Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Almira


__ADS_3

Milan kemudian mengusap kasar wajahnya, dia lalu kembali lagi ke dalam butik itu dan bergegas menghampiri salah satu pekerja di butik tersebut.


"Maaf saya mau tanya, siapa sebenarnya wanita yang baru saja keluar dari butik ini?"


"Wanita yang mana Tuan?"


"Emh yang baru keluar dari ruangan itu lalu keluar dari butik ini menggunakan mobil sedan berwarna biru."


"Oh itu Nyonya Almira, dia pemilik butik ini."


"Almira." kata Milan sambil mengerutkan keningnya.


'Jadi dia bukan Rachel? Tapi Almira?' gumam Milan dalam hati.


"Milan, aku sudah selesai. Ayo kita pulang." kata Anya sambil menepuk bahunya.


"Emh.. Iya Nya." jawab Milan kemudian berjalan mengikuti Anya menuju mobil mereka.


"Nya, aku mau tanya sesuatu." kata Milan saat mereka di dalam mobil.


"Tanya apa Milan?"


"Bukankah kamu seorang dokter? Menurutmu di dunia ini apa mungkin ada dua orang yang begitu mirip?"


"Tidak mungkin Milan, kecuali jika mereka adalah kembar identik."


'Apa mungkin Rachel memiliki kembaran? Jika Rachel memiliki kembaran, kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku?' kata Milan dalam hati.


"Kau kenapa menanyakan hal seperti itu Milan?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin sekedar tahu saja. Emhhh Anya, apa itu tadi butik langgananmu?"


"Ya, itu butik baru favoritku dan mama karena produk yang dijual di butik itu sangat berkualitas sesuai dengan selera kami."


"Butik baru? Jadi kau belum lama menjadi pelanggan di butik itu?"


"Ya, karena butik itu memang belum lama dibuka."


"Belum lama dibuka?"


"Ya, kira-kira baru setengah tahun "


"Oh." jawab Milan.


'Siapa sebenarnya pemilik butik itu? Dia hanya mirip dengan Rachel atau memang kembaran Rachel? Atau jangan-jangan Rachel benar-benar masih hidup? Jika Rachel masih hidup, lalu siapa jenazah wanita hamil yang ditemukan bersama dengan Pak Surya?' kata Milan dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya.


'Aku harus menyelidiki semua ini, aku sungguh bodoh kenapa baru terpikir olehku untuk menyelidiki kecelakaan Rachel? Selama ini aku begitu terpuruk sampai melupakan penyebab kecelakaan itu.' gumam Milan lagi.


🍀🍀🍀


Gibran menatap Almira yang kini terlihat asyik menyantap makan siangnya sambil sesekali membalas chat di ponselnya.


"Kamu makan lahap sekali Ra."


Almira pun hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Gibran.


"Di butik banyak sekali pekerjaan Gibran, dan itu sangat menguras energiku." jawab Almira sambil terkekeh.

__ADS_1


"Jangan terlalu lelah Almira, ingat kau pernah mengalami gegar otak ringan di kepalamu."


"Iya.. Iya sayang." jawab Almira sambil mencubit pipi Gibran.


Gibran pun kemudian menggenggam tangan Almira. "Kapan kita bisa menikah Ra?"


"Tunggu sampai aku siap."


"Sampai kapan?"


"Sampai semua ingatanku pulih kembali, Gibran."


"Tapi ini sudah hampir setahun sejak kecelakaan itu Ra, apa kau tega membiarkan aku menunggumu begitu lama?"


"Gibran, mengertilah. Mengalami kecelakaan sampai membuatku mengalami hilang ingatan bukanlah sesuatu hal yang mudah bagiku. Aku harus memulai sesuatu hal dari awal, bahkan aku sampai tak mengingat dirimu."


"Tapi aku butuh kepastian."


"Beri aku waktu."


"Waktu?"


"Ya, beri aku waktu dua bulan. Dua bulan lagi kita menikah." jawab Almira sambil meringis.


"Baik, dua bulan lagi kita menikah." kata Gibran sambil tersenyum dan membelai wajah Almira.


Dia lalu mendekatkan wajahnya pada Almira, namun saat bibir Gibran akan menempel di bibir Almira, tiba-tiba Almira menjauhkan wajahnya.


"Maaf Gibran, aku belum siap, lagipula ini juga di tempat umum." kata Almira.


