
Mendengar perkataan Evan, Arvin pun bergegas melayangkan tinjunya kembali ke bagian perut Evan, tubuh Evan yang mendapat serangan dadakan kembali pun tak dapat menghindar, dia akhirnya kembali terhempas ke atas lantai.
"DASAR BAJINGAN KAU EVAN!!! BERANI SEKALI KAU BERKATA SEPERTI ITU DI DEPANKU!!"
"Memang itulah kenyataannya, anak yang ada di dalam kandungan Bella adalah darah dagingku. Hahahaha." kata Evan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kau hiduplah dengan kebodohanmu Arvin karena mau saja dibohongi oleh Bella!!"
"Cuih!!" Arvin kemudian meludahi Arvin yang kini masih terkapar di atas lantai.
"Brengsek!!! Berani sekali kau meludahiku Arvin! Bajingan kau!"
"Kau memang pantas diludahi karena kau memang seperti kotoran! Mulutmu sangatlah kotor! Sudah berulangkali kukatakan padamu jika aku sangat mengenal Bella jauh sebelum dirimu! Aku tahu kapan saat dia berbohong dan berkata jujur padaku!"
"Itu karena seumur hidupmu hanya kau habiskan untuk mengejar cinta Bella kan? Dasar bodoh, karena kebodohanmu itulah kau dengan mudah tertipu oleh Bella! Ingat Arvin, Bella tidak hanya pernah tidur denganmu saja karena dia pun pernah tidur denganku!!!"
"Lebih baik kau tutup mulutmu! Memangnya aku bodoh bisa dipengaruhi oleh orang licik sepertimu! Bagaimana bisa Bella mengandung darah dagingmu jika kalian saja baru menjalin hubungan satu minggu yang lalu, itu pun hanya bertahan satu hari karena Bella menyadari jika dia sedang mengandung darah dagingku!"
"Dasar breng*ek kau, Arvin!"
"Lebih baik kau pergi dari sini secepatnya sebelum kupanggil security untuk mengusirmu dari sini! Jangan lupa kemasi barang-barangmu karena aku juga menecatmu dengan tidak hormat!" bentak Arvin.
Evan yang kini merasa putus asa karena hasutannya pada Arvin gagal akhirnya meninggalkan ruangan Arvin dengan begitu tergesa-gesa, dia kemudian bergegas ke ruangannya lalu mengambil semua barang-barangnya lalu berjalan dengan mendapat tatapan dari seluruh karyawan kantor karena tubuhnya yang penuh luka lebam. Bisik-bisik para karyawan yang melihat Evan pun terasa begitu mengganggu telinganya hingga membuat Evan berteriak.
"APA KALIAN TIDAK BISA DIAM!" teriak Evan yang membuat karyawan yang ada di kantor tersebut berhenti memandang dan membicarakannya.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Rafly yang kini keluar dari ruangannya. Dia lalu mendekat pada Evan sambil tersenyum.
"Bukankah sudah kuperingatkan, agar kau jangan berani macam-macam disini? Tapi kau tak mengindahkan semua kata-kataku. Kuperingatkan padamu Evan, yang kau hadapi bukanlah manusia bodoh tapi mereka jauh lebih berpengalaman dan lebih bajingan dibandingkan dirimu. Sekarang lebih baik kau pergi dari sini dan jangan buat keributan lagi." kata Rafly.
Evan pun hanya bisa melirik Rafly dengan tatapan penuh kebencian lalu pergi dari gedung kantor itu dengan emosi yang begitu menyelimuti hatinya. Rafly pun kemudian mendekat pada Arvin yang menatap kepergian Evan dari dalam ruangannya.
"Bagaimana Tuan Arvin, apakah sebaiknya kita melaporkan semua kejahatan Evan pada polisi?"
"Tidak Pak Rafly, jika kita melaporkan hal ini pada kepolisian maka akan membahayakan keamanan Gibran, karena mereka pasti curiga darimana kita mendapatkan surat kuasa pergantian kepemimpinan di perusahaan ini sedangkan Gibran saat ini masih berstatus sebagai buronan."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Aku akan berbicara dengan Gibran, biar anak buahnya saja yang mematikan langkahnya agar dia tidak bisa membalas dendam pada kita."
