
Milan keluar dari rumah Celine kemudian masuk ke dalam mobilnya, dia lalu mengambil ponsel di saku celananya.
[Halo Arvin.]
[Halo Milan, bagaimana?]
[Aku sudah keluar dari rumah Evan. Mungkin sebentar lagi dia pulang ke rumah karena tadi Celine mengusirku dengan sedikit tergesa-gesa. Lalu bagaimana dengan Sinta?]
[Aku masih dalam perjalanan ke apartemen milik Sinta.]
[Kau sudah memastikan keamanannya kan?]
[Tentu saja.]
[Setelah Evan pulang ke rumah dan tahu semua datanya sudah hilang, inilah saat paling berbahaya Arvin. Tapi di saat itu juga adalah kesempatan kita untuk meringkusnya.]
[Ya, dan aku yakin sasarannya adalah kau Milan karena kau yang sudah mengobrak-abrik seluruh rencananya.]
[Aku tahu itu dan aku sudah tahu semua resikonya, tapi kita harus melalui itu semua karena kita tidak memiliki banyak bukti untuk meringkusnya. Hanya itu yang bisa kita lakukan, menangkap Evan saat dia sedang melakukan aksinya dan aku akan menunggu saat-saat itu, Arvin. Yang terpenting kau selalu ada saat kubutuhkan.]
[Ya, tentu saja. Berhati-hatilah.]
[Ya.] Milan kemudian menutup teleponnya lalu kembali mengetikkan nomor seseorang di ponselnya.
[Halo Gani.]
[Ya bos.]
[Sebentar lagi Evan pulang, tolong kau awasi rumah itu. Jika ada sesuatu yang mencurigakan tolong kau laporkan padaku. Kau juga harus mengintai Evan jika dia meninggalkan rumah itu.]
[Iya bos.]
[Lakukan semua tugasmu sebaik mungkin.]
[Iya.]
Milan kemudian menutup teleponnya kembali sambil memandang rumah Evan.
"Aku sebenarnya sedikit mengkhawatirkan nasib Celine, pasti Evan akan sangat marah padanya, bagaimanapun juga Celine sudah membantuku. Tapi kau tenang saja Celine, anak buahku akan berada di sini untuk memastikan keamananmu." kata Milan sambil melirik Gani yang sedang duduk di dalam mobil di belakang mobilnya.
'Kutunggu kedatanganmu nanti, Evan.' gumam Milan dalam hati kemudian mengendarai mobilnya.
💙💙💙💙💙
"Celine pasti akan menyukainya saat kubawakan makanan ini, dia sangat menyukai kue manis seperti ini." kata Evan saat keluar dari sebuah toko kue saat dalam perjalanan pulang. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya kemudian mengendarai mobilnya dengan perasaan yang begitu bahagia.
"Akhirnya, semua masalahku selesai. Gibran sudah masuk ke penjara, data-data perusahaan sudah kuasai dan Sinta sudah berhasil kulenyapkan. Hahahaha, setelah ini aku akan menikmati hariku bersama dengan Celine, aku tidak perlu memikirkan apapun karena kami tidak akan pernah hidup kekurangan karena mulai besok, akulah pemilik perusahaan itu. Hahahaha." kata Evan sambil tertawa terbahak-bahak.
Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di rumah kontrakannya. Evan lalu turun dari mobil sambil berteriak.
"Celine, aku pulang."
Celine yang mendengar suara Evan kemudian bergegas membukakan pintu setelah sebelumnya dia membereskan rumahnya dan membuang buket bunga dan kue yang Milan berikan untuknya di tempat sampah.
__ADS_1
"Kau sudah pulang, Evan."
"Ya." jawab Evan kemudian memeluk Celine.
"Kau bilang mungkin akan menginap."
"Urusanku sudah selesai, jadi aku buru-buru pulang karena aku sudah merindukanmu."
Celine pun tersenyum.
"Kau bisa saja."
"Memang itulah kenyataannya, aku begitu merindukanmu. Lihat, ini kubawakan kue untukmu. Bukankah kau sangat menyukai kue ini?" kata Evan sambil memperlihatkan sebuah kue strawberry cheese cake yang ada di tangannya.
Celine pun menerima kue tersebut sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak, Evan." jawab Celine kemudian menaruh kue tersebut di atas meja.
"Kenapa kau menaruhnya di atas meja? Bukankah biasanya kau langsung memakannya saat aku membelikan kue itu."
"Oh... E.. Itu karena aku sudah kenyang." jawab Celine dengan sedikit gugup.
"Jadi kau sudah kenyang?"
"Ya."
"Kenapa hari ini sepertinya kau sedikit aneh Celine. Kau terlihat murung, apakah sesuatu terjadi padamu?"
"Tidak enak badan? Apakah perutmu masih sakit?"
"Ya, sedikit sakit."
