Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Tablet Obat


__ADS_3

"Lepaskan aku hei orang asing, atau aku akan berteriak!" kata Almira sambil berusaha melepaskan tangan Milan.


"Berteriaklah karena semua orang disini pun tahu kau adalah istriku." kata Milan sambil tersenyum.


"Dasar gila." gerutu Almira.


"Aku gila karena telah begitu lama berpisah denganmu." jawab Milan yang semakin membuat Almira semakin kesal.


"Masuk, kau tenang saja aku tidak akan macam-macam padamu." kata Milan sambil sedikit menghempaskan tubuh Almira ke dalam mobilnya.


"Kita mau kemana?" tanya Almira saat Milan mulai mengendarai mobilnya.


"Ke tempat penuh kenangan."


Almira pun tersenyum kecut. "Aku tidak akan mengingat apapun karena aku tidak pernah memiliki kenangan bersamamu."


"Kau yakin?"


"Tentu saja."


Milan pun tersenyum mendengar perkataan Almira. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di apartemen milik Milan.


"Apa ini? Kau mau membawaku ke apartemen? Mesum sekali." cibir Almira. Namun Milan hanya diam sambil menarik tangan Almira.


"Hei lepaskan aku, atau aku akan berteriak!"


Namun Milan hanya terdiam. Almira lalu melihat seorang security yang sedang berjalan tak jauh dari mereka, saat Almira akan meminta tolong, tiba-tiba security tersebut tersenyum pada mereka.


"Selamat siang Tuan Milan, Nyonya Rachel." kata salah seorang petugas security yang bertemu dengan mereka.


"Bukankah sudah kubilang, percuma kau berteriak karena semua orang tahu kita sudah menikah."


Almira kemudian menghentikan langkah Milan dengan menarik tangannya. "Ada apa lagi?"


"Berjanjilah kau tidak akan berbuat buruk padaku saat di dalam apartemenmu."


"Iya aku janji." jawab Milan.


Mereka pun kemudian masuk ke dalam apartemen tersebut. Saat melangkahkan kakinya ke dalam apartemen itu tiba-tiba terlintas di pikirannya sebuah bayangan dirinya yang sedang memeluk seorang lelaki, saat dia lebih jauh melangkah masuk ke dalam apartemen dan mengamati seluruh ruangan apartemen itu beberapa suara yang begitu mirip dengan suaranya pun seolah-olah terngiang-ngiang di benaknya.


"Kau sudah pulang, Milan? Aku sudah memasakkan makan malam untukmu."


"Hentikan Milan, jangan disini."


"Aku sayang kamu Milan, hati-hati di jalan."


"Oh tidak, suara apa ini?" kata Almira kemudian menutup telinganya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Milan saat melihat Almira yang kini terlihat begitu pucat sambil menutup telinganya.


"A..Aku hanya merasa pusing."


"Oh, ayo kita masuk ke dalam." kata Milan sambil menuntun Almira.


"Kau duduk di sini dulu, aku akan mengambilkan obat sakit kepala untukmu."


"Tidak usah, aku memang sering seperti ini. Tolong ambilkan obat sakit kepala milikku saja di dalam tasku."


Milan lalu mengambil sebuah botol obat yang berisi beberapa tablet obat milik Almira. "Terimakasih." kata Almira sambil memijit- mijit kepalanya.


"Lebih baik kau istirahat saja di dalam kamar, kalau kau takut aku akan berbuat sesuatu yang buruk padamu, kunci saja kamar itu rapat-rapat."


Almira pun kemudian mengangguk. Saat dia akan berdiri tiba-tiba sebuah suara kembali terngiang di kepalanya.


"Masuklah ke dalam kamar itu, jika kau takut padaku kau bisa menguncinya rapat-rapat. Ini sudah malam, tidurlah. Kau pasti lelah."


'Suara seperti ini lagi, apa ini? Apa sebenarnya aku pernah memiliki masa lalu dengannya?' kata Almira dalam hati sambil berjalan ke dalam kamar.


'Ah tidak, tidak mungkin. Mungkin aku terlalu banyak berfikir, sebaiknya sekarang aku tidur.' gumam Almira sambil menutup pintu kamar dan menguncinya.


Sementara di luar kamar, tampak Milan memperhatikan sebuah obat yang dimakan oleh Almira.


