
"Gibran kau tenang saja, besok aku pasti akan membantumu."
"Membantuku? Apa yang bisa kau bantu untukku?"
"Merayu polisi mungkin." kata Bella sambil meringis.
"Come on, Bella. Ini bukan masalah kecil. Kita bisa langsung masuk penjara jika polisi tahu kita telah melakukan pemalsuan identitas."
"Bagaimana jika besok kau membujuk Rachel untuk mengurungkan niatnya pergi ke kantor polisi?"
"Tidak Bella, itu justru akan membuat Rachel curiga padaku."
"Lalu?"
"Kita tetap harus mengantar dia ke kantor polisi, setelah sampai di sana kau harus pura-pura sakit, kau pura-pura pingsan saja Bella. Setelan kau pingsan, pasti Rachel juga akan panik, dia pasti melupakan niatnya untuk membuat kartu tanda penduduk itu."
"Lalu saat itu juga kau memerintahkan anak buahmu untuk membuat KTP palsu lagi dan langsung memberikannya pada Rachel." jawab Bella sambil terkekeh.
"Ya, kau benar sekali Bella. Itu semua sudah kupikirkan, yang terpenting saat ini adalah kita tetap bersikap tenang dan mengikuti permintaan Rachel agar dia tidak curiga pada kita berdua."
"Baik, ide yang bagus Gibran. Sekarang aku mau pergi dulu."
"Kemana?"
"Ke salon, aku tidak mau saat Milan pulang dari Singapore dia melihat penampilanku yang berantakan. Kau lihat ini, kulitku bahkan sedikit mengelupas akibat terkena ranting pepohonan di tengah hutan."
"Terserah kau saja, aku mau tidur badanku masih sakit." kata Gibran sambil masuk ke dalam kamar.
☘️☘️☘️🍀🍀☘️
"Kau siap Ra?" tanya Milan pada Rachel saat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.
"Iya Milan, aku harus siap untuk mengakhiri semua ini, aku ingin kembali pada kehidupan kita yang dulu bersama keluarga kecil kita."
"Iya, kau hati-hati ya. Aku dan anak buahku akan mengawasi kalian dari belakang."
"Iya Milan." jawab Rachel kemudian berjalan keluar dari rumahnya.
"Lama sekali Rachel." gerutu Bella saat dia dan Gibran menjemput Rachel di rumahnya.
"Sabar Bella, Rachel kan baru pulang dari Jakarta, mungkin dia bangun sedikit kesiangan."
"Eh itu dia." kata Bella saat melihat Rachel yang keluar dari rumahnya.
"Selamat pagi Almira sayang." kata Gibran saat Rachel membuka pintu mobilnya.
"Selamat pagi Gibran, eh kau juga disini Bella?" tanya Rachel saat melihat Bella yang duduk di jok belakang.
__ADS_1
"Iya, aku kemarin berlibur dengan teman-temanku di Bandung jadi aku sekalian mampir ke rumah Gibran." jawab Bella sambil merapikan rambutnya.
'Kau berlibur atau ingin menculik anakku, Bella.' gumam Rachel dalam hati.
"Almira, apa kau lihat tatanan rambutku ini?"
"Iya Bella, tatanan rambutmu bagus. Kau terlihat semakin cantik."
"Tentu saja, semua ini kulakukan agar kekasihku, Milan semakin mencintaiku." kata Bella yang membuat hati Rachel bergemuruh.
"Milan? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tampaknya itu tidak asing bagiku. Sebentar coba kuingat- ingat."
Mendengar perkataan Rachel, Gibran pun semakin panik. "Tidak Ra, kau tidak usah mengingat apapun tentang Milan."
"Kenapa Gibran?"
"Emh.. E.. Karena kau tidak mengenalnya, sudah lupakan saja, lupakan kata-kata Bella." jawab Gibran sambil tersenyum, kemudian dia melirik Bella yang mulai terlihat cemas.
"Oh jadi benar aku tidak mengenalnya?"
"Iya Almira, kau tidak mengenal Milan bahkan kalian juga tidak pernah bertemu." jawab Gibran dengan begitu gugup yang membuat Rachel kini tersenyum kecut.
"Wow aku cantik sekali, sempurna. Pasti Milan akan semakin jatuh cinta padaku." kata Bella saat melihat wajahnya di cermin. Mendengar perkataan Bella, Rachel pun semakin emosi.
'Enak saja kau bilang suamiku itu kekasihmu. Dia mendekatimu hanya untuk menyelidiki keberadaanku saja Bella.' kata Rachel dalam hati sambil melirik Bella yang kini tampak memulaskan lipstik berwarna merah di bibirnya.
"Gibran, lihat itu ada kucing di depan!" teriak Rachel dengan begitu panik. Gibran pun menginjak rem mobilnya dengan begitu mendadak.
