Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Tertipu


__ADS_3

"Benarkah?"


"Tentu saja Bella, bukankah aku sudah berjanji padamu?"


"Tapi tidak sekarang."


"Apa maksudmu?"


"Sekarang bukan saatnya membalas mereka Bella, untuk membalas mereka kita membutuhkan cukup materi."


"Lalu?"


"Kita harus merebut kembali semua harta milik kita, sekaligus memberi pelajaran pada Arvin dan Vania."


"Ya, kau benar. Lalu apa rencanamu sekarang?"


"Hahahaha, kita lihat saja nanti siang. Tinggal menunggu waktu saja, Bella." kata Gibran.


"Apa maksudmu Gibran? Jadi, hari ini kita bisa mendapatkan semua milik kita?"


"Iya Bella, ini seperti dugaanku sebelumnya. Aku tahu Arvin adalah orang yang begitu pemalas, dia pasti sangat kesulitan menjalankan perusahaan milik kita."


"Lalu?"


"Aku sudah menduga dia pasti akan menjual perusahaan milik kita dan menyimpan hasil penjualan tersebut pada saham di bursa secara mandiri."


"Ya, Arvin memang sangat pemalas, bahkan perusahaan milik orang tuanya pun gulung tikar karena perbuatannya."


"Hahahaha, aku tahu itu Bella, dan sekarang aku sudah membeli kembali perusahaan milk kita yang telah dikuasai mereka."


"Tidak Gibran, kau tidak mungkin mengakusisi perusahaan tersebut, kita tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli semua itu."


"Hahahaha. Siapa yang bilang aku harus mengeluarkan uang untuk membeli perusahaan itu?" kata Gibran.


"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Bella, namun Gibran tidak menjawabnya, dia hanya tertawa terbahak-bahak.


🌸🌸🌸


Arvin dan Vania tampak begitu cemas menanti kedatangan seseorang di sebuah cafe, senyum pun kemudian tersungging saat melihat dua orang laki-laki masuk ke dalam cafe tersebut lalu menghampirinya.


"Tuan Arvin dan Nyonya Vania"


"Ya, anda Tuan Caesar?"


"Benar, dan ini notaris saya Tuan Robi."


"Baik, bagaimana dengan penawaran kami pada anda?"


"Seperti yang sudah saya katakan, saya sangat tertarik dengan semua aset perusahaan yang kalian tawarkan. Jadi sesuai kesepakatan, saya akan mengakusisi perusahaan tersebut. Ini Pak Robi, notaris saya. Dia yang akan mengurus semua jual beli perusahaan kita."


"Iya Pak Caesar, terimakasih banyak." kata Vania. Kemudian mereka tampak sibuk menandatangani beberapa berkas pengalihan kepemilikan perusahaan.

__ADS_1


"Ini cek nya." kata Caesar pada Arvin dan Vania sambil memberikan selembar cek padanya. Mereka pun menyunggingkan senyumnya saat menerima selembar cek tersebut.


"Terimakasih banyak Tuan Caesar, senang bekerjasama dengan anda. Kami sedang ada banyak urusan, kami pulang dulu." kata Arvin pada Caesar.


"Baik Tuan Arvin, Nyonya Vania."


Mereka pun kemudian keluar dari cafe sambil tertawa terbahak-bahak. "Akhirnya kita bisa menjual perusahaan tersebut!" teriak Vania.


"Ya, dan sekarang uang ini akan kita tanamkan pada bursa saham agar setiap bulan kita tidak perlu bekerja keras dan tetap mendapat keuntungan. Hahahaha."


"Kau memang pintar Arvin."


"Tentu saja, Vania. Lebih baik sekarang kita pulang. Kita ambil semua uang kita besok. Kau sedang hamil, kau tidak boleh terlalu lelah." kata Arvin sambil mengelus perut Vania.


"Iya Arvin."


Sedangkan di dalam cafe, Caesar tampak menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat Arvin dan Vania yang begitu kegirangan saat menerima cek tersebut. Dia lalu mengambil ponselnya untuk menelepon Gibran.


"Bella, Caesar sudah menghubungi kita."


"Cepat angkat Gibran."


"Iya Bella." jawab Gibran kemudian mengangkat telepon dari Caesar.


Dia lalu berjalan sedikit menjauhi Bella. Bella yang melihat Gibran menerima telepon dengan begitu serius pun menatapnya dengan begitu cemas. Saat Gibran menutup teleponnya, dia lalu bergegas menghampiri Gibran.


"Bagaimana Gibran?"


"Hahahaha mereka memang BODOH!" kata Bella sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha, mereka pikir mudah membohongi kita." kata Gibran.


