Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Memperbaiki Diri


__ADS_3

Bella lalu memandang Gibran.


"Gibran sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Dimana akal sehatmu? Pertama kau melarikan diri dari penjara, lalu kau menghamili seorang gadis di saat statusmu masih menjadi seorang narapidana, apa kau tidak bisa berfikir panjang sebelum berbuat sesuatu? Apa kau juga belum bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian yang telah kita lalui? Gibran, kau sudah dewasa, usiamu sudah tiga puluh tahun tapi kenapa kau masih bersikap kekanak-kanakan dan selalu mengutamakan nafsu dan ambisimu." teriak Bella pada Gibran.


"Lebih baik kau diam, kehadiranmu hanya semakin menambah beban dalam hidupku."


"Gibran, apa kau sadar dengan yang kau katakan? Kau sendiri yang membuat hidupmu jadi seperti ini!"


Tiba-tiba kamar Riana pun terbuka.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Riana.


Bella lalu memandang Arvin. "Dia adikmu?"


Arvin pun kemudian mengangguk. "Ya dia Riana, adikku."


"Siapa dia Kak?" tanya Riana pada Arvin.


"Dia Bella, kekasihku." jawab Arvin.


"Dan juga saudara sepupuku." tambah Gibran.


Riana pun begitu terkejut mendengar perkataan Arvin dan Gibran. "Ternyata masa lalu kalian lebih rumit daripada yang kupikirkan, pantas saja kalian selalu bertengkar." kata Riana sambil tersenyum kecut.


Tiba-tiba Bella merasa kepalanya terasa begitu sakit, rasa mual pun kembali datang. Dia kemudian bergegas ke arah belakang rumah lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian terdengar suara Bella yang sedang muntah-muntah sambil sesekali berteriak.


HOWEKKKK HOWEKKK


"Ah tidak, pahit sekali." teriak Bella dari arah belakang.


"Kak, kekasihmu kenapa? Apa dia sakit?" tanya Riana pada Arvin.


"Entahlah mungkin dia kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Aku akan menyusulnya ke belakang." kata Arvin kemudian menyusul Bella ke kamar mandi.


"Jangan-jangan dia juga hamil?" gerutu Riana.


Gibran yang mendengar perkataan Riana pun ikut terkejut. "Bella hamil?" kata Gibran sambil mengerutkan keningnya.


'Jangan-jangan benar apa yang Riana katakan jika Bella benar-benar hamil.' kata Gibran dalam hati.


Riana pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar, namun Gibran bergegas mencegahnya.


"Tunggu Riana."


Riana pun menghentikan langkahnya. Gibran lalu mendekat ke arah Riana. "Apa yang harus kulakukan agar kau bisa memaafkan aku? Aku tidak mau kita terus menerus seperti ini. Riana tolong maafkan aku, tolong pahami keadaanku sedikit saja." kata Gibran sambil menggenggam tangan Riana.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan."

__ADS_1


"Benarkah? Jadi kau sudah memaafkan aku?"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan karena aku tidak memiliki urusan apapun lagi denganmu! Ingat aku hanya menganggapmu sebagai ayah kandung dari anak yang ada di dalam kandunganku saja, tidak lebih!" bentak Riana kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Gibran pun hanya menatap Riana yang kini berjalan menjauhinya. 'Rasanya sakit sekali.' kata Gibran dalam hati, tanpa dia sadari matanya kini mulai berembun meneteskan sebutir air mata sambil menahan rasa yang kini begitu sesak di dada.


Arvin mendekat pada Bella yang terlihat begitu kepayahan berusaha memuntahkan isi perutnya, namun tidak ada satupun makanan yang keluar dan hanya butiran butiran cairan bening yang terasa begitu pahit di mulutnya.


"Bella, kau kenapa? Apa kau sakit?"


Melihat Arvin yang kini sudah berdiri di belakangnya, Bella pun kemudian menangis. "Arvin." kata Bella sambil meneteskan air matanya.


"Sebaiknya kau beristirahat di kamarku saja, kau pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh."


"Kepalaku juga pusing."


"Ayo kutuntun." kata Arvin.


Bella pun mengangguk, mereka lalu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke arah kamar Arvin. Saat melewati ruang tengah, mereka melihat Gibran yang sedang termenung dengan raut wajah yang begitu sendu serta mata yang memerah.