"GIBRAANNN!!! APA YANG KAU LAKUKAN!!! LIHAT WAJAHKU JADI PENUHI LIPSTIK SEPERTI INI KARENAMU!" teriak Bella yang kini wajahnya penuh coretan lipstik akibat injakan rem mendadak Gibran yang mengagetkan dirinya.
Gibran dan Rachel kemudian membalikkan wajahnya lalu tertawa terbahak-bahak melihat Bella yang wajahnya begitu penuh coretan lipstik.
'Itulah akibatnya jika kau menyebut suamiku sebagai kekasihmu.' gumam Rachel dalam hati.
"Diam kalian jangan menertawakanku." gerutu Bella sambil menghapus coretan lipstik di wajahnya dengan menggunakan tissue basah.
"Lihat ini bedakku juga jadi luntur karena tissue basah ini. Ini semua karenamu Gibran!"
"Hei apa kau tidak lihat tadi tiba-tiba ada kucing di depan mobilku, memangnya kau mau aku menabrak kucing itu?"
"Tidak, sudah cukup kesialan yang kita alami kemarin. Aku tidak ingin merasakan kesialan lagi karena kau menabrak kucing."
"Kesialan yang kalian alami? Memangnya apa yang telah terjadi pada kalian berdua?" tanya Rachel.
"Em.. E... Tidak Ra, Bella hanya salah bicara." jawab Gibran.
'Dasar Bella bodoh, sudah beberapa kali dia salah bicara di depan Rachel. Lama-lama mulutnya kubungkam saja.' gerutu Gibran dalam hati sambil melirik tajam pada Bella.
__ADS_1
"I'm sorry." bisik Bella dengan begitu lirih di dekat telinga Gibran.
'Jadi ini permainan mereka, sejak dulu aku selalu dibodohi seperti ini.' kata Rachel dalam hati sambil melihat Gibran dan Bella yang sedikit salah tingkah.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir setengah jam, akhirnya mereka pun sampai di kantor polisi. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuh Gibran, apalagi saat Rachel mulai mengajaknya masuk ke dalam.
"Emh.. E.. Ra, sepertinya aku ingin ke belakang. Perutku sedikit mulas, kita mampir ke SPBU dulu ya."
"Aku juga, perutku juga mulas." kata Bella ikut menimpali.
"Bukankah di dalam kantor polisi itu juga ada toiletnya. Kita langsung saja ke dalam, kalian bisa masuk ke dalam toilet saat aku sedang membuat surat kehilangan. Ayo kita masuk." kata Rachel sambil menarik tangan Bella masuk ke dalam kantor polisi.
"Bagaimana ini Gibran." bisik Bella.
"Cepat pura-pura pingsan Bella seperti yang sudah kita rencanakan." kata Gibran.
"Baik." jawab Bella.
BRUKKKK
Tiba-tiba tubuh Bella pun ambruk.
'Jadi ini rencana kalian berdua.' kata Rachel dalam hati sambil tersenyum kecut.
"Almira sepertinya Bella sakit, bagaimana jika sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit saja."
"Kenapa tiba-tiba Bella jadi sakit seperti ini? Bukankah tadi di mobil dia tampak baik-baik saja?"
"Oh itu mungkin Bella kelelahan." jawab Gibran dengan sedikit gugup, dia lalu mulai membopong tubuh Bella ke dalam pelukannya.
"Iya Gibran, sepertinya memang Bella benar-benar sakit sebaiknya kita bawa saja Bella ke rumah sakit, mungkin dia membutuhkan cairan infus atau suntikan dari dokter agar tubuhnya bisa kembali pulih." kata Rachel.
"APA JARUM SUNTIK? JARUM INFUS? TIDAAAAKKKK!!!" teriak Bella kemudian melompat dari gendongan Gibran.
"Tidak Rachel, aku baik-baik saja, aku tidak sakit." kata Bella sambil menata kembali penampilannya.
'Astaga Bella, hancur sudah nasib kita berdua. Dasar bodoh.' kata Gibran dalam hati sambil memijit keningnya.
Rachel pun hanya tersenyum kemudian melirik ke arah persembunyian Milan yang kini terkekeh melihat tingkah Bella.
"Oh jadi kau tidak sakit Bella?"
"Tidak Almira, aku tadi hanya sedikit pusing tapi sekarang sudah tidak apa-apa." jawab Bella sambil tersenyum.
"Oh baik jika kau sudah sembuh sekarang kita masuk ke dalam saja." kata Rachel sambil menarik tangan Bella kemudian mereka masuk ke dalam kantor polisi tersebut. Bella pun membalikkan wajahnya dan melihat Gibran yang masih berdiri dengan raut wajah begitu lesu.
'MAMPUS, ini gara-gara Bella.' kata Gibran dalam hati.
__ADS_1