"Kalau begitu lebih baik kau beristirahat saja. Aku juga akan menyelesaikan pekerjaanku terlebih dulu, karena besok kita harus bisa menguasai perusahaan Gibran sepenuhnya."
"Iya Evan." jawab Celine kemudian masuk ke dalam kamar.
Celine pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan perasaan yang begitu tak menentu.
'Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini? Saat Milan pergi, aku merasa begitu sedih, apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Oh tidak, bagaimana ini bisa terjadi? Dia adalah laki-laki beristri, bukankah aku hanya ingin bersenang-senang saja dengannya tapi kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini?' gumam Celine sambil mengigit bibirnya.
Celine kemudian melihat Evan yang sedang menyalakan laptopnya. 'Kenapa perasanku pada Evan kini pun terasa begitu hampa, tidak seperti biasanya. Kenapa tiba-tiba aku jadi seperti ini? Apakah sesuatu telah terjadi di dalam hatiku?' gumam Celine, dia kemudian menutup wajahnya hingga tiba-tiba terdengar suara teriakkan Evan yang begitu mengagetkannya.
"OHHHH TIDAAAKKKKKK!!!" teriak Evan.
Mendengar teriakkan Evan, Celine pun bergegas bangun dari tempat tidurnya kemudian menghampiri Evan.
"Ada apa Evan?"
"Celine, lihat ini!! Semua data-data perusahaan Gibran di laptopku sudah tidak ada!!! Semuanya sudah hilang, Celine."
"Ta.. Tapi bagaimana ini bisa terjadi Evan?"
"Entahlah. Apa kau tadi menyalakan laptopku?"
__ADS_1
"Tidak Evan, aku tidak pernah berani menyentuh laptopmu."
"Lalu siapa yang melakukan ini? Kenapa tiba-tiba semua datanya hilang? Kau lihat Celine, kau lihat, bahkan aku tidak bisa menghubungkan akses internet di laptop ini, ini tidak mungkin terjadi jika tidak ada yang sudah mengotak-atik laptop milikku."
"Tapi aku tidak pernah melakukannya, Evan."
"LALU SIAPA YANG MELAKUKANNYA CELINE, BUKANKAH DI RUMAH INI HANYA ADA DIRIMU!!"
Mendengar Evan yang mulai marah, Celine pun hanya bisa menundukkan kepalanya.
'Astaga, aku harus bagaimana? Ini benar-benar sebuah masalah besar. Apakah Milan yang melakukan semua ini? Ah rasanya tidak mungkin, bukankah dia musuh bebuyutan Gibran, rasanya mustahil dia melakukan semua ini, tapi tadi di sini hanya ada aku dan dirinya di rumah ini, sedangkan tadi aku tertidur. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, bagaimana jika Milan lah pelakunya? Astaga kenapa aku sudah begitu bodoh?' gumam Celine dalam hati.
"Kenapa kau diam Celine, apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah ini?"
"Tidak, tidak ada apa-apa Evan, sungguh."
"TAPI INI SEMUA TIDAK MUNGKIN TERJADI JIKA TIDAK ADA YANG MEMBUKA LAPTOP MILIKKU! KAU PASTI SUDAH BERBOHONG CELINE!!"
"Tidak Evan, sungguh. Mungkin saja laptopmu itu sudah rusak."
"TIDAK MUNGKIN!!!"
"Tapi sungguh aku tidak melakukan apapun, Evan. Bukankah kau tahu sendiri jika aku tidak terlalu pintar dan malas berurusan dengan laptop, komputer ataupun sejenisnya."
"Karena kau tidak terlalu pintar makanya aku curiga padamu, kau pasti telah menyalakan laptopku lalu tanpa sengaja menghapus semua data-data itu kan Celine!!"
"Sungguh aku tidak melakukan itu, Evan."
"Lalu siapa pelakunya? Bukankah di rumah ini hanya ada kau Celine!"
Celine pun kembali terdiam, dia kemudian menundukkan kepalanya.
"Cepat katakan, Celine! Apa tadi ada seseorang di rumah ini selain dirimu?"
Perlahan Celine pun menganggukkan kepalanya.
"Iya Evan, tadi salah seorang temanku datang ke rumah ini." jawab Celine lirih sambil menundukkan kepalanya.
"AAPAAAAA??? KAU BENAR-BENAR BODOH CELINE!!"
PLAK PLAK PLAK
"KATAKAN SIAPA ORANG ITU CELINE!!"
'Oh Tuhan, aku harus bagaimana?' gumam Celine dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"KENAPA KAU DIAM CELINE! CEPAT KATAKAN SIAPA YANG TADI SUDAH DATANG KE RUMAH INI?"
Celine pun menggelengkan kepalanya.
"JADI KAU SUDAH BERANI MENANTANGKU!!"
PLAK PLAK PLAK
__ADS_1