
"Bella, tenangkan dirimu. Sudahlah buang semua rasa sedih dan bersalahmu, itu semua sudah lama berlalu bukankah kita sudah lama berteman dan sudah saling memaafkan satu sama lain."
Bella lalu melepaskan pelukannya. Rachel lalu tersenyum kemudian menghapus air mata Bella.
"Bella kau sekarang sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik, lebih baik kau fokus mengurus putrimu sambil menunggu Arvin pulang." kata Rachel sambil membelai rambut Bella.
"Iya Ra."
Tiba-tiba ponsel Bella pun berdering kembali. Bella pun mengangkat panggilan video itu.
[Halo Bella, maaf tadi sambungannya terputus.]
[Iya Arvin tidak apa-apa.]
[Aku ingin mengadzani putri kita.]
[Ya, sebentar.]
"Ra, tolong dekatkan ponsel ini pada putriku."
"Iya Bella."
Rachel kemudian mendekatkan ponsel itu ke bayi Bella yang ada di box bayi. Perasaan Bella pun begitu berkecamuk, rasa haru, sedih, dan bahagia bercampur menjadi satu. Setelah Arvin selesai mengadzani bayi tersebut, Rachel lalu memberikan ponsel itu lagi pada Bella.
[Bella, nanti kuhubungi lagi, aku harus ke ruang rapat sekarang. Nanti malam aku langsung pulang dengan penerbangan terakhir setelah rapat ini selesai.]
[Iya Arvin.] jawab Bella kemudian menutup panggilan dari Arvin.
"Bella, lebih baik kau sekarang istirahat saja. Tidurlah, tubuhmu pasti lelah."
"Ya, Rachel bisakah kau memberitahukan pada sopirku untuk kembali ke rumah agar memanggil salah seorang pembantuku untuk menemaniku di rumah sakit ini nanti malam."
"Sopir pribadi?"
"Iya Ra, dia tadi menunggu di depan, usianya sekitar empat puluh tahun."
"Ra, apa maksudmu laki-laki yang bertubuh kurus ini?" tanya Rachel sambil memperlihatkan foto Amran yang dia ambil saat melihat tingkah laku Amran yang sedikit mencurigakan.
"Ya, bagaimana bisa kau memiliki foto ini Ra?" tanya Bella sambil mengerutkan keningnya.
"Bella, dengarkan aku, kau percaya padaku kan?"
"Ya tentu saja, kenapa kau tiba-tiba berubah menjadi serius seperti ini Ra?"
"Bella, saat aku dan Milan berjalan di sampingnya aku mendengar dia memiliki rencana yang buruk padamu."
"Apa? Rencana buruk?"
"Iya Bella, dia ingin mengambil bayimu."
"Apa mengambil bayiku? Tapi untuk apa Ra?"
__ADS_1
"Entahlah."
Saat sedang mendengar perkataan Rachel, tiba-tiba ponsel Bella pun berdering kembali.
[Ya halo Bi, ada apa?]
[Nyonya Bellaaaa!!]
[Bibi kenapa teriak-teriak sih?] gerutu Bella.
[Nyonya, seluruh perhiasan Nyonya Bella dan Nyonya Riana hilang!!]
[Apa??? Perhiasanku dan perhiasan Riana hilang?]
[Iya Nyonya.]
[Bibi, saat ini aku masih di rumah sakit. Lebih baik Bibi lapor polisi sekarang juga.]
[Iya Nyonya.]
Bella pun menutup panggilan tersebut dengan begitu kalut.
"Perhiasanmu hilang Bella?"
"Iya Ra."
"Apa ada orang asing masuk ke rumahmu?"
"Ra, hari ini ada seorang therapist yang datang ke rumahku, dan setelah dia pulang aku dan sepupuku Riana tiba-tiba mengalami kontraksi secara mendadak. Apakah dia yang melakukan semua ini Ra?" kata Bella dengan begitu panik sambil mengigit bibirnya.
"Apakah ada yang aneh dari gerak-geriknya, Bella?"
"Iya Ra, saat dia memijitku tiba-tiba aku tertidur beberapa saat setelah dia menyalakan lilin aromaterapi di kamarku. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi karena saat aku bangun dia sudah selesai memijitku lalu memberikan minuman padaku saat aku bangun karena tiba-tiba aku merasa sangat haus."
