Partner Ranjang CEO

Partner Ranjang CEO
Tes Kehamilan


__ADS_3

BUGHHHH BUGGHHH BUGGGHHHH


Beberapa kali Arvin melayangkan tinjunya pada Gibran.


"DASAR BREN*SEK KAU ARVINNNN!!" umpat Gibran kemudian balas memberikan bogem mentahnya pada Arvin.


Mereka pun kini terlibat perkelahian.


"SUDAH CUKUPPPP!!" teriak Riana dari dalam kamar.


Arvin dan Gibran pun melihat ke arah Riana dan menghentikan perkelahian mereka.


"Sudah cukup, kalian jangan buat keributan di rumah ini!" teriak Riana dengan air mata yang mengalir di wajahnya, wajahnya pun kini terlihat begitu pucat.


Gibran dan Arvin lalu mendekat ke arah Riana.


"Riana, bagaimana keadaanmu?" tanya Gibran sambil membelai wajah Riana.


"Bukankah sudah kuperingatkan agar kau tidak menyentuh adikku!"


"Ingat Arvin, dia hanyalah adik tirimu!"


"Sudah cukup, apa kalian tidak bisa berhenti sebentar saja! Jika kalian punya masalah yang belum terselesaikan tolong jangan menyeretku ke dalam masalah kalian berdua!"


"Aku sudah menganggap masalahku selesai dengannya beberapa tahun yang lalu, aku bahkan sudah tidak mau berurusan lagi dengan Gibran, tapi tiba-tiba dia datang kembali ke hidupku."


"Hei bukankah sudah kubilang aku tidak tahu jika Riana adalah adikmu, jika aku tahu dia adikmu tentu saja aku tidak mau mendekatinya."


Mendengar perkataan Gibran, Riana pun kemudian menatap tajam ke arahnya. "Jadi kau mau meninggalkanku setelah kau tahu Arvin adalah kakakku? Jadi kau ingin lari dari tanggung jawab setelah meninggalkan benih di rahimku?"


Gibran pun begitu terkejut mendengar perkataan Riana, dia lalu menggenggam tangan Riana. "Tentu tidak Riana, bukankah aku sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanmu?"


"Tapi tempatmu tidak disini, Gibran! Ingatlah kau masih harus menjalani sisa hukumanmu!"


"Itu bukan urusanmu, Arvin!"


"Tentu jadi urusanku karena kau sudah berani menyentuh adikku bahkan sampai membuatnya mengandung darah dagingmu!"


"Aku akan bertanggung jawab!"


"Tapi statusmu masih seorang tahanan Gibran!"


"CUKUPPPP!!" teriak Riana lagi.


"Bisakah kalian berhenti beradu mulut untuk sebentar saja! Kalian benar-benar semakin membuatku merasa jauh lebih buruk! Aku muak dengan kalian berdua!"


"Maafkan kami Riana." kata Arvin.

__ADS_1


Gibran pun mendekat lagi pada Riana. "Maafkan aku Ri, kau tidak perlu cemas karena aku akan bertanggung jawab, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Selesaikan dulu masa hukumanmu!"


"Cukup ka!" bentak Riana pada Arvin yang membuatnya terkejut.


"Apa maksudmu, Riana?"


"Kakak, bagaimanapun juga Gibran adalah ayah kandung dari bayi ini, untuk saat ini aku tidak akan membiarkan dia kembali menjalani masa tahanannya kembali, setidaknya sampai anak ini lahir. Aku hanya ingin saat anak ini lahir, ayah kandungnya ada di sampingnya." kata Riana dengan raut wajah sedih.


"Tapi Riana."


"Kakak, kumohon." jawab Riana sambil memelas, Gibran pun kini tampak tersenyum menyeringai.


"Tapi bagaimana jika prediksi dokter itu salah? Bagaimana jika ternyata kau tidak hamil?"


"Kita lakukan tes kehamilan." jawab Gibran.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


Bella terus menatap kardus yang ada di sampingnya dengan tatapan yang kosong. Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering. Dia lalu menatap ponsel itu kemudian melihat nama Evan yang yang terpampang di layar ponselnya. Sudah puluhan kali dia mengabaikan panggilan dari Evan, akhirnya dengan begitu malas, dia pun mengangkat panggilan tersebut.


[Halo Bella sayang, sebenarnya kau kenapa? Kenapa kau tidak mau mengangkat panggilan dariku?]


