
Mendengar perkataan Riana, Gibran pun kemudian membalikkan tubuhnya.
"Benarkah apa yang kau katakan, Riana? Apa ini berarti kau sudah memaafkan aku?"
"Ya." jawab Riana sambil menganggukkan kepalanya perlahan.
"Terimakasih Riana, terimakasih banyak." kata Gibran kemudian memeluk tubuh Riana dengan begitu kencang.
"Pelan-pelan Gibran, aku sedang hamil." gerutu Riana sambil tersenyum.
Gibran pun ikut tersenyum kemudian mereka tertawa bersama-sama. Gibran lalu memegang wajah Riana. "Riana dengarkan aku, aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita."
"Ya, lalu..."
"Lalu? Apa maksudmu?" tanya Gibran sambil mengerutkan keningnya.
"Hanya ayah yang baik untuk anak kita? Lalu bagaimana dengan diriku?" kata Riana sambil tersenyum.
"Dengan dirimu? Apa maksudmu Riana?"
"Gibran, kau hanya berjanji untuk menjadi ayah yang baik untuk anak kita tapi bagaimana dengan diriku, lalu kau anggap apa aku ini?" gerutu Riana.
Gibran pun tersenyum. "Riana sayang, maksudmu posisimu di hatiku?"
Riana pun kemudian mengangguk.
"Kau adalah wanita paling spesial yang ada di dalam hatiku, kau adalah ibu dari anakku, dan aku akan segera menikahimu secepatnya." jawab Gibran yang membuat Riana tersipu malu.
"Kau mau kan menikah denganku?" kata Gibran sambil memegang wajah Riana kembali.
"Tentu."
"Tapi Riana, maafkan aku jika untuk sementara waktu kita tidak bisa menikah secara resmi, aku hanya bisa menikahi mu secara siri karena aku takut jika kita menikah secara resmi, polisi akan menemukan keberadaanku."
"Tentu saja Gibran, aku tahu itu, untuk sementara waktu kita memang belum bisa menikah secara resmi."
"Terimakasih banyak atas semua pengertianmu Riana."
"Ya." jawab Riana sambil tersenyum kemudian mencium bibir Gibran.
__ADS_1
Gibran pun tertawa melihat tingkah Riana. "Meskipun kau marah padaku dan mengabaikanku beberapa hari ini tapi aku tahu jika di dalam hatimu yang paling dalam kau pasti sangat merindukan aku."
Riana pun tersipu malu. "Jadi benar kan kau sangat merindukan aku?" bisik Gibran di samping telinga Riana yang membuat Riana semakin tersipu malu. Melihat wajah Riana yang kini bersemu merah, perasaan Gibran pun semakin bergejolak. Dia lalu menggendong tubuh Riana ke dalam pelukannya.
"AWWWWW." teriak Riana kerena terkejut Gibran tiba-tiba menggendong tubuhnya.
"Kau benar-benar mengagetkanku, Gibran."
"Tapi kau senang kan?"
Riana pun mengangguk. Gibran kemudian mengangkat tubuh Riana lalu berjalan masuk ke dalam kamar Riana kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Riana, sebaiknya kau beristirahat saja sekarang." kata Gibran sambil membelai rambut Riana.
"Kau disini saja, jangan tinggalkan aku, aku sedang hamil Gibran, aku tidak ingin berada jauh darimu." kata Riana sambil menarik tubuh Gibran agar mendekat padanya.
"Iya Riana, aku akan menemanimu disini." kata Gibran kemudian merebahkan tubuhnya di samping tubuh Riana. Riana pun kemudian memeluk tubuh Gibran, dan menyenderkan kepalanya di atas dada Gibran.
"Aku merindukanmu." kata Riana sambil memainkan jemarinya di atas dada Gibran.
"Riana, kau ingin menggodaku?" kata Gibran sambil menatap Riana yang kini juga menatapnya dengan tatapan menggoda, namun Riana hanya diam, tapi dia kian lincah memainkan jemarinya menjelajahi setiap lekuk tubuh Gibran. Naluri kelaki-lakian Gibran pun semakin bergejolak dia lalu mendekatkan wajahnya pada Riana kemudian mencium bibirnya dengan begitu rakus.