"Dia kenapa?" bisik Bella pada Arvin.


"Riana belum mau memaafkannya."


"Oh, kasihan sekali." jawab Bella sambil terkekeh.


"Hei siapa yang menertawakanmu, Gibran. Seharusnya kau bisa mengambil pelajaran dari semua kejadian ini agar kau bisa memperbaiki semua kesalahan yang pernah kau perbuat."


"Sudahlah Bella biarkan dia sendiri, lebih baik kau beristirahat saja." kata Arvin. Bella pun kemudian mengangguk, mereka lalu masuk ke dalam kamar Arvin.


"Kau istirahat saja Bella, aku mau memasukkan mobilmu dulu sambil mengambil barang-barangmu."


"Iya." jawab Bella kemudian merebahkan tubuhnya.


Bella pun kini tampak begitu bimbang. 'Sebaiknya kukatakan sekarang atau menunggu saat yang tepat?' gumam Bella dalam hati sambil mengamati isi kamar tersebut.


"Kau kenapa sayang?" tanya Arvin yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Arvin kemudian duduk di samping ranjang lalu membelai rambut panjang Bella.


"Arvin, sebenarnya ada hal penting yang ingin kukatakan padamu."


"Hal penting apa, Bella? Kenapa kau tampak serius sekali?"


Bella pun kemudian menundukkan wajahnya.


"Arvin, apa kau ingat malam terakhir kita bertemu setelah menghadiri pesta anniversary Jessica dan Felix?"


"Ya tentu saja."

__ADS_1


"Maafkan aku saat itu sudah merepotkanmu, aku begitu mabuk hingga bertindak diluar batas."


"Aku tahu itu, aku tahu kau tidak akan pernah kuat minum minuman beralkohol."


"Lalu..." kata Bella, namun dia tidak melanjutkan kata-katanya.


"Ya aku tahu itu Bella, maafkan aku, saat itu aku juga tidak bisa mengendalikan diriku saat berada di dalam kamarmu. Apakah kau merasa terluka dengan apa yang telah kuperbuat malam itu?"


Bella pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak Arvin, aku sama sekali tidak merasa terluka, tapi..."


"Tapi apa Bella? Bella, katakan saja, apa yang sebenarnya telah terjadi?"


"Emh... E... Arvin, akibat perbuatan kita di malam itu, E.. Emh.. Aku hamil." kata Bella dengan begitu lirih.


"A... Apa Bella?"


"Aku hamil Arvin, saat ini aku sedang mengandung darah dagingmu." kata Bella sambil terisak.


"Apa katamu, Bella? Kau sedang mengandung darah dagingku?" tanya Arvin.


"Ya." jawab Bella lirih.


Tanpa Bella duga, Arvin pun memeluknya.


"Benarkah kau hamil anak kita?" tanya Arvin dengan raut wajah begitu bahagia.


"Ya, aku sedang mengandung anakmu, Arvin."


"Terimakasih Bella, terimakasih banyak, aku sangat bahagia, mulai saat ini aku akan selalu ada di sampingmu, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua." kata Arvin sambil memeluk Bella kemudian menciuminya.


"Kita akan jadi orang tua, Bella. Ini rasanya seperti mimpi, kau sedang mengandung anakku? Aku tidak menyangka akhirnya kita akan memiliki seorang anak. Hahahaha." kata Arvin kembali sambil memeluk Bella kian kencang.


Dia lalu melepaskan pelukan itu lalu mengelus perut Bella.


"Sayang ini papa." kata Arvin yang membuat Bella tertawa.


"Arvin, dia masih sangat kecil."


"Tidak masalah, dia sudah harus mengenal aku sedini mungkin."


"Hahahaha, kau ada-ada saja. Apa kau bahagia?"


"Tentu, aku sangat bahagia. Aku mencintaimu Bella, aku mencintai anak kita, aku mencintai kalian berdua!" teriak Arvin yang membuat Bella tertawa terbahak-bahak.


Sementara Evan yang masih duduk di ruangan kantornya tampak begitu gusar.

__ADS_1


"Kenapa rencanaku tiba-tiba berantakan seperti ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Bella? Aku harus menyelidiki semua ini dan membuat Bella kembali dalam pelukanku, aku harus menguasai perusahaan ini sebelum Gibran keluar dari dalam penjara!"


__ADS_2