[Maaf Evan, aku sedang tidak ingin diganggu.]


[Maaf, aku butuh waktu untuk sendiri.]


[ Baik, hari ini aku tidak akan mengganggumu lagi Bella, maafkan aku, beristirahatlah.]


[Ya.] jawab Bella kemudian menutup panggilan telepon dari Evan.


Dia kemudian menutup wajahnya kembali.


"Oh Tuhan, apa yang telah kulakukan? Jika bersikap seperti ini aku juga akan menyakiti hati Evan. Aku tidak boleh bersikap seperti ini padanya. Tapi apa yang harus kulakukan? Memahami perasaanku saja aku tidak bisa." kata Bella sambil menjambak rambutnya.


"Aku harus mengambil keputusan, ya aku harus bisa memilih, meskipun saat ini aku tidak tahu Arvin berada dimana tapi setidaknya aku tidak memberikan harapan palsu pada Evan, dia berhak bahagia tanpaku." kata Bella. Dia kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Evan.


[Halo Evan.]


[Iya Bella, ada apa sayang?]


[Evan, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu.]


[Iya Bella, katakan saja, ada apa sayang?]


[Evan, sebelumnya aku meminta maaf padamu, sebenarnya aku tidak ingin mempermainkan perasaanmu.]

__ADS_1


[Bella, apa maksudmu? Apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku, Bella?]


[Evan, aku minta maaf padamu....]


[Untuk apa, Bella?]


[Evan, maaf sepertinya kita harus memikirkan kembali hubungan ini.]


[Apa maksudmu, Bella? Aku sungguh benar-benar tidak mengerti.]


[Emh iya Evan, aku tidak ingin menyakitimu, aku butun waktu untuk memikirkan kembali hubungan ini.]


[Apa karena aku tidak pantas untukmu? Kau adalah seorang pemilik perusahaan, sedangkan aku hanyalah orang biasa yang jatuh cinta padamu? Bukankah begitu, Bella?]


[Evan, tolong mengertilah bukan seperti itu, aku tidak pernah memandang siapapun dari segi materi. Tapi...]


[Tapi apa, Bella?]


[Maafkan aku, Evan sebenarnya ada seseorang di dalam hatiku yang sampai saat ini belum bisa kulupakan. Aku benar-benar tidak ingin menyakitimu.]


[Kenapa baru sekarang kau mengatakannya, Bella? Apa kau ingin mempermainkan perasaanku?]


[Maaf Evan, sungguh aku minta maaf, aku memang begitu bodoh. Aku yang tidak bisa mengartikan perasaan di dalam hatiku.]


[Apa maksudmu, Bella?]


[Maaf Evan, sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bisa menjelaskannya padamu, aku hanya tidak ingin kau terluka karena sikapku.]


[Bella, aku benar-benar tak mengerti.]


[Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Terimakasih banyak atas semua kebaikan yang kau berikan padaku, Evan.] kata Bella kemudian menutup telepon itu.


"Maafkan aku, Evan. Aku tidak ingin membuatmu terluka. Aku memang begitu bodoh, aku yang tidak bisa memahami bagaimana perasaanku, aku tidak bisa mengartikan perasaanku bahkan aku tidak pernah sadar jika perbedaan antara cinta dan benci itu sangatlah tipis. Aku telah begitu ceroboh, aku telah begitu membenci seseorang sampai aku tidak sadar jika rasa benci ini suatu saat bisa kembali berubah menjadi cinta. Apalagi saat ini aku sedang mengandung darah dagingnya." kata Bella sambil meneteskan air matanya kembali.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿🌸


Gibran dan Arvin tampak begitu cemas menunggu Riana yang kini sedang berada di dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Riana pun keluar dengan membawa sebuah benda pipih di tangannya.


"Bagaimana Riana?" tanya Arvin.


Namun Riana hanya terdiam. Dia hanya menyerahkan benda itu pada Gibran.


"Kau hamil, Riana." kata Gibran dengan raut wajah yang begitu bahagia.


"Kenapa kau terlihat begitu bahagia?" tanya Arvin.


"Tentu saja, Riana sedang mengandung buah hati kami."

__ADS_1


"Jangan senang dulu karena aku hanya memberi waktu padamu sampai anak itu lahir!" kata Arvin yang semakin menyulut emosi Gibran.


__ADS_2