
"Oh jadi namanya Arsen?" kata Milan sambil menatap anak itu, perasaan Milan pun begitu tak menentu saat matanya memandang mata Arsen yang masih berada dalam gendongannya.
'Mata ini, seperti mata Rachel.' kata Milan dalam hati sambil terus menatap Arsen. Dadanya kini terasa begitu sesak, Milan pun mulai membelai wajah Arsen.
'Perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan sebuah kerinduan yang begitu dalam pada anak ini, padahal aku baru saja bertemu dengannya.' kata Milan dalam hati. Perlahan dia mulai memeluk Arsen yang kini juga terlihat begitu nyaman dalam gendongan Milan, hingga tanpa dia sadari air mata mulai mengalir di pipinya.
"Milan." panggil seseorang yang mengejutkan dirinya.
Milan pun membalikkan tubuhnya, saat itu Vino dan Anya telah berdiri di belakangnya.
"Milan, jadi kau sudah mengenal Arsen?" kata Vino saat melihat Arsen yang masih dalam gendongan Milan.
"O..oh ya, tadi dia sedang belajar berjalan dan menabrak kakiku."
"Kau juga mengenal Arsen?" kata Milan balik bertanya pada Vino.
"Tentu saja Milan, Vino lah yang membantu kelahirannya." jawab Anya.
"Oh."
Tiba-tiba Arsen pun menangis, wanita paruh baya yang merupakan petugas panti pun mendekat pada Milan.
"Tuan, mungkin Arsen lapar." kata wanita itu lalu mengambil Arsen dari gendongan Milan.
"Oh iya." jawab Milan sambil memberikan Arsen pada wanita itu. Di saat itu pula tangan Arsen memegang baju Milan begitu erat.
"Arsen, kau tidak boleh nakal, ayo minum susu dulu." kata wanita tersebut sambil melepaskan tangan Arsen pada baju Milan.
Arsen pun menatap Milan kembali, hati Milan terasa begitu teriris saat mata bulat Arsen menatapnya dengan tatapan polosnya.
'Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini.' kata Milan dalam hati sambil terus menatap Arsen yang kini telah pergi meninggalkan mereka.
"Kau kenapa Milan?" kata Vino sambil menepuk bahu Milan.
"Tidak apa-apa. Dimana Anya?"
"Anya sudah masuk ke dalam, Kau kenapa? Apa kau tertarik pada Arsen? Ya dia memang anak yang lucu dan sangat tampan, aku pun tak menyangka jika Arsen akan tumbuh menjadi bayi yang sehat dan lucu."
"Apa maksudmu Vino?"
"Ya, Arsen lahir saat dia masih berusia tujuh bulan dalam kandungan ibunya."
"Benarkah? Apa yang terjadi pada mereka sampai di lahir sebelum waktunya?"
"Saat itu, ibunya mengalami kecelakaan. Lukanya sangat parah, dan kami khawatir bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengoperasinya, saat itu Arsen masih sangat kecil karena usianya baru tujuh bulan, bahkan dia harus berada di dalam inkubator selama dua minggu."
__ADS_1
"Astaga, lalu bagaimana keadaan ibunya?"
"Entahlah, aku tidak tahu, aku hanya seorang dokter kandungan. Menangani pasien dengan luka dalam bukan keahlianku Milan." jawab Vino sambil terkekeh.
"Tapi kenapa dia berada di panti asuhan ini? Berarti ibunya Arsen meninggal?"
"Aku juga tidak tahu, itu hal yang masih kubingungkan, Milan. Setahuku mereka berasal dari kalangan berada, tapi mereka tidak mau merawat Arsen."
"Dari kalangan berada?"
"Ya, yang membawa ibu dari Arsen ke rumah sakitku adalah seorang lelaki yang kupikir adalah suaminya. Dia meminta perawatan terbaik di rumah sakit kami untuk Arsen dan ibunya, tapi entah kenapa saat Arsen lahir dia malah membawa Arsen ke panti asuhan ini."
"Aneh sekali."
"Ya tapi selama Arsen berada di panti, dia selalu mencukupi kebutuhan Arsen, selain itu dia juga menjadi donatur di panti asuhan ini."
"Benar-benar aneh, sebenarnya lelaki itu orang tua Arsen atau bukan?"
"Aku juga tidak tahu, Milan. Saat itu kami hanya menduga-duga saja, dia hanya mengatakan jika Arsen dan ibunya adalah tanggung jawabnya."
"Lalu bagaimana dengan ibunya Arsen?"
"Entahlah aku tidak terlalu mengetahui perkembangannya karena aku hanya menangani proses operasi sesarnya saja."
