Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Pesan Berantai


__ADS_3

"Milan, aku takut," kata Rachel saat mereka sedang menikmati makan malam.


"Kenapa harus takut? Apa yang kau takutkan?"


"Bagaimana jika Bella berbuat nekad?"


"Biarkan saja, sudah jangan pernah pikirkan dia lagi. Bella sudah tidak ada hubungannya dengan kita."


"Itu menurutmu, tapi firasatku mengatakan lain, Milan."


"Jika dia berani berbuat macam-macam pada kita, dia akan merasakan akibatnya dariku, Rachel." kata Milan sambil menggenggam tangan Rachel.


***


Pagi ini, Rachel berjalan sedikit canggung saat masuk ke dalam kantornya karena beberapa orang yang berpapasan dengannya menatap Rachel dengan tatapan yang tidak biasa.


'Ada apa ini? Kenapa mereka menatapku seperti itu?' kata Rachel dalam hati. Dia kemudian mempercepat langkahnya karena tatapan orang-orang yang ada di dalam kantor itu semakin tajam padanya. Dia lalu bergegas duduk di kubikelnya dan menghampiri Nadia.


"Rachel, syukurlah kau sudah datang. Lihat ini, sebagian besar karyawan di sini menerima pesan ini!" kata Nadia sambil memperlihatkan sebuah pesan yang masuk ke ponsel Nadia yang berisi foto-foto Rachel dan Milan yang sedang bermesraan di malam pesta lajang Gibran, di bawah foto itu ada sebuah pesan yang bertuliskan "AKU HANYALAH SEORANG PARTNER RANJANG."


Rachel pun kemudian menangis. "Jadi karena ini semua orang menatapku dengan tatapan yang tidak biasa?" gumam Rachel. Air mata kini mulai mengalir deras di wajahnya. Nadia pun menggenggam tangan Rachel.


"Sabar Ra," kata Nadia kemudian memeluk Rachel. Di saat itulah tiba-tiba Dinda berjalan di belakang mereka.


"Kamu kenapa Ra? Apa sesuatu terjadi padamu?" tanya Dinda sambil tersenyum kecut.


"Tidak usah berpura-pura Dinda, kau pasti sudah tahu pesan berantai itu. Atau bahkan kau sebenarnya yang sudah mengirimkan pesan itu?" tanya Nadia dengan sinis.


"Loh kok loe tiba-tiba nuduh gue sih Nad? Gue kan cuma tanya kenapa pelakor itu nangis?" bentak Dinda.


"Eh jangan sembarang kamu ya Din, siapa yang kamu maksud pelakor?"


"Jadi kamu belum sadar kalau temen deketmu itu pelakor?"


"Jangan asal bicara kau Dinda! Rachel bukanlah seperti yang kau tuduhkan!"

__ADS_1


"Oh baik, jika menurutmu dia bukan pelakor jadi dia hanyalah seorang wanita yang bersedia dipesan untuk menjadi partner ranjang saja. Hahahaha."


"CUKUP DINDA! JAGA KATA-KATAMU!" bentak Nadia.


"ADA APA INI RIBUT-RIBUT?" tanya Milan yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka. Dia lalu mendekat ke arah Rachel yang kini menangis.


"Kau kenapa Rachel?" tanya Milan.


Namun Rachel terdiam dan terus menangis.


"Lihat ini Pak Milan," kata Nadia sambil memberikan ponselnya pada Milan. Milan pun kemudian membaca isi pesan berantai yang ada di ponsel Nadia. Seketika emosinya pun begitu memuncak.


"APA-APAAN INI? SIAPA YANG SUDAH MENGIRIMKAN PESAN SEPERTI INI?" bentak Milan pada seluruh karyawan yang ada di ruangan itu.


Namun semuanya hanya terdiam, Dinda pun terlihat begitu takut. "SEKARANG KALIAN DENGARKAN AKU BAIK-BAIK, RACHEL ADALAH KEKASIHKU DAN AKU AKAN SEGERA MENIKAHINYA SECEPATNYA! PERLU KALIAN TAHU, AKU SUDAH LAMA TIDAK MEMILIKI HUBUNGAN APAPUN DENGAN BELLA! DAN RACHEL BUKANLAH SEORANG PELAKOR ATAUPUN PARTNER RANJANG SEPERTI YANG KALIAN TUDUHKAN KEPADANYA!!!" teriak Milan yang membuat semua orang terdiam.