__ADS_1
"Baik Tuan Arvin, saya permisi."
"Silahkan."
Arvin lalu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Gibran.
[Halo Gibran.]
[Ada apa, Arvin?]
[Dia ternyata lebih berbahaya daripada yang kita pikirkan, banyak sekali data manipulatif di perusahaan ini.]
[Berapa kerugian perusahaan kita?]
[Aku belum menghitungnya, kemungkinan mencapai empat ratus juta.]
[APAAA EMPAT RATUS JUTA?] teriak Gibran.
[Ya, sekitar empat ratus juta, untungnya hanya baru satu proyek palsu yang dananya baru bisa dicairkan. Sedangkan yang lain masih bisa kita selamatkan.]
[DASAR BREN*SEK!! BAJINGAN KAU EVAN.]
[Iya Arvin, aku akan menyuruh anak buahku untuk membuat perhitungan dengannya lagi.] kata Gibran kemudian menutup telepon dari Arvin.
🌿🌸🌿🌸🌿🌸
JEBRET
Evan membuka pintu apartemennya dengan begitu keras. Seorang wanita yang ada di dalam apartemen tersebut pun terkejut dengan kedatangan Evan.
"Evan, kenapa tubuhmu penuh luka seperti ini?" kata wanita tersebut, dia lalu mendekat ke arah Evan lalu mengamati luka yang ada di tubuh Evan.
"Lebih baik sekarang kau duduk saja dulu, biar kuobati lukamu."
"Ini semua gara-gara suami Bella, Celine." kata Evan saat merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Suami Bella? Apakah dia tahu kau pernah berhubungan dengannya lalu dia memukulimu seperti ini?" jawab Celine sambil mengobati luka di wajah Evan.
"Bukan Celine, bukan itu. CEO baru di kantorku ternyata adalah suami Bella, dia tahu jika aku telah melakukan berbagai manipulasi data di kantor."
__ADS_1
"APAAAA? Lalu nasibmu bagaimana, Evan? Apakah mereka melaporkanmu ke polisi?"
"Tidak, mereka tidak melaporkanku ke polisi."
"Benarkah?"
"Ya, mereka tidak melaporkanku ke polisi."
"Kau sungguh beruntung Evan, mungkin mereka sedang baik padamu." kata Celine dengan begitu polosnya.
Evan pun tampak berfikir dia lalu mengernyitkan keningnya. 'Ini memang terasa begitu aneh, bukankah mereka memiliki bukti yang kuat? Aku harus menyelidiki semua ini, tampaknya mereka sedang tidak mau berhubungan dengan polisi. Apakah ini artinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan? Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan Gibran?' gumam Evan.
"Kau kenapa Evan?" tanya Celine yang kini sudah selesai mengobati luka di wajah Evan.
"Celine coba kau pikir, bukankah ini hal yang begitu aneh? Mereka tidak melaporkan kejahatanku pada polisi padahal mereka mempunyai banyak bukti kecuranganku di perusahaan itu."
"Evan bukankah sudah kukatakan padamu mungkin nasibmu sedang beruntung."
"Tidak Celine, kupikir bukan hanya itu."
"Lalu?" tanya Celine yang kini begitu penasaran.
"Pasti ada sesuatu yang mereka tutupi, aku yakin itulah alasannya, untuk beberapa waktu mereka pasti sedang tidak ingin berhubungan dengan polisi karena sesuatu hal."
"Evan, aku sungguh-sungguh tidak mengerti apa yang kau maksud."
"Maksudku adalah Gibran. Pemilik perusahaan tersebut yang saat ini sedang menjalani masa tahanan. Aku curiga sesuatu telah terjadi pada Gibran sehingga mereka tidak mau berhubungan dengan polisi."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Memasuki rumah Bella saja sekarang kau tidak bisa, apalagi menyelidiki keberadaan Gibran."
Evan pun kemudian tersenyum.
"Apakah menyelidiki keberadaan Gibran harus mendatangi rumah Bella? Tidak Celine, terlalu naif jika kita berbuat seperti itu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Celine sayang, kau mau kan membantuku?"
"Tentu saja. Apa yang harus kulakukan?"
__ADS_1
Evan pun tersenyum menyeringai kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Celine lalu keduanya tertawa terbahak-bahak.