Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Posisi Sulit


__ADS_3

"Ha.. Hamil?" tanya Evan sambil mengerutkan keningnya.


"Iya aku hamil, Evannnn!!!"


"Apa kau yakin itu anakku? Bukankah kau juga menjadi simpanan dari Pak Indra?"


PLAKKKKK


"Jaga bicaramu, Evan! Apa kau lupa aku sengaja mendekati Indra untuk membantumu masuk ke perusahaan kami! Dengar kata-kataku, jika kau tidak mau bertanggung jawab maka aku akan membongkar semua yang telah kau lakukan selama bekerja di perusahaan kami, kau akan mendekam di penjara jika bermain-main denganku, Evan!"


"Ba.. Baik Sinta, baik... Aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu." kata Evan sambil memegang pipinya yang kini terasa begitu perih.


"Nilahi aku!!"


"Nikah?" kata Evan sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Ya nilahi aku, bukankah kau yang mengatakan jika kau ingin bertanggung jawab padaku!"


"Haruskah aku menikahimu?"


"TENTU SAJA EVAN!!! BUKANKAH KAU YANG MENGATAKAN SENDIRI AKAN BERTANGGUNG JAWAB? MEMANGNYA APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA KAU TIDAK MENIKAHIKU!!!"


"Oh iya Sinta, tentu saja aku akan menikahimu."


"Lalu kapan kau akan menikahiku?"


"Sinta, aku akan memikirkannya terlebih dulu."


"Memikirkannya? Bukankah kau tadi sudah mengatakan akan menikahiku? Kenapa tiba-tiba kau tiba-tiba berkata seperti itu?"


"Oh itu karena, emh e bukankah kau tahu aku sedang mencoba memasuki akses perusahaan Gibran? Akhir-akhir ini aku sangat sibuk Sinta."


"Kenapa tidak kau lakukan saja di apartemenku? Setelah selesai kita bisa langsung menikah!"


"Di apartemenmu? Itu tidak mungkin, sangat berbahaya Sinta. Aku butuh tempat yang aman untuk melakukan semua itu."


"Kalau begitu aku saja yang ikut ke rumahmu!"


'Astaga, hancur semua jika Sinta tahu rumahku.' gumam Evan dalam hati.


"Oh itu tidak mungkin Sinta, aku tidak mungkin membawamu ke rumahku. Mereka bisa tahu persembunyianku."


"Lalu kita harus bagaimana? Aku butuh kepastian, Evan."


"Baik, begini saja. Besok aku akan menjemputmu ke rumahmu, lalu kita menikah siri terlebih dulu sampai kondisinya aman aku akan menikahimu secara resmi. Biar sekarang aku akan mempersiapkan semuanya terlebih dulu."


"Apa kau bisa kupercaya?"


Evan lalu menggenggam tangan Sinta.


"Kau harus percaya padaku sayang, bukankah semua rahasiaku ada padamu? Itu sama saja nyawaku ada di tanganmu. Percayalah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." kata Evan sambil membelai wajah Sinta.


"Baik, kutunggu kau besok di apartemenku. Sekarang aku harus kembali ke kantor dulu. Lagipula posisiku juga sudah tidak aman di kantor, kau harus bisa secepatnya membawaku pergi dari sini."


"Iya Sinta, sayang. Kau tenang saja, aku pasti akan melindungimu."


"Kupegang kata-katamu, Evan."

__ADS_1


"Iya sayang, kau tenang saia."


"Aku pergi dulu."


Evan kemudian mengangguk sambil tersenyum. Dia lalu menatap Sinta yang kini berjalan keluar dari cafe.


"DASAR BREN*SEK! KENAPA WANITA ITU HARUS HAMIL!!


"Menambah masalahku saja!! Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama, aku harus cepat bertindak sebelum keadaan ini semakin membuat masalah yang lebih besar bagiku!!" kata Evan sambil mengusap kasar wajahnya.


💜💜💜💜💜


"Sudah selesai, ponselmu kini sudah kusadap. Bersiaplah mengikuti permainan dariku, Celine." kata Milan sambil tersenyum menyeringai kemudian meletakkan kembali ponsel Celine di dalam tasnya.


Beberapa saat kemudian, Celine pun tampak keluar daru toilet, dia lalu mendekat ke arah Milan dengan raut wajah yang begitu pucat serta keringat yang bercucuran.


"Kau kenapa sayang? Kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kau sakit?" tanya Milan saat Celine kini berdiri di depannya.


"Mungkin, emh.. Milan, sebaiknya kita berbelanja di lain kesempatan saja, aku sepertinya tidak enak badan."


"Oh iya Celine tentu saja, apa kau sedang sakit sekarang?"


"Ya, sepertinya begitu. Perutku tiba-tiba sakit sekali, dan tubuhku lemas, rasanya begitu begitu banyak cairan yang keluar dari tubuhku."


