Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Jatuh Cinta?


__ADS_3

"Gibran, sebaiknya kau masuk ke kamarmu, kau harus beristirahat. Kau tidak boleh kedinginan, biasanya cuaca yang dingin akan membuat tulang yang retak menjadi linu." kata Riana setelah mereka berciuman.


"Iya Riana." kata Gibran kemudian bangkit dari sofa lalu berjalan ke arah kamar dengan sedikit bersusah payah.


"Mari kubantu." kata Riana kemudian membantu Gibran berjalan masuk ke dalam kamar.


Saat akan merebahkan tubuhnya di tempat tidur, Gibran dengan sengaja berpura-pura kehilangan keseimbangan yang membuat dia dan Riana jatuh ke atas ranjang dengan posisi Riana menindih tubuh Gibran.


"Maaf." kata Riana, kemudian mencoba untuk berdiri namun saat itu juga Gibran menekan tubuh Riana agar tetep berada di atas tubuhnya. Jantung Riana pun berdegup semakin kencang saat Gibran kembali mendekatkan wajahnya.


"Kamu tidak ingin aku kedinginan kan Ri?" tanya Gibran pada Riana yang dijawab dengan anggukan.


"Aku ingin kau menghangatkanku."


"Apa maksudmu, Gibran?"


Namun Gibran tidak menjawab pertanyaan Riana, dia lalu mendekatkan wajahnya lalu mulai mencium bibir Riana dengan penuh gairah.


'Oh tidak, ini bukan ciuman lembut seperti tadi, ciuman ini benar-benar membuatku begitu bernafsu pada Gibran.' kata Riana dalam hati sambil membalas ciuman Gibran juga dengan begitu bergairah.


"Kau mau menghangatkan tubuhku kan Ri? Di luar hujan begitu deras, aku ingin menghabiskan waktu ini bersamamu?"


"Iya." jawab Riana dengan men*esah.


Gibran pun membetulkan letak posisinya dengan Riana di atas ranjang karena dia masih menggunakan gips sehingga gerakannya pun tidak bebas.


"Bagaimana jika seperti ini? Apa kau nyaman?" bisik Gibran di telinga Riana sambil menciumi tengkuk dan lehernya.


"Ya." jawab Riana sambil menahan nikmatnya sentuhan dari Gibran.


'Bagus sekali, sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, dia belum pernah melakukan hal seperti ini, aku yakin dia pasti akan semakin takluk ke dalam pelukanku.' kata Gibran dalam hati sambil terus menciumi leher Riana dengan begitu bergairah.


"Oh Gibran." de*ah Riana yang membuat Gibran semakin bernafsu. Dia kemudian membuka kancing baju milik Riana.


"Boleh kan?" tanya Gibran lagi yang dijawab anggukan Riana.


Gibran lalu menanggalkan pakaian Riana kemudian mulai meng*lum bu*h da*a milik Riana yang membuat dia mengeluarkan de*ahan yang begitu kencang.


"Riana kendalikan dirimu." bisik Gibran.


"Maaf, aku baru pernah melakukan ini."

__ADS_1


"Bagaimana? Kau menikmatinya?"


"Iya Gibran."


"Sekarang aku akan membuatmu semakin menikmati permainan kita." kata Gibran lalu membuka pakaiannya dan pakaian Riana.


"Aku belum bisa bergerak bebas, kau mau kan melakukannya di atas tubuhku."


Riana kemudian mengangguk, dia lalu duduk di atas tubuh Gibran kemudian mengalungkan tangannya di leher Gibran. Gibran pun mulai memasukkan asetnya dengan sedikit bersusah payah yang membuat Riana meringis menahan sakit. 'Susah sekali.' kata Gibran di dalam hati, cukup lama akhirnya dia pun berhasil memasukkan asetnya tersebut disertai ceceran darah.


'Astaga, aku baru ingat dia masih perawan pantas saja susah sekali.' gumam Gibran dalam hati sambil menikmati setiap lekuk tubuh Riana.


I*apan dan kulu*an Gibran pada bu*h da*a Riana pun semakin membuatnya bergerak lincah memainkan pin**ulnya. Hingga de*han dan e*angan pun memenuhi setiap sudut kamar sampai akhirnya mereka pada pu*cak kenikmatan.


