
🍀 Satu tahun kemudian
Rintik gerimis yang membasahi tubuh Milan tak membuat dirinya beranjak pergi meninggalkan sebuah nisan yang ada di depannya.
"Aku rindu kamu Ra." kata Milan sambil terus menatap makam itu.
Tiba-tiba ponsel Milan pun berbunyi.
"Mama." kata Milan kemudian mengangkat telepon dari mamanya.
[Milan kamu dimana? Bukankah hari ini kita harus pergi ke Bandung? Cepat pulang Milan.]
[Iya Ma, sebenar lagi Milan pulang.] kata Milan kemudian menutup panggilan dari mamanya. Dia lalu mengelus kembali nisan itu dan tersenyum.
"Ra, aku pulang dulu tapi maaf sepertinya selama satu minggu ini aku tidak bisa kesini karena aku harus ke Bandung menemani mama ke pernikahan saudara sepupuku. Setelah pulang aku janji akan langsung ke sini Ra." kata Milan sambil mengelus nisan itu kemudian bangkit dan berjalan keluar dari area pemakaman.
"Bella." kata Milan saat melihat mobil Bella yang kini terparkir di rumahnya. Dia lalu turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah. Tampak Bella duduk di sofa bersama mamanya.
"Mama bukankah kita harus pergi sekarang?" tanya Milan pada mamanya.
"Pergi? Kau mau pergi kemana Milan?"
"Itu bukan urusanmu, Bella."
Bella kemudian melirik mamanya Milan. "Tante, kalian mau pergi kemana?"
"Kami mau pergi ke acara pernikahan saudara kami Bella. Maaf Bella sepertinya kau memang harus pulang sekarang."
Bella pun kemudian mendengus kesal. "Baik tante, Bella pulang sekarang." kata Bella kemudian bangkit dari sofa dan mendekat pada Milan.
"Kabari aku jika kau sudah pulang, Milan."
"Maaf kita tidak ada urusan apapun Bella." kata Milan kemudian berjalan ke kamarnya.
'Breng*ek.' umpat Bella dalam hati sambil berjalan keluar dari rumah Milan.
"DASAR KURANG AJAR KAU MILAN!" teriak Bella saat sudah di dalam mobil.
"Aku pikir setelah Rachel pergi dari hidupmu kau bisa melupakan Rachel dan kembali padaku! Tapi kenapa sikapmu semakin dingin padaku Milan?" kata Bella sambil memukul setir mobilnya.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Bandung
Milan tampak duduk dengan lemas di sebuah kursi malas sambil sesekali memainkan ponselnya.
"Mba Citra bagaimana keadaan Milan sekarang?" tanya Rani, salah seorang kerabat Milan pada mamanya.
"Jauh lebih baik dibandingkan dulu, sekarang dia sudah mau kembali ke kantor dan beraktivitas seperti biasa. Saat awal Rachel meninggal dia cuma berdiam diri di dalam kamar seperti mayat hidup sambil sesekali berteriak dan menangis."
"Kasihan sekali."
"Ya begitulah, suatu saat Milan bermimpi bertemu dengan Rachel dan Rachel berkata agar Milan tetap bersemangat menjalani hidup karena dia sedang menunggu Milan untuk menjemputnya, sejak saat itu Milan kembali bersemangat menjalani hidup."
"Benar-benar cinta yang luar biasa."
"Ya begitulah. Aku sebenarnya sedikit putus asa akan masa depan Milan. Aku ingin Milan bisa melupakan Rachel dan membuka lembaran kehidupan baru dengan wanita lain. Tapi sepertinya itu sangat sulit bagi Milan."
"Biarkan semua itu berjalan seperti air yang mengalir Mba. Percayalah semua ini sudah menjadi jalan terbaik dari Tuhan."
"Iya Ran."
"MAMAAAAAAA." teriak Anya yang merupakan sepupu Milan yang akan menikah.
"Ada apa sih Nya, kamu teriak-teriak gini. Calon pengantin ga boleh seperti ini loh." kata Rani pada putrinya.