"Sebentar Bella, aku keluar dulu, aku akan bertanya pada Milan tentang supirmu, apakah dia ada kaitannya dengan semua ini, atau jangan-jangan therapist itu berkomplot dengan supirmu untuk menculik anakmu."
"Iya Ra."
Rachel pun kemudian mendekat pada Milan yang sedang mengangkat ponsel milik Amran yang sedang berdering.
[Bagaimana Amran? Apakah kau sudah bisa mengambil bayi milik Bella? Cepat bawa bayi itu kesini, aku sudah tidak sabar meminta tebusan yang sangat banyak pada Bella dan Arvin.] kata sebuah suara di ujung telepon.
Milan pun menatap Amran.
'Apa maksud semua ini?' gumam Milan dalam hati.
[Amran, kenapa kau diam? Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?]
[Sudah.] jawab Milan dengan suara yang dimiripkan dengan suara Amran.
[Bagus, sekarang juga bawa bayi itu ke rumahku, aku ingin segera meminta tebusan secepatnya pada Arvin dan Bella. Hahahaha.]
__ADS_1
[Baik.] jawab Milan kemudian menutup panggilan itu.
"Jadi kalian berencana untuk menculik bayi milik Bella?" tanya Milan pada Amran. Rachel pun kemudian mendekat pada Milan.
"Milan, seluruh perhiasan milik Bella dicuri oleh seorang therapist. Setelah kedatangan therapist tersebut, Bella merasa ada sesuatu yang aneh karena tiba-tiba dia dan sepupunya mengalami kontraksi secara bersamaan, saat therapist itu memijitnya, mereka juga tertidur lalu saat mereka bangun, therapist tersebut memberikan minuman yang kemungkinan menyebabkan Bella dan sepupunya mengalami kontraksi."
Mendengar perkataan Rachel, Milan pun memandang Amran yang masih terkapar. "Apa kau berkomplot dengan therapist itu?"
Namun Amran hanya diam. "Cepat jawab pertanyaanku atau kau akan kuhabisi sekarang juga!!"
"Milan, mereka pasti sengaja melakukan itu saat Arvin tidak ada di rumah, mereka pasti sudah berkonspirasi untuk melakukan semua ini, Milan."
Milan kemudian memandang Amran kembali. "CEPAT JAWAB PERTANYAANKU APA KAU BEKERJASAMA DENGAN THERAPIST ITU!!" bentak Milan sambil mencengkram wajah Amran.
"Kau masih sayang nyawamu kan? Atau aku mau kuhabisi sekarang juga?"
"Iya, iya aku memang berkonspirasi dengan mereka. Mereka mengiming-imingi aku dengan uang yang cukup banyak, aku membutuhkan uang tersebut, jadi aku mengiyakan saat mereka menyuruhku melamar pekerjaan menjadi seorang supir di rumah Nyonya Bella."
"Dan dalang dari semua ini adalah Evan?"
"I.. Iya Tuan. Evan lah dalang dari semua ini."
"Siapa Evan sebenarnya? Ada hubungan apa Evan dengan keluarga Bella? Apakah ada dendam pribadi atau hanya sekedar ingin merebut hartanya saja?"
"Saya juga kurang tahu Tuan, tapi saya pernah mendengar dari salah seorang pembantu di rumah tersebut jika Evan dulu pernah bekerja sebagai asisten pribadi Nyonya Bella dan mereka pernah memiliki hubungan yang dekat."
Milan kemudian memandang Rachel.
"Mungkin ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, Milan."
"Iya Ra."
"Lebih baik kau urusi dulu saja Evan. Setelah itu kita baru memberitahu Bella dan Arvin tentang kejadian yang sebenarnya."
"Iya Ra, aku pergi dulu ya."
"Iya Milan."
Milan kemudian mendekat ke arah Amran.
"Sekarang kau tunjukkan padaku dimana saat ini Evan berada."
"I... Iya Tuan, tapi tolong anda jangan laporkan saya ke polisi."
"Jika kau mau bekerjasama denganku kau akan aman."
"Baik Tuan."
Milan pun tersenyum menyeringai.
'Evan, aku sebenarnya tidak memiliki urusan apapun denganmu bahkan aku juga tidak mengenalmu tapi kau salah jika kau mengusik kehidupan teman-temanku. Akan kupastikan permainanmu juga selesai saat ini juga.' gumam Milan di dalam hati.
__ADS_1