"Jika kalian berani macam-macam lagi pada Rachel maka kalian akan berhadapan denganku!" bentak Milan kemudian menarik tangan Rachel menuju ke ruangannya.


Nadia pun mendekat pada Dinda yang kini terlihat pucat pasi. "Kau sudah dengar kan Dinda? Rachel tidak seperti yang kau bayangkan, karena dia adalah kekasih sah dari Pak Milan dan bukanlah pelakor seperti yang kau tuduhkan. Lebih baik kau jaga sikapmu sekarang sebelum sesuatu hal yang lebih buruk terjadi padamu," ucap Nadia sambil tersenyum menyeringai. Dinda pun hanya terdiam, dia kemudian berjalan menuju ke kubikelnya.


Sementara di ruang kerjanya. Milan kini memeluk Rachel yang masih menangis. "Sudah Rachel, ini semua sudah selesai. Semua orang sudah tahu hubungan kita dan tidak ada lagi yang berfikiran macam-macam padamu," ujar Milan sambil membelai rambut Rachel.


"Hapus air matamu, aku ingin melihat senyuman cantikmu hari ini." Milan kemudian memeluk tubuh Rachel. "Jangan lagi bersedih, secepatnya aku akan menikahimu."


"Bagaimana dengan orang tuamu?" .


"Nanti sore kau akan kuperkenalkan dengan mereka." kata Milan yang membuat Rachel terlihat sedikit gugup.


***


Dinda tampak begitu cemas menunggu seseorang di dalam sebuah cafe. Senyuman seseorang yang baru saja datang mendekatinya pun dia abaikan begitu saja.


"Hai kau kenapa Dinda? Apakah uang yang kukirimkan padamu tadi malam itu belum cukup?"


"Tidak Nyonya Bella, bukan itu."

__ADS_1


"Lalu apa?"


"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku jika sebenarnya kau sudah tidak memiliki hubungan dengan Pak Milan?"


Mendengar kata-kata Dinda, Bella pun sedikit terkejut. "Emh begini Dinda, aku memang sudah putus dengannya tapi aku yakin Milan pasti bisa kembali lagi ke dalam pelukanku," jawab Bella dengan gugup.


"Oh jadi begitu? Kenapa anda tidak mengatakan yang sebenarnya pada saya Nyonya Bella, sekarang posisi saya di kantor terancam karena kebohongan anda!" kata Dinda dengan ketus.


"Dinda maaf aku lupa tidak mengatakannya padamu."


"Mudah sekali anda berkata seperti itu pada saya Nyonya Bella, apa anda mau bertanggung jawab jika Pak Milan memecat saya?" kata Dinda dengan nada sedikit keras.


"Dinda tolong jangan marah padaku!" bentak Bella.


"Hei kenapa anda balik memarahi saya Nyonya Bella? Sekarang saya mau bertanya pada anda, jika Pak Milan sampai memecat saya apakah anda bisa bertanggung jawab dengan memberikan pekerjaan pada saya?"


'Bagaimana ini? Posisiku di perusahaan Mama pun sedang tidak aman.' kata Bella dalam hati.


"Kenapa anda diam Nyonya Bella? Anda tidak bisa bertanggung jawab pada nasib saya kan? Baik jika seperti itu, sekarang juga saya akan mengatakan yang sebenarnya pada Pak Milan!" teriak Dinda sambil meninggalkan Bella yang kini tampak kebingungan.


***


"Masuk!" perintah Milan saat mendengar ketukan di pintu ruangannya.


"Pak Milan memanggil saya?" tanya Nadia yang kini sudah ada di ruangan Milan.


"Iya Nadia, saya mau bertanya padamu mengenai pesan berantai itu, apakah ada seseorang yang kau curigai?"


"Emh Pak, sebenarnya pesan itu berasal dari nomor yang tidak kami kenal. Tapi.."


"Tapi apa Nadia? Apa ada seseorang yang kau curigai di kantor ini?"


Perlahan Nadia pun mengangguk. "Siapa itu Nadia?" tanya Milan sambil mengernyitkan kening.


"Dinda," jawab Nadia.

__ADS_1


__ADS_2