"Oh. Mungkin ibunya Arsen sudah meninggal, jadi laki-laki itu menaruh Arsen di panti asuhan ini."
"Hei, kenapa kalian diluar saja? Ayo cepat masuk." teriak Anya.
"Ayo kita masuk, Milan."
Milan pun kemudian mengangguk dan mengikuti langkah Vino masuk ke dalam panti.
🍀🍀🍀
"Anya, Vino, aku ada urusan sebentar, aku pergi dulu ya?" kata Milan saat melihat jarum jam yang sudah menunjukkan angka sebelas.
"Kau mau kemana, Milan?"
"Ada bisnis mendadak."
"Ya sudah hati-hati." jawab Anya dan Vino.
Milan pun kemudian bergegas keluar dari panti asuhan sambil berlari kecil ke mobilnya. Dia lalu mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan begitu tinggi menuju ke pusat kota Bandung.
"Semoga aku belum terlambat." kata Milan saat mengendarai mobilnya. Beberapa saat kemudian, mobil Milan pun sampai di butik milik Almira. Senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat mobil milik Almira masih terparkir di depan butik miliknya.
__ADS_1
'Untungnya aku belum terlambat.' kata Milan sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Almira pun keluar dari butik tersebut dan masuk ke mobilnya. Milan pun kemudian mengikuti mobil Almira, mobil tersebut lalu berhenti di sebuah rumah makan.
Milan mengikuti Almira masuk ke dalam rumah makan tersebut, dan duduk tak jauh dari meja tempat Almira, dia lalu mengamati gerak-gerik Almira saat duduk di rumah makan tersebut.
'Astaga, cara dia duduk, memainkan ponsel, bahkan senyumnya pun sangat mirip dengan Rachel.' kata Milan dalam hati sambil terus menatap Almira. Tiba-tiba seorang lelaki mendekat pada Almira.
DEGGGGG
Jantung Milan seolah berhenti berdetak saat melihat laki-laki tersebut adalah Gibran.
'Gibran.' kata Milan dalam hati sambil mengernyitkan keningnya. Milan lalu menatap Gibran dan Almira yang kini terlihat sedang mengobrol sambil sesekali bercanda.
"Bagaimana mungkin Gibran tiba-tiba memiliki hubungan dengan seseorang yang sangat mirip dengan Rachel? Apakah dia benar-benar Rachel atau Gibran mengejar wanita itu karena mirip dengan Rachel?" kata Milan. Di saat itu pula ponsel Milan pun berbunyi.
[Ya Ma.]
[Milan kau kemana? Sore ini kita harus pulang ke Jakarta tapi kamu malah keluyuran tidak jelas!]
[Ma.. Milan ada urusan bisnis sebentar, bisakah kita menunda kepulangan kita sampai besok pagi?]
[Oh, jadi kau ada urusan bisnis? Ya sudah jika itu urusan bisnis kita bisa menunda kepulangan kita.]
[Baik ma, terimakasih.] jawab Milan kemudian menutup teleponnya.
☘️☘️☘️🍃🍃🍃
"Ini baru pukul sembilan malam, kenapa sudah sangat sepi?" gerutu Almira saat keluar dari butiknya. Saat dia akan membuka pintu mobil tiba-tiba sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Selamat malam, Ra."
Almira pun membalikkan tubuhnya dan melihat seorang lelaki tampan kini berdiri di hadapannya. Perasaan Almira begitu campur aduk saat lelaki itu mendekat padanya. Saat dia sudah mulai dekat dengannya, tiba-tiba dia menarik tangan Almira. Almira pun begitu terkejut hingga tubuhnya terhempas ke dalam pelukan lelaki tersebut.
'Dada bidang ini, kenapa sepertinya ini tidak asing bagiku.' kata Almira dalam hati, di saat itu pula tiba-tiba lelaki itu memeluknya.
"Aku rindu kamu Ra." kata Milan yang kini memeluk Almira.
'Pelukan ini, kenapa rasanya aku sangat merindukan pelukan hangat ini?' kata Almira dalam hati.
Namun tiba-tiba Almira pun tersadar.
"Maaf saya tidak mengenal anda." kata Almira kemudian mendorong tubuh Milan. Namun setelah didorong oleh Almira, Milan tidak menjauh tapi malah semakin mendekat ke arah Almira, dan tiba-tiba dia mencium bibirnya.
Note:
__ADS_1
Maaf untuk minggu ini othor cuma bisa update satu bab sehari ya, soalnya othor lagi Crazy Up di novel sebelah.
Terimakasih banyak yang udah mampir, salam sayang untuk kalian 😘✌️