Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Blacklist


__ADS_3

"Sebentar pak sopir." kata Milan, dia kemudian memandang rumah itu.


'Tidak, aku tidak boleh kehilangan jejaknya, dia orang yang sangat licik.' gumam Milan. Kemudian dia melirik salah seorang anak buahnya.


"Gani, kau kutinggal disini dan amati seluruh gerak-gerik Evan."


"Iya Bos."


Salah seorang anak buah Milan lalu turun dari mobil tersebut, sedangkan Milan meninggalkan rumah tersebut untuk kembali ke klinik tempat Bella dirawat. Milan kemudian mengambil ponselnya untuk menelepon Rachel.


[Halo Rachel.]


[Iya Milan, bagaimana?]


[Ra, apa Bella sudah dipindahkan ke ruang perawatan? Aku ingin bertemu dengan Bella, ada sesuatu hal penting yang ingin kubicarakan.]


[Sudah Milan, dia dan bayinya sudah ada di ruang perawatan. Memangnya ada apa Milan? Sebenarnya apa yang telah terjadi?]


[Ra, benar yang kau bilang karena ternyata memang tidak sesederhana itu.]


[Milan, apa sebenarnya yang telah terjadi?]


[Nanti saja kuceritakan jika aku sudah sampai di situ.]


[Iya Milan.] jawab Rachel sambil menutup teleponnya.


"Bagaimana Ra? Apakah Milan sudah berhasil meringkus mereka?"


"Aku tidak tahu Bella, dia hanya mengatakan jika dia ingin bertemu denganmu."


"Bertemu denganku?" tanya Bella sambil mengerutkan keningnya.


"Ya."


πŸ₯€πŸŒΏπŸ₯€πŸŒΏπŸŒΏπŸŒΏ


"Evan, kenapa Amran belum juga datang? Bukankah tadi dia mengatakan jika dia sudah selesai melakukan tugasnya?"


"Entahlah Celine, aku akan meneleponnya."


Evan pun kemudian mengambil ponselnya, namun setelah beberapa kali melakukan panggilan tak ada jawaban dari nomor yang dihubunginya.


"Bagaimana Evan?"


"Ponselnya sudah tidak aktif."


"Evan, sebaiknya kau hubungi saja anak buahmu yang lain, yang sedang membantu Amran di luar klinik."


"Iya Celine."


Evan pun menghubungi nomor anak buahnya, namun tetap juga tidak mendapatkan jawaban.


"Breng*ek!!! Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa yang telah terjadi pada mereka semua? Kenapa tiba-tiba mereka semua tidak bisa dihubungi!!" gerutu Evan.


"Evan aku yakin, sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada mereka."


"Iya Celine, aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu, sesuatu hal yang buruk pasti telah terjadi pada mereka, tapi siapa yang bisa mencegah anak buah kita? Kau tahu sendiri jika sebelum Gibran bertindak, polisi sudah menangkapnya, sedangkan Arvin masih di luar negeri, Bella pun tak tahu jika Amran adalah anak buah kita."

__ADS_1


"Evan, apakah ada seseorang yang membantu mereka tanpa kita sadari?"


"Entahlah Celine, setahuku sejak mereka menyembunyikan Gibran, Bella dan Arvin sedikit menutup diri dari teman-teman mereka. Lalu siapa sebenarnya yang membantu mereka?"


"Entahlah, itu yang seharusnya kita selidiki. Lalu apa selanjutnya rencanamu, Evan?"


"Celine, malam ini juga kita harus pindah dari rumah ini, tempat ini sudah tidak aman Celine, jika Amran ditangkap pasti dia akan memberitahu tempat persembunyian kita."


"Iya Evan."


"Sebaiknya kita berkemas sekarang."


"Iya." jawab Celine.


Mereka pun kemudian mengemasi barang-barang mereka, hingga setengah jam lamanya akhirnya mereka tampak keluar dari rumah kontrakan tersebut. Anak buah Milan yang mengamati gerak-gerik mereka berdua kemudian bergegas menelpon Milan.


[Halo Gani, ada apa?]


[Bos, mereka sepertinya akan pergi dari rumah itu. Mereka membawa barang-barang milik mereka ke dalam mobil.]


[Ikuti kemana mereka pergi.]


[Baik Bos.]


Milan kemudian menutup ponselnya.


"Jadi kau sudah sadar rencanamu sudah berantakan, Evan? Aku ingin tahu apa lagi yang bisa kau perbuat." kata Milan sambil tersenyum.


"Kita sudah sampai Tuan."


"Iya, Pak sopir tolong kau antarkan Amran ke tempat yang aman, bawa saja dia ke rumahku beserta anak dan istrinya."


Milan kemudian menatap Amran.


"Kau tinggal dulu di rumahku, di belakang rumahku ada paviliun kecil, kau bisa tinggal sementara disitu bersama anak dan istrimu sampai keadaannya benar-benar aman kau bisa kembali ke rumah, karena aku yakin Evan pasti akan mencarimu."


"Iya Tuan Milan, terimakasih banyak."


"Ya, sekarang kau jemput anak dan istrimu lalu kalian harus segera pergi ke rumahku."


"Iya Tuan Milan."


Milan pun kemudian turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam klinik.


