
"Apa maksud Evan, kau tidak usah berbelit-belit hanya untuk mengulur waktu."
Evan lalu tersenyum kecut.
"Arvin apa kau dan Gibran sudah lupa akan masa lalu kalian?"
"Masa lalu?" kata Arvin sambil memandang Milan.
"Jadi kau sudah lupa karena kau kini hidup bahagia dengan Bella? Kau sudah lupa pada wanita yang sudah kau sia-siakan padahal saat itu dia sedang mengandung darah dagingmu?"
"Apa maksudmu? Aku hanya memiliki anak dari Bella!"
"Heh, jadi kau juga sudah lupa dengan mantan istrimu? Tepatnya mantan istri yang meninggal karena ulah Gibran dan Bella."
"Vania?" jawab Milan sambil menatap Evan.
"Hahahaha, bahkan temanmu lebih pintar dibandingkan dirimu, Arvin."
"Apa hubungannya Vania dengan dirimu?" tanya Arvin sambil mengerutkan keningnya pada Evan.
"Kau pernah menjadi kekasih bahkan suami dari Vania kan? Kau pasti ingat Vania memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat dia benci, dan dia adalah aku. Hahahaha."
"Arvin, jadi Vania memiliki seorang kakak laki-laki?" bisik Milan pada Arvin.
"Iya Milan, dia memang memiliki seorang kakak laki-laki yang bekerja di Singapura. Dan aku memang tidak pernah melihatnya karena sejak dulu mereka tidak pernah akur jadi Vania tidak pernah menunjukkan fotonya padaku."
"Kalian jangan berbisik di depanku karena aku ada di sini. Hahahaha."
"Jadi kau ingin balas dendam akan kematian Vania pada Arvin dan Gibran?"
"Heh, cuih. Aku tidak membalas dendam atas kematian wanita itu, meskipun dia adikku aku sangat membencinya, karena sejak kecil aku dikucilkan oleh papaku itu semua karena perbuatannya!"
__ADS_1
"Jika kau membenci Vania, kenapa kau dendam pada Arvin dan Gibran?"
"Hahahaha, ini bukan tentang Vania tapi tentang mama. Sejak kau datang ke rumah untuk memberikan hasil tes DNA mengenai jenazah Vania yang terkubur di makam milik Rachel, mama begitu terpuruk. Aku lalu pulang ke Indonesia saat proses pemindahan jenazah."
Evan lalu mengalihkan pandangannya pada Arvin.
"Arvin, sekarang kutanyakan padamu, saat pemindahan jenazah Vania bahkan kau tidak hadir kan? Kau malah sibuk mengikuti perkembangan kasus Bella! Dimana hati nuranimu Arvin!!!"
"Maaf."
"Maaf katamu? Mama menunggu kedatanganmu sebagai mantan suami dari Vania tapi kau malah sibuk memikirkan wanita lain! Kau tahu bagaimana hancurnya hati mama! Mantan suami pertama dari Vania telah membunuhnya lalu kau sebagai suami keduanya juga tidak pernah memiliki sedikitpun perhatian padanya! Hati mama begitu hancur melihat tingkah kalian, dia begitu sedih memikirkan nasib Vania yang malang memiliki suami seperti kau dan Gibran!"
"Maafkan aku, saat itu aku begitu menyesal akan semua yang kulakukan pada Bella. Aku sangat menyesal akan kejahatan yang kulakukan bersama Vania pada Gibran dan Bella, jadi aku mengabaikan Vania begitu saja."
"Dasar laki-laki biadab! Kau sama biadabnya dengan Gibran yang dengan sengaja membunuh Vania hanya untuk kepentingan pribadinya! Bahkan sengaja mengumpankan Vania agar dia meninggal dalam kecelakaan itu! Kalian semua memang benar-benar BRENG**KKKKK!!!"
Arvin dan Milan pun hanya saling berpandangan sambil menatap Evan yang kini mulai meneteskan air matanya.
"Evan tenang, Evan." kata Milan sambil mendekat pada Evan yang kini mulai menangis dengan begitu tersedu-sedu sambil bersimpuh di atas tanah. Celine pun juga mendekat ke arah Evan lalu mengelus punggungnya dan menenangkannya.
"Evan, tenangkan dirimu." kata Celine sambil menggenggam tangan Evan.
"Evan, semuanya sudah berlalu. Lebih baik kau ikhlaskan semua yang telah terjadi." kata Arvin yang ikut mendekat ke arah Evan.