🌸🌸🌸


Arvin dan Vania masuk ke dalam sebuah bank dengan raut wajah begitu bahagia. Mereka lalu berjalan ke arah petugas bank untuk mencairkan cek di tangan mereka. Namun, beberapa saat kemudian mereka mulai terlihat panik karena petugas bank tersebut tampak sibuk meneliti kembali dan menelpon seseorang.


"Maaf Tuan dan Nyonya, cek ini tidak dapat dicairkan karena ini merupakan cek kosong." kata petugas bank tersebut.


"Tidak mungkin, coba anda cek lagi." kata Arvin, namun petugas bank tersebut menggeleng.


"Sudah saya cek berulangkali tapi hasilnya sama."


Seketika perasaan Arvin dan Vania pun begitu kalut. Mereka pun akhirnya keluar dari bank dengan begitu lemas.


"Hancur sudah Arvin, kita telah tertipu."


Arvin pun hanya bisa diam. "Kenapa kau begitu bodoh tidak mengecek terlebih dahulu siapa Tuan Caesar sebenarnya?"


Namun Arvin tetap diam. "Kenapa kau hanya diam Arvin? Bagaimana jika kita melaporkan penipuan ini pada polisi saja."


"Tidak mungkin Vania, jika kita melaporkan semua ini pada polisi itu sama saja membahayakan diri kita karena semua harta itu memang bukan milik kita."

__ADS_1


"Lalu kita harus bagaimana Arvin? Aku sedang hamil!"


"Vania, saat ini hanya rumah besar yang kita tempati itu yang masih kita miliki. Kita harus menjual rumah itu untuk mendapatkan modal dan bertahan hidup."


Mendengar perkataan Arvin, Vania pun kemudian menangis. "Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini, Arvin?" kata Vania sambil terisak.


Di saat itu, tiba-tiba ponsel Arvin pun berbunyi. "Siapa Arvin?"


"Bella." jawab Arvin kemudian mengangkat panggilan tersebut.


[Halo Bella.]


[Halo Arvin, bagaimana? Kalian sudah mendapatkan kejutan dari kami kan?]


[Jadi kau yang melakukan semua ini?]


[Tentu saja. Ahhahaha.]


[Dasar wanita breng*ek!]


[ Hei kau perlu ingat, harta itu adalah milik kami dan kalian lah yang telah merebutnya, jadi aku berhak mengambil apa yang memang menjadi milkku!]


[DASAR BRENG*EK! LIHAT SAJA AKU AKAN MEMBALAS SEMUA INI BELLA!]


[Lakukan jika kau bisa.] kata Bella sambil menutup telepon.


🌸🌸🌸


Satu minggu kemudian.


"Kamu cantik sekali Ra." kata Milan saat Rachel kini duduk di sampingnya saat mereka akan melakukan proses ijab qabul. Rachel pun hanya tersenyum mendengar perkataan Milan.


"Ucapakan ijab qabulnya dengan baik." jawab Rachel sambil tersenyum.


Akhirnya proses ijab qabul pun berjalan dengan lancar. Milan dan Rachel kini bisa tersenyum bahagia, foto-foto pernikahan mereka kini pun tampak memenuhi berbagai sosial media


Bella yang melihat foto pernikahan tersebut lalu melemparkan ponselnya. "DASAR BRENG*EK! KENAPA MILAN HARUS BERPALING PADA RACHEL! GIBRAN.. GIBRAN!!!" teriak Bella.


"Ada apa kau berteriak-teriak, Bella?"


"Gibran, kau bilang sudah merencanakan sesuatu untuk memisahkan Rachel dan Milan tapi apa ini? Kau tidak melakukan rencana apapun pada mereka kan? Lihat ini, mereka bahkan sudah menikah hari ini!"


"Tenang Bella, sekarang belum saatnya. Jika kita melakukan sekarang pasti akan gagal. Milan bukanlah orang bodoh Bella, dia memerintahkan semua anak buahnya untuk menjaga semua orang yang memiliki urusan dengan kita. Apalagi menjelang pesta pernikahannya, dia melakukan pengawasan ekstra pada Rachel."


"Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Tunggu beberapa bulan lagi sampai Milan berfikir kondisinya sudah aman dan dia melonggarkan pengawasan pada Rachel."


Bella pun kemudian termenung. "Baik, aku percayakan semua padamu."


"Kau tenang saja Bella, kita tinggal menunggu saat yang tepat dan akan kubuat Milan menangis darah karena kehilangan Rachel. Hahahaha."

__ADS_1


__ADS_2