
"Lebih baik kita pergi dari sini Evan, ini sudah hampir pagi. Kita harus mencari tempat tinggal baru untuk kita."
"Iya Celine."
Mereka kemudian bergegas pergi dari cafe tersebut lalu masuk kembali ke mobilnya menyusuri kembali jalanan ibu kota yang masih lengang.
🏠❤️🏠❤️🏠
"Tunggu disini sebentar." kata seorang sipir pada Milan dan Arvin. Dia kemudian masuk ke dalam komplek lembaga pemasyarakatan. Beberapa saat kemudian, sipir tersebut masuk ke dalam ruang tunggu bersama seorang tahanan dengan kaki yang masih pincang.
"Milan, Arvin, kalian disini?" tanya Gibran sambil mengerutkan keningnya, dia kemudian mendekat pada Arvin dan Milan.
"Bagaimana keadaanmu Gibran?" tanya Milan.
"Seperti yang kau lihat." jawab Gibran sambil tersenyum.
"Emh...Milan sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu." kata Gibran sambil memalingkan wajahnya, perasaan cemas dan malu kini begitu menyelimuti hatinya.
"Ada apa Gibran? Apa yang ingin kau bicarakan?" .
"Milan, emh.. Milan aku sebenarnya ingin meminta maaf padamu, tolong maafkan aku."
"Minta maaf? Untuk?"
"Untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu, semua kesalahanku padamu Milan." kata Gibran sambil meneteskan air matanya.
"Begitu banyak kesalahan yang pernah kulakukan padamu, mulai dari menjebakmu bersama Rachel malam itu, memfitnah Rachel, dan yang paling kejam adalah saat aku memisahkanmu dengan Rachel dan putra kalian hanya untuk kepentingan egoku semata. Aku benar-benar minta maaf, sekarang aku bisa merasakan sakitnya berpisah dengan orang yang kita sayangi. Saat itu, bahkan kau tidak tahu jika anakmu sudah lahir tapi aku sudah memisahkan kalian bertiga. Aku juga sudah begitu kejam telah membunuh Vania sebagai alibi agar kau mengira Rachel sudah meninggal. Maafkan aku Milan, aku memang jahat dan aku pantas menerima semua hukuman ini." kata Gibran sambil terisak.
Milan kemudian menepuk bahu Gibran. "Sudahlah Gibran, semua sudah lama berlalu, aku juga sudah melupakan semua kejadian itu karena yang terpenting saat ini adalah aku bisa berkumpul lagi bersama keluargaku, itu sudah cukup."
"Ya, itu memang sudah lama berlalu tapi aku baru menyadari semua dosa itu saat kini aku merasakan hal yang sama denganmu."
"Sudahlah Gibran, sudah, lupakan semua itu. Aku sudah lama memaafkanmu, lebih baik kau meminta maaf pada Tuhan, bertaubatlah dengan menyadari semua kesalahanmu dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
"Iya Milan, iya. Aku akan berusaha menjadi manusia yang lebih baik, aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anakku."
"Ya Gibran, itu yang seharusnya kau lakukan."
Gibran lalu memandang Arvin.
"Arvin, bagaimana keadaan Riana dan Bella?"
__ADS_1
"Mereka baik-baik saja Gibran, tadi pagi mereka sudah kembali ke rumah."
"Bagus."
"Gibran, sebenarnya ada suatu hal penting yang ingin kami bicarakan."
"Hal penting? Apa itu Milan?"
"Gibran tahukah kau, semua kejadian yang terjadi kemarin adalah sebuah konspirasi." kata Arvin.
"Konspirasi?"
"Ya, saat Bella dan Riana mengalami kontraksi secara bersamaan, itu merupakan bagian dari rencana yang sudah dirancang oleh Evan."
"Dirancang oleh Evan?"
"Iya Gibran, therapist yang datang ke rumah kita, dia memberikan obat perangsang agar Bella dan Riana mengalami kontraksi, dia juga yang melaporkanmu pada polisi saat kau sedang menunggu Riana di rumah sakit."
"Jadi Evan yang melakukan semua itu? DASAR BREN*SEK!!"
"Ya, tidak hanya itu. Amran juga adalah anak buah mereka, dia sengaja membawa Bella ke sebuah klinik kecil untuk menculik anak Bella saat anak itu sudah lahir, tapi untungnya ada Milan dan Rachel di klinik tersebut sehingga mereka bisa meringkus Amran dan anak buah Evan lainnya."
"Itu yang harus kita selidiki, Gibran." jawab Milan.