"Apa katamu? Kalian tidak melihat bagaimana sakitnya perasaanku saat melihat mama yang terkena tekanan mental akibat ulah Gibran dan Bella! Dia menangis terus menerus hingga membuat mentalnya tertekan dan akhirnya dia meninggal!! Coba kalian pikir bagaimana hancurnya perasaanku!"
"Jadi kau sengaja berpura-pura mencintai Bella hanya untuk membalas dendam saja?"
"Ya, aku berpura-pura mencintai Bella hanya untuk balas dendam, aku ingin Bella tergila-gila padaku lalu saat dia sudah sangat mencintaiku aku akan meninggalkannya begitu saja! Namun rencanaku gagal itu karena kau, Arvin! Aku sudah berhasil membuat Bella jatuh cinta padaku dan menjadi kekasihku! Tapi kau sudah menghancurkan segalanya! Bella hamil anak darimu lalu pergi meninggalkanku begitu saja untuk mencarimu! DASAR BRE*GSEK!!"
"Aku juga ingin menguasai perusahaan milik Gibran agar melihat kalian semua hidup menderita dalam kemiskinan! Aku ingin menghancurkan Bella dan Gibran sampai pada titik terendah dalam kehidupan mereka!"
__ADS_1
Arvin lalu tersenyum kecut.
"Itu sudah menjadi kuasa Tuhan, Dia tidak menghendaki semua kejahatan yang akan kau lakukan itu berhasil. Meskipun Bella telah melakukan kesalahan yang begitu fatal tapi dia telah menyesali semua kesalahan yang pernah diperbuat olehnya. Dia sudah bertaubat dan memperbaiki dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, mungkin karena itulah kejahatan yang akan kau lakukan pada Bella tidak dikehendaki oleh Tuhan sehingga semua rencana itupun gagal, begitupula dengan Gibran, saat ini dia juga sudah bertaubat dan menyesali semua perbuatan jahatnya. Seharusnya kalian semua bisa saling memaafkan satu sama lain, karena kesalahan bukan hanya ada di pihak Gibran dan Bella saja, tapi juga Vania."
"Lancang sekali kau berkata seperti itu, Arvin!"
"Memang itulah kenyataannya, Gibran saat itu sangat mencintai Vania dengan sepenuh hati tapi Vania malah menusuknya dari belakang. Jika saja Vania tidak melakukan semua itu pada Gibran, dia tidak akan berbuat jahat padanya."
"Jadi kau juga menyalahkan adikku? Bukankah saat itu kau juga berkomplot dengannya?"
"Ya, tapi aku juga sudah menyadari semua kesalahanku tapi adikmu tidak, dia tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki. Ingat Evan jika Vania tidak serakah, dia pasti tidak akan masuk dalam bujuk rayu Gibran, jika dia tidak serakah dia pasti tidak harus mengalami kejadian tersebut karena saat itu aku sudah mengatakan pada Vania agar tidak berhubungan dengan Gibran lagi tapi dia mengabaikan nasehatku hingga akhirnya dia mengalami kejadian itu."
"Dasar BRE*GSEK kau Arvin! Kau masih saja menyalakan adikku!"
"Evan, sebenarnya semua sudah berlalu. Gibran dan Bella sudah mendapatkan hukuman atas kesalahan mereka, lebih baik kau menata hidupmu kembali. Aku akan membuat kesepakatan denganmu, aku tidak akan melaporkan semua kejahatan yang telah kau lakukan asal kau melupakan semua yang telah terjadi, tolong kau jangan mengusik kehidupan kami lagi. Lupakanlah semua yang telah terjadi, kita semua pernah melakukan kesalahan, lebih baik kita memulai lembaran baru tanpa dendam diantara kita."
"TIDAK SEMUDAH ITU ARVIN!"
"Baik kalau kau tetap keras kepala, aku akan tetap melaporkan kejahatanmu pada yang berwajib."
"Memangnya kau punya bukti apa? Kalian bahkan tidak memiliki bukti dan seorang pun saksi yang memberatkanku!"
"Saksi? Sinta maksudmu?" kata Arvin sambil tersenyum kecut.
"Sinta sudah kulenyapkan."
"Apa kau yakin? Bagaimana jika kita menghubungi Sinta sekarang?"
"A...Apa maksudmu Arvin? Apa yang telah kalian lakukan?"
Arvin dan Milan pun saling berpandangan sambil tertawa yang membuat Evan semakin terlihat panik.
__ADS_1