"Astaga, kenapa tiba-tiba jadi rusak seperti ini Nya?"
"Itu Ma, ini gara-gara si kembar Fela dan Feli tuh yang cobain pake kebaya Anya, jadi rusak kaya gini kan." gerutu Anya sambil melirik pada dua keponakannya.
"Anya, lebih baik sekarang kau pergi ke butik dan membeli kebaya atau gaun baru untuk acara nanti sore."
"Iya Ma." kata Anya kemudian mengambil kunci mobilnya. Namun tiba-tiba Rani mencegatnya.
"Anya, kamu itu calon pengantin. Tidak boleh pergi sendirian!" kata Rani, dia kemudian melirik pada Milan yang kini tengah duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.
"Milan." panggil Rani.
"Iya tante, ada apa?"
"Milan, tolong kau temani Anya pergi ke butik. Kebaya Anya yang akan dipakai untuk pengajian nanti sore rusak."
"Baik tante." jawab Milan.
__ADS_1
"Ayo Nya kita pergi sekarang." kata Milan sambil berjalan keluar yang diikuti oleh Anya di belakangnya.
Rani kemudian melirik pada Citra sambil tersenyum. "Kamu kenapa tersenyum Ran?"
"Aku dengar pemilik butik tempat Anya akan membeli kebaya itu sangat cantik, tapi saat kami ke sana kami belum sempat bertemu dengannya."
"Jadi kau berfikir agar hari ini Milan bertemu dengan pemilik butik itu?"
"Tidak ada salahnya mencoba mba." jawab Rani yang membuat keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Kau benar, Rani." kata Citra yang kini menatap Milan dan Anya yang sedang masuk ke dalam mobil.
'Semoga kau bisa kembali dengan jodohmu, Milan.' kata Citra dalam hati.
🍀🍀🍀
Milan memarkirkan mobil milk Anya di komplek deretan ruko di pusat kota Bandung. Mereka lalu berjalan memasuki sebuah butik mewah yang ada di komplek ruko tersebut.
Saat Milan membuka pintu butik itu, tiba-tiba hatinya berdegup kencang. Kesan mewah dalam interior butik itu bahkan dia abaikan dan lebih sibuk menenangkan perasaannya yang kini begitu kacau.
'Ada apa ini? Kenapa perasaanku tiba-tiba seperti ini?' kata Milan dalam hati.
"Milan, aku ke sana dulu ya." kata Anya.
"Iya Nya, aku duduk di sini saja." jawab Milan kemudian duduk di salah satu sofa di pojok butik.
Tiba-tiba netranya tertuju pada sosok wanita yang keluar dari sebuah ruangan di butik tersebut. Perasaan Milan pun terasa semakin kacau, dadanya kini pun terasa begitu sesak, dan tanpa dia sadari air matanya pun mulai jatuh.
"Rachel." kata Milan sambil mengerutkan keningnya. Dia kemudian berjalan mendekati wanita itu, namun wanita itu kini tampak keluar dari butik dan masuk ke dalam sebuah mobil mercy berwarna biru
Milan pun mencoba mengejarnya, namun mobil itu telah berjalan menjauhinya. "Rachel benarkah itu kau Rachel? Kau benar-benar masih hidup Rachel?" kata Milan sambil menatap kepergian mobil itu.
"Jadi selama ini kau selalu hadir di mimpiku dan mengatakan untuk menjemputmu itu karena kau benar-benar masih hidup Rachel?"
Sementara itu, wanita pemilik butik dalam mobil mercy warna biru itu mengemudikan mobilnya ke sebuah cafe yang tak jauh dari butik miliknya. Dia lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah cafe kemudian menghampiri seorang lelaki yang sedang duduk di salah satu pojok cafe.
Melihat kedatangan wanita tersebut, laki-laki itu pun kemudian tersenyum.
"Aku sudah lama menunggumu, apa hari ini kau sedikit sibuk?"
"Iya maafkan aku Gibran, tadi ada beberapa stok barang yang datang jadi aku melakukan pengecekan dulu sebelum kesini."
__ADS_1
"Oh tidak apa-apa."