"Celine lebih baik sekarang kau pulang saja, aku tidak ingin sakitmu bertambah semakin parah, Celine."


"Iya Milan, aku pulang dulu ya."


"Mau kuantar?"


"Oh tidak, tidak usah. Aku naik taksi saja." jawab Celine dengan begitu gugup.


"Oh tidak Milan, aku tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri, lagipula jika orang tuaku tahu aku pergi bersamamu mereka bisa marah padaku."


"Baik terserah kau saja sayang, tapi kita akan bertemu lagi kan?"


"Tentu saja Milan, kita harus bertemu lagi." jawab Celine sambil tersenyum dengan begitu manis.


"Baik kutunggu kabar darimu."


"Iya Milan, aku pulang dulu."


"Ya, berhati-hatilah."


"Ya." jawab Celine. Kemudian dia berjalan meninggalkan Milan yang masih duduk di dalam toko tersebut.


Milan pun tersenyum. "Bagaimana rasanya mendapat kejutan dariku Celine? Menyenangkan bukan?" kata Milan sambil tersenyum menyeringai.


Sementara Celine yang keluar dari mall dengan begitu terburu-buru segera memasuki taksi online yang sudah menunggunya di depan lobi. Celine pun segera memasuki mobil tersebut sambil menghempaskan tubuhnya ke jok mobil itu.


'Astaga, kenapa tiba-tiba aku sakit perut seperti ini? Mengganggu acara bersenang-senangku saja. Gara-gara perutku sakit, aku jadi gagal berbelanja barang-barang mewah yang akan dibelikan Milan untukku.' gumam Celine di dalam taksi sambil memegang perutnya.


"Pak bisa lebih cepat? Perut saya sudah sangat sakit." kata Celine sambil meringis dan memegang perutnya, keringat dingin pun kini semakin banyak keluar dari tubuhnya.


"Iya mba, sabar ya mba, jalanan macet." jawab sopir taksi tersebut yang membuat Celine kini menangis.


"Oh tidak." gerutu Celine.

__ADS_1


"Rasanya aku seperti mau mati." kata Celine sambil merebahkan tubuhnya di jok mobil itu.


Setengah jam kemudian, akhirnya mereka pun sampai. Celine bergegas turun dari taksi lalu masuk ke dalam rumah, kemudian dia masuk ke WC. Beberapa saat kemudian Celine keluar dari WC lalu masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Evan yang sedang sibuk dengan laptopnya pun begitu heran melihat tingkah Celine. Dia pun kemudian mendekat ke arah Celine yang kini sudah tampak begitu kesakitan.


"Kau kenapa sayang?"


"Evan perutku sakit sekali."


"Sakit perut? Apakah penyakit maghmu kembali kambuh?"


"Tidak Evan, bukan itu. Aku diare, tubuhku rasanya sangat lemas."


"Apa kau salah makan?"


"Mungkin, tadi aku sempat memakan makanan pedas."


"Pantas saja, bukankah kau alergi makanan pedas Celine."


"Ya."


'Aku tadi begitu terbuai oleh Milan jadi tidak sengaja aku ikut memakan makanan pedas yang Milan pesan.' gumam Celine dalam hati.


"Akan kuambilkan obat pereda rasa sakit ya."


"Iya."


Evan pun mengambilkan obat lalu memberikannya pada Celine.


"Ini minumlah."


"Terimakasih banyak, Evan."


"Ya, sekarang kau istirahat saja sayang."


"Iya Evan."


"Emh.. E.. Celine, sebenarnya ada yang ingin kukatakan."


"Ada yang ingin kau katakan? Ada apa Evan?" tanya Celine sambil mengerutkan keningnya.


"Begini Celine, besok aku ada urusan keluar kota."


"Urusan keluar kota untuk apa?"


"Itu berhubungan dengan yang kulakukan sekarang, posisi mata-mata kita sedang tidak aman jadi aku akan membawanya keluar kota terlebih dulu sampai kita bisa menguasai perusahaan milik Gibran. Kau tidak apa-apa kan kutinggal sendirian di rumah."


"Jika itu berhubungan dengan rencana kita, tentu aku tidak akan keberatan Evan."


"Terimakasih Celine, kau yang terbaik. Sekarang beristirahatlah, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa memanggilku."


"Iya Evan."


Evan pun keluar dari kamar itu, setelah membalikkan badannya Evan pun tersenyum.


'Bagus, Celine tidak curiga. Besok aku akan membereskan urusan dengan Sinta, lebih baik kuhabisi wanita itu secepatnya sebelum dia membuat posisiku semakin sulit.' gumam Evan dalam hati.


Sementara Celine yang melihat Evan pergi pun ikut tersenyum. 'Lebih baik kuhubungi Milan sekarang juga, aku akan bersenang-senang dengan Milan di rumah ini selama Evan pergi.'

__ADS_1


Celine kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Milan.


__ADS_2