Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Pemakaman


__ADS_3

"Hari ini kau cantik sekali Bella, lebih cantik dibandingkan dulu." kata Milan sambil mencium punggung tangan Bella.


"Terimakasih Milan." jawab Bella dengan malu-malu.


"Bella, aku dengar dari mama kau sudah tidak tinggal di rumah yang dulu?"


"Ya, aku memang sudah pindah Milan, sudah hampir dua tahun aku pindah."


"Aku? Apa kau kini tinggal sendirian?"


"Ya, kini aku tinggal sendiri."


"Lalu dimana Gibran?"


"Oh, dia tinggal di Bandung, sejak kejadian itu dia memindahkan perusahaan kami ke Bandung."


'Jadi benar, sudah lama Gibran pindah ke Bandung.' gumam Milan.


"Kejadian itu? Apa maksudmu kejadian itu Bella? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada kehidupan kalian berdua?" tanya Milan lagi pada Bella.


"Oh itu semua terjadi karena Vania, dia ternyata menghianati Gibran, dia berselingkuh di belakang Gibran, namun bodohnya Gibran dia malah membalik nama aset miliknya menjadi atas nama Vania, karena itulah mama begitu syok dan dia akhirnya meninggal."


"Astaga."


"Ya, tapi akhirnya kami bisa merebut perusahaan kami kembali."


"Oh, syukurlah. Lalu bagaimana dengan nasib Vania?"


"Entahlah, setahuku dulu dia sedang mengandung anak dari selingkuhannya, setelah itu aku tidak tahu kabarnya lagi. Dia menghilang begitu saja."


'Jadi saat kejadian itu Vania dan Gibran sudah bercerai? Dan kemungkinan Gibran lah juga yang membuat konspirasi agar Vania menaiki mobil Rachel karena tahu dia juga sedang hamil? Kau benar-benar licik Gibran, Kau ingin membalas dendam pada Vania sekaligus membuat alibi kematian Rachel. Aku harus menyelidiki semua ini, aku harus menyelidiki kenapa saat itu Vania ikut menaiki mobil Rachel.' kata Milan dalam hati.


"Milan, kenapa kau diam?"


"Tidak apa-apa aku hanya sedang memandangmu karena aku begitu merindukanmu, Bella."


"Milan, bagaimana jika kita menikah saja? Bukankah kita sudah saling mengenal sejak dulu."


"Iya Bella kau tenang saja, kita tunggu waktu yang tepat."


'Waktu yang tepat untuk membongkar kejahatanmu dengan Gibran.' kata Milan dalam hati.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈ


"Kenapa kau terlihat sangat murung Ra?" tanya Gibran saat sedang makan malam bersama Almira.


"Eh.. Gibran, bukankah kita akan menikah?"


"Ya tentu saja."


"Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hatiku Gibran."

__ADS_1


"Kenapa Ra?"


"Bukankah kau bilang mamaku sudah meninggal?"


"Ya, mamamu sudah meninggal karena tumor otak."


"Gibran, sebelum kita menikah maukah kau mengantarku ke pemakaman mama?"


"Tapi mamamu dimakamkan di Jakarta Ra."


"Di Jakarta? Jadi kami pernah tinggal di Jakarta?"


"Ya, kalian dulu tinggal di Jakarta. Namun setelah mamamu meninggal kau pindah ke Bandung."


'Bukankah Gibran bilang aku dulu sangat menyayangi mama, tapi kenapa aku sampai meninggalkan mama yang dimakamkan di Jakarta sedangkan aku hidup di Bandung?' kata Almira dalam hati.


"Oh, jadi kau bisa kan mengantarkan aku ke makam mama besok?" tanya Almira pada Gibran.


"Apa besok? Mendadak sekali Ra. Besok aku sudah memiliki janji untuk meeting. Apa tidak bisa ditunda?"


"Gibran, aku bisa mengunjungi makam mama sendirian. Kau tinggal memberikan alamatnya padaku."


"Aku tidak tega membiarkanmu pergi ke Jakarta sendirian Ra."


"Gibran, Jakarta tidaklah asing bagiku, bukankah kita sering pergi ke Jakarta? Ke rumah Bella, aku hafal jalan-jalan di Jakarta, Gibran."


Gibran pun mengerutkan keningnya. Namun saat Gibran akan menjawab tiba-tiba ponsel Gibran berbunyi.


"Sebentar Ra, Bella menelponku."


Gibran pun berjalan menjauhi Almira.


