
"Selamat pagi juga, Evan."
"Kau cantik sekali, Bella."
"Emh.. E.. Ya, terimakasih."
"Kenapa kau disini, Evan? Bukankah pagi ini seharusnya kau pergi ke Surabaya?"
Evan lalu semakin mendekat ke arah Bella.
"Bella, maafkan aku, hari ini aku menunda meeting kita dengan klien yang ada di Surabaya."
"Ta... Tapi kenapa, Evan?"
"Karena aku ingin bertemu denganmu."
"Bertemu denganku?"
"Ya, aku ingin meminta penjelasan darimu."
"Evan, bukankah kemarin aku sudah menjelaskan padamu, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini."
"Karena ada laki-laki lain di hatimu?" tanya Evan.
Bella pun hanya tertunduk sambil perlahan menganggukan kepalanya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya saat aku menyatakan cintaku padamu? Jika kau menolakku saat itu tentu rasanya tidak akan sesakit ini, Bella. Kau sudah menerima cintaku lalu kau juga yang memutuskan hubungan ini begitu saja."
"Maafkan aku Evan, semua ini memang kesalahanku. Aku yang salah mengartikan semua perasaan yang ada di dalam hatiku, kupikir aku mencintaimu dan membenci dirinya, tapi ternyata aku salah. Aku salah mengartikan semua ini, tolong maafkan aku." kata Bella sambil menundukkan wajahnya.
"Kau membencinya? Jika kau membencinya kenapa tiba-tiba kau berubah menjadi mencintainya, Bella?"
"Bukankah tadi sudah kukatakan, aku yang salah mengartikan semua rasa yang ada di dalam hatiku? Dia telah membuat sebuah kesalahan yang begitu besar dalam hidupku yang membuatku begitu membencinya tapi aku tidak sadar, perbedaan antara benci dan cinta itu sangatlah tipis, Evan. Aku baru menyadari itu saat dia pergi meninggalkanku. Bahkan sekarang aku tidak tahu dimana keberadaannya."
"Jika dia sudah pergi meninggalkanmu, kenapa kau masih berharap padanya? Mungkin sebenarnya dia tidak mencintaimu karena sudah berani meninggalkanmu."
"Emh tidak, bukan begitu Evan. Dia sangat mencintaiku, tapi dia mengira aku sudah memilihmu jadi dia memilih mundur."
"Jadi dia sudah tahu hubungan kita?"
"Ya."
"Kenapa kau tidak belajar untuk mencintaiku dan melupakan dia, Bella? Bukankah dia juga sudah mundur? Bukankah dia juga sudah pergi meninggalkanmu, bahkan kau tidak tahu dimana keberadaannya? Kenapa kau masih mencarinya, Bela? Lebih baik kau lupakan semua masa lalumu itu."
"Tidak bisa Evan." kata Bella sambil menutup wajahnya.
"Kenapa? Itu hal yang mudah jika kau mau melupakannya lalu belajar untuk mencintaiku, aku akan selalu disampingmu dan menunggumu sampai kau benar-benar bisa mencintaiku."
"Tidak Evan, maaf aku tidak bisa, sampai kapanpun aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu, entah bagaimanapun caranya, aku harus mencari keberadaan Arvin."
__ADS_1
"Kenapa Bella? Kenapa kau harus mencarinya?"
"Karena ada sesuatu yang sudah menyatukan kami berdua."
"Sesuatu yang menyatukan kalian berdua?"
"Ya."
"Bella, aku sungguh tak mengerti."
Bella lalu mengambil nafas panjang, matanya lalu terpejam. "Evan bukankah kau ingat beberapa hari ini aku terlihat tidak sehat?"
"Ya, aku tahu itu, apa kau terlalu memikirkannya sampai mengganggu kesehatanmu?"
"Bukan, bukan karena itu."
"Lalu?"
"Aku sedang mengandung darah daging Arvin, itulah sebabnya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu, Evan. Maafkan aku." kata Bella sambil terisak.
Evan pun begitu terkejut mendengar perkataan Bella. "Jadi saat ini kau sedang hamil, Bella?"
"Ya." jawab Bella.
Evan pun kemudian mendekat pada Bella, lalu memeluk tubuhnya dan membiarkan Bella menangis dalam pelukannya.
"Maaf, aku tidak tahu ternyata kau sedang menyimpan semua kepedihan ini, mulai saat ini aku tidak akan memaksamu kembali menjalani hubungan denganku lagi, Bella."
"Iya Bella." jawab Evan kemudian melepaskan pelukannya.
