." kata Arvin saat mereka sudah sampai di mobil miliknya.
"Iya Pak Arvin." jawab Sinta kemudian masuk ke mobil tersebut.
"Pak Arvin, tolong maafkan saya. Saya banyak berbuat kesalahan pada kalian semua." kata Sinta sambil meneteskan air mata ketika Arvin sedang mengendarai mobilnya.
"Aku sudah tahu semuanya, Sinta. Jika aku tidak tahu apapun tentangmu dan Evan, aku tidak akan sampai di sini untuk menyelamatkanmu." kata Arvin sambil tersenyum.
Sinta pun begitu terkejut mendengar perkataan Arvin, dia kemudian memandang Arvin yang sedang mengendarai mobilnya.
"Ja.. Jadi Pak Arvin sudah tahu semua?"
"Ya, aku tahu kau yang membujuk Pak Indra agar memasukkan Evan di kantor kita padahal kalian tahu Evan sudah di blacklist dari semua perusahaan. Kau memasukkan Evan karena dia membujukmu dan kau terpedaya pada rayuan manisnya kan? Sampai kau mengorbankan harga dirimu untuk merayu Pak Indra dan mengatakan dia adalah sepupumu yang sudah berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang pernah diperbuat." kata Arvin sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Ya." kata Sinta sambil menundukkan kepalanya.
"Dia sangat tampan dan aku begitu terpedaya." kata Sinta yang membuat Arvin tersenyum.
"Sudah Sinta, tidak apa-apa."
"Tapi perusahaan anda jadi terancam karena perbuatan saya Pak Arvin."
"Sinta, kau tenang saja. Aku sedang berusaha untuk mempertahankan perusahaan itu."
"Tapi itu mustahil, Evan bahkan sudah menguasai seluruh data perusahaan anda, dia bahkan sebentar lagi mengubah kepemilikan perusahaan anda menjadi miliknya."
Arvin pun tersenyum mendengar perkataan Sinta.
"Kau tenang saja, semua itu sudah kutanganani. Yang terpenting kau mau membantuku saat aku membutuhkan bantuanmu ketika aku melaporkan Evan pada pihak yang berwajib."
"Tentu saja Pak Arvin. Saya akan membantu anda semaksimal mungkin. Saya masih memiliki semua bukti chat yang Evan kirimkan pada saya."
"Iya Sinta, aku pasti membutuhkan semua itu, sekarang kau kuantar pulang lalu beristirahatlah. Kau istirahat saja selama beberapa hari di rumah, usahakan jangan keluar rumah kecuali anak buahku yang menjemputmu agar Evan tidak tahu hari ini kau masih hidup."
"Iya Pak Arvin, jadi apakah saya masih boleh bekerja di kantor anda?"
"Tentu saja." jawab Arvin sambil mengangguk.
"Terimakasih banyak Pak Arvin, terimakasih banyak. Saya benar-benar berhutang budi pada kalian semua."
"Sudahlah Sinta tidak usah kau pikirkan, jadikan ini semua sebagai pelajaran dalam hidupmu. Kau jangan ulangi kembali kesalahan yang pernah kau lakukan, perusahaan kita sedang mengalami sedikit masalah, kehadiran karyawan baru hanya akan menambah rumit masalah di kantor, cukup kau saja yang tahu semua permasalahan ini, kau mengerti kan?"
"Iya Pak Arvin, sekali lagi terimakasih banyak."
Di saat itulah ponsel Arvin pun berbunyi.
"Milan." kata Arvin kemudian menepikan mobilnya lalu mengangkat panggilan dari Milan.
[Halo Arvin, aku sudah selesai. Bagaimana pekerjaanmu?]
[Aku juga sudah selesai Milan, aku sudah menyelamatkan Sinta. Dia sekarang sedang bersamaku untuk kuantarkan pulang ke apartemennya.]
[Bagus, kau bisa gunakan Sinta sebagai saksi saat melaporkan Evan ke polisi.]
[Ya Milan, untungnya saja kau menyuruhku untuk bertemu di rumahmu.]
[Hahahaha, itu karena aku sudah curiga saat Celine menelponku untuk datang ke rumahnya, saat itu aku sudah curiga jika Evan pasti akan pergi berbuat sesuatu untuk mengamankan dirinya yang sedikit terancam oleh mata-matanya karena kau sudah mencurigai salah seorang karyawan di kantormu.]
[Ya, dan kecurigaanmu benar.]
[Jangan sebut aku Milan, jika tidak bisa menyelesaikan permasalah ini.] kata Milan sambil terkekeh.
Milan kemudian melihat Celine yang mulai bergerak.
[Arvin, kututup dulu teleponnya. Celine sudah sadar.]
[Iya Milan.] jawab Arvin kemudian menutup teleponnya.
Sinta lalu tersenyum sambil memandang Arvin.
__ADS_1
"Jadi Pak Arvin sudah tahu Evan akan berbuat buruk pada saya dan sudah memata-matai saya sejak tadi?"
"Iya Sinta, aku sudah memata-matai Evan sejak dia keluar dari rumahnya." jawab Arvin.
"Kalian benar-benar cerdik." kata Sinta sambil tersenyum.
💙💙💙💙💙
Melihat Celine yang mulai bergerak, Milan pun mendekat ke arahnya lalu duduk di sampingnya sambil membelai rambut Celine.
"Kau sudah bagun sayang?" tanya Milan saat Celine perlahan membuka matanya.
"Ya." kata Celine sambil mengucek matanya.
"Kau sepertinya sangat lelah, tidurmu begitu lelap."
"Maafkan aku Milan, aku malah meninggalkanmu tidur saat kau datang ke rumahku." kata Celine dengan wajah sedih.
'Aku benar-benar bodoh, melewatkan kesempatan bermesraan bersama Milan.' gumam Celine.
"Aku tidak apa-apa, kau tenang saja sayang."
"Sekali lagi maafkan aku Milan."
"Tidak apa-apa Celine sayang." kata Milan sambil membelai wajah Celine yang kini tampak begitu murung.
Di saat itulah tiba-tiba ponsel Celine pun berbunyi, sebuah pesan dari Evan pun masuk ke ponselnya. Celine pun membaca pesan itu.
Evan :
Celine sebentar lagi aku sampai di rumah, apa kau menginginkan sesuatu?
Membaca pesan dari Evan, Celine pun sangat panik.
'Astaga, sebentar lagi Evan sampai di rumah, ini benar-benar gawat. Milan harus secepatnya pergi dari sini.' gumam Celine dalam hati.
"Kau kenapa Celine? Kenapa kau terlihat panik?"
"Oh.. E.. Milan, sebaiknya kau pulang sekarang. Mama menyuruhku untuk mengantarkan barang yang tertinggal."
"Apa perlu kuantar?"
"Oh tidak usah Milan. Aku bisa sendiri."
"Baik, aku pulang sekarang. Kau hati-hati di jalan ya sayang."
"Iya."
"Sampai bertemu kembali Celine sayang."
"Iya Milan, aku pasti merindukanmu."
Milan lalu tersenyum kemudian keluar dari rumah Celine dan bergegas masuk ke mobilnya.
"Evan, saat kau pulang nanti akan banyak kejutan menantimu." kata Milan sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1