Riana yang kelelahan pun merebahkan tubuh te*anjangnya di atas tubuh Gibran.


"Aku cinta kamu, Gibran." kata Riana dengan mata terpejam karena kelelahan.


"Aku juga Ri, sekarang tidurlah dalam pelukanku, kau pasti lelah kan?"


"Iya." jawab Riana kemudian merebahkan tubuhnya dalam pelukan Gibran.


Gibran kemudian menciumi bahu dan tangan Riana sambil menatap wajah polosnya.


'Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba ada sebuah getaran di dalam hatiku saat melihat wajahnya?' kata Gibran dalam hati dengan perasaan yang begitu tak menentu.


'Apakah ini? Ah tidak tidak, aku tidak boleh benar-benar jatuh cinta padanya, dia bukan tipeku.' gumam Gibran sambil menatap wajah Riana terus menerus.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸


Hujan yang begitu deras membuat Evan mengemudikan mobil dengan perlahan dan berhati-hati.


"Maaf Bu Bella, hujannya deras sekali, saya tidak bisa mengemudikan mobil dengan cepat, saya takut terjadi sesuatu karena saya sedang membawa anda bersama saya."


"Tidak apa-apa Evan, memangnya kita mau kemana?" tanya Bella pada Evan saat di dalam perjalanan.


"Tempat yang spesial." jawab Evan sambil tersenyum.


"Tempat yang spesial? Apa kau yakin? Kekasihmu bisa cemburu padaku, Evan."


"Kekasih?" tanya Evan sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ya, kau sudah memiliki kekasih kan?"


Evan pun tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa, Evan?"


"Bagaimana bisa Bu Bella berfikir jika saya sudah memiliki seorang kekasih?"


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kemarin kau menjemput seorang wanita ke sebuah kampus di universitas ternama kan?"


Evan pun kemudian mengerutkan keningnya.


"Bagaimana Bu Bella bisa tahu? Apa Bu Bella ada urusan di kampus itu?" tanya Evan yang membuat Bella semakin gugup.


'Aduh, aku benar-benar bodoh, seharusnya aku tidak mengatakan semua ini, jangan sampai Evan tahu kemarin aku membuntutinya untuk mencari tahu informasi tentangnya ' gumam Bella dalam hati.


Bu Bella, kenapa Bu Bella diam? Apa saya sudah lancang bertanya seperti itu?"


"Oh.. O.. Tidak Evan, saya kemarin juga kebetulan pergi ke kampus itu untuk bertemu teman saya yang menjadi dosen di sana."


"Oh."


"Wanita itu kekasihmu kan?" tanya Bella yang membuat Evan kembali tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa lagi, Evan?"


"Bu Bella, dia bukan kekasih saya tapi adik kandung saya, namanya Celine." jawab Evan yang membuat Bella tampak begitu malu, namun dia juga tidak bisa menahan rasa bahagia di dalam hatinya karena ternyata Evan belum memiliki kekasih.


"Oh, maafkan aku kupikir dia adalah kekasihmu." kata Bella dengan sedikit canggung.


'Ini benar-benar kesempatan bagus, ternyata Evan belum memiliki kekasih, aku bisa bebas mendekatinya dan membuatnya jatuh cinta padaku.' kata Bella dalam hati sambil melirik pada Evan.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸🌿


Gibran membelai rambut Riana yang kini masih terlelap di dalam pelukannya.


'Apa yang telah kulakukan? Kenapa aku begitu jahat sampai memperalat gadis sepolos ini? Apakah ini sebuah kesalahan? Oh tidak apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa tadi aku tidak berfikir panjang dan hanya menuruti naf*uku saat melihatnya. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?' gumam Gibran di dalam hati dengan begitu cemas.


"Gibran jangan pernah tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku." kata Riana sambil tertidur.


"Riana." panggil Gibran.

__ADS_1


"Oh ternyata dia mengigau." kata Gibran yang semakin membuat perasaannya semakin campur aduk, debaran di hatinya pun semakin tak menentu, apalagi sebuah perasaan hangat kini mulai dia rasakan saat melihat wajah polos yang masih terlelap dalam pelukannya.


__ADS_2