'Maafkan aku Gibran, entah kenapa aku merasakan ada sesuatu yanga hilang dalam hidupku sejak kecelakaan itu. Maaf sampai saat ini aku belum bisa mencintaimu, Gibran. Aku masih butuh waktu untuk menumbuhkan perasaan cinta ini padamu.' kata Almira dalam hati sambil melihat Gibran yang sedang menyantap makanannya.


🍀🍀🍀


"Anya terlihat sangat cantik." kata Citra pada Milan saat melihat Anya keluar dari kamar setelah dirias untuk menjalani pengajian.


"Memang Anya cantik ma."


"Lalu bagaimana denganmu? Ada begitu banyak wanita cantik di luar sana tapi kenapa kau tidak pernah tertarik pada mereka dan selalu hidup dalam bayang-bayang masa lalumu?"


"Mamaaaa, tolong jangan tanyakan itu pada Milan. Mengertilah, Milan belum siap ma."


"Sudah setahun berlalu Milan, biarkan Rachel beristirahat dengan tenang."


"Memangnya mama yakin jika Rachel memang benar-benar sudah meninggal?"


"Milan! Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Memangnya kau pikir mama sudah membohongimu?"


"Tidak ma, Milan tidak pernah berfikir kalau mama membohongi Milan. Milan hanya tidak yakin jika jenazah itu adalah Rachel."


"Milan sadarlah, ini bukan mimpi Nak. Mama lihat sendiri di rumah sakit ada dua jenazah yang ditemukan di dalam mobil itu. Satu jenazah laki-laki, dia adalah almarhum Pak Surya dan satu lagi jenazah seorang wanita hamil. Memang saat itu tubuh mereka telah hangus terbakar tapi mama yakin dia adalah Rachel. Maafkan mama, karena memang saat itu mama yang menyuruh Rachel pergi ke rumah sakit sendirian hanya diantar Pak Surya."


Milan pun terdiam mendengar perkataan mamanya.


'Jika Rachel benar-benar sudah meninggal, jadi siapa sebenarnya Almira?' kata Milan dalam hati.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Gibran mengehentikan pekerjaannya saat melihat ponselnya tampak berdering berkali-kali.


"Bella." kata Gibran.


[Ada apa Bella.]


[Kau dimana, Gibran?]


[Tentu saja di kantor, Bella.]


[Gibran, apa kau sudah mau membujuk Rachel agar mau menikah denganmu?]


[Sebentar lagi kami akan menikah.]


[Syukurlah, kapan kalian menikah?]


[Dua bulan lagi.]


[Itu masih lama Gibran!]


[Memangnya kenapa?]


[Kenapa kau begitu bodoh Gibran, membujuk Rachel saja sampai satu tahun!]


[Hei jangan menyebutku bodoh Bella, apa kau tidak lihat bagaimana dirimu? Memangnya kau sudah bisa membuat Milan jatuh cinta padamu lagi?]


[Itu berbeda Gibran! Milan saat ini masih patah hati! Sedangkan yang kau hadapi adalah Rachel yang kau buat hilang ingatan agar bisa melupakan masa lalunya! Menaklukkan wanita yang hilang ingatan saja kau sangat kewalahan, benar-benar payah!]


[Bella hari ini aku tidak ingin berdebat denganmu, jika kau menelponku untuk membodohiku lebih baik tutup teleponmu.]


[Tidak Gibran, bukan itu sebenarnya yang ingin kukatakan.]


[Lalu apa?]


[Berhati-hatilah karena saat ini Milan sedang berada di Bandung.]


[Hahahaha memangnya kenapa? Bandung itu luas Bella.]


[Dasar bodoh! Bagaimanapun juga kau tetap harus waspada apalagi saat ini Rachel memiliki sebuah butik! Bagaimana jika Milan mendatangi butik Rachel?]


[Hahahaha, kau ada-ada saja Bella, mana mungkin Milan datang ke butik wanita?]


[Kenapa kau malah meledekku, Gibran? Aku hanya bermaksud baik padamu tapi kau malah meledekku seperti ini!]


[Iya baik Bella, maafkan aku, aku akan berhati-hati.] kata Gibran sambil terus tertawa terbahak-bahak.


[Dasar breng*ek!] umpat Bella sambil menutup teleponnya.


🍀🍀🍀


Milan duduk di dalam mobilnya sambil mengamati seorang wanita yang kini keluar dari sebuah butik dan berjalan ke arah mobilnya.


"Ra." kata Milan sambil meneteskan air mata.


"Apa ada yang memanggilku?" kata Almira sambil menolehkan wajahnya.


'Tidak ada orang, mungkin hanya perasaanku saja.' kata Almira dalam hati sambil masuk ke mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2