
"GIBRANNN TUNGGU AKU!!!" teriak Bella sambil mengikuti Gibran yang sudah berlari di depannya. Mereka lalu terus berlari hingga begitu lama menyusuri jalanan berbatu di dalam hutan tersebut hingga akhirnya mereka terkapar kelelahan.
"Hah.. Hah.. Hah.. Ha.. Gibran, aku sudah tidak kuat lagi." gerutu Bella saat mereka merebahkan tubuhnya di atas jalanan berbatu.
"Sepertinya sekarang kita sudah aman Bella, aku sudah tidak mendengar auman harimau itu lagi. Hah.. Hahhh.. Hahhhh." kata Gibran dengan nafas yang tak beraturan.
"Bella sepertinya ini sudah tidak terlalu jauh dengan desa terakhir yang kita temui sebelum masuk ke hutan ini."
"Benarkah?"
"Ya, aku hafal jalanan yang kita lalui tadi. Itu kau lihat sudah ada gapura pertanda perbatasan desa dengan wilayah hutan ini." kata Gibran kemudian berdiri dan mendekat pada sebuah gapura kecil di dekat mereka. Namun saat Gibran mendekat ke arah gapura tersebut raut wajahnya pun berubah masam. Dia lalu kembali merebahkan tubuhnya di samping Bella.
"Ada apa Gibran? Bukankah itu benar gapura perbatasan?"
"Ya memang itu gapura perbatasan tapi jarak hutan ini dengan desa terdekat di gapura tersebut tertulis masih 5 kilometer lagi Bella. Kita tidak akan sanggup berjalan sejauh itu saat ini, kita sudah sangat kelelahan dan kelaparan." gerutu Gibran.
"Iya Gibran, tubuhku juga sudah sangat lemas." kata Bella sambil memegangi perutnya yang terus berbunyi.
"Gibran, apakah malam ini kita akan tidur di atas jalan ini?"
"Memangnya kau mau tidur dimana, Bella?"
"Disini dingin sekali dan banyak nyamuk." gerutu Bella sambil mengibas-ibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk.
"Kita tidak punya pilihan. Lebih baik kau tidur sekarang." kata Gibran. Namun, Bella kini terlihat sibuk memainkan ponselnya.
"Bella, apa yang kau lakukan? Tidak ada sinyal disini, lebih baik kau hemat baterai ponselmu untuk meminta pertolongan besok saat kita sudah sampai di desa terdekat."
Namun Bella kian kini terlihat menyalakan senter di ponselnya. "Gibran, lihat itu." kata Bella sambil mengarahkan cahaya senter di ponselnya pada sisi kiri hutan.
"Ada apa Bella?"
"Coba kau lihat baik-baik Gibran, itu seperti sebuah rumah."
"Apa? Mana ada rumah di tengah hutan seperti ini?"
"Aku akan mencoba kesana." kata Bella kemudian berdiri dan berjalan ke arah sisi kiri hutan.
Gibran pun terpaksa mengikuti Bella dari belakang.
"Gibran, cepat mendekat lihat itu." teriak Bella.
Gibran pun bergegas mendekat ke arah Bella dan melihat ada sebuah rumah di hadapan mereka.
"Gibran, bagaimana mungkin ada rumah di dalam hutan ini?"
"Mungkin saja Bella, tapi sepertinya rumah ini sudah tidak berpenghuni."
"Ya, mungkin pemiliknya tidak betah tinggal di sini jadi mereka meninggalkan rumah ini begitu saja, aku pun tidak akan betah tinggal di dalam hutan seperti ini." gerutu Bella.
__ADS_1
"Bella, sebaiknya malam ini kita tidur di rumah ini saja."
"Iya Gibran, di luar sangat dingin. Aku tidak sanggup jika harus tidur di luar."
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah itu dengan bantuan cahaya lampu senter dari ponsel Bella.
"Lihat Gibran, ada sofa." kata Bella saat mereka mengamati seisi rumah tersebut.
"Iya Bella, kita tidur di atas sofa saja. Meskipun sofanya sudah jelek tapi itu jauh lebih baik daripada harus tidur di atas jalan berbatu."
"Iya, kau benar Gibran." kata Bella.
Mereka pun kemudian berjalan ke arah sofa tersebut dan merebahkan tubuh di atas sofa. Namun baru saja mereka memejamkan mata, tiba-tiba pintu rumah itu pun terbuka, lalu sayup-sayup sebuah suara terdengar di telinga mereka.
