
Melihat Rachel yang sudah ada di dalam kantor polisi, Gibran pun semakin panik.
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak ingin semuanya hancur berantakan. Semua yang sudah kulakukan untuk membuat hidup Milan hancur dan merebut Rachel hanya akan sia-sia karena kecerobohan ini. Aku harus bertindak." kata Gibran sambil mengikuti Rachel ke dalam.
Saat Rachel sedang berjalan ke bagian pengaduan masyarakat tiba-tiba Gibran pun mencekal tangannya.
"Ra, kita harus pulang Ra, aku ada urusan mendadak."
"Urusan apa Gibran? Kalau kau ada pekerjaan mendadak kau bisa meninggalkan aku disini bersama Bella."
"Tidak Ra, kau juga harus ikut bersamaku sekarang juga. Kita harus pergi dari sini Ra."
"Memangnya urusan apa hingga aku harus ikut bersamamu sekarang juga? Kenapa kau dan Bella tiba-tiba berubah aneh seperti ini Gibran? Apakah sesuatu telah terjadi pada kalian?"
"Tidak Ra, kami tidak apa-apa hanya saja kita harus secepatnya pergi dari sini."
"Tidak Gibran, aku tidak bisa pergi dari sini tanpa penjelasan yang pasti dari kalian berdua. Aku sangat membutuhkan kartu tanda pendudukku."
"Tidak Almira, tidak sekarang karena aku yang akan membuatkan untukmu!"
"Membuatkan untukku? Kenapa harus kau yang membuatkannya Gibran, apa ada sesuatu yang kalian tutupi? Ada apa sebenarnya?"
"Dengarkan aku Almira, tidak ada apa-apa, kita harus pulang sekarang juga!" kata Gibran sambil menarik tangan Almira menuju tempat parkir.
"Cukup Gibran, kalian berdua memang benar-benar aneh! Sebenarnya apa yang kalian tutupi? Kenapa kalian begitu takut berada di sini? Mulai dari kau Bella yang berpura-pura pingsan. Lalu kau Gibran! Apa kalian menyembunyikan sesuatu? Apa ini ada hubungannya dengan masa laluku?"
Gibran dan Bella pun semakin terlihat panik. Almira kemudian mendekat ke arah Gibran dan berdiri di depannya lalu menatap Gibran dengan tatapan tajam.
"Lihat mataku, Gibran. Apa yang kau sembunyikan dariku? Apakah ada hubungannya dengan masa laluku? Cepat katakan padaku?"
Gibran pun hanya terdiam, tubuhnya terasa menegang menahan perasaannya yang begitu kacau.
"Aku akan memberikan penjelasannya saat di rumah nanti, sebaiknya kita pulang terlebih dulu."
"Tidak Gibran, aku tidak mau pulang sebelum kau memberikan penjelasan padaku. Kau bisa memberi penjelasan di sini Gibran, kenapa kau begitu takut berada di tempat ini? Apa ada kesalahan yang sudah kau lakukan."
"Tidak Ra, aku tidak melakukan kesalahan apapun."
"Benarkah?" tanya Rachel sambil tersenyum kecut.
"Ya, aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun."
__ADS_1
"Kau yakin Gibran?" tanya Rachel disertai tatapan tajam yang membuat jantung Gibran semakin berdegup kencang.
'Breng*ek, kenapa Rachel tiba-tiba bertanya seperti ini padaku? Apa dia mulai curiga padaku atau dia sebenarnya sudah mengingat semua masa lalunya? Ah tidak mungkin, Rachel tidak mungkin mengingat masa lalunya karena aku rutin memberikan obat-obatan itu padanya.' kata Gibran dalam hati.
"Kenapa kau diam Gibran? Jawab pertanyaanku apa kau yakin tidak pernah melakukan kesalahan?"
"Ya, aku yakin."
Rachel pun tersenyum kecut mendengar perkataan Gibran.
"Lalu membuat konspirasi sebuah kecelakaan, pembunuhan berencana, dan pemalsuan identitas apakah itu bukan kesalahan yang pernah kau lakukan?"
Bella yang sedari tadi hanya diam begitu terkejut mendengar perkataan Rachel.
"Astaga." kata Bella sambil menutup mulutnya.
'Rachel sudah tahu semuanya.' kata Bella dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Gibran pun tak kalah terkejutnya dengan kata-kata Rachel, tapi dia mencoba bersikap biasa saja agar tidak terlihat panik.
"Apa yang kau katakan Almira? Aku tidak pernah melakukan semua itu, jika kau mendengarnya dari seseorang dia pasti sedang berbohong padamu."
"Kau yang selama ini berbohong padaku, Gibran. Aku bukanlah Almira tapi aku adalah Rachelll!!!" bentak Rachel pada Gibran yang membuat dia dan Bella begitu terkejut.
