
"Baik." jawab Gibran dengan menahan rasa dongkol di dalam dadanya.
"Tidak hanya itu, kau juga harus menikahi Riana."
"Apa?"
"Kenapa kau terkejut? Bukankah tadi kau mengatakan akan bertanggung jawab pada Riana?"
"Iya, tapi kau tahu sendiri jika statusku adalah buronan, aku tidak mungkin menikahi Riana, ini sangat beresiko, Arvin."
"Untuk sementara kalian menikah siri terlebih dulu." kata Arvin sambil memandang Gibran dan Riana yang masih terdiam.
"Baik, besok aku akan menikahi Riana." kata Gibran sambil menatap Arvin dengan tatapan tajam.
"Kupegang janjimu untuk tidak meninggalkan Riana!"
"Tentu saja."
"Satu lagi."
"Ada apa lagi?"
"Tolong jangan sampai Bella tahu hal ini."
"Memangnya kenapa? Dia saudariku, hanya dia keluarga terdekatku yang aku punya saat ini."
"Tolong jangan katakan apapun pada Bella, karena aku belum sanggup untuk bertemu dengannya lagi, aku tidak sanggup bertemu dengan dia dan kekasih barunya." jawab Arvin yang membuat Gibran tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Hahahaha."
"Lebih baik kau diam Gibran, atau kau akan kulaporkan ke polisi sekarang juga."
"Baik, baik. Hahahaha, aku hanya benar-benar tak menyangka jika kau ternyata begitu lemah. Bukankah dulu kau hanya memperalat Bella, tapi kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini? Hahahaha."
"Itu bukan urusanmu, tutup mulutmu sekarang juga atau detik ini juga kau akan kulaporkan ke polisi."
"Baik, baik Arvin." kata Gibran sambil menutup mulutnya.
Dia lalu mendekat ke arah Riana.
"Riana, sebaiknya kau istirahat saja. Ini sudah malam."
Riana pun hanya diam, kemudian menatap tajam ke arah Gibran. "Jangan sentuh aku, aku memang mempertahankanmu disini tapi ini semua hanya untuk anak kita, aku sebenarnya sudah begitu muak melihatmu, Gibran." kata Riana kemudian meninggalkan Gibran dan Arvin lalu masuk ke dalam kamarnya.
Arvin pun kemudian ikut tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya? Sakit kan?" kata Arvin sambil tersenyum kecut. Gibran lalu berjalan ke arah kamarnya namun tiba-tiba Arvin mencegahnya.
"Kau mau kemana? Itu kamarku, bukan kamarmu!" teriak Arvin pada Gibran.
'Kurang ajar, dia benar-benar menyusahkan aku. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi.' kata Gibran dalam hati, kemudian dia berjalan ke ruang tengah lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruangan tersebut.
"Apa kau benar-benar mencintainya?" tanya Arvin pada Gibran.
"Tentu saja."
"Tapi aku tidak yakin."
"Heh, enak sekali kau berkata seperti itu! Bukankah yang sering mempermainkan perasaan wanita itu kau Arvin bukan aku!"
Arvin pun kemudian tersenyum.
"Itulah kesalahan terbesarku."
"Jadi kau sudah mengakuinya."
"Tentu bukankah tadi sudah kukatakan padamu jika aku sedang berusaha memperbaiki kesalahanku dulu."
Arvin pun kemudian terdiam lalu mengambil nafas panjang. "Gibran, aku minta maaf padamu. Dulu aku begitu berambisi untuk menguasai semua hartamu." kata Arvin yang membuat Gibran begitu terkejut lalu menatap Arvin dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?"
"Bagus jika kau menyadari semua kesalahanmu."
"Ya, karena awalnya aku memang benar-benar mencintai Bella, tapi pada suatu hari, Bella memperkenalkanku dengan Vania saat kami berada di pesta ulang tahun teman mereka. Vania menyatakan rasa cintanya padaku dan terus merayuku untuk bekerjasama menguasai harta kalian. Saat itu, aku memang tidak bisa berfikir panjang karena perusahaan papa sedang mengalami masalah, sehingga aku mengiyakan semua rencana Vania."
"Sekali lagi, maafkan aku, namun sayangnya aku baru menyadari itu saat aku telah kehilangan semuanya. Kehilangan Vania, dan kehilangan cinta dari Bella."
Gibran pun termenung mendengar perkataan Arvin. 'Aku benar-benar tidak percaya, dia berkata seperti itu.' gumam Gibran dalam hati.
