
Rachel hanya diam sambil menatap padatnya lalu lintas yang ada di hadapannya.
"Rachel, dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Milan."
"Rachel kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini? Bukankah kau tahu bagaimana hubunganku yang sebenarnya dengan Bella?"
Mendengar perkataan Milan, Rachel pun hanya terdiam. Tatapan matanya kosong dan mulai berembun.
"Rachel sungguh aku tak melakukan apapun pada Bela di ruanganku, saat itu memang Bella berusaha memelukku tapi aku menolaknya dan menghempaskan tubuhnya ke lantai, mungkin itulah penyebab pakaiannya tampak berantakan."
"Lalu apa penjelasanmu tentang kancing kemejanya yang terbuka?"
"Kalau itu sungguh aku tak tahu Ra, mungkin dia yang membuka kancing bajunya sendiri atau bisa saja kancing itu terlepas saat dia jatuh ke lantai. Sungguh aku tidak melakukan apapun, jika kau tak percaya padaku kita bisa mengecek CCTV di ruanganku."
Rachel pun kemudian kembali terdiam, berbagai pikiran menari di benaknya. "Ra, apa belum cukup penjelasanku? Percayalah padaku, bukankah kau tahu aku sampai pergi ke London untuk memutuskan hubunganku dengan Bella untuk bisa bersamamu?"
Milan pun kemudian menghentikan laju mobilnya, lalu menggenggam tangan Rachel. "I love you," bisik Milan sambil menghapus air mata Rachel yang membasahi wajahnya.
Rachel pun kemudian tersenyum. "Kamu udah maafin aku Ra."
Rachel pun kemudian mengangguk. "Maaf aku sudah salah paham padamu."
Milan pun menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, karena kau terlihat lucu dan sangat manis saat marah."
"Gombal!" teriak Rachel sambil memukul tubuh Milan.
"Kita makan yuk Ra, aku lapar nih."
Rachel pun mengangguk. Milan kemudian mengendarai mobilnya menuju salah satu rumah makan di dekat apartemen mereka.
***
"Bukankah itu Milan dan Rachel?" tanya Gibran yang melihat Milan dan Rachel masuk ke sebuah rumah makan dengan bergandengan tangan.
"Oh ****!!!!" geram Gibran sambil mengusap kasar wajahnya.
"Jadi selama ini aku sudah salah sangka! Ternyata Rachel tidak pernah pulang ke kampungnya tetapi dia dilindungi oleh Milan?" ujar Gibran dengan begitu emosi sambil terus menatap Milan dan Rachel yang kini tampak begitu mesra menikmati makan malam.
"Kenapa semua yang telah kulakukan kini menjadi bumerang bagiku? Semua yang telah kurencanakan dengan begitu matang kini hancur!"
Di saat itu pula ponselnya pun berbunyi.
[Ya Vania, kenapa?]
[Kau dimana sayang?]
[Aku sedang di rumah makan, baru saja menemani klien makan malam. Ada apa Vania?]
[Gibran, sepertinya aku pulang sedikit terlambat. Aku sedang menghadiri pesta ulang tahun temanku.]
[Oh tidak apa, Vania. Aku juga sedang mengamati seseorang.]
__ADS_1
[Mengamati seseorang? Apa maksudmu?]
[Vania, aku melihat Rachel dan Milan yang kini sedang bermesraan di rumah makan, mereka duduk di salah satu meja tak jauh dari tempatku duduk.]
[Ja.. Jadi, selama ini Rachel tidak pulang ke kampung halamannya?]
[Iya Vania, kemungkinan selama ini Rachel bersama Milan, dan mungkin saja Milan jatuh cinta pada Rachel setelah pertemuan mereka malam itu.]
[Bagus sekali Gibran.]
[Apanya yang bagus Vania?]
[Apa kau sudah lupa Gibran, bukankah kemarin Tante Hana mengatakan jika Bella gagal mendekati Milan, maka seluruh hartanya akan dia berikan untukmu? Bukankah ini kesempatan bagus untuk menguasai seluruh harta milik kakekmu yang dipegang oleh Tante Hana?]
[Kau benar juga Vania, kau memang sangat pintar. Hahahaha.]
[Iya Gibran, selama Milan tidak mencurigaimu jika kau yang menjebaknya malam itu maka kau aman, dan kau juga bisa mendapatkan seluruh harta Tante Hana.]
[Baik Vania, kalau seperti itu aku akan berusaha agar Bella tidak bisa kembali lagi pada Milan.]