"Obat apa ini? Aku tidak pernah melihat obat sakit kepala seperti ini." kata Milan sambil memperhatikan obat tersebut. Milan kemudian mengambil ponselnya.


[Tentu saja bos.]


[Setelah itu, ada pekerjaan lagi untukmu.]


[Baik bos.]


Milan pun menutup telepon dan kini sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Dia pasti masih ingat makanan kesukaannya." kata Milan sambil tersenyum dan memainkan ponselnya.


TOK TOK TOK


Tak berselang lama, pintu apartemen Milan pun diketuk seseorang.


Milan kemudian membuka pintu tersebut dan melihat Arman yang sudah berdiri di depannya. "Tolong kau ambilkan mobil temanku di pemakaman. Ini kuncinya."


"Iya bos."


"Lalu ada satu lagi. Tolong kau cek di laboratorium, apa sebenarnya kandungan dalam obat ini?" kata Milan sambil memberikan sebutir tablet obat pada Arman.


"Baik bos."

__ADS_1


"Kau boleh pergi sekarang."


Arman pun kemudian mengangguk.


☘️☘️☘️


Almira membuka matanya dan melihat jam di ponselnya. "Astaga ini sudah pukul lima sore." kata Almira. Dia lalu melihat sekeliling kamar itu dan tanpa sadar menutup matanya kembali sambil mengambil nafas panjang, di saat itulah sebuah getaran kembali merasuk ke hatinya.


'Apa ini? Kenapa aku merasa sangat nyaman tidur di kamar ini?' kata Almira sambil tersenyum. Kemudian dia keluar dari kamar dan melihat Milan tertidur di atas sofa.


"Astaga, semalaman dia tidur di sini? Kasihan sekali."


"Lebih baik aku membuatkan sarapan untuknya sebagai ucapan terimakasihku."


'Suara-suara itu lagi, kenapa suara itu begitu menggangguku.' kata Almira sambil mengigit bibirnya. Dia lalu berjalan ke arah sofa dan mendekat ke arah Milan.


Almira lalu tersenyum saat melihat wajah polos Milan yang sedang tertidur. 'Laki-laki yang tampan tapi sayangnya sangat menyebalkan.' kata Almira dalam hati.


Saat sedang asyik memandang Milan tiba-tiba Milan pun terbangun, seketika Almira pun menjadi salah tingkah.


"Kau sudah bangun Ra?"


Almira pun mengangguk. Milan pun kemudian duduk dan mengambil sesuatu di meja makan.


"Aku sudah memesan makanan kesukaanmu, makanlah kau pasti lapar." kata Milan sambil memberikan beberapa bungkus makanan pada Almira. Almira pun kemudian membuka bungkusan makanan itu.


'Astaga, ini semua benar-benar makanan kesukaanku. Bagaimana dia tahu semua ini padahal aku baru bertemu dengannya.' kata Almira dalam hati.


"Ayo makan bersama." kata Milan sambil menaruh makanan tersebut di atas piring.


Almira sesekali melirik pada Milan saat mereka sedang makan. 'Setiap hari aku selalu makan bersama Gibran, tapi kenapa aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini? Kenapa rasanya begitu nyaman menikmati semua makanan ini bersamanya.'


"Habiskan makananmu, jangan terus menatapku, nanti kau semakin jatuh cinta padaku." kata Milan yang membuat Almira salah tingkah.


"Kau terlalu percaya diri." gerutu Almira.


"Ra, sebaiknya kau menginap di sini saja, kau sedang tidak terlalu sehat, akan membahayakan bagimu jika pulang sendirian ke Bandung. Kau tidak perlu takut padaku, kau bisa mengunci pintu kamar itu rapat-rapat seperti tadi."


Almira pun mengangguk sambil tersenyum.


"Terimakasih, aku memang masih sedikit pusing."


"Kau sudah selesai makan? Apa mau kutemani nonton drama korea kesukaanmu?"


Alami pun begitu kaget mendengar perkataan Milan.


'Bagaimana dia tahu aku suka menonton drama korea? Bahkan Gibran pun tidak tahu hal itu.' gumam Almira sambil menatap Milan dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun tiba-tiba lamunannya dikejutkan oleh sebuah suara di ponselnya. Almira lalu mengambil ponsel tersebut dan begitu gugup karena Gibran saat ini sedang meneleponnya dengan panggilan video.

__ADS_1


'Astaga, apa yang harus kulakukan?' kata Almira dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.


__ADS_2