Gibran pun kini tidak bisa berkutik, dia lalu menyunggingkan sebuah senyuman. "Jadi kau sudah tahu semuanya? Baik jika kau sudah tahu semua, aku tidak akan berpura-pura lagi padamu, Rachel. Hahahaha."
Bella pun semakin bingung melihat tingkah Gibran, dia lalu mendekat ke arah Gibran.
"Gibran, kenapa kau malah tertawa?"
"Bella, Rachel sudah tahu semuanya untuk apa kita berpura-pura lagi padanya?" kata Gibran dengan senyum menyeringai.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" bisik Bella pada Gibran.
"Ini yang harus kita lakukan." kata Gibran kemudian menarik tangan Rachel menuju ke mobilnya.
"Lepaskan aku!" teriak Rachel. Mendengar teriakkan Rachel, Gibran pun semakin erat mencekal tangannya, namun saat dia sedang membuka pintu mobilnya tiba-tiba sebuah suara begitu mengagetkan dirinya.
"LEPASKAN RACHEL, GIBRAN!" teriak Milan yang kini sudah berdiri tidak jauh dari Gibran.
"Mi.. Milan." kata Bella sambil menelan ludahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Milan bukankah seharusnya kau masih berada di Singapore?" tanya Bella dengan begitu gugup.
Milan pun hanya tersenyum mendengar perkataan Bella.
"Lebih baik kau lepaskan istriku! Sudah cukup selama ini kalian mempermainkan kehidupan kami!" teriak Milan.
"Tidak semudah itu Milan." kata Gibran sambil tersenyum menyeringai.
Milan pun mendekati ke arah Gibran dan mencekal salah satu tangan Rachel.
"Dia istriku!" bentak Milan.
"Istrimu sudah mati setahun yang lalu, Milan!"
Melihat Gibran dan Milan yang sedang bertengkar, Rachel pun kemudian mendekatkan wajahnya pada tangan Gibran dan mengigit tangannya dengan begitu keras.
"AWWWWWW." teriak Gibran. Disaat itulah dia melepaskan tangan Rachel kemudian Rachel berlindung di balik tubuh Milan.
"Jadi kalian berdua telah mempermainkan kami?" tanya Gibran dengan senyum kecut.
"Kau yang terlebih dulu mempermainkan kami dengan semua konspirasi dan tipu muslihat yang telah kau lakukan. Tapi ingat Gibran apapun caramu untuk memisahkanku dan anak istriku jika kami sudah ditakdirkan untuk hidup bersama sekuat apapun kau menutupinya mereka tetap akan kembali padaku!"
"Berdebah! Kau tidak usah menceramahiku, Milan! Bella ayo kita pergi dari sini secepatnya!" teriak Gibran pada Bella yang masih berdiri termenung melihat semua yang ada di hadapannya.
Bella pun mendekat ke arah Gibran, namun sebelum Gibran masuk ke mobilnya, Milan terlebih dahulu menarik tubuhnya dan memberikan bogem mentah di wajahnya lalu menghempaskan tubuhnya hingga terkapar.
"Bre*gesek kau, Milan!" teriak Gibran kemudian mencoba bangkit, namun sebelum Gibran bangkit Milan terlebih dulu menendangnya hingga terkapar kembali ke atas tanah.
"Bawa Gibran dan Bella ke dalam!" teriak Milan. Lalu beberapa orang berperawakan besar pun mendekat pada Gibran dan Bella.
"Hei, mau apa kalian?" teriak Gibran dan Bella bersamaan. Namun orang-orang tersebut hanya diam dan mencekal tangannya kemudian menyeret mereka berdua ke dalam kantor polisi.
"Apa-apaan ini, kalian tidak boleh menyentuhku. Tubuhku bisa gatal kalau disentuh oleh orang-orang seperti kalian berdua!" teriak Bella.
"Lebih baik kau diam atau kami sumpal mulutmu!" jawab anak buah Milan yang membuat Bella terdiam.
Gibran yang tubuhnya sudah penuh luka pun tidak berkutik, dia hanya bisa menatap Milan dan Rachel yang kini sedang berpelukan.
"Awas kau Milan, tunggu pembalasanku selanjutnya." kata Gibran dengan tatapan begitu tajam.
Milan pun kemudian memeluk Rachel. "Milan, apakah ini sudah selesai?" tanya Rachel dengan terisak.
__ADS_1
"Belum, tinggal sedikit lagi." kata Milan sambil memeluk Rachel dan membelai rambutnya.
"Ayo kita selesaikan sekarang Ra." kata Milan kemudian melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Rachel masuk ke dalam kantor polisi.