"Milan." panggil Rachel saat melihat Milan masuk ke dalam kamar perawatan Bella. Milan pun tersenyum sambil berjalan ke arah Bella.


"Bagaimana kabarmu Bella? Sudah lama kita tidak bertemu."'


"Baik Milan." jawab Bella sambil tersenyum dan terlihat begitu salah tingkah.


"Ini anakmu dengan Arvin?"


Bella pun mengangguk.


"Akhirnya kalian menikah juga." kata Milan sambil tertawa, Bella pun ikut tertawa.


"Sudahlah Bella semua sudah berlalu, semua kejadian antara kita bertiga itu sudah sangat lama berlalu, kau tidak perlu sungkan lagi padaku. Aku tahu sejak dulu kau sangat mencintai Arvin."

__ADS_1


"Iya Milan."


"Tapi kenapa saat kau menikah dengan Arvin kalian tidak mengundang kami? Bahkan kau hanya menelpon Rachel saja dan memberitahukan jika kalian sudah menikah di luar kota hanya dengan dihadiri keluarga kalian?"


"Emh sebenarnya begini." jawab Bella dengan begitu gugup, dia kemudian memandang Rachel. Rachel pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Itu karena saat itu kami sedang menyembunyikan Gibran, jadi aku dan Arvin sengaja menjaga jarak dengan semua teman-teman kami agar tidak ada seorangpun yang tahu jika kami menyembunyikan Gibran, maafkan aku Milan." jawab Bella sambil menundukkan wajahnya.


Milan pun memandang Rachel. "Apa maksud semua ini Ra?" tanya Milan sambil mengerutkan keningnya.


"Milan, ini sebenarnya seperti dugaanmu, Gibran adalah orang yang keras kepala, ternyata kehidupan penjara belum bisa mengubah dirinya selama empat tahun ini. Dia melarikan diri dari penjara."


"APAAA?"


"Ya, dia melarikan diri tapi tadi siang polisi sudah menangkapnya kembali. Saat Gibran kabur dari penjara dia bersembunyi di salah satu rumah gadis desa, lalu Gibran menikahi gadis tersebut yang ternyata adik dari Arvin."


"APAAA?" teriak Milan dengan sangat terkejut, tapi beberapa saat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


"Astaga kenapa ini seperti sebuah kebetulan Bella, jadi ini alasannya kalian menyembunyikan Gibran?"


"Iya Milan, sebenarnya Gibran memang berniat menyerahkan diri setelah anaknya lahir tapi polisi lebih dulu menangkapnya."


"Jadi Gibran sekarang juga sudah memiliki anak?"


Bella pun mengangguk. "Apa kau marah pada kami, Milan?"


Milan pun tersenyum. "Tidak Bella, aku tidak akan marah pada kalian semua, lalu dimana anak Gibran?"


"Aku dan istri Gibran mengalami kontraksi bersama tadi siang setelah kami dipijat therapist jadi-jadian itu Milan. Gibran melarikan istrinya ke rumah sakit, dan saat itulah polisi menangkap Gibran."


"Tidak hanya itu juga Milan, therapist itu juga sudah mencuri semua perhiasan milik Bella dan Riana, istri Gibran." tambah Rachel.


"Astaga." gerutu Milan sambil mengerutkan keningnya.


"Bella semua ini benar-benar sebuah konspirasi, kalian telah dijebak tanpa kalian sadari."


"Ya dan untungnya aku bisa bertemu dengan kalian berdua, terimakasih banyak." kata Bella sambil menundukkan wajahnya.


"Sudah Bella jangan dipikirkan, aku cuma ingin tahu bagaimana bisa kau mengenal Evan, apa kau tak tahu siapa dirinya?"


"Dia dulu adalah asisten pribadiku, memangnya kenapa Milan?"


"Bella, Evan adalah seseorang yang sangat berbahaya, bagaimana bisa perusahaanmu bisa menerima orang seperti dirinya."


"BEEE.. BENARKAH?" teriak Bella.


"Siapa dia sebenarnya Milan?"


"Kapan Arvin pulang? Aku ingin berbicara dengan Arvin, aku takut sesuatu telah terjadi karena saat ini Gibran sudah ditahan, aku harus membicarakan semua ini dengan Arvin."


"Na... Nanti malam Arvin pulang." jawab Bella dengan begitu gugup, perasannya kini begitu berkecamuk, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.


Rachel kemudian mendekat pada Milan.


"Milan, sebenarnya apa yang telah terjadi? Siapa Evan sebenarnya?"


"Ra, dia sudah diblacklist dari semua perusahaan, tapi aku yakin permasalahan dia dengan Bella tidak sesimpel itu, ada sesuatu hal yang harus kami selidiki, dia pernah masuk ke perusahaan Bella, aku takut ada data-data pribadi yang sudah Evan curi, apalagi saat ini Gibran sedang dipenjara. Rachel, aku yakin mereka sengaja menjebak Gibran karena ada sesuatu pada rencana mereka, jika Gibran dipenjara, mereka dengan mudah menjalankan aksinya. Selain itu aku juga takut sesuatu hal yang buruk bisa saja terjadi pada mereka." bisik Milan pada Rachel.

__ADS_1


Rachel yang mendengar perkataan Milan pun hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.


'Astaga, kasihan sekali Bella.' gumam Rachel dalam hati.


__ADS_2