[Ada apa Bella? Kau menggangguku saja.]


[Gibraannnnn!!!] teriak Bella di ujung sambungan telepon. Gibran pun menjauhkan ponselnya dari telinganya.


[Ada apa Bella? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu? Telingku sakit!]


[Gibran akhirnya aku berhasil!]


[Berhasil? Apa maksudmu?]


[Milan Gibran, Milan sudah mau kembali padaku.]


[Apa? Benarkah?]


[Ya, dan kami baru saja berkencan. Selain itu kami juga berencana untuk menikah.]


[Ini kabar yang sangat bagus, Bella.]


[Ya, tentu saja.]

__ADS_1


[Tapi kau tetap harus waspada, pastikan Milan selalu dalam genggamanmu dan jangan sampai lengah.]


[Iya Gibran, kau tenang saja, aku tahu sejak dulu sebenarnya Milan sangat mencintaiku. Dia tidak akan berpaling pada wanita lain, apalagi Rachel kini sudah tidak ada di sampingnya.]


[Iya, biar aku disini yang mengurus Rachel.]


[Iya Gibran.]


Gibran pun kemudian menutup panggilan dari Bella dan berjalan mendekat pada Almira.


'Jika Milan sudah mau kembali pada Bella, tentu ini akan sangat menguntungkan bagiku karena aku tak perlu takut jika Milan masih belum menerima kenyataan akan kematian Rachel.' kata Gibran dalam hati.


"Ra, aku mengijinkanmu pergi ke makam mamamu sendirian. Aku akan memberikan alamat pemakaman mamamu."


Raut wajah Almira pun begitu bahagia. "Terimakasih banyak Gibran."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Milan menatap sebuah nisan yang kini ada di depannya. Dia lalu mengelus sebuah nama di nisan tersebut.


"Belum saatnya namamu tertulis di nisan ini Ra."


Dia lalu mengalihkan pandangannya ke atas gundukan tanah di depannya. "Sudah setahun ini setiap hari aku selalu mengunjungimu, aku berpikir jika kau adalah istriku. Doa yang kupanjatkan serta untaian kata yang selalu kuucapkan ternyata bukan untuk jasad yang ada dibawah gundukan tanah ini, sekarang aku tidak akan membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut. Kau juga pantas mendapatkan doa dari orang-orang yang menyayangimu, Vania. Maaf jika mungkin aku akan mengusikmu, tapi percayalah ini yang terbaik untuk kita semua."


Milan lalu berdiri, saat membalikkan tubuhnya dia begitu terkejut karena melihat Almira yang kini sedang berjalan menuju ke makam ibu kandungnya yang berada di samping makam Rachel. Saat pemakaman Rachel, Milan memang meminta jenazah Rachel dikuburkan di samping makam ibunya karena Milan tahu jika Rachel sangat menyayangi ibu kandungnya.


"Almira?" kata Milan yang membuat Almira begitu terkejut melihat sosok Milan yang kini ada di depannya.


"Ka..Kau?"


"Untuk apa kau kesini Almira? untuk apa kau mengunjungi makam ini, itu adalah makam mama mertuaku." kata Milan sambil tersenyum kecut.


"Ti.. Tidak mungkin, Gibran mengatakan jika ini adalah makam mamaku."


"Heh, apa belum cukup itu untuk membongkar kebohongan Gibran? Ini adalah makam mertuaku dan kau sebenarnya adalah istriku."


"Tidak mungkin, kau jangan mengada-ada. Gibran laki-laki yang sangat baik, tidak mungkin dia membohongiku. Lagipula aku juga tidak mengenalmu."


"Suatu saat jika aku memiliki semua bukti kau juga akan mengerti Ra."


"Sudah cukup lebih baik kau pergi sekarang juga, aku ke makam mama untuk meminta restu karena sebentar lagi aku akan menikah."


"Menikah?"


"Ya, aku akan menikah."


"Dengan Gibran?"


Almira pun mengangguk. Sedangkan Milan pun tersenyum kecut. "Kau tidak bisa menikah dengan Gibran karena kau masih sah menjadi istriku."


"Bukankah sudah berulangkali kukatakan jika aku bukanlah istrimu."

__ADS_1


Milan pun kemudian berjalan mendekat pada Almira lalu mencengkeram tangannya dengan begitu erat.


"Ikut aku, akan kutunjukkan bukti jika kau adalah istriku." kata Milan kemudian menarik tangan Rachel keluar dari area pemakaman.


__ADS_2