"Iya Milan."
"Aku sebenarnya sangat heran, kenapa perusahaanmu bisa mempekerjakan orang seperti Evan."
"Me.. Memangnya kenapa Milan? Ada apa dengan Evan?"
"Gibran, kurang lebih sudah dua tahun belakangan Evan di blacklist dari berbagai perusahaan, dia juga seorang hacker, bahkan dia pernah mencoba menguasai sebuah perusahaan saat dia masih bekerja di Singapura dengan menguasai semua data dan melumpuhkan semua aksesnya. Tapi kenapa perusahaan mu malah menampung orang seperti Evan?"
"Milan, ini menakutkan sekali. Ba... Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah pihak HRD tidak mengetahui semua ini?"
"Entahlah karena saat kutanyakan pada Bella, dia juga tidak tahu, dia hanya mengatakan jika dia menyuruh Sinta mencarikan asisten pribadi untuknya, kemudian Sinta menyuruh pihak HRD untuk melakukan perekrutan karyawan dan akhirnya Evan lah yang terpilih menjadi asisten Bella." jawab Arvin.
"Arvin, Gibran, ini pasti ada yang tidak beres, pasti masih ada satu orang lagi mata-mata di kantor kalian yang sudah memasukkan Evan ke perusahaan kalian."
"Iya kau benar Milan, aku pun mencurigai hal itu, dan aku berencana menyelidiki semua ini besok."
"Kau benar Arvin, kau harus bertindak secepatnya."
__ADS_1
"Tapi sebenarnya aku juga takut jika Evan sudah mencuri data-data perusahaan kita, saat itu Pak Rafly pernah melihat Evan terlihat begitu sibuk mengutak-atik data di perusahaan kita. Aku sebenarnya takut jika dia berbuat nekat saat dia tahu rencananya untuk menculik anakku gagal. Aku takut dia menggunakan rencana terakhirnya untuk membalas dendam pada kita tentang semua yang telah kita perbuat padanya."
"Kau benar Arvin, lalu apa yang sebaiknya harus kita lakukan untuk mengetahui tentang semua gerak-gerik Evan?"
"Gibran, saat ini aku sudah menyuruh anak buahku untuk memata-matai Evan dan Celine, saat ini mereka sedang mencari tempat tinggal baru untuk mereka berdua."
"Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa kita langsung menangkapnya?"
"Tidak itu terlalu berbahaya karena dia bisa saja membuat alibi dan menghilangkan barang bukti yang dimilikinya, saat di Singapura juga Evan bisa bebas karena pemilik perusahaan tersebut tidak memiliki bukti yang jelas mengenai kesalahan yang telah Evan perbuat."
"Lalu kita harus bagaimana?"
Milan lalu tersenyum.
"Kita harus bermain cantik, Gibran. Bukankah Evan dan kekasihnya itu belum pernah bertemu denganku?"
"Ya."
"Jadi biar aku saja yang akan bermain-main dengan mereka." kata Milan sambil tersenyum menyeringai.
🏠❤️🏠❤️🏠❤️
Evan dan Celine merebahkan tubuhnya di atas kasur saat mereka selesai menata barang-barang mereka di rumah kontrakan yang baru mereka sewa.
"Evan, aku lapar."
"Pesan saja makanan online, Celine."
"Terlalu lama, aku sudah sangat lapar Evan. Aku juga ingin membeli makanan ringan untuk menemaniku menonton televisi."
"Ya sudah, kau pergi saja ke depan komplek, ini kunci mobilnya, aku sangat lelah, aku ingin tidur dulu, Celine."
"Baik, aku pergi ke depan sebentar ya sayang."
Evan pun mengangguk, dia kemudian memejamkan matanya. Sedangkan Celine keluar dari rumah lalu mengendarai mobil Evan ke sebuah minimarket. Baru saja Celine keluar dari mobil tersebut, saat akan melangkah tiba-tiba tubuhnya sudah menabrak seorang.
"Maaf aku tidak sengaja." kata Celine. Saat Celine membalikkan tubuhnya, dia melihat seorang laki-laki yang baru saja ditabraknya berdiri di sampingnya sambil membuka kaca matanya.
"Tidak apa-apa." jawab laki-laki itu sambil tersenyum yang membuat jantung Celine semakin berdegup kencang.
'Tampan sekali.' gumam Celine sambil menelan ludahnya dengan kasar, matanya pun semakin berbinar saat melihat sebuah mobil mewah yang dinaiki oleh laki-laki tersebut.
__ADS_1