"Belllaaaaa." bisik suara tersebut dengan begitu lembut dari arah depan rumah.
"Gibraannn."
"Bellaaaaa."
"Gibrannnn."
Mendengar sebuah suara yang memanggil mereka, Gibran dan Bella pun kemudian membuka matanya.
"Gibran, apa kau dengar itu? Seperti ada yang memanggil kita." bisik Bella pada Gibran dengan tubuh bergetar dan jantung yang berdetak semakin kencang.
"Iya Bella, sepertinya kita salah mengambil keputusan."
"Ayo." kata Gibran kemudian menarik tangan Bella. Namun saat akan keluar dari rumah tersebut, sebuah sosok wanita memakai pakaian warna putih dengan wajah yang begitu menyeramkan sudah berdiri di dekat pintu rumah tersebut.
Wanita berbaju putih itu lalu melihat ke arah Bella dan Gibran dengan tatapan begitu tajam.
"Si.. Siapa kamu? Kami tidak punya urusan denganmu." kata Gibran dengan suara dan tubuh yang bergetar.
"Jangan ganggu kami, jika kau terganggu dengan kehadiran kami, kami akan pergi dari sini sekarang juga!" teriak Bella.
Namun wanita berbaju putih tersebut hanya menatap mereka dengan tatapan tajam sambil tersenyum menyeringai yang memperlihatkan giginya yang berwarna hitam.
"Aku Almira. Hihihihihihhi... Kembalikan identitasku, akulah Almira! Hihibihihih." kata wanita tersebut disertai tawa yang begitu menggema.
"Hihihihihihhi."
"Hihihihihihhi."
"HANTUUUUU." teriak Bella dan Gibran lalu berlari meninggalkan rumah itu.
Mereka lalu berlari dengan begitu kencang dan kembali lagi pada jalan berbatu.
"Gibran, aku tak mau mati konyol disini lebih baik kita ke desa terdekat dari hutan ini."
__ADS_1
"Tapi jaraknya masih jauh Bella."
"Tidak apa-apa, yang terpenting aku tidak bertemu dengan harimau ataupun arwah dari Almira lagi." kata Bella sambil terus berlari.
"Iya Bella, memang sebaiknya kita ke desa tersebut, bermalam di hutan ini sangatlah tidak aman bagi kita."
"Iya Gibran." jawab Bella sambil terus berlari sesekali melihat ke arah belakang.
"Apa Almira mengejar kita?"
"Sepertinya tidak." jawab Gibran.
"Kita berhenti sebentar Gibran, aku lelah hah hah hah." kata Bella dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Iya Bella, aku juga sudah sangat lelah hah hah hah."
Gibran dan Bella pun akhirnya duduk di bawah sebuah pohon.
"Sepertinya ini sudah aman, sebaiknya kita tidur di bawah pohon ini saja. Kakiku sudah sangat sakit Gibran."
"Iya Bella, kita tidur disini saja. Ini jauh lebih baik dibandingkan kita bertemu dengan Almira."
Namun saat mereka memejamkan matanya tiba-tiba sebuah suara yang begitu lembut memanggil mereka kembali.
"Bellaaaaaa."
"Gubraaaan."
Bella dan Gibran pun bergegas membuka matanya.
"TIDAAAAAKKKK." teriak Bella dan Gibran sambil meninggalkan pohon tersebut.
☘️☘️☘️☘️☘️
Milan perlahan membuka matanya saat mendengar dering ponsel yang berbunyi. Dia lalu mengambil ponsel yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya. Rachel pun ikut terbangun saat melihat Milan yang kini sedang berdiri di dekat jendela kamar sambil terlihat sibuk berbicara dengan seseorang yang menghubunginya. Sesekali tawa pun terdengar di sela pembicaraan mereka.
"Telepon dari siapa Milan? Ini sudah masuk waktu dini hari, ada urusan apa tiba-tiba meneleponmu? Apa ada urusan yang sangat penting?"
Milan pun kemudian tersenyum.
"Apa kau cemburu?"
"Aku hanya ingin tahu siapa yang menelponmu." gerutu Rachel.
"Kau ingin tahu siapa yang meneleponku?"
Rachel pun kemudian mengangguk.
"Almira yang menelponku." jawab Milan sambil terkekeh kemudian merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang.
__ADS_1
"Almira? Bukannya Almira sudah meninggal?" kata Rachel dengan kening berkerut.