"Sebaiknya kau kembali ke kantor, kau sudah tahu keadaanku yang sebenarnya kan? Karena itulah beberapa hari yang lalu aku mengatakan padamu jika aku tidak bisa ke kantor dalam waktu dekat."
"Iya aku mengerti keadaanmu, Bella. Lebih baik sekarang kau istirahat saja."
"Iya Evan."
Evan lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bella, namun sebelum dia keluar dari pintu, dia membalikkan tubuhnya kembali.
"Bella."
"Iya, ada apa Evan."
"Bagaimana jika kau tidak bisa menemukan Arvin lagi sampai anak itu lahir?"
Bella pun kemudian tersenyum.
"Aku akan tetap mencarinya sampai kapanpun, aku masih punya banyak waktu untuk mencarinya bukan hanya sampai anak ini lahir tapi aku akan mencarinya sepanjang sisa hidupku." jawab Bella sambil tersenyum.
"Ya Bella aku mengerti, aku pergi dulu." jawab Evan kemudian keluar dari kamar Bella.
__ADS_1
'Ternyata memang benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi.' gumam Evan sambil meninggalkan kamar Bella.
Bella yang masih termenung di dalam kamar, kini mengamati kardus itu kembali.
"Arvin, sampai kapanpun aku akan terus mencarimu, sepanjang sisa hidupku aku akan selalu mencintaimu." kata Bella dalam hati sambil meneteskan air matanya.
TOK TOK TOK
Tiba-tiba suara pintu kamarnya pun diketuk.
"Ya masuk."
Pintu kamar itu pun terbuka, seorang asisten rumah tangga pun masuk ke dalam kamar Bella.
"Ya Bi, ada apa?"
"Nyonya Bella, di bawah ada beberapa polisi yang ingin bertemu dengan anda?"
"Polisi?" tanya Bella sambil mengerutkan keningnya.
"Iya Nyonya." jawab asisten rumah tangga tersebut.
"Oh Tuhan, kenapa tiba-tiba ada polisi datang ke rumahku? Bukankah masa hukumanku sudah selesai dan aku tidak melakukan kesalahan lagi? Kenapa tiba-tiba ada polisi datang ke rumah ini?" gerutu Bella sambil mengigit bibirnya.
"Ah lebih baik kutemui saja mereka." kata Bella lalu keluar dari kamarnya. Dia kemudian menuruni tangga lalu berjalan ke arah ruang tamu, tampak beberapa polisi sudah menunggunya di ruang tamu tersebut.
"Selamat pagi Nyonya Bella." kata salah seorang polisi saat melihat Bella yang berjalan menghampiri mereka.
Bella lalu tersenyum.
"Selamat pagi Pak, maaf ada keperluan apa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bella pada polisi tersebut saat dia sudah duduk di sofa di dekat polisi tersebut.
"Begini saudari Bella, sebenarnya sudah hampir dua bulan ini saudara anda Gibran, kabur dari lembaga pemasyarakatan."
"APA? GIBRAN KABUR?" teriak Bella yang begitu terkejut mendengar perkataan polisi tersebut.
"Iya saudari Bella, Gibran kabur dari lembaga pemasyarakatan, dan sudah dua bulan ini kami mencarinya namun belum mendapatkan hasil, bahkan belum ada titik terang keberadaan saudara Gibran."
"Astaga, berani sekali dia berulah seperti itu." gerutu Bella sambil menutup mulutnya.
"Ya, karena itulah kami meminta bantuan dan kerjasama saudari Bella untuk membantu kami, jika suatu saat saudari Bella menemukan informasi ataupun jejak dari saudari Gibran kami minta anda untuk bisa bekerjasama dengan kami, karena hukuman saudara Gibran bisa menjadi lebih berat jika terus melarikan diri seperti ini."
"Iya Pak polisi, tentu saja saya akan memberitahu informasi pada anda jika saya menemukan kabar mengenai Gibran."
"Baik saudari Bella, terimakasih atas waktunya dan kerjasamanya, kami permisi terlebih dulu."
"Iya Pak." jawab Bella sambil tersenyum.
"Dasar Gibran bodoh." umpat Bella setelah polisi itu keluar dari rumahnya.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan? Aku harus menemukan Gibran secepatnya sebelum polisi itu menemukannya." kata Bella sambil memijit keningnya, beberapa saat kemudian dia pun berteriak.
"Aha aku punya ide, aku pasti bisa menemukanmu, Gibran." kata Bella sambil tersenyum menyeringai.