[Iya Gibran.] kata Vania kemudian menutup teleponnya.
"Hahahaha, kau sangat pintar merayu Gibran, sayang." kata Arvin yang kini ada di samping Vania.
"Tentu saja kerena Gibran sangatlah tergila-gila padaku, hahahaha."
***
"Kamu jahat Ra, kau membiarkan aku tampak begitu bodoh di depanmu," sungut Nadia dengan raut wajah masam saat Rachel duduk di kubikelnya.
"Memangnya kenapa?"
"Hubungan kami tidak mudah Nad, kau tahu sendiri bagaimana perbedaan antara aku dan Milan."
"Jika kau tahu itu tapi kenapa kau mau menjalin hubungan dengannya Ra?"
"Sejak awal aku menjalin hubungan dengannya, aku tidak tahu siapa Milan sebenarnya Nad. Bahkan aku baru tahu jika Milan pemilik perusahaan ini saat pergantian CEO baru."
Nadia pun kemudian menutup mulutnya. "Jadi kau memang benar-benar mencintainya Ra?"
"Tentu saja aku mencintai Milan."
"Jadi kau mencintai Milan tulus tanpa memandang harta yang dimilikinya?"
"Tentu saja, Nadia!" gerutu Rachel sambil mencubit lengan Nadia.
Nadia pun kemudian terkekeh. "Memang kalian sudah menjalin hubungan berapa lama Ra?"
"Kurang lebih delapan bulan."
"Hah, jadi kau sudah lama menjalin hubungan dengannya Ra? Bahkan sebelum kau bekerja di perusahaan ini?"
"Ya."
__ADS_1
"Lalu bagaimana hubungan Milan dengan Bella? Apa mereka putus karenamu? Jadi Dinda juga sudah tahu semua ini sampai kemarin dia berkata seperti itu pada kita?"
"Hubungan Milan dan Bella memang sedikit kurang harmonis Nad, karena ternyata selama ini Bella juga menduakan Milan. Bahkan saat mulai berpacaran dengan Milan, ternyata Bella sudah memiliki seorang kekasih di London."
"Benar-benar wanita gila!" umpat Nadia.
"Jadi itu sebabnya Pak Milan memindahkan Adit ke Surabaya agar dia tidak mendekatimu?"
Rachel pun kemudian mengangguk.
"Lalu jika kau menyimpan rapat-rapat rahasia ini bagaimana Dinda bisa tahu hubunganmu dengan Milan?"
"Entahlah, bukankah kau tahu sendiri jika Dinda biang gosip di kantor ini," jawab Rachel sambil terkekeh.
"Eh tapi kemana Dinda? Kenapa sampai jam segini dia belum datang?"
"Entahlah."
***
Dinda tampak meminum cappucino pesanannya sambil sesekali melihat ke ponsel dan jam di tangannya dengan sedikit cemas. Senyumnya pun mengembang saat melihat seseorang yang ditunggunya datang mendekat padanya.
"Maaf aku sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa Nyonya Bella."
"Emh maaf siapa nama anda."
"Dinda, nama saya Dinda."
"Iya Dinda, apa yang ingin kau bicarakan tentang Milan?"
Dinda pun kemudian tersenyum.
"Bukankah anda tahu di dunia ini tidak ada yang gratis Nyonya Bella?"
"Baik cepat katakan berapa yang kau minta?"
"Sepuluh juta."
"Baik tuliskan nomor rekeningmu di ponselku."
Dinda pun kemudian menuliskan nomer rekeningnya di ponsel Bella sambil terus tersenyum.
"Sudah, sekarang ceritakan yang kau tahu padaku."
"Nyonya Bella, apakah anda tahu jika Milan kini sudah memiliki kekasih baru."
"Kekasih baru?" tanya Bella dengan begitu terkejut, perasaannya pun kini begitu campur aduk.
'Tidak mungkin, tidak mungkin Milan bisa mencintai wanita lain selain diriku,' gumam Bella dalam hati.
"Apa anda tidak percaya padaku? Lihat ini," balas Dinda sambil memperlihatkan foto Milan dan Rachel saat mereka bermesraan di dalam mobil.
__ADS_1
"JADI MILAN KINI BERPACARAN DENGAN RACHEL? DASAR BRENGSEK!" umpat Bella.
"GIBRAN MEMANG BENAR-BENAR BODOH! AKU HARUS MENEMUI GIBRAN!" teriak Bella kemudian meninggalkan Dinda begitu saja yang masih tersenyum melihat kepergian Bella.