"Kapan kau bermain-main di belakangku dengan Vania?"
"Saat aku sedang mengambil program masterku di London, beberapa bulan sebelum kau menikah dengannya. Saat itu aku sedang liburan semester dan pulang ke Indonesia, lalu kami bertemu di pesta teman ulang tahun teman Bella dan Vania. Vania tertarik padaku lalu menyatakan perasaannya padaku. Gibran, sebelum terlambat aku tidak ingin kau merasakan yang aku rasa, kehilangan cinta dari orang yang paling kau cintai itu sangatlah menyakitkan."
"Aku juga minta maaf sudah menyebabkan Vania kecelakaan."
"Sudahlah Gibran, itu semua sudah berlalu. Aku sudah berulangkali menasehati Vania untuk hidup apa adanya tapi dia selalu menolak nasehatku, itu semua juga terjadi karena ketamakannya. Dan kau sudah mendapatkan hukuman dari semua perbuatanmu kan?" kata Arvin sambil tersenyum kecut.
"Ya, seharusnya seperti itu. Tapi aku malah melarikan diri dan nasib mempertemukan kita kembali."
"Mungkin inilah saatnya kita untuk saling memaafkan semua dendam kita di masa lalu dan memulai kehidupan baru yang lebih baik."
__ADS_1
"Ya, kau benar Arvin, kau kini memang benar-benar jauh berbeda. Kau ternyata sudah begitu banyak berubah."
Arvin pun kemudian tersenyum.
"Bukankah tadi sudah kukatakan, aku baru bisa menyadari kesalahanku saat aku kehilangan semuanya."
"Kehilangan Vania?" tanya Gibran, tapi Arvin hanya tersenyum.
"Kehilangan Bella?" tanya Gibran kembali, namun Arvin terdiam, hanya ada air mata yang mulai keluar dari ujung matanya.
"Aku tidur dulu." kata Arvin kemudian masuk ke dalam kamarnya.
'Jadi dia benar-benar mencintai, Bella?' gumam Gibran dalam hati.
πΏππΏπΈπΈπΏπΈ
Bella membuka matanya saat sinar matahari mulai memasuki celah-celah jendela kamarnya.
"Oh ini sudah pagi?" kata Bella kemudian bangun dari atas ranjangnya.
"Oh tidak, astaga." kata Bella saat melihat jika dia ternyata tidur tanpa mengganti bajunya dan tertidur diantara isi barang-barang yang ada di dalam kardus milik Arvin.
"Jadi aku tertidur karena terlalu lelah menangis?" kata Bella lagi.
Dia lalu bangun dari tempat tidurnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menatap wajahnya di cermin.
"Astaga ternyata aku begitu berantakan." kata Bella sambil menatap wajahnya.
"Wajahku lengket sekali, oh tidak aku bahkan sampai tidak membersihkan wajahku sebelum tidur, semoga saja ini tidak menimbulkan jerawat." kata Bella kemudian membasuh wajahnya.
Dia kemudian mengamati wajahnya kembali di cermin dan melihat matanya yang tampak bengkak.
"Oh tidak, mataku, mataku sampai seperti ini." gerutu Bella.
"Lebih baik sekarang aku mandi lalu menutup wajah senduku ini dengan menggunakan make up, meskipun aku sedang sedih aku tidak boleh terlihat berantakan." kata Bella. Dia kemudian berjalan ke bathtub, lalu menenggelamkan tubuhnya ke dalam bathtub itu.
Beberapa saat kemudian, Bella yang sudah selesai mandi kini tampak sibuk merias wajahnya.
"Ini sudah jauh lebih baik." kata Bella sambil tersenyum.
"Hari ini aku akan mencari keberadaan Arvin, aku tidak boleh larut dalam kesedihanku. Bagaimanapun juga, Arvin harus tahu jika aku sedang mengandung darah dagingnya." kata Bella sambil merapikan penampilannya. Tiba-tiba suara ketukan pun terdengar di pintu kamarnya.
TOK TOK TOK
"Masuk saja Bi, pintunya tidak dikunci." jawab Bella. Namun saat pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Bella karena yang mengetuk pintu itu bukanlah pembantunya, tapi Evan.
__ADS_1
"Evan." kata Bella sambil menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Evan yang kini memasuki kamarnya.
"Selamat pagi Bella." kata Evan sambil tersenyum.