"Iya Gibran, aku juga sangat merindukanmu." jawab Riana sambil melepaskan pakaian yang melekat pada tubuh Gibran. Gibran pun kemudian ikut mulai menanggalkan pakaian yang dikenakan oleh Riana lalu menciumi setiap lekuk tubuh Riana hingga menimbulkan de*ahan yang kian membuat Gibran semakin berna*su.
'Beberapa jam yang lalu aku hanya bisa mendengar permainan Arvin dan Bella tapi sekarang aku pun bisa melakukannya.' gumam Gibran sambil terkekeh.
"Kau kenapa Gibran? Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Riana di sela permainan mereka.
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya bahagia bisa mendapatkan hatimu kembali." jawab Gibran yang membuat Riana tersipu malu.
"Kau mencintaiku?"
"Sangat-sangat mencintaimu Riana." jawab Gibran sambil memainkan ping*ulnya di atas tubuh Riana hingga akhirnya mereka pun mencapai puncak kenikmatan. Gibran lalu merebahkan tubuhnya di atas tubuh Riana sambil meninggalkan gigitan berwarna merah di beberapa bagian tubuh Riana.
"Aku sangat mencintaimu, kau harus ingat itu." bisik Gibran lalu merebahkan tubuhnya di samping tubuh Riana. Dia kemudian memeluk tubuh telan*ang Riana, namun tiba-tiba sebuah panggilan di ponsel Gibran pun terdengar.
"Sial, mengganggu saja." gerutu Gibran sambil menciumi bahu dan tangan Riana.
"Kau sebaiknya mengangkat panggilan itu Gibran, mungkin saja itu penting." kata Riana.
__ADS_1
Dengan begitu malas, Gibran pun mengambil ponselnya yang ada di atas nakas yang terletak di samping ranjang.
"Rafly." kata Gibran saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.
[Halo Rafly, ada apa?]
[Emh, maaf mengganggu Tuan Gibran, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda?]
[Ada apa Rafly, apa polisi sudah curiga dengan tempat persembunyianku? Bukankah anak buah kita masih selalu menjagaku disini?]
[Bukan itu Tuan Gibran, untuk saat ini Tuan Gibran masih aman, belum ada seorang polisi pun yang curiga.]
[Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?]
[Emh, Tuan Gibran ini mengenai asisten pribadi Nyonya Bella.]
[Maksudmu Evan? Yang pernah kau bicarakan beberapa bulan yang lalu?]
[Iya Tuan Gibran.]
[Ya, ada apa dengan Evan, Rafly?]
[Tuan Gibran, beberapa hari ini gerak-gerik Evan sangat mencurigakan, dia seperti memiliki rencana yang tidak baik untuk Nyonya Bella.]
[Apa maksudmu Rafly?]
[Begini Tuan Gibran, Evan seperti sedang menyelidiki keberadaan Nyonya Bella saat ini, bahkan dia sedikit memaksa saya untuk memberitahukan keberadaan Nyonya Bella. Sejak Nyonya Bella menemui saya beberapa hari yang lalu, Evan terlihat sedikit cemas.]
[Mencurigakan sekali.]
[Iya Tuan Gibran, karena itulah saya memberitahukan pada anda agar memberitahu Nyonya Bella agar sedikit berhati-hati padanya.]
[Iya, nanti aku akan memberitahu Bella. Rafly tolong perintahkan anak buahmu untuk mengawasi gerak-gerik Evan.]
[Iya Tuan, sudah saya lakukan.]
[Terimakasih banyak Rafly.] kata Gibran kemudian menutup panggilan telepon dari Rafly.
Riana yang melihat wajah Gibran terlihat cemas lalu mendekat ke arahnya. "Ada apa Gibran?"
__ADS_1
"Ada sesuatu yang tidak beres di kantor Riana. Aku akan membicarakan ini dengan Bella." kata Gibran kemudian mengenakan kembali pakaiannya lalu berjalan keluar dari kamar Riana menuju kamar Arvin.